
Tanpa menunggu jawaban Ramon melakukan kembali dan sesuai perkataan Ramon, Ramon melakukan sampai 2 ronde. Imel berusaha bangun dan menurunkan ke dua kakinya untuk berjalan tapi rasa sakit di bagian int***mnya membuat Imel tidak berani berjalan.
" Kenapa tidak jadi turun? tanya Ramon bingung
" Bagian bawahku sakit." ucap Imel sambil menunduk malu
whussshhh
Tanpa minta persetujuan Imel, Ramon langsung menggendong Imel menuju ke kamar mandi dan mendudukkannya di closet. Ramon menyiapkan air hangat dan aroma vanila kemudian menggendong Imel kembali dan membaringkannya di bathup.
Ramon langsung keluar karena dirinya sudah mandi terlebih dahulu. Kemudian Ramon menghubungi seseorang dan tidak berapa lama salah seorang bodyguard datang menemui Ramon dan memberikan paper bag.
Ramon menerimanya dan menaruhnya di ranjang. Ramon duduk di sofa sambil memainkan ponsel Imel dan memberikan penyadap pada ponsel milik Imel. Sehingga Ramon tahu apa isi dari pesan maupun percakapan.
Ramon juga memberikan sebuah kalung yang di dalamnya di beri alat pelacak gps dan rekaman pembicaraan yang terhubung dengan ponsel milik Ramon. Sehingga apapun yang dilakukan Imel, Ramon akan tahu semuanya.
Imel mengeluarkan kepalanya keluar dan memanggil Ramon.
" Ramon, pakaianku bagaimana? tanya Imel dengan muka memerah.
Ramon langsung mengambil paperbag dan diberikan oleh Imel. Imel pun menerima paper bag pemberian Ramon dan menutup kembali pintu kamar mandinya.
Imel keluar dari kamar mandi dan melihat Ramon sedang duduk di sofa sambil menatap Imel tanpa berkedip.
" Ada apa?" tanya Imel
" Cantik, main lagi yuk." ajak Ramon dengan tatapan penuh gairah.
Tanpa menunggu Ramon langsung membawanya ke ranjang dan terjadilah penyatuan kembali. Setelah keluar lahar milik Ramon. Ramon menarik kerisnya dan memidahkan tubuhnya di samping Imel.
" Menikah denganku, apapun yang kamu mau akan aku turuti." ucap Ramon
" Sekali lagi maafkan aku Ramon, aku sangat mencintai suamiku." ucap Imel
" Apakah suamimu akan marah jika mahkota berhargamu sudah aku ambil." ucap Ramon yang tidak mengerti jalan pikiran Imel.
" Itu urusanku, sekarang aku ingin pulang dan stop jangan lakukan ini lagi." pinta Imel
" Baiklah akan aku turuti tapi ingat selama 2 minggu kamu harus melayaniku." ucap Ramon tegas dengan tatapan tajam ke arah Imel
" Ya." jawab Imel singkat
" Dan satu lagi jika kamu hamil dan itu ternyata anakku jangan coba - coba menggugurkannya karena aku tidak segan - segan membunuhmu." ancam Ramon.
" " Ya." jawab Imel kembali dengan singkat.
Imel menutupi tubuhnya dengan selimut kemudian berjalan memasuki ke kamar mandi kemudian membersihkan dirinya.
__ADS_1
Kini mereka dalam perjalanan menuju ke rumah Harlan dan sesuai perkataan Imel, Imel di antar tidak terlalu jauh dari rumah Harlan.
Ramon menahan tangan Imel ketika Imel hendak membuka pintunya.
" Pakailah kalung ini dan ingat apapun pemberian jangan sekali - sekali di lepas." ancam Ramon
Ramon membuka kotak berwarna merah dan mengambil kalung yang terukir nama RI di tengah gambar hati dan memakaikannya ke leher Imel.
cup
Ramon mengecup bibir Imel dengan lembut
" Ingat pesanku jangan sampai lupa." ucap Ramon
" Ya." jawab Imel singkat dan membuka pintu mobilnya dan turun dari mobil. Imel berjalan kaki menuju ke rumah Harlan, Imel bersyukur suaminya belum pulang.
Imel menangis di kamarnya, hatinya hancur telah kehilangan mahkota berharganya. Di satu sisi Imel merasa yakin kalau suatu saat Harlan bisa berubah tapi apakah Harlan mau menerima dirinya apa adanya dan di sisi lain Imel ingin menyerah.
Karena lelah akhirnya Imel berbaring di kamar untuk beristirahat dan tidak berapa lama Imel tertidur.
