
" Mommy." panggil Alviana
" Kamu sudah bangun sayang?" tanya Mommy Laras.
" Iya mom, Alviana terbangun mendengar orang mengobrol, siapa pria itu mom?" tanya Alviana
" Aku Arlan, apakah kamu tidak kenal aku?" tanya Arlan. Arlan yang menjawab pertanyaan Alviana.
" Maaf mas Arlan aku tidak ingat, maaf aku panggil mas ya? soalnya tidak sopan panggil nama." ucap Alviana.
" Tidak apa - apa mas mengerti kok. Dulu kamu juga memanggilku mas juga." ucap Arlan bahagia bisa bertemu dengan orang yang dicintainya sekaligus sedih karena Alviana tidak ingat dirinya.
" Mas Arlan kapan datang?" tanya Alviana
" Baru saja." ucap Arlan.
" Nak Arlan mommy mau ke kantin, nak Arlan mau nitip apa?" tanya Mommy Laras.
" Tidak usah repot - repot tante." ucap Arlan ramah.
" Tidak, tante tidak merasa repot kok." ucap Mommy Laras.
ceklek
Pintu terbuka semua orang menengok ke arah pintu yang di buka tampak seorang pria datang.
" Daddy." panggil Alviana
" Hallo sayang. Siapa kamu?" tanya daddy Alvonso menatap tajam ke arah Arlan.
Arlan yang di tatap tajam membuat Arlan menelan ludah terasa susah. Arlan sangat gugup menghadapi daddy Alvonso.
" Saya Arlan Om." ucap Arlan agak takut dan gugup.
" Oh kamu Arlan yang membuat putriku sampai pingsan dan membuat putriku masuk ke dalam ke rumah sakit." Omel Daddy Alvonso.sambil berjalan menuju ke arah Arlan.
Glek
Arlan menelan ludah terasa susah membuat Arlan keluar keringat dingin.
" Daddy" panggil mommy Laras lembut sambil mendekati suaminya dan menggandeng tangannya dan membisikkan sesuatu ke telinga suaminya.
Daddy Alvonso hanya menatap tajam ke arah Arlan. Arlan yang di tatap tajam hanya menunduk takut.
" Nak Arlan, kami mau ke kantin sebentar, bisa nitip anak kami Alviana?" tanya mommy Laras agar mereka bisa mengobrol bebas.
" Bisa tante." ucap Arlan
" Tapi mom.." ucap daddy Alvonso terpotong oleh istrinya.
" Daddy, mommy lapar memang daddy tega melihat mommy kelaparan dan pingsan?" tanya mommy Laras.
" Aish.. ya sudahlah tapi ingat ya jangan macem - macem dengan putri kami, kalau sampai macem - macem saya akan cari kamu sampai ke ujung dunia dan saya.." ucap daddy Alvonso sambil mengangkat jari telunjuk dan diarahkan ke arah lehernya yang artinya akan dipotong lehernya pakai pisau.
" Baik om dan tante, Arlan janji tidak akan macam - macam dengan Alviana." ucap Arlan gugup dan takut.
" Ayo dad!" panggil mommy Laras sambil menarik tangan daddy Alvonso. Mommy Laras sebenarnya pengen banget menjewer telinga daddy Alvonso tapi karena ada Arlan membuat menahan dirinya.
__ADS_1
Daddy Alvonso di tarik tangannya oleh mommy Laras untuk keluar dari ruangan kamar inap vvip. Sampai di kantin rumah sakit barulah mommy Laras melepaskan tangan daddy Alvonso dan duduk berhadapan dengan daddy Alvonso.
" Sayang kenapa tanganku di tarik?" protes daddy Alvonso.
" Sebenarnya aku tidak ingin menarik tangan suamiku yang tampan ini." ucap mommy Laras.
" Lalu?" tanya daddy Alvonso curiga sambil menaikkan satu alis matanya.
" Inginnya menjewer telinga suamiku ini." ucap mommy Laras.
" Lho kenapa?" tanya daddy Alvonso bingung.
" Habis sayangku yang tampan ini bikin takut anak orang." ucap mommy Laras
" Daddy tidak setuju dengan pria itu?" protes daddy Alvonso.
" Apa yang membuatmu tidak setuju?" tanya mommy Laras.
" Mereka masih kecil tidak boleh pacaran apalagi anak itukan yang pernah berantem dengan ke dua anak kita, pasti dia anak nakal." ucap daddy Alvonso menjelaskan.
