
“Kau anggap Abang ini apa, Lila!” bentak Khalid, saat seluruh keluarga Dimas—termasuk Dimas— sudah meninggalkan ruang rawat inap itu.
“Bisa-bisanya kau merencanakan semua ini tanpa memberitahukan kepada Abang!”
Kalila, Kairav dan Bu Alinah yang tengah berbincang, seketika terdiam mendengar bentakan Khalid.
“Kau ini kenapa?” tanya Bu Alinah. Wanita paruh baya itu merasa heran dengan Khalid yang tiba-tiba membentak Kalila.
“Siapa yang merencanakan semua ini? Kau Lila?! atau ... Kau Rav?!” Mata Khalid menyala. Dirinya benar-benar tidak terima dengan perlakuan anggota keluarganya. Dirinya yang selama ini berjuang demi keluarga, kenapa sekarang seperti tak dianggap?
Kalila dan Kairav, kedua adiknya itu dia sekolahkan hingga sarjana. Tapi, mengapa tega berbuat hal seperti ini kepadanya?
Mengapa adiknya membuat keputusan tanpa berdiskusi dulu padanya?
Kalila ... Adik bungsunya itu bahkan sudah dirawat dan dimanjanya sejak kecil.
Sewaktu Kalila lahir ke dunia, dialah yang mengazaninya. Perkuliahan gadis itu, dia juga yang membiayainya. Bahkan, dia juga yang mengantarkan gadis itu saat interview di perusahaan tempatnya bekerja sekarang.
Dia yang menampung Kalila, setelah gadis itu menyelesaikan pendidikan strata satunya. Memberinya tempat tinggal, memberinya makan. Bahkan, masih memberikan gadis itu uang saku walaupun Kalila sudah bekerja.
Semua dia berikan untuk Kalila.
Tapi apa yang diperbuat oleh adik kesayangannya itu?
Kalila menghianati dirinya. Kalila menganggapnya seolah tak ada.
“Merencanakan apa Bang?” tanya Kalila. Sementara Kairav hanya diam dan menatap tajam pada Khalid. Namun, di lubuk hati Kairav, dirinya sangat senang melihat Khalid frustasi seperti ini. Kakak lelakinya itu, sejak dulu terlalu dominan. Melihat Khalid tidak berkutik seperti tadi, tentu saja Kairav merasa senang.
“Kau berpura-pura sakit supaya mamak ke sini, dan kau di lamar oleh Dimas. Benar kan?”
“Khalid Nasution! Kau pikir Kalila itu pembohong! Tidak mungkin Lila merencanakan dirinya untuk masuk rumah sakit dan membuat mamak kau ini khawatir!”
Mendengar suara tinggi sang ibunda. Khalid terdiam.
__ADS_1
“Tadi malam Bang Dim mengatakan, kalau keluarganya akan datang untuk melamar Lila. Tapi, Lila pikir itu hanya lelucon. Lila juga sama terkejutnya dengan kalian, saat seluruh keluarga Bang Dim datang dan melamar Lila, Bang.”
“Dan kau menerima begitu saja lamaran itu, tanpa mendiskusikannya dengan Abang?!”
“Ini masa depan Lila, Bang. Kenapa harus mendiskusikannya dengan Abang?” ucap Kairav. Sudah sejak lama Kairav geram dengan Khalid yang selalu mengatur hidup Kalila. Adik kesayangan mereka itu bahkan sempat merasa rendah diri karena tak mampu mengimbangi ekspektasi Khalid.
“Lila itu tanggung jawabku sebagai anak lelaki tertua. Kalau kau mau hidup sesuka hati, silakan. Tapi tidak dengan Lila. Dia harus mendapatkan yang terbaik!” ucap Khalid dengan rahang yang mengeras.
Kairav, adik lelakinya itu memang paling tak tau diuntung. Jika saja bukan karena dirinya membiayai Kairav hingga memperoleh gelar sarjana, tentu adik lelakinya itu tidak akan bisa menjadi manajer area di salah satu bank swasta terkemuka di Indonesia.
“Apa karena Abang yang membiayai kuliah kami, jadi Abang pikir bisa mengatur hidup kami sesuka hati Abang?!”
“Seharusnya iya! Seharusnya kalian itu menurut dengan ucapan Abang. Kau Rav ... Apa karena kau sudah sukses, kau jadi besar kepala?! Kau harusnya ingat, Abang yang membiayai kuliah kau!”
Bu Alinah memijat pelipisnya. Wanita paruh baya itu merasa sakit kepala melihat kedua anak lelakinya tak pernah akur beberapa tahun belakangan. Tapi, Bu Alinah membiarkan. Mungkin, memang ada banyak hal yang nyangkut di hati kedua anak lelakinya.
