Cinta Pertama Kalila

Cinta Pertama Kalila
Eps. 51


__ADS_3

Sehari setelah berlibur di Tanah Karo, Dimas pun kembali menuju negeri Singa. Dengan wajah muram, Kalila mengantarkan sahabatnya menuju bandara.


“Harusnya Bang Dim beristirahat dulu hari ini. Besok baru kembali ke Singapore.” Dimas hanya tersenyum dan mengacak kecil rambut Kalila.


“Baru saja tadi malam, kita tiba di Medan, dan sekarang, pagi-pagi sekali, kita sudah di bandara,” ucap Kalila. Gadis itu bahkan menghela napas panjang. Rasa rindu pada Dimas, bahkan belum terhapus, dan kini, pria itu harus kembali ke tempatnya mengenyam pendidikan— Singapura.


“Lila saja masih lelah sekali. Bang Dim pasti lebih lelah karena harus menyetir.”


“Makanya tadi kan aku sudah katakan, kau tidak perlu ikut mengantarkan aku ke bandara, Kalila. Istirahat saja di rumah Aku tidak mau kau kelelahan dan sakit,” ucap Dimas. Wajah Kalila masih muram. Kehadiran Dimas selama empat hari di sampingnya, benar-benar membuat Kalila kembali riang dan bersemangat. Rasanya dia tidak perlu mengkhawatirkan apa pun, jika ada Dimas di sampingnya.


Namun kini, pria itu benar-benar harus pergi. Meninggalkan Kalila, kembali ke Singapura, kembali pada rutinitasnya. Berkutat dengan tesis yang sebentar lagi rampung. Berjalan beriringan bersama Kalila di lorong bandara, seketika Dimas menghentikan langkahnya tepat di hadapan Kalila yang muram.


“Aku benar-benar tidak bisa menunda keberangkatanku kembali ke Singapura, Kalila. Besok pagi-pagi sekali, aku harus menemui dosen pembimbing. Dua Minggu lagi, aku harus sudah sidang tesis. Dan akhir bulan depan, aku sudah harus masuk ke perusahaan,” jelas Dimas. Dengan mulut memberengut, Kalila menatap Dimas. Menatap lekat pria itu.


“Sebelum aku masuk ke boarding gate, Tidak bisa kah kau memberikan senyuman bersinarmu itu, Kalila?”


Kalila memaksakan senyumnya, menatap pria itu. Dimas pun membalas senyum terpaksa yang ditunjukkan oleh Kalila. Pria itu lantas mengacak kecil rambut Kalila.


“Sampai bertemu lagi, Kalila.”


“Sampai bertemu lagi, Bang Dim.”


Kalila menghela napas berat, menyaksikan Dimas yang melangkah semakin jauh. Sesekali pria itu berbalik badan, menoleh ke arah Kalila, dan melambaikan tangan sembari tersenyum.


Kalila memutuskan untuk langsung kembali ke rumah, begitu punggung Dimas tak lagi nampak.


Berjalan menuju stasiun kereta api bandara, Kalila pun meninggalkan kawasan Bandar Udara Internasional Kualanamu.


***

__ADS_1


Hari-hari berlalu ...


Urusan berkas-berkas kelulusan Kalila di dua universitas, sudah rampung. Gadis itu hanya tinggal mencari pekerjaan. Begitulah pikir Kalila. Kalila mencoba melamar pekerjaan di kota kelahirannya. Beberapa kali Kalila mengikuti tes di beberapa perusahaan. Hal itu tentu saja membuat Khalid berang. Karena pria itu ingin Kalila bekerja di perusahaan milik keluarga Ibrahim. Ambisinya, menuntut sang adik, harus menjadi bagian dari keluarga Adi Putra. Adiknya harus hidup bahagia. Menikah dengan pria baik yang berkecukupan. Kehidupan seperti itulah yang layak untuk Kalila— begitulah pikir Khalid.


Khalid pun meminta Kalila untuk segera terbang ke Jakarta dan tinggal bersama dirinya, di kota Bogor.


“Bang ... Ada satu perusahaan tempat Lila melamar pekerjaan. Hanya tinggal menunggu keputusan diterima atau ditolak saja. Kalau itu ditolak, baru Kalila berangkat ke Bogor,” ucap gadis itu, ketika Khalid menghubungi Kalila melalui panggilan video.


“Ah ... Kau ini, keras kepala sekali! Lupakan saja perusahaan itu. Apakah perusahaan itu lebih besar dibandingkan Adi Putra Group? Tidak, kan?!”


