
“Maaf Pak, tolong jangan ikut campur dengan urusan pribadi saya. Setelah keluar dari perusahaan ini, saya akan bekerja di perusahaan suami saya, atau akan menjadi seorang ibu rumah tangga, itu adalah hak saya. Dan itu bukan urusan Pak Ibra.
Soal mencuri klien, Bapak tidak perlu khawatir, kami bukan pencuri. Tapi, jika klien lebih menyukai hasil rancangan suami saya dibandingkan hasil rancangan yang Bapak bikin, itu bukan salah suami saya. Dan itu bukan mencuri namanya. Hasil rancangan Bapak saja yang tidak sesuai dengan ekspektasi Pak Sanjaya!”
Ibrahim shock!
Pria itu seolah tak mengenal wanita yang kini berdiri di depannya. Bagaimana bisa Kalila bersikap seperti itu?
Harusnya, Dimas hanyalah pelarian cinta wanita itu karena Kalila tak berhasil mendapatkan cintanya. Tapi, mengapa sekarang Kalila seolah memojokkan dirinya dan begitu membela Dimas?
Ibrahim geram.
Rasa sakit hati, cemburu dan dengki menguasai pria itu. Ibrahim kembali memutar layar komputernya, hingga kini layar itu tepat di hadapannya.
Pria itu pun memutar sekali lagi layar komputer itu, hingga menghadap Kalila.
“Surat pengajuan diri kau sudah aku approve. Sepertinya kau sudah tidak sabar untuk segera menjadi ibu rumah tangga.” Pria itu memandang Kalila dengan tersenyum sinis.
“Tidak perlu menunggu hingga satu bulan. Kau, silakan mengemasi barang-barang dan pergi dari perusahaan ini sekarang juga!”
Kalila tercengang. Bagaimana mungkin Ibrahim mengusirnya saat ini juga? Bukankah tercantum si dalam surat perjanjian kerja, seorang karyawan resmi berhenti bekerja, setelah satu bulan surat pengunduran diri itu di approval?
“Kenapa? Kau terkejut? Atau ... kau menyesal?”
Kalila hanya diam. Tidak menggubris pertanyaan yang dilontarkan oleh Ibrahim.
“Kalau kau menyesal, aku akan membatalkan surat pengunduran diri ini, langsung ke manager HRD,” tawar Ibrahim. Sebenarnya pria itu berharap Kalila membatalkan pengunduran dirinya. Hingga Ibrahim masih bisa menatap wanita itu setiap hari.
“Saya tidak akan menyesal, Pak. Saya tetap mengundurkan diri. Jika Bapak mengusir saya saat ini juga, saya akan pergi sekarang juga. Permisi.”
Seketika Kalila melangkahkan kakinya, menjauh dari ruang kerja Ibrahim. Wanita itu kembali ke meja kerjanya dan membereskan semua barang miliknya.
Sebenarnya Kalila ingin menghubungi Dimas, tapi dia urungkan niat itu. Biarlah ini akan menjadi sebuah kejutan untuk suaminya. Kalila tau, jika Dimas pasti akan sangat senang saat mengetahui kalau dirinya sudah resmi keluar dari Adi Putra Group.
“Kenapa kau membereskan semua barang-barang kau, Kalila?” tanya Angga. Mendengar celotehan Angga, seluruh rekan kerja Kalila menoleh ke arah wanita itu. Bahkan, kini mereka berkumpul, mengelilingi Kalila.
“Aku sudah mengundurkan diri,” jawab Kalila. Semua orang terkejut dengan pernyataan Kalila.
__ADS_1
“Tapi kenapa kau membereskan barang-barang kau sekarang. Harusnya satu bulan lagi. Kau bermaksud bermalas-malasan dan tidak bekerja, hah?” ledek Erwin. Pria itu bahkan tertawa saat mengatakannya.
“Pak Ibrahim yang menyuruh saya keluar dari perusahaan saat ini juga,” ungkap Kalila. Lagi, seluruh staff divisi desain dan perencanaan terkejut dengan pernyataan Kalila. Begitupun dengan Erwin.
“Kenapa bisa seperti itu?” tanya Erwin heran. Semua orang tau, jika Ibrahim adalah salah satu direktur di perusahaan itu. Ibrahim juga merupakan cucu dari pemilik perusahaan. Tapi mereka tidak menyangka, jika pria itu menyalah gunakan kekuasaannya.
“Pak Ibrahim takut, jika menunggu hingga satu bulan lagi, saya akan mencuri klien Adi Putra Group,” ucap Kalila. Senyuman tipis menghiasi wajah Kalila. Seluruh staff hanya bisa menggelengkan kepala.
“Kalau begitu, aku pamit dulu ya,” ucap Kalila. Wanita itu berusaha mengangkat kotak yang berisi beberapa barang pribadinya. Namun hal itu dicegah oleh Angga. Pria itu membantu Kalila membawakannya.
