
“Nyonya sudah melahirkan bayi laki-laki, Pak,” ungkap Anton saat Ibrahim menanyakan keadaan istrinya.
Melahirkan?
Usia kandungan Tania seharusnya baru tujuh bulan. Mengapa istrinya sudah melahirkan?
Prematur kah?
Malam itu, Ibrahim melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Pria itu khawatir mengenai kondisi anaknya yang prematur. Ibrahim bahkan langsung bergegas ke kamar bayi dan ingin melihat sang anak.
“Kalau ruang bayi yang lahir prematur di mana ya Sus? Lahirnya siang tadi,” tanya Ibrahim, begitu tiba di depan ruang bayi.
“Hari ini tidak ada bayi yang terlahir prematur, Pak. Kalau boleh tau, nama istrinya siapa Pak?”
Ibrahim menyebutkan nama Tania. Suster pun menunjukkan bayi itu.
“Suster yakin, bayi ini tidak prematur?”
“Tidak ada tanda prematur pada bayi Bu Tania, Pak.”
“Lantas, kenapa tiba-tiba istri saya di operasi Sus?”
“Saya tidak tau kronologi jelasnya. Yang pasti, karena berat badan bayi cukup besar 4,2 kg, maka dokter memutuskan untuk melakukan persalinan Bu Tania dengan operasi caesar. Tapi bayi ini cukup bulan, kok.”
Dada Ibrahim bergemuruh.
Jika Tania melahirkan cukup bulan dan tidak prematur, bisa dipastikan, kalau bayi itu bukanlah darah daging Ibrahim. Karena usia pernikahan mereka belum genap delapan bulan.
Tidak mau bertindak gegabah, Ibrahim secara diam-diam meninta pihak rumah sakit melakukan tes DNA.
Dengan alasan pusing secara mendadak, Ibrahim batal menjenguk Tania. Pria itu tidak akan menjenguk Tania, sebelum hasil tes DNA itu keluar, dan status bayi yang dilahirkan Tania sudah jelas.
Ibrahim bahkan tidak memberitahukan keluarga besarnya, jika Tania sudah melahirkan.
Dan keesokannya, Ibrahim kembali datang ke rumah sakit. Bukan untuk menjenguk sang istri, melainkan untuk mengambil hasil tes DNA.
Apa yang dikhawatirkan Ibrahim terbukti. Hasil tes DNA itu menunjukkan jika bayi yang dilahirkan oleh Tania, bukanlah darah dagingnya.
Dada Ibrahim bergemuruh, menahan amarah yang membuncah. Ibrahim melangkah menuju kamar VIP tempat Tania di rawat.
“Oh ... jadi sopir ini, ayah anak kau,” celoteh Ibrahim, begitu pria itu masuk ke ruang rawat inap, di mana Tania di rawat. Melihat Tania yang tengah menyusui bayinya sambil menyandarkan kepalanya pada pundak Anton.
Tania dan Anton terperanjat mendengar suara Ibrahim.
“Sayang, akhirnya kau datang juga,” ucap Tania. Tania berusaha menetralisir rasa keterkejutannya melihat kedatangan Ibrahim. Wanita itu berpura-pura tak mendengar kalimat yang barusan diucapkan oleh sang suami.
“Kau pasti sudah tidak sabar untuk melihat anak kita kan, Sayang?”
__ADS_1
Ibrahim menarik salah satu sudut bibirnya, “anak kita?!” sinis Ibrahim. “Anak yang lahir saat usia pernikahan kita belum tujuh bulan?!”
Wajah Tania tampak pias, badannya sedikit bergetar. Namun wanita itu berusaha tampak tenang. Semua skenario yang dibuatnya bersama Anton, berjalan lancar sejauh ini. Kali ini pun, rencana mereka tidak boleh gagal.
“Sayang, kau pasti bingung, kenapa anak kita lahir lebih cepat. Itu karena aku terlalu lelah hingga harus melahirkan lebih awal.”
“Kau pikir, aku ini pria bodoh, Tania!!”
Suara tangis bayi, seketika menggema di kamar itu. Anak yang dilahirkan Tania, begitu terkejut mendengar teriakan Ibrahim.
Bukan hanya bayi itu, beberapa orang tamu yang baru saja masuk ke ruang rawat VIP itu, juga merasa sangat terkejut dengan suara lantang Ibrahim.
Bagaimana mungkin, seorang suami yang baru saja dianugerahi seorang bayi, bisa membentak istrinya sedemikan kasar?
Bukankah, seharusnya pria itu merasa bersyukur dan berterima kasih kepada sang istri, karena telah memberikannya anak yang begitu lucu?
Mengapa istri yang sudah bertaruh nyawa saat melahirkan anak mereka, harus mendengar teriakan dari sang suami?
“Ada apa ini, Bro?” tanya Edo— kakak kandung Tania.
Saat ini, bukan hanya Edo yang datang menjenguk Tania dan bayi yang baru saja dilahirkannya. Kedua orang tua Tania, juga baru saja tiba untuk menjenguk putri mereka. Sementara Anton, pria itu langsung memasang topi dan mencoba mengalihkan wajahnya.
Ibrahim melemparkan sebuah berkas kepada Edo. Pria itu terlihat gelagapan menangkap apa yang dihempaskan oleh Ibrahim ke dadanya.
“Apa ini?” tanya Edo heran.
Dengan seksama Edo membaca surat keterangan ini. Matanya membulat. Pria itu terperangah, menatap tak percaya pada adik kandungnya yang tengah menggendong sang bayi.
