Cinta Satu Malam Bersama Mafia 2

Cinta Satu Malam Bersama Mafia 2
Ketegasan Arlan


__ADS_3

Tok


tok


tok


" Masuk." jawab Arlan


Ceklek


Wanita itu masuk ke dalam memperhatikan Arlan yang sedang serius mengecek kemudian menanda tangani berkas - berkas dokumen tersebut.


" Ada a ?" ucapan Arlan terpotong karena terkejut kedatangan wanita yang sudah lama tidak dilihatnya.


" Kenapa? terkejut ya? masih ingat padakukah? sudah berapa lama kita tidak pernah bertemu?" tanya wanita itu beruntun sambil tersenyum menggoda Arlan.


" Alya?" panggil Arlan


" Syukurlah masih ingat padaku." ucap Alya sambil berjalan ke arah Arlan


" Ada apa ke sini?" tanya Arlan ketus


Alya tidak memperdulikan perkataan Arlan dengan perlahan Alya mendekati Arlan dengan memamerkan tubuhnya yang seksi.


" Stop tingkahmu sangat menjijikkan sekali, kamu tahu aku sudah menikah jadi jangan bertingkah macam - macam padaku!" bentak Arlan dengan nada ketus.


" Aku tahu dirimu sudah menikah dan aku datang di hari pernikahanmu. Aku sangat kecewa padamu dan aku tidak ingin macam -macam denganmu. Hanya satu macam saja." ucap Alya dengan suara menggoda tanpa punya rasa malu.


" Cari pria lain dan jangan ganggu hubungan kami, pergilah." usir Arlan dengan nada ketus.


" Aku di suruh ayahku Richard untuk melakukan kerja sama kita." ucap Alya sambil mengedipkan matanya ke arah Arlan.


" Bilang pada ayahmu aku tidak mau berkerja sama lagi dengan ayahmu dan cukup sekali kami melakukan kerja samanya waktu itu." ucap Arlan


" Tapi ayahku Richarch bilang kerja sama untuk ke dua kalinya ini menghasilkan untung yang sangat besar jadi bagaimana apakah dirimu tertarik bekerja sama lagi dengan kami?." tanya Alya sambil mendekati Arlan.


bruk


Alya sengaja menjatuhkan tubuhnya pas di depan Arlan dan secara refleks Arlan menahan tubuh Alya agar tidak menyentuh tubuhnya.


Ceklek


Alviana membuka ruangan pintu Arlan dan matanya membulat sempurna sambil menatap tajam ke arah Arlan dan wanita itu.


Sambil menatap tajam ke arah mereka Alviana menaruh cemilan ke meja dekat sofa dan berjalan perlahan mendekati mereka berdua.


" Sayang ini bukan yang seperti kamu lihat." ucap Arlan sambil mendorong tubuh Alya dengan keras.


bruk


Dorongan dari Arlan membuat Alya terjatuh.

__ADS_1


" Auch." rintih Alya kesakitan karena bokongnya mencium marmer membuatnya mengusap bokongnya. Alya berdiri kemudian membalikkan tubuhnya berhadapan dengan Alviana.


" Benarkah?" tanya Alviana sambil memicingkan matanya ke arah suaminya sambil berjalan mendekati suaminya melewati Alya dan berdiri di samping Arlan.


" Iya sayang percayalah padaku." ucap Arlan sambil memeluk Alviana dari arah samping dan mengecup kening istrinya.


Sungguh Arlan sangat takut dan trauma jika istrinya salah paham dan pergi lagi seperti beberapa bulan yang lalu dan mengalami kecelakaan. Arlan tidak sanggup mengingat ancaman mommynya bila menyakiti Alviana lagi maka Alviana akan di bawa pergi jauh dari kehidupan Arlan. Karena Alviana adalah separuh jiwa Arlan dan Arlan tidak sanggup untuk berpisah dari Alviana.


Ketegasan Arlan dalam mengambil suatu keputusan kini tegas tidak ada rasa tidak enak walau itu saudara sekalipun. Karena Arlan tidak mau kehilangan istrinya.


" Siapa kamu?" tanya Alviana ketus pada Alya.


" Kenalkan saya Alya kekasih suamimu." jawab Alya tanpa punya rasa malu sambil mengulurkan tangannya.


" Apa maksud..?" ucap Arlan terpotong karena jari telunjuk Alviana menyentuh bibir Arlan.


" Sejak kapan?" tanya Alviana sambil menatap tajam ke Alya dan tidak membalas uluran tangan Alya.


" Sejak sebelum kalian menikah waktu Arlan berumur kurang lebih 16 tahun." ucap Alya sambil menarik tangannya kembali.


