
Sore harinya Imel sudah sampai rumah, semua sudah rapi dan makanan sudah tersedia. Karena lapar diapun memakan makanan buatan pelayannya.
Harlan pulang dan menatap kesal dengan Imel.
" Di mana - mana kalau makan itu menunggu suami pulang bukannya makan duluan." bentak Harlan
uhuk uhuk uhuk
Imel yang sedang asyik makan langsung terkejut mendengar suara Harlan yang tiba - tiba datang membuat dirinya tersedak. Imel langsung meminum agar hilang sedaknya. Setelah hilang Imel menatap wajah suaminya.
" Maaf aku lapar karena itu aku makan duluan." ucap Imel jujur
" Memang apa yang kamu lakukan seharian?" tanya Harlan curga
" Seperti yang dirimu katakan membereskan rumahmu dan masak." jawab Imel bohong
" Benarkah? ingat saya paling benci namanya kebohongan." ucap Harlan tegas sambil menatap tajam ke arah Imel.
Imel menelan salivanya dengan kasar ada raaa gugup di hatinya dan akhirnya diapun berkata jujur.
" Jujur, aku tidak bisa melakukan apapun aku pergi ke salon." ucap Imel sambil menundukkan wajahnya dan air matanya jatuh
" Lalu siapa yang melakukan ini semua?" tanya Harlan
" Dua orang pelayan hiks...hiks... hiks... yang berada di rumah. Aku hiks.... hiks...tidak pernah melakukan pekerjaan rumah." ucap Imel sambil terisak
" Dasar anak manja, baiklah aku akan kamu kasih pelayan tapi kamu harus ikut bantu." ucap Harlan
" Benarkah? Terima kasih." Imel menghentikan nangisnya dan berdiri hendak memeluk Harlan
" Stop, jangan sentuh tubuhku, ingat isi surat perjanjian tidak ada sentuhan." ucap Harlan sambil berjalan menuju ke kamarnya.
Imel duduk di lantai hatinya sedih menangis meratapi pernikahan yang tidak pernah di bayangkannya bisa sesakit ini.
Harlan menuruni anak tangga dan mereka pun makan dalam diam tanpa ada bicara. Selesai makan Harlan langsunh berdiri dan berjalan ke kamarnya tanpa bicara sedikitpun.
1 Bulan Kemudian
Tidak terasa pernikahan mereka berjalan 1 bulan lamanya. Mereka menikah tapi jarang berkomunikasi. Bicara kalau ada perlunya selain itu diam tanpa banyak bicara.
Imel yang merasa bosan menghubungi sahabat lamanya dan mengajak bertemu di sebuah cafe.
Kini Imel dan sahabatnya telah bertemu mereka mengobrol melepas kangen karena sudah lama tidak bertemu.
__ADS_1
" Kamu sudah menikah Mel?" tanya sahabatnya
" Sudah. Bagaimana denganmu?" tanya Imel
" Belum, aku selalu menunggumu tapi sayang ternyata kamu sudah menikah." ucap sahabatnya dengan mata sendu
" Maafkan aku dan lupakanlah aku, aku percaya kamu pasti menemukan wanita yang lebih baik dariku." ucap Imel
" Bagiku kamu adalah wanita yang terbaik. Apakah kamu bahagia dengan pernikahanmu?" tanya sahabatnya
Imel hanya terdiam tanpa menjawab pertanyaan sahabatnya. Diamnya Imel membuat sahabatnya tahu jawabannya.
" Aku membawa oleh - oleh minuman apakah kamu mau? kita merayakan pertemuan kita." ucap sahabatnya sambil memberikan 2 minuman kaleng yang tidak tahu minuman apa itu.
Tanpa curiga Imel meminumnya bersama dengan sahabatnya hingga minumannya habis. Mereka berbicara dan terkadang tertawa bersama.
Tiba - tiba tubuh Imel terasa aneh dan ingin segera pulang.
" Maaf aku ingin pulang Mon." ucap Imel pada sahabatnya bernama Ramon
" Aku antar ke rumahmu." ucap Ramon
" Tidak, kamu tahu aku sudah menikah nanti suamiku akan marah." jawab Imel
" Terserah kamu saja." ucap Imel.
Mereka berdua keluar dari cafe dan masuk ke dalam mobilnya. Dalam perjalanan kepala Imel pusing dan tidak sadarkan diri. Ramon menatapnya dengan tersenyum devil.
