
Mata Dimas seketika membulat, ketika Harry membukakan pintu mobil untuk Kalila. “Kita berdua duduk di belakang ya, La,” ucap Harry sembari tersenyum sumringah. Tidak bisa dipungkiri, walaupun mengetahui hubungan dekat antara Kalila dengan Dimas, serta ancaman Bu Ghita tentang Kalila, Harry memang mempunyai ketertarikan dengan Kalila.
Namun Harry tau diri. Siapalah dia jika dibandingkan dengan Dimas. Terlebih Dimas sudah sangat mengenal Kalila sejak lama, begitupun sebaliknya. Maka dari itu, Harry tidak ingin hubungan sepasang muda-mudi itu hanya bersahabat. Padahal jelas sekali jika mereka saling menyayangi.
Dimas berlari kecil menghampiri mawar yang baru saja membuka pintu mobil. “War, biar Harry saja yang duduk di depan. Kau dan Lila, duduk di belakang saja, ya? Lila pasti tidak nyaman jika harus berbagi tempat duduk dengan seorang pria,” ucap Dimas. Harry hampir saja terkekeh mendengar penuturan Dimas.
Kenapa pria itu tidak terus terang saja jika dirinya cemburu kalau Kalila dekat dengan pria lain?
Harry benar-benar tidak habis pikir dengan Dimas dan Kalila. Dimas yang tidak berani mengungkapkan isi hatinya dan Kalila.yang mengingkari perasaannya sendiri.
“Lila pasti tidak keberatan kalau duduk di sampingku. Selama dua bulan ini, kita sudah bertambah dekat. Benar kan La?” tanya Harry. Lila yang sudah duduk di mobil hanya diam saja. Karena gadis itu sama sekali tidak mendengar obrolan Dimas dan Harry.
Dimas juga tidak mau mendengarkan alasan yang dikemukakan oleh Harry. Pria itu langsung menarik Harry dan menyuruhnya duduk di bangku depan— di samping dirinya. Harry pun terpaksa menuruti atasannya itu, dengan perut yang serasa menggelitik.
“Tidak apa-apa ya, War,” ucap Dimas. Mau tidak mau gadis yang bernama Mawar itu duduk bersama Kalila.
“Selamat ya, Dim. Sudah berhasil memenangkan tender proyek besar. Kualitas klan Adi Putra memang tak perlu diragukan lagi,” ucap Mawar sembari mengusap lengan Dimas dengan ujung jarinya. Kalila melirik gadis itu dengan tajam. Dan hal itu membuat Dimas menjadi gemas.
Ekspresi cemburu Kalila, benar-benar membuat Dimas merasa campur aduk. Senang, lucu, gemas. Ingin rasanya dia menarik tubuh Kalila dan memeluknya erat, sambil membisikkan bahwa tidak ada wanita lain yang mampu memikat dirinya selain gadis itu.
“Tapi itu bukan kerjaku sendiri. Itu semua berkat Harry dan Lila,” ucap Dimas menanggapi Mawar. Mawar mengulurkan tangan dan mengucapkan selamat kepada Harry. Wanita itu pun mengulurkan tangan dan mengucapkan selamat kepada Kalila. Kalila tersenyum enggan sembari mengucapkan terima kasih kepada Mawar.
Sepanjang jalan, Kalila terus menekuk wajahnya, hingga gadis itu pun memilih terlelap hingga tiba di tempat yang mereka tuju.
Begitu turun dari mobil yang dikendarai oleh Dimas, Kalila bergegas jalan bersama rekan satu divisinya, meninggalkan Dimas dan Mawar yang berjalan beriringan di belakang gadis itu.
__ADS_1
Sesekali terdengar suara tertawa Mawar akibat di goda oleh Dimas. Kalila semakin kesal dibuatnya.
Dimas bukan bermaksud memberi harapan kepada Mawar. Pria itu sebenarnya sudah mengatakan dengan jujur kepada Mawar, bahwa dirinya hanya menganggap Mawar sebagai teman, karena sudah ada wanita yang mengisi hatinya sejak tujuh tahun yang lalu. Dan Mawar tentu saja bisa menebak, jika gadis yang dimaksudkan oleh Dimas, adalah Kalila. Namun, Mawar tidak mau ambil pusing. Gadis itu tetap berpura-pura tidak mengetahuinya. Karena kedekatan Kalila dan Dimas, sudah menjadi rahasia umum di perusahaan mereka.