“Boss Dimas sudah menunggu di bawah?”
Kalila menggelengkan kepalanya. Aku sudah memesan taksi online. Mungkin sebentar lagi akan tiba,” jawab Kalila saat dirinya dan Angga sudah berada di elevator.
Saat si lantai dua, elevator berhenti, dan sesosok wanita masuk. “Pada mau ke mana?” tanya wanita itu.
“Mengantar Kalila ke depan. Dia mau pulang,” jawab Angga. Wanita itu pun melirik Kalila.
“Sudah lama tidak bertemu Dimas. Terakhir bertemu Dimas itu, sehari sebelum pernikahan kalian,” ujar Mawar. Kalila mendelik mendengar pernyataan Mawar.
Sehari sebelum pernikahan? Dimas bahkan tak menghubunginya saat itu. Dan mereka benar-benar baru bertemu dan berkomunikasi saat prosesi akan nikah.
Hati Kalila panas seketika. Wanita itu menatap tajam ke arah mawar yang berdiri tepat di sampingnya.
“Kau ini mencari masalah saja!” geram Angga.
“Kenapa sih? Aku memang merindukan Dimas,” jawab Mawar santai. Hati Kalila bergemuruh mendengarnya. Namun, Kalila berusaha untuk tidak terpengaruh dengan ucapan wanita itu. Kalila tidak mau menjatuhkan harga dirinya dengan menanggapi wanita yang berdiri di sampingnya. Kalila tau, jika tidak ada hubungan apapun antara Dimas dengan wanita itu. Kalila juga percaya jika sang suami hanya mencintai dirinya. Namun, tak bisa dipungkiri jika dirinya sangat cemburu dengan Mawar.
“Terima kasih ya Bang Angga,” ucap Kalila, saat dirinya sudah berada di dalam taksi online. Hanya butuh waktu lima belas menit hingga Kalila tiba di apartemen.
Kalila meletakkan barang-barang miliknya di kamar tamu, kemudian beristirahat.
***
Dimas baru saja menyelesaikan ibadah sholat Maghrib. Sejak sore tadi, pria itu sudah berada di butik milik sang ibunda yang lokasinya tidak jauh dari PT Adi Putra Group. Tidak seperti hari-hari sebelumnya, biasanya, sebelum azan Maghrib berkumandang, Kalila sudah menghubungi Dimas. Memberitahukan pria itu jika dirinya bersiap pulang. Namun, hari ini wanita itu tak kunjung menghubunginya.
Apakah istrinya itu ada jam lembur?
__ADS_1
Begitulah pikir Dimas. Pria itu pun segera menghubungi Kalila.
“Lila sudah di apartemen dari pukul sebelas, Bang.”
Begitulah ucap Kalila. Tanpa mendengar alasan dari istrinya, gegas, Dimas kembali ke kediaman mereka.
“Kau kenapa, Sayang? Sakit?” tanya Dimas, begitu pria itu tiba di kediaman mereka. Kalila yang tengah asik menonton televisi, hanya tersenyum mendengar pertanyaan sang suami. Terlebih Dimas langsung duduk di samping wanita itu dan menempelkan telapak tangan pada dahi Kalila.
“Lila sehat, Bang. Hanya saja di sana sudah tidak ada lagi pekerjaan buat Lila.”
“Tidak ada pekerjaan lagi?” tanya Dimas dengan dahi berkerut.
Pria itu tidak terlalu memercayai ucapan sang istri. Bagaimana mungkin, perusahaan sebesar Adi Putra Group tidak memiliki pekerjaan?
“Kau tidak berbohong kan?”
Sambil tersenyum, Kalila menggelengkan kepalanya. Kalila masih belum ingin memberitahukan perihal dirinya yang sudah berhenti bekerja. Karena wanita itu ingin memberikan sebuah kejutan untuk Dimas.
“Abang belum makan kan? Yuk kita makan,” ajak Kalila.
“Kau sudah memesan makanan?”
Kalila hanya tersenyum, wanita itu menggandeng suaminya hingga ke meja makan. Kalila memindahkan mini rice cooker ke meja makan.
“Lila yang masak, Bang,” ucap Kalila, saat Dimas memerhatikan meja makan yang sudah tersaji dengan tempe goreng, sambal dan lalapan. Bibir Dimas mengulas sebuah senyuman.
Tak apalah jika hanya makan malam dengan lauk tempe goreng dan sambal. Dimas sudah sangat senang, karena Kalila yang memasaknya.
Namun, Dimas tercengang saat Kalila membuka tutup rice cooker.
“Lila buat nasi liwet kesukaan Bang Dim. Tapi Lila belum bisa mengolah ayam gorengnya, jadi hanya ada tempe goreng saja. Tidak apa-apa kan? Besok-besok Lila akan belajar lagi dari Bunda dan Ibu.”
Seketika Dimas merasa haru.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
__ADS_1
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...