Cinta Pertama Kalila

Cinta Pertama Kalila
Eps. 96


__ADS_3

“Hei ... Jangan sampai kau berbuat keonaran di perusahaanku. Bekerja yang benar!” hardik Kakek Adi kepada Dimas. Dimas hanya mengangguk pelan sembari melihat ke arah pria lanjut usia itu.


Sedangkan Bu Ghita, tangannya terlihat mengepal, berusaha menahan amarah. Bukan hanya Dimas dianggap tak mampu bekerja dengan baik. Emosi Bu Ghita bergejolak, karena panggilan yang selalu disematkan oleh ayahnya kepada Dimas. Pria lanjut usia itu memang tidak pernah menganggap Dimas. Bahkan ucapannya kepada para asisten rumah tangga, atau pekerja di rumah mewah itu, lebih baik dibandingkan ucapannya kepada Dimas. Seolah Dimas adalah najis, hingga harus dihindari.


“Dimas pasti bisa bekerja dengan baik, Pi. Gilang sangat yakin itu.”


Adi Putra hanya tersenyum mengejek, menanggapi pernyataan putranya. Pria lanjut usia itu melanjutkan santap siangnya.


“Anak yang ayahnya saja, tidak jelas siapa! Bisa berbuat apa dia?! Dasar anak haram! Perusak masa depan putriku! Seumur hidupku, aku tidak akan pernah memaafkan anak haram itu!”


Rasa benci kakeknya itu, membuat Dimas trauma. Pria itu merasa takut jika mengharapkan sesuatu dari orang lain. Takut dibenci, takut diabaikan. Hal itulah yang membuat Dimas, sulit mengungkapkan perasaannya dengan serius kepada Kalila. Ini pertama kalinya buat Dimas lebih dulu menyukai seorang gadis.


Dimas takut Kalila akan abai terhadapnya. Dimas takut Lila akan membencinya. Dimas takut sikap Kalila akan berubah seperti kakek dan neneknya, yang selalu abai dan begitu membenci dirinya. Selama Kalila begitu memuja Ibrahim—seperti kakek dan neneknya— selama itu juga Dimas tidak akan mengungkapkan perasaannya dengan serius kepada Kalila.


Dimas tau, untuk gadis yang tidak peka seperti Kalila, kode-kode cinta darinya tidak akan berarti apa-apa bagi gadis itu. Namun, jika Ibrahim sekali saja membuat Kalila menangis, pria itu berjanji akan membuat Ibrahim menyesal.


***


Seusai makan siang di rumah besar keluarga Adi Putra, Bu Ghita dan Dimas segera meninggalkan rumah itu. Hujan deras dan angin yang berembus cukup kencang, tidak memengaruhi ibu dan anak itu, untuk meninggalkan kediaman Adi Putra.


Rumah yang begitu luas itu, tak lebih ibarat lubang tikus bagi Dimas dan Bu Ghita. Sungguh terasa sempit, terasa kecil, hingga mereka harus berebut oksigen untuk bisa bernapas.


Sesak.


Itulah yang dirasakan Dimas dan Bu Ghita. Padahal wanita paruh baya itu, menghabiskan separuh hidupnya di rumah megah itu. Namun, tempat itu tak lagi nyaman untuknya, sejak sang ayah dan ibu mengusirnya dari rumah.

__ADS_1


“Ibu dibawakan makanan apa ya Bun? Sekalian kita membeli makanan untuk makan malam,” ucap Dimas, memecah keheningan di antara mereka. Dimas memang selalu ingat dengan Bu Asih, asisten rumah tangga yang sudah dianggapnya seperti ibu kedua.


“Sayang ... Maafkan Bunda ya,” ucap Bu Ghita. Suara wanita itu seakan bergetar. Rasanya wanita paruh baya itu sudah gerah dengan perlakuan kedua orang tuanya terhadap Dimas.


“Bun ... Apa sih? Setiap kita pulang dari rumah kakek, Bunda selalu saja meminta maaf.”


Dimas yang biasanya hanya tersenyum bila sang ibunda meminta maaf atas tingkah laku kakek dan neneknya, kali ini angkat bicara. Sudah dua tahun Dimas tak kembali ke kota Bogor, sudah selama itu juga, dirinya tak lagi mendengar permintaan maaf dari ibunya. Dan kali ini Dimas kembali mendengarnya. Sebenarnya sejak dulu, Dimas selalu merasa kesal, jika ibunya itu mengucapkan kata maaf, setiap mereka kembali dari rumah megah milik Adi Putra itu.


