Cinta Pertama Kalila

Cinta Pertama Kalila
Eps. 157


__ADS_3

Ibrahim tak mengharapkan Anneke untuk kembali menjadi pasangannya. Ibrahim hanya ingin mendengar kata maaf dari bibir Anneke. Itu saja sudah lebih dari cukup baginya.


Dan kini, setelah lima tahun sejak terakhir mereka bertemu, Ibrahim berdiri di hadapan Anneke yang tengah berbadan dua.


Ya, Ibrahim baru berani menemui Anneke, setelah seorang pria menyunting mantan istrinya itu. Ibrahim sebenarnya sudah tau jika sang mantan istri tengah berbadan dua. Bahkan saat pertama kali mengetahuinya, Ibrahim tak henti-hentinya berucap syukur. Andai Anneke terus bertahan dengan pernikahan mereka dulu, wanita itu tak akan pernah bisa merasakan nikmatnya dianugerahi makhluk kecil di dalam rahimnya.


Tadinya Ibrahim berpikir, jika dirinya akan duduk terlebih dahulu dan menunggu Anneke datang menghampiri di ruang tamu. Namun, siapa sangka, justru Anneke lah yang membukakan pintu untuknya.


Bibir Ibrahim terkunci.


Padahal pria itu sudah benar-benar menyiapkan diri selama perjalanan dari Kota Bogor ke Kota Medan, tapi ketika berhadapan langsung dengan wanita yang sudah berkali-kali disakitinya, nyali Ibrahim ciut.


Sementara Anneke menatap tak percaya kepada pria yang kini ada di hadapannya. Pria yang seumur hidup tak dapat dilupakannya. Pria itu cinta pertamanya. Pria yang menabur banyak luka di hatinya.


Ibrahim menunduk.


Dengan mata mengembun dan tangan terkatup di depan dada, Ibrahim meminta pengampunan dari Anneke. Bahkan kini, tetes-tetes air telah membasahi pipi Ibrahim.


“Aku mohon kau mau mengampuni dosa-dosa yang ku perbuat padamu, Anne. Aku bahkan baru berani untuk menemui kau saat ini. Karena aku sangat malu dan merasa bersalah. Kaulah orang yang paling tersakiti dengan seluruh sikapku. Aku benar-benar memohon pengampunan dari kau, Anneke.”


Anneke masih diam. Wanita itu berusaha untuk mencerna kata demi kata yang terlontar dari bibir sang mantan suami. Anneke memang sudah beberapa kali mendengar cerita, jika Ibrahim sudah berubah. Dari mantan mertuanya, dari Kalila, bahkan dari sang suami. Namun, melihatnya secara langsung meminta maaf dengan lirih, membuat Anneke tak percaya.


Pria yang dulu begitu angkuh, kini bahkan tengah mengatupkan kedua tangannya sembari terisak-isak. Anneke masih tertegun. Hingga seorang pria keluar menghampiri sepasang mantan suami istri itu.


“Siapa sayang?”


Anneke menoleh, menatap pria yang kini berjalan mendekatinya. Wanita itu tak menjawab pertanyaan sang suami. Anneke membiarkan suaminya untuk melihat sendiri, siapa pria yang berdiri di depan pintu rumah mereka.


“Ibra?!”


Ibrahim memberanikan diri untuk menatap suami Anneke. “Aku tidak ada maksud jahat. Aku ke sini hanya ingin memohon ampunan kepada Anne. Dulu, aku banyak sekali memberikan luka pada Anne,” jelas Ibrahim. Pria itu tak mau jika suami Anneke berpikiran buruk atas niatnya.

__ADS_1


“Tapi aku bersyukur atas kejadian masa lalu. Jika tidak, mungkin aku tidak akan pernah menemukan pria yang begitu menyenangkan seperti suamiku yang sekarang!” ketus Anneke.


Ibrahim menjawab ucapan Anneke dengan rasa syukur. Pria itu benar-benar senang jika Anneke merasa bahagia, sekarang.


“Masuklah dulu. Kita berbicara di dalam. Tidak enak jika terdengar oleh tetangga.”


“A- aku hanya bermaksud untuk singgah sebentar saja,” jawab Ibrahim, menolak ajakan suami Anneke.


“Kalau kau memang benar-benar datang untuk meminta maaf dengan tulus, harusnya kau juga menghormati tuan rumah yang menginginkan kau untuk berbicara di dalam rumah. Aku tidak ingin, jika keluarga suamiku dinilai buruk oleh para tetangga, karena membiarkan tamu hanya berdiri sambil mengobrol di depan pintu.”


