Cinta Pertama Kalila

Cinta Pertama Kalila
Eps. 143


__ADS_3

Testpack?


Bukan kah itu alat tes kehamilan? Dimas masih bingung mengapa ibunya meminta untuk dibelikan alat tes kehamilan itu.


Apakah Kalila hamil?


Tapi mengapa istrinya itu tidak muntah-muntah seperti orang hamil?


Dimas masih menatap sang ibunda, hingga membuat Ghita menjadi kesal.


“Sudahlah, kau beli saja sana. Kau beli semua merk testpack. Tanya juga, mana yang bisa digunakan kapan saja, dan mana yang hanya bisa digunakan pagi hari.”


“Memangnya ... Lila hamil, Bun?”


“Makanya itu, mau di cek. Biar ketahuan hamil atau tidak. Sudah cepat sana, belikan!”


“Tapi Lila tidak muntah-muntah seperti orang hamil yang ada di sinetron-sinetron itu loh, Bun,” jawab Dimas.


'Pletak!'


Jari telunjuk Bu Ghita seketika melesat ke dahi Dimas. Pria itu pun mengaduh kesakitan akibat sentilan sang ibunda.


“Cepat, beli sana!” perintah Bu Ghita. Dengan wajah ditekuk, Dimas melaksanakan perintah ibunya.


Butuh waktu hampir setengah jam hingga Dimas kembali dengan membawa dua kantong plastik di tangannya.


“Yang ini hanya untuk dipakai di pagi hari. Nah, kalau yang ini bisa digunakan kapan saja,” ucap Dimas pada Bu Ghita. Wanita paruh baya itu pun menganggukkan kepalanya. Kedua ibu dan anak itu pun melangkahkan kaki, menemui Kalila yang masih bergelung dengan selimut. Mereka duduk berdampingan di sisi ranjang, di samping Kalila.


“Sayang ... kata Bunda, kau hamil.”


Ucapan Dimas membuat Kalila terkejut, wanita itu membuka mata dan menatap Dimas dengan heran.


Hamil?


Sebuah bantal melayang ke wajah tampan Dimas. “Ini baru perkiraan Bunda!” ucap Bu Ghita. Kini Kalila mengalihkan pandangannya, menatap sang mertua.


“Tapi Lila tidak muntah-muntah seperti di sinetron-sinetron itu,” ucap Kalila. Bu Ghita menggelengkan kepalanya.


Anak dan menantunya ternyata sama saja. Padahal di era modern sekarang ini, mereka bisa mendapatkan informasi mengenai apapun dengan mudah.


“Kalian berdua ini benar-benar membuat bunda tidak dapat berkata-kata. Speechless Bunda! Kalian kan sudah menikah. Coba kalian cari informasi mengenai tanda-tanda kehamilan. Jangan taunya tentang bangunan saja!”

__ADS_1


Kalila dan Dimas saling pandang. “Dulu, sewaktu Bunda mengandung Dimas, yang bunda rasakan kurang lebih sama seperti kau ini, Lila. Hanya mau makan makanan tertentu. Badan ini rasanya tidak jelas. Maunya tiduran terus.”


Kompak Kalila dan Dimas menganggukkan kepala sembari mengucapkan huruf O. Lagi, Bu Ghita menghela napas berat. Kesal dengan kedua anaknya itu.


Kenapa anak dan menantunya itu bisa benar-benar mirip seperti ini?


“Sekarang kau coba alat tes kehamilan ini. Ayo, bunda bantu,” ajak Bu Ghita. Kalila pun menuruti ucapan sang mertua.


“Kau kenapa ikut sih?!” hardik Bu Ghita, saat melihat Dimas mengikuti dirinya dan Kalila.


“Dimas juga ingin tau, Bun!” Bu Ghita menghela napas kasar. Padahal dirinya ingin menjadi orang pertama yang mengetahui, seandainya Kalila benar-benar hamil. Namun, sekarang ada Dimas, terpaksa Bu Ghita harus merelakan jika ada orang lain yang juga mengetahui kabar ini.


Akhirnya, Kalila ditunggui oleh mertua dan suaminya.


Mengisi wadah dengan air seninya. Bu Ghita membantu Kalila menggunakan alat tes kehamilan itu. Enam buah alat tes kehamilan pun disusun berjejer di atas meja wastafel (vanities) yang terbuat dari marmer.


Menunggu hampir tiga menit, satu per satu hasil dari alat tes itu pun muncul. Beberapa alat tes menampilkan dua garis biru, ada juga yang menampilkan tulisan 'yes,' bahkan ada yang menunjukkan hasil 3+.


“Yes? Dua garis biru?” gumam Kalila. Mata wanita itu menyala. Begitu juga dengan Bu Ghita. “Itu artinya Lila benar-benar hamil kan, Bun?!”


Bu Ghita menganggukkan kepalanya dengan cepat. “Dua garis biru dan tulisan yes ini, pertanda kau positif hamil. Dan alat tes yang satu ini, menunjukkan angka 3+ itu artinya usai kehamilan kau sudah di atas lima Minggu,” ucap Bu Ghita.


