
“Kalau begitu, tidak perlu bertunangan. Kau dan Bang Dimas langsung menikah saja!” ucap Feni. Feni pun hendak meninggalkan ruangan itu, namun Kalila menahannya.
“Kau mau ke mana? Jangan bilang kau mau mengatakan hal ini kepada Mamak dan Bang Alid?!”
Feni terkekeh melihat Kalila dengan wajah pucatnya. Bukan pucat karena baru sembuh dari sakitnya, tapi gadis itu mendadak pucat karena merasa takut, jika apa yang diceritakannya kepada Feni akan kembali diceritakan kakak iparnya itu kepada anggota keluarganya yang lain.
Bisa mati dia, kalau ketauan melakukan hal yang sudah diluar batas. Berpacaran saja sudah membuat Khalid marah, apalagi jika abangnya itu tau perbuatannya bersama Dimas di rumah sakit.
“Jangan panik begitu. Aku tidak akan mengatakan tentang perbuatan terlarang kalian. Aku hanya akan mengatakan untuk mempercepat pernikahan kau dan Bang Dimas.”
Kalila menghembuskan napas panjang. Lega. Itu yang dirasakannya. Walau, ide Feni untuk mempercepat pernikahannya dengan Dimas, tak terlalu disukainya. Kalila tidak mau menikah tanpa dasar cinta. Selain gadis itu yang masih ragu dengan perasaannya. Kalila juga ragu terhadap perasaan Dimas.
Apakah pria itu benar-benar mencintainya?
Atau pria itu hanya merasa kasihan melihat nasibnya yang ditinggal oleh Ibrahim?
Dan, bagi Kalila, alasan nomor dua adalah yang paling masuk akal.
Selama ini Dimas tak pernah menyatakan perasaan cinta padanya. Jika pun ada, itu hanyalah sebuah candaan. Dimas tidak pernah secara serius menyatakan perasaannya. Laginya, Dimas juga sudah beberapa kali membantunya agar lebih dekat dengan Ibrahim.
Jika Dimas mencintainya, tidak mungkin pria itu dengan sukarela mendekatkan Kalila dengan saingan cintanya.
Ini semua, sudah pasti karena Dimas mengasihani dirinya. Karena rasa sayang Dimas padanya, membuat pria itu melakukan hal ini—melamar dirinya.
Kejadian di rumah sakit, mungkin bisa terjadi dengan siapa saja. Itu semua salah dirinya karena mengajak Dimas tidur di ranjang yang sama.
Pria yang tidak akan tergoda jika bermalam berdua di sebuah kamar, dan diajak tidur seranjang?
Dimas adalah pria normal, sudah pasti pria itu akan tergoda, hingga terjadilah hal itu. Jika mereka bertunangan terlebih dulu, mungkin mereka bisa saling membuka hati dan sudah saling mencintai sebelum menikah.
Begitulah pikir Kalila.
Tapi, jika pernikahan itu terjadi bulan depan, bisakah mereka saling jatuh cinta sebelum menikah?
__ADS_1
Kalila pun terlihat risau. Dirinya tidak mau jika Dimas mengorbankan dirinya hanya karena mengasihani dirinya.
Beberapa saat setelah Feni meninggalkan kamarnya, Bu Alinah masuk ke kamar itu. “Kau benar, ingin menikah secepatnya dengan Dimas?” Kalila yang merasa sedikit terkejut dengan kehadiran ibunya, menggelengkan kepalanya dengan cepat.
“Loh, tadi Feni bilang seperti itu.”
“Ngarang, itu si Feni. Padahal dia yang memberikan ide untuk langsung menikah, tanpa pertunangan,” jawab Kalila. Bu Alinah pun mengangguk dan mengucapkan huruf O.
“Mamak dan Bang Rav, setuju-setuju saja jika kau dan Dimas langsung menikah. Karena Mamak tau jika Dimas bisa membahagiakan kau. Lagi pula, kalian kan saling mencintai.” Dahi Kalila seketika mengerut mendengar ucapan sang ibunda.
Saling mencintai?
Dari mana ibunya bisa menyimpulkan seperti itu. Jika dirinya dan Dimas sangat dekat dan saling menyayangi, itu benar. Kalila pun tak bisa menyangkal, jika dirinya menyayangi Dimas. Tapi untuk urusan cinta, sepertinya semua orang sudah salah paham.