Dimas tidak pernah merasa benci ataupun dendam dengan kakek dan neneknya. Dimas hanya merasa sedih, setiap kakek dan neneknya abai atau selalu menganggap remeh pada dirinya.


“Kalau bukan karena Bunda berbuat dosa, kau tidak akan terkena imbasnya seperti ini,” ucap Bu Ghita.


“Bunda jangan suka berpikir yang aneh-aneh. Kalau Bunda tidak bertemu dengan lelaki tak bertanggung jawab itu, kita tidak akan pernah bisa bertemu, Bun. Kalau Bunda menyesal dengan semua yang terjadi, berarti Bunda menyesal telah melahirkan Dimas,” ucap pria itu lembut.


“Apa Bunda menyesal, dengan kehadiran Dimas di dunia ini?”


Sejak Dimas dilahirkan, tidak pernah ada pembicaraan seperti ini antara ibu dan anak itu. Dimas hanya pernah bertanya satu kali, mengenai keberadaan ayahnya, namun Dimas ingat betul, sorot mata sang ibunda terlihat redup mendengar pertanyaannya. Sejak itu, Dimas tidak pernah menanyakan apapun tentang anggota keluarga lainnya. Walau sebenarnya, Dimas kecil sangat penasaran tentang beberapa hal.


Di mana ayahnya?


Di mana anggota keluarganya yang lain?


Mengapa dia hanya tinggal bertiga dengan Bunda dan ibunya?


Mengapa keluarganya tidak seperti keluarga teman-temannya yang lain? Yang mempunyai ayah dan ibu yang selalu hadir saat acara di sekolah.

__ADS_1


Dimas kecil mengabaikan rasa penasarannya. Dirinya tidak mau, rasa penasarannya itu membuat sang bunda bersedih.


Sejak pertanyaan yang dilontarkan oleh Dimas, suasana kembali hening. Hanya suara deru kendaraan di sekitar mereka yang terdengar.


Dimas fokus di balik kemudi.


Sementara Bu Ghita, hanya menatap kendaraan yang lalu lalang, dari jendela mobil. Entah apa yang dipikirkan oleh wanita paruh baya itu. Ada satu bagian dari dirinya, menginginkan Dimas terus berjuang di perusahaan milik ayahnya, dan menunjukkan jika Dimas lebih dari mampu untuk bekerja di sana. Setidaknya Dimas harus berbakti beberapa tahun di PT. Adi Putra Group, sebagai balas jasa karena telah membiayai pendidikan anaknya, sejak dari taman kanak-kanak hingga meraih gelas master seperti sekarang.


Tapi di sisi lain, Bu Ghita tak mau Dimas terus mendapatkan perlakuan buruk dari kedua orang tuanya. Bertahun-tahun Dimas menerima dengan lapang dada, setiap perlakuan buruk kedua orang tuanya. Bisa dibayangkan olehnya, jika Dimas bekerja di perusahaan itu, sudah pasti perlakuan-perlakuan buruk dari sang ayah, terus di terima oleh anaknya itu.


“Bekerjalah dengan baik di perusahaan itu, Dim. Bertahanlah beberapa tahun, hingga kau merasa mampu untuk membuat perusahaan sendiri. Carilah pengalaman. Belajar sebanyak-banyaknya di sana.”


Dimas hanya menghela napas perlahan. Tidak tau harus berkata apa. Pria itu terlihat menepikan kendaraan di sebuah warung bakso. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Dimas turun dari kendaraannya dan meninggalkan Bu Ghita begitu saja.


Bu Ghita hanya diam, sembari memerhatikan gerak langkah anaknya itu. Tak lama, Dimas kembali dengan membawa satu kantong plastik yang berisikan tiga bungkus bakso.


“Hujan-hujan begini, kita harus makan bakso dengan cabe yang banyak, Bun. Biar pikiran kita fresh. Jadi tidak memikirkan hal yang aneh-aneh,” ujar Dimas sembari meletakkan bungkusan bakso itu, di kursi belakang kendaraannya. Bu Ghita hanya tersenyum mendengar penuturan sang anak lelaki.


Tak lama mobil yang dikendarai oleh Dimas, tiba di kediaman mereka. Melepas seat belt, Dimas pun menekan sebuah tombol di mobilnya, hingga pintu kendaraan itu bisa dibuka.


“Dimas sangat bahagia menjadi anak Bunda,” ucap pria itu, sebelum akhirnya beranjak dari keluar dari kendaraannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR ✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......

__ADS_1


...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...


...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...


__ADS_2