" Kamu akan jadi milikku Imel." ucap Ramon
Ramon membawa Imel ke mansion mewah miliknya dan membawanya ke kamar pribadinya dengan cara di gendong ala bridal style.
Ramon membaringkan Imel di ranjang dan diikat ke dua tangan dan ke dua kakinya. Ramon mengambil gunting kemudian menggunting seluruh pakaian Imel hingga tubuh Imel menjadi polos.
Kemudian Ramon menaruh gunting di laci mejanya kembali. Ramon melepas seluruh pakaiannya hingga dirinya juga polos.
Ramon berdiri di ranjang sambil memperhatikan mantan kekasihnya yang sudah lama di cintai. Cinta Ramon sangat besar terhadap Imel tapi karena Imel merasa bosan memutuskannya secara sepihak. Hati Ramon sangat sakit tapi Ramon berusaha tegar dan mengajaknya untuk bersahabat dan Imel pun menyetujuinya.
Ramon mencari keberadaan Imel tapi hilang tanpa jejak. Tapi keberuntungan berpihak padanya ketika Imel butuh teman untuk mengobrol Imel menghubungi dirinya.
Imel perlahan membuka matanya. Matanya membulat sempurna karena melihat Ramon tanpa sehelai benangpun dan keris milik Ramon berdiri dengan tegak.
__ADS_1
Imel ingin terbangun tapi tidak bisa, Imel sangat terkejut dirinya terikat dan tidak menggunakan sehelai benangpun.
" Ramon a.. apa... yang kamu lakukan?" tanya Imel
" Dulu kamu menolakku dan sekarang kamu tidak bisa menolakku lagi." ucap Ramon
Ramon langsung menindih tubuh Imel dan Ramon langsung menyatukan miliknya tanpa ada pemanasan terlebih dahulu membuat Imel berteriak kesakitan terlebih Imel masih tersegel karena Imel masih menjaga kehormatannya.
" Ramon... hiks... sakit... kumohon hiks... hiks... sakit... tolong... hiks... hiks... lepaskan." pinta Imel sambil menangis dan rasa sakit di bagian int**mnya.
Ramon menulikan pendengarannya, rasa sakit diputuskan secara sepihak membuat dirinya sakit hati dan membalas dendam pada Imel.
Karena tidak kuat Imel tidak sadarkan diri tapi Ramon tidak memperdulikan setelah puas barulah keris miliknya di cabut.
Ramon menelephone dokter pribadinya untuk datang memerika Imel. Ramon melepaskan ikatannya kemudian memakai pakaian kemeja ke tubuh Imel.
Ramon tersenyum puas karena dirinya pria pertama yang melakukannya. Ramon berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
xxxx
Imel sudah diperiksa dan diberikan obat. Ramon menatap Imel dengan tatapan sulit diartikan antara puas sudah menyakiti Imel dan tidak tega melihat orang yang dicintainya terluka karena dirinya.
Tidak berapa lama Imel tersadar dari pingsannya. Airmatanya mengalir rasa penyesalan berkecamuk di hatinya. Seandainya tadi dirinya tidak menghubungi Ramon dirinya tidak akan seperti ini.
" Kenapa kamu jahat padaku Mon?" tanya Imel sendu
" Salahmu adalah kamu memutuskan secara sepihak karena itulah aku nekat melakukan ini padamu." ucap Ramon jujur
" Maafkan aku karena dulu aku sangat melukai hatimu. Aku sangat menyesal." ucap Imel
" Kamu tahu Imel aku sangat mencintaimu, menikahlah denganku dan tinggalkan laki - laki yang tidak mencintaimu." ucap Ramon
" Maaf aku tidak bisa. Aku sangat mencintai suamiku. Ijinkan aku pergi Ramon " pinta Imel sambil menangis
" Baiklah aku akan melepaskanmu tapi dengan syarat tinggallah bersamamu selama satu minggu setelah itu aku tidak akan mengganggumu lagi." ucap Roman
" Apa seminggu? aku sudah menikah apa kata suamiku?" protes Imel
" Baiklah, setiap suamimu berangkat kamu ke rumahku dan jika suamimu pulang barulah kamu pulang tapi jadi berubah menjadi 2 minggu bagaimana?" tanya Ramon
" Terserah padamu. Sekarang antarkan aku pulang." pinta Imel
" Baik tapi dua ronde baru aku antar pulang." ucap Ramon
__ADS_1