
Semilir angin sore itu, membuat Kalila betah untuk berlama-lama duduk di teras rumah. Padahal, Ibrahim sudah meninggalkan tempat itu sejak lima belas menit yang lalu.
Kalila terus memikirkan tawaran pekerjaan dari Ibrahim. Gadis itu sebenarnya bisa saja memberikan keputusannya saat itu juga. Karena pekerjaan Kalila yang sekarang, adalah pekerjaan impiannya sejak dulu. Terlebih di sana, Kalila dikelilingi oleh orang-orang baik. Rekan kerja yang saling membantu, atasan yang mengajarinya banyak hal tentang dunia pendidikan anak balita. Bahkan pemilik yayasan juga teramat baik padanya.
Kalila rela jika harus menghabiskan seumur hidupnya, mengabdi di yayasan itu. Segitu cintanya Kalila dengan pekerjaan yang diembannya kini.
Kalila juga merasa tidak enak hati, jika harus memberikan surat pengunduran diri kepada Anneke. Gadis yang menjabat sebagai kepala sekolah itu, sudah teramat baik pada dirinya.
Namun, menentukan pilihan tentu saja tak semudah itu. Kakak sulungnya— Khalid Nasution— pasti tidak akan menyetujui pilihannya. Pria itu pasti akan terus mendesak Kalila untuk menerima tawaran pekerjaan dari Ibrahim.
Bukannya tujuan Kalila pindah ke kota Bogor, adalah untuk bekerja di PT Adi Putra Group?
Kalila juga tidak enak hati menolak permintaan Ibrahim untuk melakukan wawancara di perusahaan keluarganya. Ibrahim sudah memberikan kemudahan, pria itu sudah menggunakan kuasanya. Kalila tidak perlu mengikuti tes tahap pertama, seperti pelamar kerja lainnya. Gadis itu hanya perlu datang dan melakukan tes tahap akhir, yaitu wawancara dengan atasan langsung dari divisi tempatnya bekerja nanti.
Kalila teringat ucapan Ibrahim, siang tadi.
“Berhasil tidaknya kau bergabung di perusahaan kami, itu semua tergantung dari hasil wawancara. Jadi, semuanya tergantung kemampuan kau, Kalila.”
Dengan mata yang menerawang jauh, gadis itu menghela napas panjang. Memikirkan banyak hal, mengenai pekerjaannya. Tak berapa lama, Khalid dan Feni menghampiri gadis itu.
“Bagaimana?” tanya Khalid. Pria itu langsung memosisikan dirinya, duduk di samping Kalila. Sementara Feni sibuk mengepang rambut Nissa yang baru selesai mandi. Sepasang suami istri itu, siap untuk mendengarkan penjelasan Kalila, tentang maksud kedatangan Ibrahim.
“PT. Adi Putra Group, membuka lowongan pekerjaan yang sesuai dengan jurusan kuliah Lila.”
“Ternyata mengenai pekerjaan. Aku pikir dia mau melamar kau, Lila!” cebik Feni. Wanita yang kini tengah hamil dua puluh lima Minggu itu, entah mengapa merasa bertambah kesal terhadap Ibrahim. Padahal tadinya, Feni sedikit berharap, jika Ibrahim akan melamar Kalila. Setidaknya sahabatnya itu akan merasa bahagia. Setidaknya penantian Kalila selama ini, tidak sia-sia.
Kalila tersenyum tipis mendengar ucapan kakak ipar yang sangat dia sayangi itu. Sementara Khalid tidak berani menyela ucapan sang istri.
__ADS_1
“Tidak apa-apa, bekerja di PT. Adi Putra Group. Berarti kau bisa kembali dekat dengan Ibra. Bukan kah posisi kau, berada di divisi yang sama dengan Ibra? Tadi Ibra katakan, dia yang akan menjadi atasan langsung kau. Jadi, kalian bisa menjadi bertambah dekat.”
“Oh, jadi Abang sudah tau, maksud kedatangan Ibra ke sini? Bertambah dekat, bertambah dekat, begitu saja terus, sampai gajah bertelur! Menunggu kabar pekerjaan saja sampai berbulan-bulan! Bagaimana menunggu kabar yang lain?!” ucap Feni kesal. Khalid menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Entah kenapa di kehamilan kedua ini, emosi istri Khalid itu, tidak stabil. Berbeda ketika Feni mengandung Nissa, tempo hari.
“Mungkin Ibra menunggu posisi yang tepat untuk Kalila. Mungkin dia sengaja menyarikan posisi pekerjaan untuk Lila, agar berada di bawah naungannya. Jadi dia bisa terus menjaga Lila dan dekat dengannya,” jelas Khalid. Feni menatap tajam suaminya serta berdecak kesal. Sementara Kalila masih terdiam, gadis itu sibuk dengan pikirannya sendiri.