Sorenya Imel terbangun dan membersihkan diri kemudian berjalan menuruni anak tangga menuju ke meja makan. Imel duduk di kursi makan sambil menunggu suaminya pulang.
Tidak berapa lama Harlanpun datang, seperti biasa tidak ada pembicaraan di antara mereka. Harlan menaiki anak tangga untuk membersihkan diri setelah selesai Harlan menuruni anak tangga menuju meja makan.
Mereka makan saling diam, 15 menit kemudian mereka menyelesaikan makan. Imel membersihkan meja dan membawa piring ke wastafel untuk di cuci.
" Apakah selama aku kerja kamu berci***a dengan kekasihmu?" tanya Harlan menyelidiki.
prang
Imel yang membawa piring ke wastafel terkejut dengan perkataan Harlan membuat piring yang dipegangnya jatuh dan pecah.
" Kamu bisa kerja ngga sih?" bentak Harlan
" Maafkan aku, aku tidak sengaja." ucap Imel sambil terisak
plak
Tamparan pertama mengenai wajah mulus Imel membuat Imel terjatuh karena tamparannya cukup lumayan keras membuat sudut bibir Imel berdarah.
" Maafkan aku hiks... hiks...hiks.." tangis Imel pecah
" Stop, berhenti menangis aku paling benci orang menangis." ucap Harlan sambil berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya dan menutup pintu dengan sangat keras.
brak
Imel menangis dan menahan rasa sakit di bagian bawahnya dan kini di tambah lagi dengan tamparan yang mengenai pipinya.
__ADS_1
Setelah puas menangis Imel membersihkan pecahan piring dan gelas. Setelah selesai Imel berjalan menaiki anak tangga menuju kamar sebelahnya Harlan.
Imel duduk di kepala ranjang dan menangis kembali. Tidak berapa lama ponsel milik imel berdering. Imel mengambil ponselnya dan tertulis IBU MERTUA MATRE IS CALLING Imelpun menggeser tombol berwarna hijau.
Sejak Imel menikah ibu mertuanya selalu meminta uang dan jika tidak dikasih ibu mertuanya akan mengancam dirinya. Karena itulah Imel memberi nama kontak nama ibu mertua matre.
" Ada apa Bu?" tanya Imel basa basi.
" Apa kabar menantuku sayang." panggil ibunya Harlan
" Tidak usah basa basi, apa maumu?" ucap Imel dengan nada ketus
" Kalau bicara sama orang tua itu yang sopan memangnya orang tuamu tidak mengajarkan sopan santun." bentak ibunya Harlan
" Cih, ibu mertua matre minta dihargai." ledek Imel
" Apa maksudmu Imel!!" bentak Ibunya Harlan
"Pikir aja sendiri. Oh ya jangan katakan kalau orangtuaku tidak mendidik yang tidak benar seharusnya ibu mertua itu mempunyai orang tua tapi tidak mendidik anaknya dengan benar dan menjadikan anaknya matre." ucap Imel sarkas
Ibunya Harlan sangat kesal dengan perkataan Imel
" Apa kamu lupa berkatku kamu bisa menikah dengan anakku." ucap ibunya Harlan dengan nada geram dan ingin rasanya mencakar wajah menantunya.
" Aku tidak pernah lupa tapi itu membuatku tersik.." ucapan Imel terputus karena ibunya Imel langsung memotong pembicaraan Imel.
" Pokoknya aku tidak perduli apa yang terjadi dengan dirimu. Yang penting siapkan uang Rp. 100,000,000 kalau tidak maka ibu mertuamu ini akan meminta anakku Harlan meninggalkanmu." bentak ibunya Harlan memutuskan pembicaraan di telephone sepihak.
" Harlan, aku membencimu dan aku juga membenci ibumu yang mantre." teriak Imel frutrasi
" Kalian berdua mati saja." sambung Imel.
Karena lelah Imel berbaring di ranjang dan tertidur pulas.
xxxx
Besok paginya seperti biasa makan bersama tanpa ada banyak bicara. Selesai makan Harlan pergi ke kantor. Sesuai perkataan Ramon kemarin Imel mengganti pakaiannya kemudian memesan taksi online menuju rumah Ramon.
Di dalam perjalan Imel mendapatkan telephone yang tidak dikenal karena penasaran Imel menggeser tombol warna hijau.
" Hallo." sapa Imel
" Maaf anda kenal dengan nyonya Sutrimelza Hermawan?" tanya seseorang di sebrang telephone
" Kenal, kenapa ya?" tanya Imel bingung
" Kami dari rumah sakit mengabarkan bahwa nyonya Sutrimelza Hermawan mengalami kecelakaan hebat dan nyawanya tidak dapat tertolong." ucap seseorang di sebrang.
__ADS_1