Cinta Pertama Kalila

Cinta Pertama Kalila
Eps. 26


__ADS_3

“Yank ... yank ... berhenti. Hentikan keretanya (sepeda motor)” Seketika Andre— Pria yang baru dua bulan menjadi kekasih Kalila, menghentikan laju sepeda motornya. Pria itu menepi.


“Kenapa yank?”


“Tadi itu ada Bang Alid. Kau lihat pria yang berdiri dengan mobil warna hitam tadi. Itu Abang ku!”


“Abang kau yang galak itu?” Kalila menganggukkan kepalanya, seketika nyali Andre langsung ciut.


“Aku akan turun di sini dan berjalan kembali ke sana. Kau pulang lah sendiri.”


Kalila turun dari sepeda motor dan memberikan helm yang tadi dipakainya kepada Andre. “Sepertinya selama satu Minggu ini, lebih baik kau tidak mengantarkan aku pulang. Satpam ku ada di rumah!” Andre mengangguk cepat. Pria itu bahkan langsung melajukan sepeda motornya.


Kalila mengeluarkan ponsel miliknya. Mencari-cari nomor seseorang lalu menghubunginya. “Fen ... tolong aku.”


***


Saat ini, Kalila, Khalid, Ibrahim dan Feni tengah berada di dalam mobil yang sama. Setelah drama Kalila yang berpura-pura keluar kelas lebih dulu dari Feni tadi, hingga akhirnya Feni yang melihat kedatangan Khalid, harus menghubungi Kalila untuk kembali ke sekolah.


Khalid yang berada di belakang kemudi, mengarahkan kendaraannya menuju salah satu rumah makan legendaris di Kota Medan. Tidak butuh waktu lama untuk mereka tiba di sana. Hanya menempuh jarak 5 KM dan akhirnya mereka tiba. Memang cukup dekat dari sekolah Kalila.


Khalid memarkirkan kendaraannya. “Karena sudah pada makan siang, kita ganjal perut dengan mie saja. Bagaimana?” ucap Khalid sebelum mesin kendaraan itu berhenti. Kalila yang paling bersemangat menganggukkan kepala. Sementara Feni, hanya tersenyum sembari menatap Khalid dari kaca spion.


Dan di sinilah mereka. Khalid memesan empat porsi kari bihun. Menu andalan di Rumah Makan ini. Dan ketika makanan sudah tersaji, Kalila langsung menghirup aroma rempah yang keluar dari kuah kari itu. Sambil tersenyum Kalila menghirupnya. “Ini enak sekali loh Bang,” ucap Kalila dengan mata berbinar. Gadis itu memang sudah pernah mencicipinya beberapa kali.


Kalila bergegas mengambil ponselnya dan hendak memotret kempat mangkok kari bihun di hadapannya. Namun terlambat, karena Ibrahim sudah mengambil mangkok miliknya.


“Maaf Lila, mau di foto dulu ya?” tanya Ibrahim. Kalila tersenyum malu. “Tidak apa-apa Bang. Lila foto tiga ini saja, dengan kuah tambahannya,” jawab Kalila lembut. Kalila seketika memotret makanan itu.


“Lila memang selalu seperti itu. Sebelum makan, wajib di foto dulu. Iya kan?” canda Feni. Kalila tersenyum dan memamerkan deretan gigi putihnya.



“Bagaimana Ba? Kau suka?”


Ibrahim mengangguk, “suka Bang. Rasa karinya benar-benar istimewa.” Pria itu kembali menyantap hidangannya.


Tanpa sengaja, Feni melihat cara makan Ibrahim yang begitu tertata. Wanita itu seakan takjub, ada seorang pria yang makan dengan sangat rapi. Feni menoleh ke arah Kalila. Gadis itu terlihat sangat menikmati setiap suapan yang masuk ke mulutnya. Bihun kari di kedai makan ini, memang termasuk salah satu makanan kesukaannya.

__ADS_1


Feni menyikut pelan lengan Kalila, hingga sahabatnya itu menoleh. Kalila menatap Feni yang sudah memberikan sebuah isyarat mata. Kalila pun mengikuti arah pandangan Feni. Gadis itu juga terkesima, menyaksikan cara makan Ibrahim. Sungguh, kau seperti melihat seorang bangsawan tengah makan dengan segala manner nya.


Pria itu terlihat anggun.


Jadilah kedua gadis SMA itu menatap takjub pada Ibrahim. Khalid yang memerhatikan kedua gadis di depannya langsung berdehem. Seketika Feni menatap kakak sulungnya Kalila itu. Feni pun menundukkan pandangannya. Namun Kalila, tetap terpaku. Menatap pria yang selalu membuat terkagum-kagum.


Hampir satu jam mereka berada di sana. Sengaja Khalid menunggu hingga waktu ashar hampir tiba. Pria itu langsung membawa Ibrahim dan kedua gadis SMA itu menuju Mesjid Raya kebanggaan warga Medan. Mesjid Raya Al-Mashun.



