
Kini Kalila kembali ke kehidupan nyata. Gadis itu masih memikirkan rencana pendidikannya. Satu-satunya yang terpikir oleh Kalila, adalah melanjutkan mimpinya. Menjadi seorang guru taman kanak-kanak atupun sekolah dasar.
Bibir Kalila melengkung, membentuk sebuah senyuman. Membayangkan bahwa nantinya, dia akan dikelilingi oleh anak-anak yang begitu antusias mendengarkan bermain sembari belajar bersamanya. Kalila memang menyukai anak kecil, dan anak kecil, biasanya, juga menyukai Kalila.
Gadis itu mencari universitas yang mumpuni, kemudian menyiapkan berkas-berkas dan mendaftar secara online program pendidikan diploma tiga. Gadis itu mengambil program studi pendidikan guru taman kanak-kanak. Menghembuskan napas lega, Kalila teramat senang saat ini. Gadis itu berjanji akan lulus ujian penerimaan mahasiswa baru, kali ini.
Kalila melangkahkan kakinya dengan riang. Berjalan menuju ruang keluarga. Gadis itu mau memamerkan surat pendaftaran kuliahnya. Sekaligus meminta ibunya untuk membayarkan uang pendaftaran program diploma tiga tersebut.
“Hello everybody ...,” ujar Kalila sembari melambaikan tangan. Nenek Laila, Bu Alinah dan Kairav menatap malas pada gadis itu. Melihat sikap Kalila, mereka tau persis, jika anak bungsu Bu Alinah itu, pasti ada maunya. Sikap gadis itu cukup mudah untuk ditebak.
“Kok pada diam sih?! Bukannya menyambut kedatangan Miss World!” ujarnya kesal. Namun, lagi-lagi, ketiga anggota keluarganya yang lain, tidak menggubris Kalila. Mereka bahkan tidak meliriknya kali ini. Nenek, ibu, dan kakak lelakinya, tengah sibuk menyaksikan kontes bernyanyi di televisi.
“Lila sudah mendaftar kuliah, nih!”
Ucapan Kalila kali ini, berhasil menarik antusias ketiga anggota keluarganya. Mereka serempak menoleh, menatap Kalila dengan tatapan tidak percaya. Karena kemarin, gadis itu masih bingung mengenai pendidikannya. Kalila balas menatap dengan tersenyum sumringah. Kairav bahkan menghampiri adik kesayangannya itu, dan melihat formulir pendaftaran yang baru saja di cetak oleh Kalila.
Kairav tersenyum lembut, kemudian mengacak kecil rambut Kalila. “Finally,” ucap Kairav. Pria itu amat bahagia, karena melihat jurusan pendidikan yang diambil oleh Kalila. Kairav tau, menjadi seorang guru taman kanak-kanak, dikelilingi oleh anak kecil, adalah impian Kalila. Impian yang didukung oleh semua orang— termasuk Khalid. Sebelum kakak sulung mereka berkuliah di Bogor dan bertemu dengan Ibrahim.
“Guru TK, Mak, Nek,” ujar Kairav. Nek Laila tersenyum dan melebarkan tangannya, Kalila pun masuk ke pelukan Nek Laila. “Semoga yang kali ini lancar ya,” do'a Nek Laila. Kalila dan Kairav pun mengamini ucapan nenek mereka. Hanya Bu Alinah yang masih terdiam di sana.
“Kok bisa kau teringat akan mimpi masa kecil kau itu?”
“Itu berkat ucapan Bang Dim sewaktu di bandara kemarin.”
“Ucapan apa?!” tanya Kairav penasaran.
“Bang Dim bilang, 'jangan berhenti bermimpi, Kalila. Wujudkan mimpimu dan berbahagialah. Karena jika kau bahagia, seluruh dunia akan ikut bahagia bersama kau,' ” ujar Kalila, menirukan apa yang Dimas ucapkan padanya. Pria itu bahkan menggenggam kedua tangan Kalila ketika mengucapkan kalimat itu. Saat itu Kairav tengah berada di toilet. Kairav dan Nek Laila tersenyum sumringah mendengarnya.
__ADS_1
Terimakasih telah hadir di hidup Kalila, Dim. Kau satu-satunya pria yang memikirkan Kalila di atas segalanya. Bahkan mengabaikan perasaan mu sendiri. Aku benar-benar berharap, kau yang jadi adik ipar ku, nantinya.