Kalila berteriak girang. Kedua wanita itu pun berpelukan. Hanya Dimas yang masih mencerna semua yang terjadi di hadapannya.


Pertanyaan yang dilontarkan oleh Dimas, sontak membuat kedua wanita itu menoleh dan saling melepaskan pelukan.


Kalila mengambil alat tes kehamilan yang menampilkan tulisan 'yes,' dan memperlihatkan kembali pada Dimas.


“Yes!” tegas Kalila.


Dimas memunggungi Kalila. Pria itu terlihat menyeka sudut matanya. “Kalila ... Kau senang 'kan, mengandung anakku?”


Kalila memandang punggung Dimas dengan dahi berkerut. Wanita itu berjalan hingga kini tepat berhadapan dengan suaminya.


“Kenapa Bang Dim bertanya seperti itu?” Dimas masih diam. “Lila sudah menantikan kehamilan ini selama enam bulan, Bang.”


Jawaban Kalila membuat Dimas sumringah. Pria itu membawa Kalila dalam pelukannya. “Aku sangat senang kau mengandung anakku, Sayang. Itu artinya hubungan kita akan semakin erat. Tidak akan ada yang bisa mengambil kau dari sisiku.”


Kalila merenggangkan pelukan Dimas, wanita itu menengadahkan kepalanya, “tidak akan ada satu manusia pun yang bisa mengambil Lila dari Bang Dim. Hanya maut yang dapat memisahkan kita. Bukannya begitu?”


Kalila tercengang melihat sang suami yang berderai air mata. Entah mengapa suaminya begitu sensitif. Dimas memeluk Kalila dengan erat.

__ADS_1


“Benar ... Hanya maut yang dapat memisahkan kita. Aku benar-benar mencintai kau, Kalila. Sangat.”


Bu Ghita tersenyum melihat interaksi Kalila dan Dimas. Membiarkan kedua anaknya berpelukan erat, wanita paruh baya itu menghubungi Bu Alinah.


Ibu kandungnya Kalila itu bersorak-sorai menyambut kabar gembira itu. Dan, keesokan harinya Bu Alinah terbang ke kota Bogor. Wanita paruh baya itu, bahkan memutuskan untuk tinggal sementara di kediaman Kalila, karena anak bungsunya itu, benar-benar hanya mau makan masakan yang dibuat oleh Bu Alinah.


***


Kini, perut Kalila sudah membesar. Bu Alinah juga sudah kembali ke kota Medan sejak tiga bulan yang lalu. Dua bulan lagi, adalah hari perkiraan kelahiran bayi Kalila dan Dimas.


Sejak Kalila dinyatakan positif hamil, Dimas tambah memanjakan istrinya itu. Semua keinginan Kalila selalu dipenuhi oleh Dimas. Bahkan, Kalila terus mengekori ke mana pun Dimas pergi. Wanita itu tak mau berpisah sedikit pun dengan suaminya.


Dan kini dalam suasana idul fitri, mereka tengah berkumpul di rumah Gilang Adi Putra.


Gilang sengaja mengundang adik dan juga keponakannya untuk datang ke kediamannya, karena Ghita, Dimas dan Kalila, tidak ikut berkumpul di rumah besar Adi Putra, kemarin.


Ada Ibrahim dan juga Anneke, saat Ghita dan kedua anaknya berkunjung ke sana.


Netra Ibrahim tak lepas memandang Kalila. Pria itu benar-benar merindukan Kalila. Setelah hampir sepuluh bulan tidak bertemu, melihat Kalila dengan perut yang membuncit membuat Ibrahim semakin gemas terhadap wanita itu.


Walau bobot tubuhnya bertambah, wajah Kalila semakin bersinar. Senyum Kalila terus terkembang saat mencicipi camilan di sana.


Tiba-tiba Ibrahim menghampiri dan duduk di samping Kalila. Pria itu membawakan camilan. “Makan yang banyak, La,” ucap Ibrahim.


Rindu yang di rasa Ibrahim, membuat pria itu mempunyai keinginan untuk membawa Kalila dalam pelukannya. Tapi, tentu saja hal itu tak dilakukannya. Kewarasan pria itu masih sedikit terjaga.


Dimas melirik tajam pada pria yang kini duduk di samping istrinya. Mata Dimas seketika membesar, saat jemari Ibrahim mengelus-elus perut Kalila.


“Sudah berapa bulan, La?” tanya Ibrahim.


Bukan hanya Dimas yang terkejut dengan perbuatan pria itu. Semua mata kini memandang heran pada Ibrahim yang bahkan hampir mendaratkan sebuah kecupan pada perut Kalila yang membuncit.


Untung saja Dimas menahan wajah Ibrahim dengan telapak tangannya. Ibrahim menatap Dimas dengan tajam. Dimas pun membalasnya tak kalah tajam. Pria itu langsung menggenggam jemari Kalila.


“Kita pulang sekarang, Sayang!” ucap Dimas.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......


...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...

__ADS_1


...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...


__ADS_2