
Apakah kau sedang cemburu, Kalila?
Wajah Dimas seketika sumringah, ketika menyadari jika Kalila menyemburuinya. Itu artinya, Kalila mulai membuka hatinya untuk Dimas.
Butuh waktu hampir empat puluh lima menit hingga mereka tiba di kediaman Dimas. Selama itu pula Kalila terus menekuk wajahnya. Gadis itu kembali menampilkan senyumnya ketika melihat Bu Ghita sudah berdiri di teras.
Kedatangan Kalila langsung disambut oleh Bu Ghita. Wanita paruh baya itu memeluk Kalila, seolah sudah lama tak bertemu. Padahal tiga hari yang lalu, mereka baru saja makan malam bersama di Butik milik Bu Ghita.
Bu Ghita pun mengajak Kalila masuk ke rumahnya. “Yang anaknya Bunda siapa sih? Dimas langsung diabaikan begitu ada Lila!” cebik Dimas yang berjalan di belakang Bu Ghita dan Kalila yang saling bergandengan tangan.
Bu Ghita menoleh sekilas pada anak lelakinya. “Maaf, anda siapa ya?” canda Bu Ghita. “Kau kenal dia, La?” tanya Bu Ghita.
Kalila yang sudah sangat kesal dengan Dimas, melirik sekilas ke arah pria itu. “Lila juga tidak tau Bun, dia itu siapa? Sok kenal!” cebik Kalila. Dimas terkekeh-kekeh mendengar ucapan Kalila.
“Cemburu dia Bun, tadi Dimas dekat-dekat dengan wanita lain di kantor,” ucap Dimas.
“Apa? Cemburu? Buat apa Lila cemburu dengan Bang Dim?! Lila hanya tidak suka jika Bang Dim dekat-dekat dengan wanita penggoda seperti Mawar itu. Tidak pantas! Tidak cocok!”
Bu Ghita menahan tawanya mendengar jawaban Kalila. Sementara Dimas kembali terkekeh-kekeh. Pria itu lantas menyubit gemas hidung Kalila. “Yasudah, ayo kita sholat. Waktu Maghrib sudah hampir habis,” ucap pria itu.
Dimas pun melangkah mendahului Kalila. Sebelum Kalila berpamitan dengan Bu Ghita, Dimas yang tengah berjalan menuju musholla kecil yang ada di rumahnya, seketika membalikkan badannya.
“Kau tenang saja Kalila, calon makmumku belum berubah. Tetap kau, Kalila Nasution!” teriak Dimas, pria itu kembali melanjutkan kembali langkahnya.
Sementara Kalila yang semula kesal, kini tersenyum tipis. Entah mengapa mendengar ucapan Dimas, ada perasaan lega dan senang di hatinya.
“Bun, anaknya perlu dibawa ke psikiater,” ucap Kalila. Bu Ghita pun tertawa mendengar penuturan gadis itu. “Sudah, sholat sana,” perintah Bu Ghita. Kalila mengangguk, kemudian melangkah menghampiri Dimas.
Sepasang muda-mudi itu pun sholat berjamaah.
“Sebentar lagi azan Isya, kita sekalian sholat Isya saja ya, bagaimana?” ucap Dimas, begitu mereka baru saja selesai mengerjakan sholat Maghrib. Kalila tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Jantung Dimas seketika berdetak lebih cepat. Bukan baru kali ini mereka sholat berjamaah, tapi melihat Kalila yang tersenyum lembut dan menuruti keinginannya, membuat pria itu menjadi gemas. Rasanya saat ini, Dimas ingin sekali membawa Kalila ke dalam dekapannya dan menghujani gadis itu dengan kecupan di seluruh wajahnya. Bahkan Dimas membayangkan hal yang lebih dari itu.
Mengecup bibir Kalila, membawa gadis itu ke atas pangkuannya, memeluknya erat hingga membuat ciuman mereka menjadi lebih dalam.
__ADS_1
Kumandang azan Isya menyadarkan lamunan Dimas.
“Astaghfirullah!”
Kalila menatap heran pada pria yang sedari tadi duduk di depannya.
“Aku ambil wudhu dulu. Sepertinya wudhu ku sudah batal!”
Dimas pun seketika berlari, keluar dari musholla kecil itu. “Bang Dim kentut ya!” pekik Kalila. Namun Dimas tak menghiraukannya. Yang ingin dilakukannya hanya satu. Menghilangkan pikiran kotor yang kini bersemayam di dalam kepalanya.
Dan sepuluh menit kemudian, Dimas kembali ke musholla, dan kembali menjadi imam Kalila. Kini mereka mengerjakan sholat isya berjamaah.
“Bang Dim kok lama sekali ambil wudhunya tadi?” tanya Kalila, begitu mereka selesai sholat.
