
Kalila dan Dimas memberikan hadiah menginap selama tiga hari dua malam, di sebuah hotel ternama di Kota Bandung. Padahal Kalila mengatakan jika mereka memesan kamar tipe standard. Tapi ternyata kamar itu cukup mewah, dan pemandangannya sungguh indah.
Apakah kalian bisa melihat sebuah sofa yang berada di samping ranjang besar itu?
Di situlah, untuk pertama kalinya tubuhku dan Anneke menyatu.
Malam itu, kami tiba di hotel, tepat pukul 20:00 WIB. Setelah membersihkan diri, aku mengajak Anneke untuk menikmati malam pengantin kami sambil berpelukan mesra. Aku duduk bersandar pada sofa, sedangkan dirinya duduk di depanku, dan bersandar pada dadaku.
Malam itu, Anneke memakai gaun malam berwarna merah muda. Penampilannya malam ini, sungguh memanjakan mata. Begitu dia meletakkan tubuhnya, gaun malam itu menampilkan separuh paha mulusnya. Tentu saja ada bagian tubuhku yang mulai menggeliat.
Ku cium aroma rambut Anneke yang harum. Lalu aku beralih pada kedua pundaknya yang terbuka. Ku sampirkan rambut panjangnya ke depan, agar aku bisa puas bermain, hingga ke ceruk lehernya. Pemandangan yang kulihat pun sungguh indah. Garis leher gaun malam yang begitu rendah, menampilkan dua buah bukit mulus yang mencuat.
Jemariku pun tak tahan lagi untuk tak memainkan dua buah ceri di puncak bukit itu. Sembari ku tinggalkan jejak kemerahan di sekujur leher dan pundaknya, jemariku pun sibuk memilin buah ceri itu.
D*sah yang tertahan di bibirnya, membuat bagian bawahku semakin terasa sempit. Puas bermain di puncak bukit, jemariku kini membelai paha mulusnya hingga ke pangkal.
Siapa sangka dirinya sudah begitu siap untuk melayaniku?
Memakai gaun malam yang terbuka, hingga kini tak memakai secarik kain pun di bawah sana. Jemari nakal ku pun langsung bertindak. Sengaja aku hanya membelainya. Akan ku tunjukkan keahlianku. Akan ku buat Anne bertekuk lutut dan memohon.
Belum sampai tiga menit, Anne sudah menekuk lututnya, meminta permainan yang lebih lagi dari jari nakal ini. Tapi tak ku biarkan itu terjadi sampai dia memohon. Dan benar saja, tak lama dia memanggil namaku.
“Ayolah ...,” pintanya.
__ADS_1
Aku pun melepaskan pelukanku pada tubuhnya, hingga dia berinisiatif untuk melepaskan satu-satunya pakaian yang menempel di tubuhku. Ku lihat wajahnya bersemu merah dengan mata membeliak ketika melihat diriku yang sudah siap tempur.
“Ayo, sini,” ajakku. Hingga kini, wanita itu terlihat tengah memejamkan mata sembari menggigit bibir bawahnya, menikmati senti demi senti bagian tubuhku yang dilahapnya.
Dan kini, wanita itu menari indah di atasku. Ini memang bukan yang pertama bagi kami. Walau ada sedikit rasa canggung, tapi masing-masing dari kami memang begitu menginginkannya. Terlebih aku.
Sejak kehamilan Nasya memasuki trimester kedua, aku tak pernah lagi menikmati surga dunia ini. Dan kini, aku sedang menyaksikan wanita yang sejak dulu ku impikan, tengah mengejar nikmatnya.
Ku tatap dirinya yang terus menggigit bibirnya karena berusaha menahan d*sah. Tapi, saat dia menari semakin liar, hingga bibir mungil itu tak mampu lagi bertahan.
Anneke meng*rang tanpa bisa tertahan. Suaranya begitu seksi dan menggoda. Sementara aku, sekuat tenaga menahan hasrat demi memuaskan wanita itu berkali-kali.
Hal yang tidak pernah ku sangka, Anneke meng*rang dengan kencang, bahkan hampir berteriak, saat wanita itu mencapai puncaknya. Ku biarkan dia menikmatinya sejenak. Sebelum akhirnya ku pindahkan tubuhnya ke ranjang.
