Cinta Pertama Kalila

Cinta Pertama Kalila
Eps. 122


__ADS_3

Baru saja Kalila hendak membalas pagutannya, Dimas sudah menarik diri, dan duduk sembari menatap Kalila yang masih berbaring.


“Aku tidak bisa tidur seranjang dengan kau, Lila,” ucap Dimas sembari mengusap kasar wajahnya. Pria itu sedang berusaha menahan gejolak dirinya kini.


“Kita akan melanjutkan aktivitas tertunda ini nanti. Saat aku sudah mengucapkan ijab qabul sembari bersalaman dengan Bang Alid,” ucap Dimas. Pria itu kemudian turun dari ranjang dan menyelimuti Kalila.


“Tidak seharusnya kita melakukan ini. Kau sabarlah dulu. Kalau kau tak sabar seperti ini, aku bisa sulit mengendalikan diri. Jangan sampai terjadi hal-hal yang kita inginkan.”


Kalila membelalak, “Siapa yang tidak sabar?! Yang memulainya duluan kan, Bang Dim!” ketus Kalila.


“Lagian, Lila tidak menginginkannya! Bang Dim tuh, yang jelas-jelas menginginkannya!”


Kalila bersikukuh tidak mau jujur atas apa yang dirasanya. Padahal, sejak ciuman pertama itu terjadi, Kalila memang menginginkannya kembali. Bahkan dirinya benar-benar terbuai dengan apa yang barusan Dimas lakukan.


Dimas berusaha menahan tawanya melihat sikap Kalila. Dimas juga sudah teramat paham dengan gengsi yang dimiliki gadis itu.


“Iya ... aku memang menginginkannya. Sangat menginginkannya. Tapi kau yang memancingku. Kau yang mengajakku tidur seranjang,” ucap Dimas. Pria itu pun mencubit gemas hidung Kalila.


Kalila benar-benar merasa sangat malu. Ucapan Dimas memang benar, dirinya lah yang mengajak pria itu untuk tidur satu ranjang dengannya. Kalila menepis jemari Dimas yang bercokol di hidungnya. Kalila pun memalingkan wajah, takut jika pria itu melihat wajahnya yang sudah berubah menjadi warna merah.


Dimas sedikit membungkuk dan mendekatkan wajahnya pada telinga Kalila. “Terima kasih untuk malam ini, Kalila,” bisik Dimas. Pria itu bahkan menggoda Kalila dengan meniup telinga gadis itu hingga Kalila bergidik.


Dimas kembali menegakkan badannya. Kini pria itu melangkah menuju sofa. Namun, tiba-tiba Dimas menghentikan langkahnya dan berbalik arah, menghadap Kalila yang masih memalingkan wajahnya.


“Kau tenang saja. Aku tidak akan menghilang tanpa kabar lagi. Tapi dengan satu syarat. Kau harus menerima lamaranku, besok!”


Dimas menatap tajam pada gadis yang masih memalingkan wajahnya. Ada semburat senyuman di wajah gadis itu. Dimas pun dapat melihatnya.


Setelah beberapa Minggu ini tidur Kalila tidak lelap, tapi malam ini, gadis itu tidur dengan pulas. Kehadiran Dimas di sisinya, benar-benar membuat gadis itu tenang.

__ADS_1


***


Pagi ini, di salah satu ruang rawat inap VIP RS. Bogor Medical Center, dua keluarga berkumpul. Ada Bu Alinah, Khalid, Kairav, Bu Ghita, Bu Asih dan Gilang Adi Putra.


Setelah menyuapi Kalila makan, dan menyuruh gadis itu meminum obatnya, Bu Alinah, Khalid dan Kairav masuk ke ruangan itu.


“Mamak!” pekik Kalila. Gadis itu merentangkan tangannya, hingga Bu Alinah mempercepat langkah dan memeluk anak kesayangannya itu.


Kalila memang sudah tau, jika sang ibu tiba di kota Bogor tadi malam. Padahal, Bu Alinah baru saja meninggalkan kota Bogor dua Minggu yang lalu. Tapi, wanita paruh baya itu kembali lagi ke kota hujan ini, karena mendengar kabar jika anak perempuannya dirawat di rumah sakit.