“Menenangkan diri dulu tadi,” jawab Dimas singkat. Dahi Kalila berkerut, matanya menyipit dan menatap tajam pria yang kini tengah berjalan beriringan dengannya. “Bang Dim, tadi mules ya?”
Dimas tersenyum dan mengacak kecil rambut Kalila. “Kau tidak perlu ikut campur urusan orang dewasa! Lebih baik kita makan, aku sudah lapar. Memangnya kau tidak lapar?”
“Lapar Bang!” pekik Kalila. Dimas tersenyum kecil. Memang mudah sekali mengalihkan pikiran Kalila.
Sebelum memulai santap makan malam mereka, Dimas memperkenalkan Kalila kepada Bu Asih. Kalila mencium tangan wanita paruh baya itu dengan takzim seraya mengucapkan namanya. Bu Asih tersenyum lembut melihat sikap santun Kalila.
Kini mereka pun makan malam bersama. Berulang kali Kalila memuji makanan yang masuk ke mulutnya. Gadis itu bahkan mengaku tidak pintar memasak.
“Nanti, kalau kalian sudah menikah, Ibu akan mengajari kau memasak makanan kesukaan Dimas,” ucap Bu Asih. Kalila seketika tersedak. Hal itu membuat Bu Ghita dan Dimas tertawa terbahak-bahak. Dimas yang duduk di samping Kalila, langsung mengusap-usap punggung gadis itu. Sedangkan Bu Ghita segera mengambilkan minum untuk Kalila. Walaupun kedua ibu dan anak itu melakukannya sembari tertawa.
Selesai santap makan malam, Kalila masih sibuk mengobrol bersama dengan kedua ibu Dimas. Sementara Dimas, pria itu sedari tadi sibuk mengingatkan Kalila untuk menyudahi obrolannya dengan dua wanita paruh baya di sana.
“Lila, ini sudah hampir jam sembilan,” ucap Dimas.
“Baru juga jam sepuluh!” sergah Bu Ghita. “Pulangnya, nanti saja ya Lila,” lanjut wanita paruh baya itu. Kalila yang memang menikmati obrolannya bersama Bu Ghita dan Bu Asih, mengangguk setuju. Dirinya memang masih belum ingin kembali ke kediamannya.
“Nanti Bang Alid marah loh,” ancam Dimas.
Dan tak lama, ponsel gadis itu berbunyi.
__ADS_1
“Kenapa belum pulang?!”
Teriakan Khalid langsung memekakkan telinga, begitu Kalila menjawab panggilan telepon dari kakak sulungnya itu.
“Meeting, Bang,” jawab Kalila singkat. “Ini sudah mau pulang,” lanjutnya.
Setelah memutuskan panggilan telepon itu, Kalila langsung berpamitan dengan kedua wanita paruh baya itu.
“Coba sedari tadi kau mau aku antar pulang. Pasti Bang Alid tidak akan marah-marah seperti itu!” Kalila hanya tersenyum sembari menunjukkan deretan giginya.
Malam itu, Kalila kembali ke kediamannya dengan diantar oleh Dimas. Beruntung jalanan cukup lenggang malam itu, hingga akhirnya dalam waktu tiga puluh menit, Kalila tiba di kediamannya.
Dimas turun dari kendaraannya, dan mengantarkan Kalila hingga tepat sampai ke hadapan Khalid yang kini tengah duduk di teras rumahnya. Pria itu memang sengaja menunggu Kalila di sana.
“Maaf Bang, aku telat mengantarkan Lila pulang. Soalnya tadi—”
“Meeting untuk proyek baru,” lanjut Kalila.
Sengaja gadis itu memotong ucapan Dimas. Agar sahabatnya itu tidak mengatakan hal yang sebenarnya kepada Ibrahim. Kalila sangat yakin, jika kakak lelakinya itu tau kejadian yang sebenarnya, Ibrahim pasti akan melarangnya pulang kerja bersama Dimas.
Dimas menghela napas dan melirik Kalila. Pria itu sebenarnya tidak mau berbohong kepada Ibrahim.
“Kalau begitu aku pamit dulu Bang,” ucap Dimas. Khalid menganggukkan kepalanya, sembari mengucapkan terima kasih. Walaupun Khalid tidak terlalu suka, jika Dimas mengantar Kalila, setidaknya pria itu tetap harus mengucapkan terima kasih, karena Dimas sudah mengantarkan adiknya pulang ke rumah dengan selamat.
Dimas mengacak kecil rambut Kalila, “aku pulang dulu. Sampai bertemu besok, Kalila. Jangan lupa pikirkan ide untuk project kita,” ucap Dimas.
Khalid terlihat gerah dengan interaksi antara Kalila dan Dimas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...
__ADS_1