Cinta Pertama Kalila

Cinta Pertama Kalila
Eps. 136


__ADS_3

Suasana di apartemen baru milik Kalila siang itu, benar-benar ricuh. Bahkan canda tawa terus mengiringi saat mereka menikmati santap siang di sana. Hanya Ibrahim yang terus menekuk wajahnya. Sedang Anneke berupaya untuk tetap tersenyum, walau tak bisa dipungkiri jika netra gadis itu terlihat sendu.


Keempat rekan kerja Kalila pun berpamitan saat jam istirahat mereka telah usai. Tinggal lah Harry di sana bersama keluarga Kalila dan Dimas. Pria itu memang sudah resmi berhenti dari PT. Adi Putra Group sejak bulan lalu. Harry tengah sibuk membantu Dimas, menyiapkan perusahaan baru mereka.


Tak tanggung-tanggung, Harry bahkan di daulat sebagai direktur pelaksana. Sementara Dimas menjabat direktur utama. Pria itu memasukkan nama ibu kandungnya— Ghita Adi Putra— dan istrinya— Kalila Nasution— sebagai pemilik saham sekaligus komisaris besar di perusahaannya.


Bukan hanya saham perusahaan, apartemen yang akan mereka tempati, serta mobil yang baru saja dibeli, semua kepemilikan itu atas nama Kalila. Tentu saja Kalila masih belum mengetahui hal itu.


Tak lama setelah rekan-rekan kerja Kalila meninggalkan apartemen itu, Bu Ghita dan Bu Alinah sepakat untuk berpamitan dengan sepasang pengantin baru itu.


“Kita tidak mau mengganggu kalian. Biar Bunda dan Mamak kalian ini, cepat menimang cucu baru!” celetuk Bu Ghita.


Dimas seketika menyenggol lengan Kalila yang duduk di sampingnya. “Bunda dan Mamak minta cucu,” ucap Dimas seraya mengerling pada istrinya. Wajah Kalila bersemu merah. Wanita yang merasa malu itu, memukul pelan lengan suaminya. “Apa sih, Bang Dim!”


“Kenapa memangnya? Kau juga sangat menyukainya kan?”


Mata Kalila membulat sempurna. Sepertinya hanya gigitan piranha yang bisa membuat suaminya itu tutup mulut. Kalila pun mengigit lengan Dimas, hingga pria itu mengaduh kesakitan.


Semua orang sontak tertawa melihat tingkah sepasang pengantin baru itu. Hanya Ibrahim yang merasa kesal menyaksikan adegan demi adegan yang terjadi di hadapannya. Terlebih ketika ibu kandung Dimas meminta seorang cucu dari Kalila. Pria itu seakan tak rela jika Kalila mengandung anak Dimas.


Sedari tadi Ibrahim benar-benar berusaha menahan amarahnya, melihat kemesraan antara Kalila dan Dimas. Sebenarnya pria itu ingin beranjak dari sana sejak tadi. Hanya saja, wajah Kalila seakan memintanya untuk tetap tinggal di sana.


Ibrahim masih ingin lebih lama menatap Kalila. Terlebih, wanita itu mengajukan cuti selama satu Minggu. Jadi, bisa dipastikan dirinya tidak dapat melihat wajah Kalila satu Minggu ke depan.


Jadilah Ibrahim berada di sana sampai saat ini, walau hatinya terus terluka melihat kemesraan antara Dimas dan Kalila.


Hingga tak lama kemudian, mereka semua berpamitan.


Bu Ghita, Bu Alinah, Feni dan Anneke bergantian memeluk Kalila. Sementara Ibrahim, terus menatap cinta pertamanya itu. Kali ini, Dimas dan Kairav menangkap basah tatapan pria itu kepada Kalila.


Sedangkan Kalila, saat netranya beradu pandang dengan Ibrahim, wanita itu tersenyum dan sedikit menganggukkan kepalanya, sebagai bentuk penghormatan.


Dimas beringsut ke dekat Kalila, dan memeluk istrinya itu dari belakang. Pria itu tak mau jika Ibrahim mencuri Kalila darinya, walaupun hanya sekadar tatapan wanita itu.


“Terima kasih ya A' Ibra, Teh Anne, sudah mampir di istana Kalila,” ucap Dimas yang masih bergelayut manja di pundak istrinya. Sementara Kalila seketika menoleh, saat Dimas mengucapkan jika apartemen ini adalah istananya.


“Kok istana Lila?”


“Karena ini semua milik kau, sayang.”

__ADS_1


“Milik Lila?” tanya wanita itu bingung.


Bukankah seharusnya ini adalah harta bersama? Kenapa menjadi istana miliknya sendiri?


Begitulah yang ada di pikiran Kalila.


Dimas tersenyum dan mengecup mesra pipi Kalila. “Sudahlah, kau jangan banyak tanya, sayang. Kita masih ada tugas penting nih.”