Kalila hanya diam. Malas sekali rasanya dia berdebar dengan Khalid. Apapun yang dia katakan, sudah pasti tidak akan bisa merubah keputusan Khalid. Dia harus bergegas ke Bogor.


“Persiapkan barang-barang kau, pakaian, ijazah, segalanya. Abang akan belikan tiket untuk kau dan Mamak. Minggu depan, kau berangkat ke Bogor. Abang sudah memberitahukan perihal ini kepada Mamak. Kau hanya tinggal mempersiapkan dirimu sendiri saja.”


Kalila mengangguk pelan dan memutuskan panggilan video itu secara sepihak. Gadis itu menghempaskan diri ke kasur, menghela napas panjang sembari menatap langit-langit kamar. Waktunya tinggal satu Minggu lagi. Gadis itu berharap, panggilan kerja dari perusahaan yang dia kamar, segera mempekerjakannya.


***


Sementara di negeri singa, Dimas tengah berkutat dengan tesis miliknya. Tidak seperti Ibrahim yang mengambil dua jurusan, Dimas hanya mengambil satu program magister saja, sehingga sang kakek menuntutnya untuk bisa selesai dalam jangka waktu dua tahun. Tidak kurang, tidak lebih.


Dimas pun berusaha mati-matian mengabulkannya. Dimas juga ingin menjadi cucu kebanggaan, seperti Ibrahim. Dimas juga ingin sang kakek meliriknya, walau sebentar.


Sedangkan di kota Hujan, Ibrahim tengah sibuk menggarap proyek baru perusahaan mereka. Proyek berskala internasional yang berhasil di dapatkan oleh Ibrahim dengan mudah. Tentu saja hal itu membuat sang kakek bertambah bangga padanya. Sama seperti Khalid yang menjadi kebanggaan buat keluarganya, Ibrahim juga begitu.


Ibrahim merupakan kebanggaan bagi keluarga Adi Putra. Tidak ada satu soalan pun, yang tidak bisa dikerjakan oleh pria berdarah Pakistan itu. Nyaris sempurna sebagai seorang pria. Begitulah sosok Ibrahim.


Dimas bahkan terang-terangan mengatakan, jika dia adalah seorang wanita, sudah pasti akan jatuh cinta pada Ibrahim. Untuk itu, Dimas memaklumi, jika Kalila lebih terpikat pada sepupunya itu.


Sejak perpisahan mereka di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, ketika Kalila berkunjung ke Bogor— lima tahun silam, Dimas sudah mengikhlaskan perasaannya. Ucapan Kalila yang menyebutkan jika mereka sahabat selamanya, tatapan mata Kalila saat berjabat tangan dengan Ibrahim, kala itu, cukup membuat Dimas sadar diri. Membiarkan takdir yang menentukan siapa jodoh Kalila.

__ADS_1


Biarlah hati Kalila menjadi milik Ibrahim. Dirinya merasa cukup, hanya berada di sisi gadis itu. Menjadi garda terdepan untuk membahagiakan Kalila, membuat gadis itu selalu ceria.


Bukannya cinta harusnya seperti itu? Sakit karena melihatnya bersedih, dan ikut merasa bahagia karena melihat dirinya bahagia, walau bukan dengan kita?


Kalila yang seistimewa itu, memang pantas mendapatkan sosok pria sesempurna Ibrahim. Begitulah cara Dimas untuk tetap bertahan di sisi Kalila. Pria itu selalu mengingatkan dirinya sendiri, jika Kalila memang pantas berdampingan dengan Ibrahim— sepupunya.


Mengalah?


Menyerah?


Tidak ... Tidak, Dimas bukannya mengalah. Dimas bukan menyerah. Pria itu menyebutnya dengan rasa sadar diri. Sadar, bahwa dia tidak sesempurna Ibrahim. Sadar, bahwa dia bukan pria yang dicintai Kalila. Cinta tidak bisa dipaksakan, bukan?


Seperti dirinya yang tidak bisa melupakan Kalila, begitu juga dengan gadis itu. Kalila tidak bisa melupakan Ibrahim. Gadis itu benar-benar jatuh akan pesona Ibrahim Adi Putra.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mulai hari ini, terbitnya gak langsung 3 Eps, yaaa ....


Dicicil 😁


Pagi 1 eps; siang 1 eps; malam 1 eps


soalnya kalau terbit langsung 3 episode di jam yg sama, like nya suka gak rata 🤧 Gak 3'3nya di Like 🤧


...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......


...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...


...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...

__ADS_1


__ADS_2