
" Sayang kamu percayakan padaku?" tanya Arlan sambil menatap sendu Alviana.
" Saat ini aku berusaha percaya tapi kalau ternyata memang Mas Arlan membohongiku dan menyakitiku maka aku benar - benar akan pergi dari kehidupanmu." ucap Alviana sambil berjalan menuju ke meja dekat sofa untuk mengambil cemilan.
grep
Arlan memeluk Alviana dari belakang sambil menghirup wangi parfum Alviana.
" Sayang, jangan katakan itu, mas tidak sanggup jika mas ditinggalkan." ucap Arlan dengan tubuh bergetar menahan rasa sesak di hatinya.
Alviana membuka tangan Arlan dan membalikkan tubuhnya untuk menghadap Arlan.
" Mas takut kehilanganku?" goda Alviana
" Takutlah jadi jangan katakan itu ya?" pinta Arlan menatap Alviana dengan sendu.
" Ok, oh ya sebenarnya siapa wanita itu?" tanya Alviana penasaran.
Arlan pun menceritakan semua tanpa ada yang ditutupinya.
" Aku penasaran kenapa dia bisa tahu semua?" tanya Alviana penasaran.
" Mas juga tidak tahu sayang, coba kamu retas cctv milik Alya. Mas mau ke ruangan Harlan ada yang mas ingin bicarakan." ucap Arlan.
" Ok." Jawab Alviana singkat.
Arlan mengecup kening istrinya kemudian keluar menuju ke ruangan Harlan.
Arlan langsung membuka pintu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Tampak Harlan sedang sibuk mengecek dokumen yang menumpuk.
" Hallo kak." jawab Harlan sambil mengecek dokumen tanpa melihat siapa yang datang karena orang yang datang tanpa mengetuk pintu siapa lagi kalau bukan Arlan.
" Oh yach aku baru ingat waktu penyerangan markas mafia apakah meninggalkan jejak?" tanya Arlan.
" Tentu saja tidak kak, aku dan anak buah kita seperti biasa setelah kak Arlan dan keluarga besar Alviana meninggalkan markas mafia langsung memasang bom sehingga markas mereka hancur tanpa sisa begitu juga mansion milik keluarga Bona." ucap Harlan menjelaskan.
" Bagus lakukan seperti itu agar tidak ada jejak. Oh ya kenapa kamu tidak kembali ke mansion?" tanya Arlan
" Aku cape karena itu aku ingin istirahat di apartement dua hari kemudian aku pergi keluar kota mengurus perusahaan seperti waktu itu aku katakan lewat telephone." ucap Harlan menjelaskan.
" Ok, kamu memang pantas diandalkan. Oh ya tadi Alya datang untung istriku percaya, suruh anak buah mafia untuk mengawasi keluarga Alya." pinta Arlan
" Ok, bagaimana ceritanya?" tanya Harlan terkejut.
__ADS_1
Arlanpun menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutupi.
" Aku bingung kenapa dia bisa tahu semuanya?" tanya Harlan bingung.
" Sama aku juga bingung dan lebih gilanya lagi dia menuduhku melakukan itu." ucap Arlan
" Apa dia ada sangkut pautnya atau dia bekerjasama dengan orang lain tapi siapa?" tanya Harlan bingung.
" Entahlah masih teka teki aku meminta Alviana untuk meretas cctv." ucap Arlan
" Aku tidak menyangka keluarga Alviana sangat hebat bisa meretas dan memperbaiki cctv yang rusak dan para sahabat orang tuanya sangat rukun dan saling melindungi. Baru kali ini aku melihat sebuah keluarga sangat harmonis. Biasanya yang sering kutemukan kalau keluarga kaya saling merebutkan harta atau selingkuh. Kak Arlan sangat beruntung menjadi angota keluarga mereka." puji Harlan.
" Iya aku sangat beruntung, kalau kamu mau bisa menikahi salah satu adiknya Alviana." ucap Arlan usil.
" Hush enak saja, mereka masih kecil masa dipacari. Sudah sana pergi kerjaanku tidak selesai kalau kak Arlan mengganggu pekerjaanku. " usir Harlan.
" Hahaha... baiklah, aku pergi keruanganku mau melihat bidadariku sedang bekerja." ucap Arlan menggoda adik sepupunya.