Bu Alinah membiarkan kedua anak lelakinya itu berdebat. Mengeluarkan seluruh isi hati mereka masing-masing. Dan Wanita paruh baya itu memilih keluar, untuk mengurusi administrasi anak bungsunya, karena Kalila memang sudah diperbolehkan untuk pulang.
Setelah berpamitan dengan Kalila, Bu Alinah melangkahkan kakinya, meninggalkan ruang rawat inap yang terasa panas itu. Bukan panas karena tak ada pendingin ruangan di sana. Tapi karena suasana hati anak-anaknya yang ada di ruangan itu.
Khalid terdiam. Jika sudah membawa nama wanita yang sangat dicintainya itu, Khalid tak sanggup untuk angkat bicara. Karena dia sadar betul dengan perjuangan sang ibunda dari sejak mereka kecil.
“Biarkan Lila memilih jalan hidupnya sendiri, Bang. Lila berhak menentukan kebahagiaannya sendiri,” ucap Kairav melemah. Kairav ingin Khalid benar-benar memahami perasaan Kalila.
“Kebahagiannya? Kau tau apa tentang kebahagian Kalila?”
Khalid kembali menabuh genderang. Kedua pria itu melanjutkan debat kusir yang sedari tadi masih belum selesai. Mereka bahkan sama sekali tak menyadari, jika sang ibunda telah keluar dari ruangan itu.
“Apa kau mencintai Dimas? Hah?!” Lagi, Khalid membentak Kalila. Kalila menunduk, “Lila gak tau, Bang,” jawabnya.
Jawaban Kalila semakin membuat Khalid berang.
Seharusnya Kalila tidak perlu menerima lamaran Dimas, jika memang adiknya itu tidak mencintai pria itu. Harusnya Kalila masih bisa membujuk Ibrahim untuk membatalkan pertunangannya dengan Anneke.
__ADS_1
Namun, sekarang sudah terlambat. Walaupun Kalila bisa membatalkan rencana pertunangannya dengan Dimas, tapi ayah kandung Ibrahim pasti tidak akan menyukai Kalila. Karena Gilang Adi Putra lah yang meminta Kalila untuk menjadi istri Dimas.
Begitulah yang ada di benak Khalid.
Khalid menatap tajam adik perempuannya itu, “Lantas, kenapa kau menerima lamaran itu?! Kau sudah gila?!” hardik Khalid.
“Lila sendiri tidak mengerti, Bang! Yang jelas, Lila hanya tidak mau kehilangan Bang Dim! Lila tidak mau kehilangan komunikasi dengan Bang Dim, seperti dua Minggu ini! Lila tidak bisa jika putus komunikasi dengan Bang Dim, walau hanya satu hari!”
Khalid terdiam mendengar jawaban Kalila. Kalimat demi kalimat yang dijalin Kalila, membuatnya menyimpulkan sesuatu. Sesuatu yang tidak sesuai dengan inginnya.
“Itu artinya kau mencintai Dimas, La,” ujar Kairav lembut.
“Apa kau tau, Dimas juga hampir gila karena tidak bisa berkomunikasi dengan kau, selama dua Minggu. Dia selalu mendengarkan rekaman-rekaman suara kau, setiap hari. Dia juga selalu menatap potret kau saat di kantor. Itu yang membuat dia bertahan.”
“Foto Lila? Di kantor?” Kalila tampak bingung. Namun, ingatannya melayang pada sesosok pria yang juga menjadi teman baiknya.
Harry.
Pasti pria itu yang memotret dirinya dan mengirimkannya kepada Dimas.
“Jadi, kalian berdua membantu menyembunyikan Bang Dim? Abang tau, betapa tersiksanya Lila selama dua Minggu ini. Berat badan Lila turun dua kilogram, Bang! Lila tidak bisa tidur dengan nyenyak! Kenapa Abang jahat?!”
Kalila tidak dapat lagi menahan isak tangisnya.
“Itu karena kau terlalu dibutakan oleh ambisi kau, untuk memiliki Ibra. Padahal, yang ada di dalam hati kau itu, ya Dimas. Kalau saja kau bisa mengetahui perasaan kau lebih cepat. Dimas tentu tidak perlu menahan sakit, dengan memberikan kau jalan agar lebih dekat dengan Ibra. Dimas tentu tidak perlu pergi menjauh ke Bali.”
Kalila terdiam. Benarkah jika selama ini dia hanya terobsesi dengan Ibrahim?
Benarkah, jika cinta sejatinya adalah Dimas?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
__ADS_1
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...