“Tapi sayangnya, Bang Alid tidak menyetujui usul Feni. Tapi ... kalau kau memang ingin mempercepat pernikahan kalian, mamak akan mendukung. Mamak akan hadapi Alid biar dia ikut menyetujui rencana itu,” lanjut Bu Alinah.
“Tidak Mak. Biarlah semua berjalan sesuai rencana Bang Dim. Menurut Lila itu sudah yang terbaik,” jawab Kalila. Bu Alinah pun mengangguk.
Dimas pasti juga ingin mengukur waktu demi menerima kenyataan ini. Walaupun ini semua ide gila pria itu, Kalila tau, jika calon imamnya itu belum sepenuhnya siap.
[Lila, besok aku akan kembali ke Bali]
Jantung Kalila berdebar kencang membaca pesan itu. Kalila tidak mau lagi kehilangan pria itu. Kalila seketika menghubungi Dimas, melalui panggilan video.
Dimas menyambut Kalila dengan senyum merekah. “Bang Dim berbohong ya?!” sungut Kalila, saat gadis itu mendapati senyum Dimas. Dimas yang tak mengerti maksud kata bohong yang diungkapkan Kalila. Padahal dia hanya merasa sangat senang saat Kalila menghubunginya.
“Maksud kau apa, sayang?”
Mendengar Dimas memanggilnya dengan sebutan sayang, seketika pipi Kalila bersemu merah. Gadis itu tak mampu menatap kedua netra Dimas, walau hanya secara virtual.
“Itu ... tadi Bang Dim bilang akan kembali ke Bali, besok. Itu bohong kan?” Kali ini Kalila berbicara sangat lembut.
“Aku tidak berbohong, sayang. Aku memang akan kembali ke Bali, besok. Makanya aku memberi kabar.”
__ADS_1
“Bang Dim mau meninggalkan Lila, lagi?” tanya Kalila sendu. Kalila benar-benar takut jika hal seperti kemarin terjadi lagi. Gadis itu kehilangan kabar Dimas selama dua Minggu.
“Ada pekerjaan yang harus di selesaikan. Aku akan kembali ke Bogor, sehari sebelum acara pertunangan kita, bagaimana?”
Kalila hanya diam dan menunduk. Gadis itu tidak mengindahkan ucapan Dimas sama sekali. Kalila benar-benar tidak mau Dimas pergi. Kalila ingin Dimas terus berada dekat dengannya, di sisinya.
“Sayang ... Kita kan bisa berkomunikasi setiap hari. Sama seperti saat aku kuliah di Singapura. Kita bisa video call-an setiap malam,” bujuk Dimas. Dimas sangat bahagia dengan komunikasi mereka malam ini. Memanggil Kalila dengan sebutan sayang. Rasanya benar-benar seperti sebuah mimpi yang menjadi kenyataan. Sudah lama sekali Dimas membayangkannya.
“Sayang ... Aku harus kembali bekerja. Seluruh perencanaan lahan harus selesai sebelum acara pertunangan kita.”
“Bukannya bisa dikerjakan dari sini. Memangnya aku tidak tau apa saja pekerjaannya?!”
“Iya sayang ... Tapi peralatan kerjaku di sana semua. Pak Sanjaya juga meminta tolong agar selama pengerjaan, glamping itu, aku ikut memantaunya,” jelas Dimas. Kalila mendengus kesal.
Rasanya Dimas ingin menghampiri Kalila saat itu juga. Bahkan kalau bisa, pria itu akan langsung membawa penghulu ke sana, menikahi gadis itu dan membawanya ke Bali.
“Besok pagi, aku akan mampir ke sana lebih dulu sebelum ke bandara.”
“Iya!” jawab Kalila, kemudian memutuskan panggilan video itu begitu saja.
[Maaf sayang. Kau tidur saja ya. Istirahat biar cepat sembuh]
Begitulah isi pesan singkat yang dikirimkan Dimas, setelah pemutusan sepihak sambungan video itu oleh Kalila.
Dan, keesokan paginya, Dimas benar-benar tiba di sana. Kalila bahkan masih terlelap saat Dimas tiba, karena gadis itu tidur kembali usai mengerjakan sholat subuh.
Dengan rambut yang masih berantakan, Kalila keluar dari kamarnya. Sebenarnya gadis itu bukan keluar kamar untuk menemui Dimas, karena Kalila tidak tau jika pria itu sudah tiba di sana lima menit yang lalu.
“Woiii ... Dasar adik tidak tau malu. Ada calon suami datang, malah disambut dengan rambut berantakan!” celetuk Kairav.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
__ADS_1
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...