Dan, Kalila selalu mengklarifikasi kepada semua orang yang menanyakan hubungannya dengan Dimas, jika mereka hanya sebatas sahabat. Hingga Mawar merasa dirinya masih ada harapan untuk mendekati Dimas.
Selama ini, Mawar mengira jika cinta Dimas bertepuk sebelah tangan. Namun, saat menyaksikan Kalila yang kini duduk di sebelahnya, Mawar mengambil kesimpulan, jika gadis itu mempunyai rasa yang sama dengan Dimas. Hanya saja gadis itu tidak menyadarinya. Mungkin juga, dia mengingkarinya. Mawar tak mau ambil pusing, dan terus berharap, agar Kalila tetap jadi gadis bodoh yang tak menyadari perasaannya.
“Dim, nanti bisa mengantar aku sampai kos-kosan kan?” tanya Mawar, ketika mereka semua tengah berada di elevator.
Kalila tentu saja mendengar dengan jelas permintaan Mawar. Gadis itu juga berharap agar Dimas tidak mau mengantarkan gadis yang kini menempel di sisi kiri Dimas.
Namun, jawaban yang diberikan oleh Dimas, tak sesuai dengan harapan Kalila. Pria itu malah dengan senang hati akan mengantar Mawar pulang ke kediamannya. Kalila menatap tajam Dimas. Namun, pria itu hanya membalas dengan menaik turunkan alisnya sembari tersenyum sumringah.
“Kau jangan merepotkan Boss Dim! Nanti biar aku yang antar,” ucap Angga ketika melihat wajah Kalila yang terus menerus ditekuk. Namun Dimas malah membela gadis itu.
Seluruh staff yang ada di elevator itu, hanya bisa menggelengkan kepala melihat sikap Dimas dan Kalila. Mereka benar-benar tidak mengerti dengan hubungan yang terjalin antara Dimas dan Kalila. Padahal jelas sekali jika Dimas memiliki perasaan yang lebih dari seorang sahabat kepada Kalila. Namun, tingkah pria itu kini, membuat mereka semua menjadi bingung.
Apa yang diinginkan Dimas sebenarnya?
Apa pria itu hanya ingin membuat Kalila cemburu?
Namun, haruskah sampai sejauh ini?
Apakah Dimas tidak takut, jika Kalila malah semakin jauh dam semakin tidak mengerti dengan perasaan yang dimilik Dimas?
__ADS_1
Ah ... biarlah. Mereka tidak lagi mau ambil pusing. Karena Dimas sendiri yang menciptakan kondisi itu. Yang penting, mereka akan menikmati makanan sepuasnya. Tentang hubungan Kalila dengan Dimas, biarkan saja kedua orang itu yang memikirkannya sendiri.
'Ting.'
Kini mereka telah tiba di lantai lima. Tempat di mana restoran yang akan mereka tuju berada. Dimas sudah melakukan reservasi sebelumnya. Jadi mereka hanya tinggal datang dan menikmati santap makan malam.
Di lantai lima ada beberapa restoran makanan. Sebelum tiba di restoran all you can eat itu, mereka berjalan melewati restoran masakan yang menjual aneka makan steak. Seketika langkah Kalila terhenti.
Dimas yang berada di belakang Kalila, menatap heran pada gadis itu. “Kenapa La?” tanya Dimas. Staff yang lain pun ikut menghentikan langkah, dan menatap Kalila. Namun gadis itu hanya diam dan menatap ke satu arah. Dimas mengikuti arah pandangan Kalila. Dimas pun terdiam.
Lila memutar langkah dan berlari menjauh. Semua orang heran melihat tingkah Kalila yang pergi meninggalkan mereka. Mereka menebak, Kalila pergi karena merasa kesal dengan interaksi antara Dimas dengan Mawar.
“Kalian duluan saja. Aku sudah reservasi, nanti tolong potret tagihannya, sekalian nomor rekening salah satu dari kalian.”
Dimas kemudian berlari mengejar Kalila. Kalila terus berlari sampai hampir terjatuh. Untung Dimas sudah berada di dekatnya. Dengan sigap, pria itu menangkap tubuh Kalila.
Kalila reflek mendorong tubuh orang yang kini memeluknya. Namun, Kalila melunak, saat tau bawah Dimas yang sudah menolongnya. Air mata yang sedari tadi di tahannya, seketika tumpah di hadapan Dimas.
“Kenapa Bang Ibra makan bersama Kak Anne, Bang? Dan mereka terlihat ... mesra.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
__ADS_1
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...