Anneke berbalik badan dan melangkah dengan anggun meninggalkan kedua pria itu. Ibrahim pun membenarkan ucapan Anneke. Memang tidak sopan rasanya, jika berbicara di ambang pintu seperti yang mereka lakukan. Tapi, Ibrahim benar-benar berat untuk melangkah. Dirinya masih belum mampu mengesampingkan rasa malunya.


Ini memang bukan yang pertama bagi dirinya menginjakkan kaki di rumah itu. Beberapa tahun silam, pria itu pernah ke rumah ini untuk menemui wanita yang sangat dirindukannya. Namun, kali ini dia datang untuk wanita yang berbeda, dan dengan maksud yang berbeda pula.


“Ayo masuk.”


Dengan ragu, Ibrahim mulai mengayun langkahnya memasuki rumah itu.


Kini, Ibrahim sudah duduk di sofa yang ada di ruang tamu rumah itu. Dan tak lama kemudian, Anneke datang dengan memegang nampan yang berisikan tiga gelas minuman beserta satu toples camilan.


“Silakan Kang.”


“Harusnya kau tidak perlu repot-repot seperti ini, Anne,” ucap Ibrahim yang berusaha menahan getar bibirnya.


“Sebaik-baik tuan rumah, adalah yang memuliakan tamunya,” ucap Anneke santai. “Aku hanya berusaha untuk menjalankan sunnah Rasulullah.”


Ibrahim kini bertambah malu. Bagaimana mungkin, orang yang dulu selalu dia sakiti lahir dan batin, masih bisa begitu baik padanya?


“Kang ... Soal permintaan maaf yang Kang Ibra sampaikan tadi, Akang tenang saja. Jauh sebelum Kang Ibra meminta maaf, aku sudah memaafkan. Tapi, maaf, aku tidak akan mungkin bisa melupakan kejadian yang membuatku trauma untuk kembali membina rumah tangga.”


Ibrahim mengangguk pelan. Dia sangat bisa mengerti itu semua. Kalila saja hingga detik ini, masih belum bisa untuk tak bersikap canggung padanya. Dan Ibrahim memaklumi itu. Perbuatannya dulu memang sangat tak bermoral.

__ADS_1


“Tapi, seperti yang aku katakan tadi. Dengan masa lalu yang seperti itu, aku akhirnya bisa sangat bahagia seperti sekarang. Karena aku jadi orang yang lebih banyak bersyukur, bahkan itu karena hal yang sangat kecil sekalipun.


Mungkin, aku memang harus merasakan sakit seperti itu lebih dulu, hingga akhirnya aku bisa bahagia seperti sekarang.”


Tak lama terdengar tangisan anak kecil dari dalam kamar. Anneke pun bergegas menghampiri anak itu dan menggendongnya. Seketika anak itu diam dalam dekapan Anneke.


“Jika saja, dulu aku lebih memilih Bang Rav dibandingkan Kang Ibra, mungkin kami tidak akan memiliki anak secantik Kaisya,” ucap Anneke yang kini sudah kembali duduk di samping Kairav.


Ya, sekarang Anneke adalah istri kedua dari Kairav Nasution. Pria itu menikahi seorang rekan kerjanya tiga tahun yang lalu. Rekan kerja yang dulu pernah ditabraknya saat di Bogor.


Namun naas, Nasya, istri pertama Kairav meninggal saat melahirkan sang buah hati. Dan sejak tujuh bulan yang lalu, Anneke dengan sepenuh hati menjadi ibu sambung bagi Kaisya Nasution. Bahkan gadis kecil yang kini berusia dua tahun itu, lebih dekat dengan Anneke dibandingkan dengan Kairav.


“Setiap manusia punya masa lalu. Tapi, jangan terjebak akan masa lalu itu. Jika itu buruk, maka berbenahlah. Perbaiki diri. Karena setiap orang berhak mendapatkan masa depan yang lebih baik.”


Senyum sumringah terpatri di wajah Kairav. Tak pernah terbayangkan olehnya, wanita yang dulu sangat didambakannya, kini berada di sisinya. Bahkan, empat bulan lagi, mereka akan memiliki anak kedua.


“Jadi, kau memaafkan aku, kan, Anne?”


Anneke tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “Tidak ada gunanya menyimpan dendam, Kang.”


Ibrahim Adi Putra, lihatlah, wanita macam apa yang telah kau campakkan itu. Dulu, berkali-kali kau menyakitinya. Namun, dengan mudah dia memaafkan segalanya.


Lagi-lagi Ibrahim merasa malu. Pria itupun bertekad untuk terus memperbaiki diri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......


...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...


...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...

__ADS_1


__ADS_2