“Tugas apa? Bukannya semua sudah beres. Bahkan baju-baju kita sudah tersusun rapi di lemari.”


“Tugas buat cucu untuk Bunda dan Mamak,” jawab Dimas.


Seketika siku Kalila mendarat di perut pria itu. Sontak semua orang tertawa.


Tidak mau menganggu jadwal sepasang suami-istri itu, gegas semua orang langsung beranjak dari sana.


***


Di perjalanan pulang, Kairav yang tengah berada di balik kemudi, seketika menginjak rem.


Bu Alinah, Feni dan kedua anaknya terhempas ke depan. Beruntung Nissa yang duduk di depan, menggunakan sabuk pengaman. Jika tidak, gadis kecil itu pasti terjerembab ke dashboard.


Ada gadis yang terbaring dengan darah bercucuran di kakinya. Kairav sedikit panik.


“Mba ... Mba tidak apa-apa?”


Gadis yang memakai dress selutut berwarna peach itu mengangguk lemah sambil meringis.


“Saya antar ke rumah sakit ya, Mba. Saya akan bertanggung jawab, Mba tenang saja.”


“Ada apa ini Rav?!” pekik Bu Alinah yang turut menghampiri putranya.


“Rav nabrak Mba ini, Mak.”


“Mata kau itu ditaruh di mana Rav? Masa tidak bisa melihat ada orang lewat. Kau terlalu mengebut!”


“Tidak Bu. Ini semua salah saya. Saya tidak hati-hati menyebrang. Saya sedang tidak fokus, karena saya habis kecopetan,” ucap gadis itu.


“Ya ampun kasihan sekali... Kalau begitu kita ke rumah sakit saja dulu untuk mengobati luka kau,” ucap Bu Alinah. Gadis itu pun mengangguk lemah. Kairav menuntun gadis itu hingga masuk ke mobil.

__ADS_1


Gegas Kairav mengemudikan kendaraannya menuju rumah sakit terdekat. Gadis itu pun mendapatkan perawatan atas lukanya.


“Nama kau siapa?” tanya Kairav. Pria itu terlihat memegang sebuah kertas yang diberikan dari rumah sakit.


“Nasya. Ehm ... Annasya Sunandar,” jawab gadis itu. Kairav pun menuliskan nama gadis itu pada selembar kertas registrasi yang diberikan pihak rumah sakit.


Hampir dua jam Nasya menjalani pemeriksaan sekaligus pengobatan. Tidak ada yang terluka parah di bagian tubuh gadis itu. Hanya lecet dan luka ringan di bagian kepala, tangan dan kaki.


Kairav dan Bu Alinah sepakat untuk mengantarkan Nasya ke rumahnya. Sementara Feni dan kedua anaknya sudah dijemput oleh Khalid.


“Rumah kau di Bekasi, tapi kenapa bisa sampai di Bogor? Kau sedang jalan-jalan? Seorang diri?” tanya Bu Alinah saat mereka dalam perjalanan.


“Nasya baru saja selesai menjalani pendidikan di Ciawi, Bu. Di hari terakhir ini, Nasya dan teman-teman memutuskan untuk jalan-jalan ke Bogor. Kemudian Nasya berpisah dengan mereka, karena ingin membeli sesuatu. Tapi naas, di tengah jalan, tas Nasya di copet,” jelas gadis itu. Bu Alinah hanya mengangguk mendengar kisah gadis itu.


“Pendidikan apa di Ciawi?” tanya Kairav penasaran. Pasalnya, pria itu beberapa kali menempuh pendidikan dari perusahaannya di daerah yang sama—Ciawi, Jawa Barat.


“Kampus Bank Dana.”


“Bank Dana?! Kau juga bekerja di Bank Dana?” Annasya mengangguk, “Iya Mas,” jawab gadis itu.


“Aku juga bekerja di Bank Dana. Sudah lebih lima tahun. Tapi, aku bekerja di Bank Dana Cabang Kota Medan,” jelas Kairav. Annasya terperangah. Kebetulan macam apa ini. Dirinya juga akan di tempatkan di kota Medan, nantinya.


Kairav ikut terperangah mendengar penuturan Annasya.


Takdir macam apa ini? Dirinya menabrak seorang gadis yang ternyata bekerja di perusahaan yang sama dengannya. Malah, mereka akan bekerja di lingkup yang sama. Kairav akan menjadi atasan langsung bagi Annasya, di Kota Medan.


“Nama Mas, Kairav Nasution?!”


Kairav mengangguk, “iya,” jawab pria itu.


“Jadi Mas ini adalah legenda di Bank Dana. Marketing terbaik yang pernah dimiliki Bank Dana. Dalam kurun waktu satu tahun bekerja, beliau sudah menjadi pimpinan cabang! Sepertinya dia juga sangat baik. Aku sungguh beruntung!”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......


...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...


...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...

__ADS_1


__ADS_2