" Jangan begitu sayang, manusia kan bisa berubah, kitakan tidak tahu siapa jodoh anak kita, seperti kita dipertemukan tidak terduga." ucap mommy Laras bijak
" Sayang, kenapa sih kalau ngancam jangan ngancam yang itu?" protes daddy Alvonso.
" Ngancam apa?" tanya mommy Laras pura - pura tidak tahu.
" Tidur di luar atau tidak di kasih jatah. Kamu tega sich sama aku?" gerutu daddy Alvonso
" Pffffttt.. " mommy Laras tertawa melihat suaminya.
" Huh." ucap daddy Alvonso memalingkan wajahnya.
" Jangan meledek gimana mau ngasih jatah." ucap daddy Alvonso sambil mendengus kesal.
" Di kamar mandi, mau tidak? komplain lagi batal." ancam mommy Laras.
" Iya setuju." ucap daddy Alvonso daripada bantah tidak dapat jatah lebih baik menuruti.
" Bagus, sekarang pesan makan dan minum aku laper." ucap mommy Laras
" Ok. Aku pesan makanan." ucap daddy Alvonso.
Daddy Alvonso memesan makanan buat durinya juga buat istri tercintanya momny Laras.
xxxx
Di ruangan rawat inap dimana Alviana di rawat. Kini tinggal mereka berdua ada kecanggungan di antara mereka berdua.
hening
hening
hening
" Apakah ada yang sakit?" tanya Arlan memecahkan kecanggungan mereka berdua.
" Hanya kepalaku kalau di buat berpikir terasa sakit." ucap Alviana.
__ADS_1
" Bolehkah aku memelukmu?" tanya Arlan ragu.
" Kenapa mas Arlan ingin memelukku?" tanya Alviana bingung.
" Biasanya kalau aku ada masalah pekerjaan kamu suka memelukku." ucap Arlan bohong.
" Benarkah?" tanya Alviana bingung.
" Iya benar, bolehkah aku memelukmu?" tanya Arlan menatap Alviana dengan sendu.
Alviana yang tidak tega melihat mata Arlan hanya menganggukkan kepalanya. Arlan yang mendapat persetujuan tidak menyia - nyiakan kesempaan itu.
Arlan memeluk Alviana merasa perasaannya nyaman dan bau rambut Alviana yang membuat pikirannya tenang, sedangkan Alviana memejamkan matanya sambil membalas pelukan Arlan. Alviana merasa kenal bau harum yang terasa familiar tapi dimana.
Alviana melihat sekelebatan bayangan hitam seorang gadis memeluk seorang pria.
" Aduh kepalaku sakit." rintih Alviana sambil melepaskan pelukan Arlan dan memegang kepalanya dengan ke dua tangannya.
Arlan yang mendengar Alviana merintih melepaskan pelukannya.
" Ada apa Alvina? tanya Arlan takut terjadi sesuatu dengan Alviana.
" Kepalaku sakit." rintih Alviana lagi.
" Jangan dibuat berpikir dan jangan di paksa untuk mengingat nanti kamu pingsan terus aku dipukuli oleh daddymu, masa kamu tega sich mukaku yang tampan ini dipukuli oleh daddymu." ucap Arlan berusaha melucu agar Alviana berfikir yang lain.
Alviana menatap Arlan dengan senyum dan berusaha melupakan yang telah terjadi.
Arlan yang melihat Alviana tersenyum membuatnya gemas.
cup
Arlan mengecup bibir Alvina dengan lembut.
" Mas Arlan kenapa menciumku? itukan ciuman pertamaku!" protes Alviana.
" Kata siapa ciuman pertama?" tanya Arlan polos
" Apa? apakah dulu kita sering berciuman?" tanya Alviana malu.
" Sering, malah kamu yang sering menciumku." ucap Arlan bohong.
" Masa sih aku seperti itu? " tanya Alviana bingung
" Iya, kamu sering memelukku dan mencium aku." ucap Arlan berbohong sambil memperhatikan Alviana yang mukannya semakin bertambah merah.
" Apakah aku cewek murahan yang sering berciuman dan berpelukan?" tanya Alviana sedih sambil menundukkan wajahnya.
" Kamu bukan cewek murahan. Kamu hanya melakukan itu hanya sama aku saja dan aku sangat suka." ucap Arlan jujur.
xxxxx
Terima kasih atas komentarnya dan jangan lupa like, vote dan tip nya yaaa biar author tetap semangat menulis, terima kasih banyak😁
Salam Author,
Yayuk Triatmaja
__ADS_1
xxxxx