Arlan keluar menuju ruangan kerja Arlan.
ceklek.
Tampak istrinya sedang sibuk mengerjakan berkas - berkas yang menunpuk.
" Maaf sayang, berkas - berkasnya ada yang beberapa salah dan sudah aku perbaiki jadi aku tidak tahu kalau sayangku sudah datang." ucap Alviana sambil tersenyum menatap suaminya.
" Coba mas cek." ucap Arlan
Alviana memberikan berkas - berkas yang salah dan sudah diperbaiki oleh Alviana. Mereka bekerja hingga tidak terasa hari sudah siang, Arlan memesan makanan kemudian melanjutkan pekerjaannya kembali.
" Oh ya sayang sudah kamu retas cctv milik Alya?" tanya Arlan
" Belum sempat sayang, sudah biarkan saja apalagi toh kita juga sudah menikah kenapa dipusingkan hal yang tidak perlu. Aku percaya padamu dan kuharap mas Arlan juga percaya padaku jika seandainya ada orang yang berusaha memisahkan kita. Karena kunci dari rumah tangga adalah kepercayaan." ucap Alviana.
" Dan satu lagi aku bukan tipe orang yang mudah jatuh cinta dan juga bukan orang yang suka berbohong. Jika aku mencintai seseorang cukup satu yaitu mas Arlan dan aku harap mas Arlan begitu juga." sambung Alviana.
" Terima kasih sayang sudah percaya sama mas dan mas juga akan percaya padamu." ucap Arlan sambil tersenyum.
tok
tok
tok
__ADS_1
" Masuk." ucap Arlan
ceklek
Pintu terbuka tampak seorang office boy membawa 2 paper bag, Alviana menerimanya dan mengucapkan terima kasih. Setelah memberikan 2 paper bag office boy keluar dari ruangan Arlan.
Alviana mengeluarkan isi paper bag yang berisi makanan kemudian di tata di meja. Alviana membuka paper bag satunya berisi minuman coklat panas dan kopi hitam.
Mereka makan tanpa bersuara menikmati makanan mereka. Selesai makan Alviana membereskan makanannya dan membuangnya ke tong sampah.
Mereka melanjutkan pekerjaannya hingga sore. Mereka berdua pulang ke mansion milik Daddy Alvonso.
15 menit kemudian Arlan sudah sampai di mansion. Arlan dan Alviana masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri.
Selesai mandi Arlan dan Alviana turun ke bawah untuk makan bersama di meja makan. Mereka makan dalam diam menikmati masakan mommy Laras.
Selesai makan mommy Laras, Alviana, Debby dan Dennisa membereskan meja makan dan mencuci piring. Setelah selesai mereka berjalan menuju ke ruang keluarga.
Mereka berkumpul saling bercerita gelak tawa memenuhi ruang keluarga. Tidak terasa hari sudah malam merekapun istirahat di kamar masing - masing.
Sembilan Hari Kemudian
Seperti biasa penghuni mansion bangun pagi melakukan rutinitas seperti biasanya.
Arlan dan Alviana seperti biasa berangkat ke kantor. Arlan mengendarai mobil dengan kecepatan sedang hingga terasa mereka sudah sampai di kantor.
Arlan dan Alviana berjalan sambil bergandengan masuk ke dalam ruangan lift khusus CEO dan di belakangnya diikuti oleh Harlan.
Terkadang di dalm lift mereka bertiga bercanda hingga tidak terasa pintu lift terbuka. Arlan dan Alviana beserta Harlan keluar dari pintu lift dan berjalan menuju keruangan masing - masing.
Di dalam ruangan Arlan duduk di singgasana dan dan Alviana duduk di kursi sekretaris.
" Sayang, aku ingin makan siomay sama ketoprak." ucap Alviana.
" Sayang bukannya tadi di mansion sudah makan?" tanya Arlan bingung.
" Iya tapi sekarang aku laper lagi." ucap Alviana sambil menatap suaminya berkaca - kaca.
Arlan yang melihatnya tidak tega akhirnya mengiyakan permintaan istrinya. Arlan mengeluarkan ponselnya untuk meminta Harlan membelikan pesanan istrinya.
" Sayang aku ingin mas Arlan yang membelinya." pinta Alviana
" What??" teriak Arlan terkejut
__ADS_1