Saat mendengar kabar Kalila dirawat di rumah sakit, Bu Alinah dan Kairav sangat panik. Karena itu adalah hal yang pertama kali dialami Kalila. Gadis itu tidak pernah sakit parah, hingga harus dirawat di rumah sakit. Bahkan, sejak kecil Kalila jarang sekali mengalami sakit.


Baru saja Kalila melepaskan pelukannya dari sang ibunda, pintu ruang rawat inap itu kembali di ketuk. Bu Ghita, disusul Bu Asih dan Gilang Adi Putra, memasuki ruang tempat Kalila di rawat.


Kalila terpaku.


Jika hanya Bu Ghita dan Bu Asih yang datang menjenguknya, Kalila mengerti. Karena kedua wanita paruh baya itu sudah dianggapnya seperti ibunya sendiri. Hubungan Kalila dan kedua ibunya Dimas itu, juga cukup dekat.


Apakah yang dikatakan Dimas bukan sebuah bualan?


Apa pria itu benar-benar akan melamarnya?


Dan, ternyata itu benar. Setelah saling sapa dan berbasa-basi, Gilang mengungkapkan maksud kedatangannya. Pria paruh baya itu meminta Kalila untuk menjadi istri dari keponakannya—Dimas Adi Putra.


Wajah bahagia terpampang di dua keluarga itu, kecuali Khalid tentunya. Dari semua orang di ruangan itu, Khalid lah satu-satunya yang tidak mengetahui perihal Dimas yang akan melamar Kalila. Dirinya sama sekali tidak mempersiapkan diri.


Khalid shock!


“Bagaimana Lila, apa kau menerima lamaran dari keluarga Dimas?” tanya Kairav antusias. Kairav termasuk orang yang paling bergembira dengan situasi ini. Pasalnya, Kairav adalah saksi dari perjuangan Dimas untuk terus bertahan di sisi Kalila selama enam tahun ini.

__ADS_1


Kalila melirik Dimas yang ternyata sedang menatapnya dengan penuh harap. Kalila benar-benar tidak tau harus menjawab apa? Kalila masih ragu dengan isi hatinya.


Apakah masih ada Ibrahim di sana?


Atau, sudahkah nama Dimas menelusup di sana? Pasalnya sejak Dimas merebut ciuman pertamanya malam tadi, Kalila mendadak salah tingkah jika pria itu mendekatinya.


Kalila masih belum dapat menemukan jawaban dari kegundahan hatinya.


Tapi satu hal yang pasti, Kalila tidak sanggup jika kembali kehilangan komunikasi dengan Dimas. Kalila tidak mau hal itu terjadi lagi. Bahkan, dibandingkan dengan berita pertunangan Ibrahim dan Anneke, Gadis itu lebih merasa terpukul karena tidak bisa berkomunikasi dengan Dimas.


Kalila menarik napas dan mengembuskannya perlahan. Gadis itu akhirnya mengangguk pelan.


Wajah tegang Dimas berubah sumringah, kala melihat sang gadis pujaan menerima lamarannya. Semua orang tersenyum sumringah. Bu Alinah dan Bu Ghita bahkan berpelukan.


Sementara Khalid hanya menghela napas berat. Dirinya masih belum bisa memercayai berita pertunangan Ibrahim dan Anneke. Hingga Gilang menyampaikan berita itu.


“Kalau pesta pertunangan Dimas dan Lila, kita laksanakan dua Minggu lagi, bagaimana? Biar persiapannya lebih matang. Laginya, jika dilaksanakan Minggu depan, bentrok dengan acara pertunangan Ibrahim—anak saya,” ujar Gilang.


Ucapan ayah kandung Ibrahim, membuat Khalid mau tak mau memercayainya. Memercayai jika Ibrahim benar-benar meninggalkan Kalila.


Khalid benar-benar sangat kecewa dengan sang adik. Jika tidak ada keluarga ayah kandung Ibrahim di sana, pria itu pasti akan menolak lamaran itu. Dirinya benar-benar merasa tidak dihargai sebagai anak paling tua di keluarga Nasution. Acara lamaran ini seolah-olah seperti dirahasiakan darinya.


Dan yang lebih membuat dia tidak menyukai Dimas, karena pria itulah yang menjadi sebab Ibrahim berpaling dari Kalila. Karena adiknya itu terlalu dekat dengan Dimas selama di kantor.


“Kau anggap Abang ini apa, Lila!”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......

__ADS_1


...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...


...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...


__ADS_2