“Apa maksudnya?” tanya Edo. Pria itu mencoba untuk menentang hasil yang tertera pada surat itu. Ibrahim tersenyum sinis, menatap Edo. Ibrahim yakin, jika kakak iparnya itu mengerti dengan jelas, apa yang tertera dalam surat hasil tes pemeriksaan DNA itu.
Ibrahim kembali merampas surat dari tangan Edo,dan melemparkannya pada Anton. Kini, semua mata tertuju pada pria yang kini tengah berusaha menyembunyikan wajahnya.
“Tania Danuwijaya, mulai hari ini, kau bukan istriku lagi!”
Suara talak yang dilontarkan oleh Ibrahim, menggema di ruangan itu. Tania beserta keluarganya terbelalak mendengar kalimat talak dari bibir Ibrahim. Kedua orang tua Tania, menanyakan maksud ucapan cucu kesayangan Adi Putra itu.
Begitu pun dengan Tania. Wanita itu tidak mau menerima pernyataan yang dilontarkan oleh sang suami. Tania terus bertanya apa kesalahannya.
“Aku bukan orang bodoh Tania! Kau pikir aku mau bertanggung jawab dan membubuhkan nama besar Adi Putra, pada anak haram kau itu!” ungkap Ibrahim, mata pria itu seakan menyala.
“Apa karena anak ini lahir tak cukup bulan, makanya kau menuduh anak ini adalah anak haram?”
Kini Tania mulai terisak. Namun Ibrahim tak mau lagi tertipu oleh wanita itu.
“Kenapa tak kau suruh si sopir kesayangan kau itu, membaca surat yang aku lemparkan padanya!”
Tania merampas surat itu, tangannya bergetar. Salivanya seakan menyangkut di tenggorokan. Kedua orang tua Tania menghampiri wanita itu. Mereka ikut memeriksa surat itu.
__ADS_1
Edo juga berusaha untuk meminta Ibrahim memaafkan adiknya. Namun, tentu saja Ibrahim tidak mau. Pria itu tidak menerima penghianatan.
“Anak ini bukan anaknya Ibra?” tanya ibunda Tania. Namun wanita itu tak kuasa menjawabnya, hingga sang ibu berteriak, “jawab Tania! Siapa ayah dari bayi kau ini!”
Ibrahim tersenyum puas. “Mungkin sopir pribadi itu, ayah dari anak yang Tania kandung,” jawab Ibrahim. Kini semua mata mengarah pada pria yang berdiri di samping ranjang Tania.
“Tidak! Itu tidak benar! Ini anak Mas Ibra! Kenapa kau tidak mau mengakuinya, Mas?! Bayi ini anak kau, darah daging kau! Kenapa kau mau lepas tanggung jawab darinya?!”
“Sudah lama aku mendambakan seorang anak. Mana mungkin aku akan lepas tanggung jawab terhadap anakku. Tapi anak itu, bukan darah dagingku! Aku tidak sudi, bahkan hanya untuk menatap anak haram kau, itu!”
Orang tua dan kakak kandung Tania, membenarkan ucapan pria itu. Orang seperti Ibrahim, yang begitu mendambakan seorang anak, tidak akan mungkin selepas tanggung jawab pada anak yang selama ini dinantinya.
Keluarga Tania pun menjadi yakin, jika anak yang kini tengah dipangku oleh Tania, bukanlah darah daging Ibrahim.
Edo menghampiri pria yang dituduhkan oleh Ibrahim, sebagai pria yang harus bertanggung jawab pada anak Tania.
Edo menarik kerah pria itu, hingga kini, Edo dan Anton saling tatap. Edo terperanjat dengan siapa dia kini berhadapan.
Itu adalah Anton. Mantan kekasih Tania.
Bukan hanya Edo, kedua orang tua Tania juga terperanjat menatap Anton.
“Ternyata kau sudah berbohong pada kakak!” ujar Edo. Pria itu benar-benar berusaha menahan ledakan amarah dalam dirinya. “Kenapa kau masih saja menjalin hubungan dengannya, walau kami sudah melarangnya?!”
“Memangnya kenapa dengan Anton?! Aku mencintainya!” teriak Tania.
“Sudahlah, tidak perlu banyak drama,” ucap Ibrahim. “Setelah kau keluar dari rumah sakit, segera bereskan seluruh barang-barang milik kalian berdua, kemudian tinggalkan rumah ku!”
Selepas mengatakannya, Ibrahim pun melangkahkan kakinya menuju ruang perawatan itu. Namun, seketika langkah Ibrahim terhenti.
“Hei, Ibrahim Adi Putra ... Apa kau lupa, jika rumah mewah itu adalah atas namaku. Jika ada orang yang harus pergi, itu adalah kau!”
Tangan Ibrahim mengepal. Pria itu pun menyesali kebodohannya selama ini. Terpaksa dirinya harus keluar dari rumah yang baru saja dibelinya, sebagai hadiah ulang tahun untuk Tania.
Dengan kesal, Ibrahim kembali membalikkan badan, dan akan meninggalkan ruangan itu. Lagi, langkah kakinya terhenti karena ucapan Tania.
“Dasar kau laki-laki tidak berguna. Saat aku hamil saja, kau tidak bisa memberikan kepuasan untukku, dasar pria lemah!! Jangan-jangan, benar apa kata mantan istri kau itu, kalau sebenarnya kau itu mandul!”
Mendengar itu, Ibrahim tak dapat lagi menahan amarahnya. Gegas Ibrahim melangkah menuju Tania. Dengan cepat pria itu melayangkan telapak tangan kanannya di pipi Tania.
Tak ada satu orangpun yang berani menghalangi Ibrahim, karena mereka tau jika Ibrahim yang benar dalam hal ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
__ADS_1
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...