Kairav berencana akan menghubungi Dimas, malam nanti. Mengucapkan ribuan ucapan terimakasih. Karena berkat Dimas, Kalila kembali ingin mewujudkan mimpinya sejak dulu.
“Uang pendaftarannya, paling lambat dibayarkan besok siang sebelum pukul sebelas, Mak. Tiga ratus ribu rupiah,” ujar Kalila. Bu Alinah tersenyum tipis. “Kau hubungi Bang Alid lebih dulu.”
Kairav menatap tajam sang ibu. Pria itu menaruh curiga dengan sikap Bu Alinah sedari tadi. Ucapan ibunya agar Kalila menghubungi Khalid terlebih dulu, makin membuat Kairav curiga. Kairav langsung mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Mencari nama seseorang pada buku telepon ponselnya, Kairav terlihat menghubungi seseorang.
“Bang, Kalila sudaha mendaftar masuk ke perguruan tinggi. Dia akan mewujudkan mimpinya,” ucap Kairav, begitu panggilan telepon itu tersambung pada Khalid.
“Oh ya? Di universitas mana? Baru saja Abang ingin menghubungi Lila. Abang sudah ada referensi bagus untuknya.” Seluruh anggota keluarganya lainnya juga ikut mendengarkan apa yang diucapkan Khalid. Karena Kairav mengaktifkan. speaker untuk panggilan telepon itu.
“Sepertinya tidak perlu Bang. Kalila sudah menemukan apa yang dia mau.”
“Berikan ponselnya pada Lila!”
“Kau ambil jurusan apa? Arsitektur juga kan?”
“Pendidikan guru TK, Bang,” jawab Kalila. Terdengar decak kesal dari sana. Kalila menahan napas. Dia sudah tau, namun berusaha mengingkarinya, kalau Khalid pasti tidak setuju dengan pilihan yang diambilnya.
“Tidak Lila. Tidak ada pengembang karir kalau kau menjadi guru TK. Kau butuh pekerjaan yang membuat kau terus berkembang. Batalkan pendaftaran itu. Kau masuklah di jurusan arsitektur atau teknik sipil. Namun itu hanya program diploma tiga. Jadi, Abang juga sarankan kau, untuk ikut program studi manajemen bisnis untuk program strata satunya. Abang sudah mencari dan memilihkan di universitas mana kau akan mengenyam dua jurusan itu,” ucap Khalid.
Kalila hanya bisa menghela napas perlahan. Dia tidak berani membantah Khalid. Hutang budinya kepada Khalid terlalu banyak.
“Tidak bisakah Kalila menentukan mimpinya sendiri Bang?”
“Dunia itu keras Rav. Dan akan semakin kejam ke depannya. Abang hanya ingin yang terbaik untuk Kalila. Ini semua Abang lakukan demi kalian.”
__ADS_1
“Demi kami atau demi gengsi Abang?!”
“Kalau kau tidak mau diatur, setidaknya kau bisa menafkahi dirimu sendiri, Rav. Kalau masih dibiayai, ikuti aturan!”
Tangan Kairav mengepal, emosinya memuncak. Dirinya sadar jika dia masih dibiayai oleh Bu Alinah dan Khalid.
Kalila menghampiri Kairav dan mengusap-usap punggung pria itu, lalu berbisik, “Lila gak apa-apa, Bang.”
“Bang Alid kirimkan saja link universitasnya, biar Kalila langsung mendaftarkan diri malam ini, secara online.”
Setelah perbincangan itu selesai, Kairav bergegas melangkahkan kakinya. Berjalan menuju kamar tidurnya. Pria itu melangkah dengan kesal. Ucapan Khalid membuatnya sakit hati.
Siapa yang menyuruh dia membiayai kuliah ku. Jika dia tidak berkuliah di Bogor, aku juga bisa mendapatkan beasiswa dari klub basket. Bahkan aku bisa membiayai hidupku sendiri!
Kairav membanting badannya ke kasur, ketika pria itu tiba di kamarnya. Khalid rela kehilangan mimpinya menjadi pemain basket profesional. Tapi kini dia juga harus melihat adik kesayangannya, merelakan impiannya juga. Hari Kairav teramat sakit melihat wajah sendu Kalila.
“Andai saja kau melihat ekspresi Kalila tadi, Bang. Dia begitu senang tadi. Wajahnya begitu cerah, ketika membayangkan akan menjadi seorang guru TK. Kau menghancurkan mimpi adik-adikmu, Bang. Kau menghancurkan kami.”
Bersambung ....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan....
__ADS_1