" Lama juga, kenapa kalian tidak menikah?" tanya Alviana santai.


" Sayang..." ucap Arlan terpotong lagi karena Alviana menahan mulut Arlan menggunakan jari telunjuknya.


" Katanya belum sukses makanya kita belum menikah." ucap Alya sambil tersenyum menutupi kebohongan.


" Sekarang mas Arlan sudah sukses kenapa kalian tidak menikah?" tanya Alviana santai sambil menatap suaminya dan Alya.


" Obat perangsang, darimana kamu tahu kalau aku yang meminumnya?" pancing Alviana curiga.


" Ya tahulah kamukan perempuan murahan makanya melakukan trik kotor seperti itu." ucap Alya tanpa dosa.


plak


Arlan menampar pipi Alya karena Arlan tidak suka istrinya di hina oleh orang lain.


" Pukulan itu pantas untuk wanita murahan seperti dirimu." ucap Arlan sambil mencekik leher Alya.


Alya terkejut menerima perlakuan Arlan. Alya berusaha memukul lengan Arlan agar melepaskan cekikkannya. Muka Alya mulai memutih karena hampir habis oksigennya.


Alviana yang melihatnya langsung memeluk suaminya untuk menetralkan emosinya.


" Sayang, sudah lepaskan cekikkannya nanti dia bisa mati." bisik Alviana.


Arlan memejamkan matanya untuk menetralkan emosinya kemudian perlahan - lahan melepaskan cekikkannya.


" Sekali lagi katakan padaku darimana kamu tahu kalau aku minum obat perangsang." bentak Alviana.


Hening


Hening

__ADS_1


" Aku tahu pasti ada yang kamu sembunyikan dari kami karena tidak semua orang tahu kalau aku meminum obat itu." ucap Alviana


Muka Alya berubah pucat karena tidak mungkin dia mengatakan sejujurnya kalau iya ikut bekerjasama dengan sahabatnya.


" Cepat katakan!!" bentak Arlan


" Bukannya Arlan yang melakukannya." ucap Alya


" Apa maksudmu?" tanya Alviana


" Sebenarnya Arlan yang berencana memberikan obat itu karena Arlan sangat membenci ke dua kakakmu dan ingin kamu melakukan itu dengan pria lain tapi ternyata Arlan tergoda dengan tubuhmu." ucap Alya agar Alviana benci dengan suaminya dan menceraikannya.


" Benarkah begitu mas Arlan?" tanya Alviana


" Tidak sayang, itu bohong bagaimana mungkin aku melakukan serendah itu, memang aku akui dulu aku dan ke dua kakakmu sempat membenci tapi setelah mengenalmu perasaan benciku hilang." jawab Arlan jujur.


" Darimana kamu tahu kalau mas Arlan membenci ke dua kakakku?" tanya Alviana


" Arlan menceritakan semuanya tentangmu." dusta Alya


plak


plak


Arlan menampar kembali pipi Alya kanan dan kiri membuat Alya jatuh. Kemudian Arlan duduk di depan Alya kemudian mencekiknya kembali.


" Dasar pembohong aku sama sekali tidak pernah menceritakan itu padamu. Kamu sudah sepantasnya mati." ucap Arlan sambil mencekik kembali Alya.


Alya berusaha memukul kembali Arlan tapi tangan Arlan sangat kuat sehingga tidak berpengaruh buat Arlan.


" Sayang, sudah cukup aku sangat percaya padamu, lepaskan dia nanti dia bisa mati." pinta Alviana dengan suara lembut sambil mengusap punggung Arlan.


Arlan pun menghembuskan nafasnya dengan kasar.


" Pergilah sebelum aku berubah pikiran." usir Arlan


Alya bangun sambil memegang pipinya yang memerah dan ke dua sudut bibirnya pecah dan berdarah akibat tamparan Arlan. Alya berjalan menuju keluar dari ruangan Arlan dengan tangan mengepal hatinya penuh amarah dan dendam.


" Hari ini kamu kuampuni lain kali tidak ada kata ampun buatmu." ancam Arlan sebelum Alya meninggalkan ruangan Arlan.


blam


Alya membuka pintu kemudian membanting pintu dengan kencang. Kini tinggallah mereka berdua.


xxxxx


Terima kasih atas komentarnya dan jangan lupa like, tambahkan votenya dan tip nya yaaa biar author tetap semangat menulis, terima kasih banyak buat pembaca yang masih setia membaca novelku.😁😚😚😍😍😘😘


Salam Author,


Yayuk Triatmaja

__ADS_1


xxxx


__ADS_2