Ku dekap tubuhnya, lalu ku bawa tubuh indah itu tanpa melepaskan tubuh kami yang menyatu. Kaki Anne pun mencengkeram erat di pinggang ku.
Aku bergerak dengan brutal di atas tubuhnya yang bergoyang liar. Hingga akhirnya tanpa malu dia berteriak. Dan tak lama, aku pun terkulai di atas tubuh Anneke.
Dua malam kami memadu kasih tanpa kenal lelah. Hingga akhirnya kami harus menyudahi masa bulan madu ini. Anneke rela meninggalkan pekerjaannya demi mengikutiku ke kota Medan.
Wanita itu bahkan mengurus Kaisya dengan sangat telaten. Bahkan terkadang, aku merasa cemburu dengan anakku, karena Anneke kerap lebih memilih bermain dengan anaknya dibanding denganku.
Tapi, aku bersyukur karena Anneke begitu menyayangi Kaisya. Nasya yang kini telah berada di alam sana, pasti juga akan merasa senang. Hari-hari ku kini terasa penuh warna. Ada Kaisya dan Anneke di sisiku.
Anneke yang anggun itu tak hanya menjadi istri yang hebat, dia juga menjadi ibu yang begitu lembut terhadap Kaisya, bahkan menjadi anak perempuan yang sigap bagi Mamak.
__ADS_1
Aku memang benar-benar pria yang beruntung. Apalagi, kini, setelah dua bulan pernikahan, Anneke memberiku sebuah alat tes kehamilan dengan dua garis biru sebagai hadiah atas ulang tahunku.
Hidupku terasa lebih dari sekedar bahagia. Aku merasa begitu sempurna. Hingga terdengar suara ketukan pintu. Mantan suami Anneke, yang tak lain adalah cinta pertamanya, bahkan cinta pertama adikku, kini berada di ambang pintu rumahku
Sudah lama dia menghubungiku, menyatakan niatnya untuk meminta maaf pada Anneke. Aku pun sudah menyampaikan hal itu pada Anneke. Tapi aku tak menyangka, jika akhirnya dengan gagah dia mengucapkan secara langsung maaf itu.
Sebenarnya ada sedikit rasa cemburu melihatnya berinteraksi dengan istriku. Bagaimana pun, dulu, demi pria itu Anneke menolak ku. Kata orang, cinta pertama sulit untuk dilupakan. Seperti Anneke yang selalu ada di salah satu sudut hatiku, aku pun yakin, jika pria itu pasti masih bertengger di salah satu sudut hati istriku.
Tapi, ketika aku lihat binar mata Anneke saat menyampaikan jika dia sangat bahagia sekarang, aku pun sadar, pria itu hanyalah masa lalu bagi wanitaku.
Dan untungnya, kenangan masa lalu itu bukan kenangan yang indah baginya. Hingga tak ada alasan bagiku untuk menyurigai perasaan Anneke.
Empat bulan setelah kedatangan Ibrahim ke rumah kami, Anneke kini tengah menikmati masa kontraksi. Aku terus merapalkan do'a sembari mengusap punggung wanita itu. Bayangan masa lalu, saat Nasya melahirkan Kaisya sungguh membuatku takut. Teramat takut. Aku terus berdoa agar aku masih diberi kesempatan untuk membahagiakan Anneke.
Dan, aku tak berhenti berucap syukur, saat suara tangis bayi menggema di ruang bersalin. Bahkan Anneke tersenyum ke arahku.
Ku kecup lama dahinya. Ku ucapkan terima kasih karena telah memberiku seorang anak laki-laki. Bahkan aku mengucapkan terima kasih, karena dia melahirkan dengan selamat.
Allah benar-benar tau apa yang terbaik buatku. Dan, kapan waktu yang tepat buatku memilikinya.
Hari ini, berjuta kata syukurpun terlontar dari mulutku.
...****************...
CINTA PERTAMA KALILA SUDAH RESMI TAMAT 🎉
__ADS_1
JANGAN LUPA UNTUK TEKAN LIKE, BERI KOMENTAR SEBANYAK-BANYAKNYA DI EPISODE TERAKHIR INI 🥰
TERIMA KASIH BANYAK BUAT SEMUA YG SUDAH MAU MEMBACA KARYA RECEHKU 🙏💕