Ibrahim menatap takjub pada bangunan masjid yang merupakan saksi sejarah peradaban Melayu Deli. Gaya arsitekturnya khas Timur Tengah, India dan Spanyol, membuat Ibrahim berdecak kagum.


Mereka pun mendirikan sholat ashar di sana. Setelahnya berjalan kaki menuju Istana Maimoon.



Memasuki kawasan istana Maimoon, mereka harus melewati beberapa anak tangga untuk bisa sampai di ruang utama istana. Kunjungan mereka disambut oleh para pemusik yang melantunkan irama khas Melayu, tepat di sisi pintu utama.


Khalid, Feni dan Kalila bergantian menjelaskan seluk-beluk istana sekaligus membawa Ibrahim berkeliling istana yang keseluruhan interiornya didominasi warna kuning, warna khas Melayu.


Keindahan Istana yang memiliki luas 2.772 meter persegi itu, memang tidak terbantahkan. Meski berusia tak kurang dari 125 tahun, keindahan yang memancar dari setiap sudut ruangannya serasa tak lekang.



Hari itu, Ibrahim benar-benar menikmati wisata sejarah di Kota Medan. Dan mereka kembali berjalan kaki menuju Masjid Raya Al-Mashun dan menunaikan ibadah sholat Maghrib di sana. Sudah ada Kairav, ketika mereka tiba di Masjid itu.


Malam ini, Khalid membawa Ibrahim, Feni, dan kedua adiknya, menikmati ragam kuliner malam. Kairav tetap menaiki sepeda motor miliknya, mengikuti arah laju mobil yang dikendarai oleh Khalid. Membelah jalanan kota Medan yang tidak terlalu padat malam itu. Khalid memutar kemudinya, memasuki jalan Pagaruyung.


Rupanya pria itu ingin mengenalkan betapa Medan kaya akan beberapa etnis di dalamnya. Warga turunan Tionghoa dan India, menambah ragam kuliner Kota Medan. Dan di tempat inilah salah satunya.


Jalan Pagaruyung atau dikenal dengan kawasan kampung Madras. Kawasan yang banyak ditinggali oleh warga negara Indonesia turunan India. “Welcome to Mumbai, Ibrahim Adi Putra,” seru Khalid ketika baru saja dia menepikan kendaraannya. Ibrahim menoleh. Alisnya berkerut. “Mumbai, Bang?”


“Iya Bang. Daerah ini sering di sebut dengan nama kampung Madras. Karena di sini banyak warga turunan India, Bang,” jelas Kalila. Ibrahim menoleh dan tersenyum pada Kalila. “Kalau saya turunan Pakistan,” ucap pria itu kemudian.


“Pantas saja Bang Ibra seperti Shahrukh Khan. Tampan, hehehe.”


Khalid hanya bisa menggelengkan kepala mendengar ocehan adik perempuannya itu. Begitu juga dengan Feni. Dia sudah hapal betul dengan tingkah sahabatnya itu.

__ADS_1


Bunyi klik terdengar. Dua pasang muda-mudi itu pun turun dari mobil. Berjalan menyusuri jalan yang dipenuhi oleh penjaja makanan. Untung saja mereka tidak datang di akhir pekan. Karena kawasan ini pasti akan sangat ramai sekali.


Khalid dan Kairav memesankan ragam makanan Khas India kali ini. Sengaja Khalid memesan dengan menu yang berbeda hingga mereka semua bisa saling menyicipi.




Mereka semua makan dengan lahap malam itu. Termasuk Ibrahim. Pria berdarah Pakistan itu, teringat akan masakan sang nenek yang memang berkebangsaan Pakistan hingga sekarang. Ada banyak persamaan cita rasa dari kedua kuliner negara itu— India dan Pakistan.


Khalid juga membeli beberapa porsi martabak India untuk ibu dan neneknya.


***


Malam itu, Khalid bertukar posisi dengan Kairav. Namun, karena Kairav belum bisa mengemudikan mobil, Ibrahim lah yang berada di balik kemudi. Mengendarai mobil yang mereka sewa tadi, ke kediaman keluarga Kalila.


Sementara Khalid mengendarai sepeda motor Kairav untuk mengantarkan Feni kembali ke rumahnya.


“Kenapa Feni tidak diantar naik mobil saja, Bang?” Feni hanya terdiam dan melirik Khalid sekilas.


“Nanti terlalu malam. Biar cepat sampai.”


Khalid pun memakaikan helm, bahkan memastikan helm itu terpasang dengan baik di kepala gadis itu. Kalila sedikit terheran. Khalid juga berlaku seperti itu padanya.


Apa Bang Khalid juga menganggap Feni seperti adiknya?


“Woiii ... Kuntet! Ayo naik!”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Terimakasih sudah ikut menjelajahi kota Medan bersama Kalila 💕


Dalam episode, kangen kampung halaman 😂


...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE 👍, tuliskan KOMENTAR✍️ kamu dan BERI GIFT & VOTE yaaa .......


...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...

__ADS_1


...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan....


__ADS_2