“Yasudah kau segera mengundurkan diri dari pekerjaan kau itu!” ucap Khalid antusias. Pria itu benar-benar sangat bersemangat.
Kalila menoleh, menatap kakak lelakinya yang terlihat sumringah dan begitu antusias. “Jika Lila mengundurkan diri dari yayasan, dan hasil wawancara di PT. Adi Putra Group, ternyata gagal, Lila akan kehilangan keduanya, bukan?”
Kalian benar-benar merasa berat untuk meninggalkan pekerjaannya. Gadis itu begitu nyaman di tempat kerjanya. Bahkan, gadis itu bisa menggapai mimpinya di sana. Mimpi untuk menjadi guru di taman kanak-kanak. Anneke—atasan di tempatnya bekerja— sudah memberikannya kesempatan untuk mewujudkan cita-citanya. Meninggalkan semua hal baik itu, Kalila sungguh merasa berat, sangat berat.
“Kau pastikan, kau lulus tahap wawancara itu! Ibra sudah bersusah payah hingga kau bisa langsung mengikuti tes tahap akhir. Jangan kau sia-siakan kesempatan itu!”
Kalila masih diam. Dua pilihan yang sangat berat untuknya. Sebenarnya gadis itu juga ingin bekerja di tempat yang sama dengan Ibrahim. Bisa melihat pria yang dicintainya setiap setiap hari. Terlebih mereka berada di divisi yang sama. Sudah pasti mereka akan banyak berinteraksi.
***
“Mana yang lebih kau cintai, Kalila? Menjadi guru TK, atau ... A' Ibra?” tanya Dimas, ketika malam itu, mereka melakukan panggilan video, seperti biasa. Kalila menghela napas panjang. Gadis itu benar-benar tidak bisa menjawabnya.
“Kau bingung?” Dimas kembali bertanya. Gadis itu hanya mengangguk pelan. Kalila benar-benar resah malam itu. Bisa dipastikan, malam itu Kalila akan sulit terlelap.
“Apakah kau mau mendengar keinginanku, Kalila?” Kalila menatap layar ponselnya lekat. Kalila menajamkan pendengarannya. Karena, baru kali ini Dimas mengutarakan keinginannya. Biasanya pria itu yang selalu mengabulkan keinginan Kalila.
“Aku ingin kau tetap bekerja di Yayasan itu. Aku ingin kau mengajar di taman kanak-kanak itu. Aku ingin kau tetap pada mimpimu, menjadi guru taman kanak-kanak.”
Kalila tersenyum, “berada dekat dengan Bang Ibra, juga termasuk mimpiku, Bang,” ucapnya. Hati Dimas mencelos mendengar pengakuan gadis itu. Dia terlupa, bahwa gadis yang dipujanya selama ini, begitu memuja sepupunya.
__ADS_1
Dimas terlupa, jika kemarin malam, mata gadis itu berbinar ketika mengatakan Ibrahim mengajaknya bertemu. Dimas juga terlupa, menjadi pendamping Ibrahim adalah mimpi terbesar Kalila saat ini.
Pria itu terdiam.
Kecewa.
Terluka.
Begitulah yang dirasakan Dimas. Pria itu bahkan tidak bisa berpura-pura tersenyum di hadapan Kalila, kini. Gadis itu pun menyadari perubahan raut wajah pria itu.
“Bang Dim, pusing juga kan memikirkannya,” ucap Kalila. “Yasudah, Bang Dim tidak perlu ikut pusing memikirkan masalah Lila. Lila akan menyelesaikannya sendiri,” lanjutnya lagi. Kalila tersenyum sumringah, berusaha menunjukkan kepada Dimas, jika dia baik-baik saja sekarang.
“Bang Dim selalu mendengarkan keluh kesah Lila, itu sudah sangat membuat Lila senang. Sudah mengurangi beban pikiran Lila,” ucapnya dengan senyum yang masih terlihat sumringah.
Namun, Dimas tau, jika senyum Kalila, senyum gadis itu adalah senyum palsu. Senyum yang sengaja ditunjukkannya agar setiap orang yang melihat yakin, jika dirinya baik saja.
Dimas pun merasa malu akan sikapnya. Seharusnya dia tidak berekspresi seperti itu. Seharusnya dia tidak menampilkan raut kecewanya di hadapan Kalila. Bukan kah mereka sudah berjanji untuk menjadi sahabat selamanya. Sahabat yang saling mendukung satu sama lain.
“Kalila ... Ada satu hal yang perlu kau tau, tentang pekerjaan yang ditawarkan A' Ibra di PT. Adi Putra Group.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...
__ADS_1