
4 pasang itu adalah anak dari Arlan dan Alviana. Melihat perawat itu pergi, ke empat anak kembar itu memanggil ke dua saudaranya untuk masuk ke dalam ruangan di mana mamanya berbaring di ranjang.
" Kakak, bagaimana calanya naik?" tanya adiknya nomer 2 yang masih cadel
" Iya kak, tempat tidulnya juga tinggi." ucap adiknya nomer 3
" Itu ada kulsi kayu kita naik kulsi saja." ajak adiknya nomer 4
" Kakak pintal." puji adiknya nomer 5
" Kita dolong kulsi kayu dulu belsama - sama ke alah lanjang." ucap adiknya yang bungsu.
" Ok." jawab mereka serempak
Ke enam anak kecil itu mendorong kursi kayu itu. Karena kursi kayu itu besar dan berat tidak sebanding dengan anak kecil karena itu mereka bekerja sama mendorongnya.
Setelah sampai di ranjang satu persatu menaiki kursi kemudian menaiki ke arah ranjang. Kini ke 6 anak sudah duduk di ranjang, ada yang duduk di samping kanan dan kiri, ada yang duduk di kaki kanan dan kiri Alviana dan yang dua lagi duduk di dadanya Alviana hal itu membuat Alviana terasa sesak karena ke dua anaknya badannya lumayan gembul menduduki tubuhnya.
" Mama bangun." ucap ke 6 anaknya
Yang duduk di samping kanan dan kirinya masing - masing berusaha membuka matanya Alviana dengan tangan mungilnya agar Alviana segera bangun sedangkan yang duduk di kaki kanan dan kiri dan di dada Alviana loncat - loncat seperti naik kuda. Karena terlalu bersemangat supaya mamanya bangun ke empat anaknya yang duduk di dada dan ke dua kakinya Alviana terjatuh dari tempat tidur yang lumayan tinggi.
brugh huwaaaaaa
brugh huwaaaaaa
brugh huwaaaaaa
brugh huwaaaaaa
Mereka berempak serentak menangis karena tubuhnya sakit akibat jatuh dari ranjang. Melihat ke empat saudaranya menangis membuat ke dua saudaranya ikutan menangis.
huwaaaaaa
huwaaaaaa
Alviana yang mendengar ke 6 anaknya menangis membuatnya memaksakan diri untuk membuka matanya.
" Sayang jangan menangis." ucap Alviana lirih sambil berusaha menggerakkan badannya yang kaku karena sudah lama tidak pernah digunakan.
" Huwaaaa.. mama...." teriak mereka serempak.
Max yang kebetulan melewati ruangan Alviana di rawat dan pintunya terbuka lebar membuat Max panik terlebih mendengar ke 6 anaknya Arlan dan Alviana menangis dengan sangat kencang.
__ADS_1
" Mommy, kak Arlan?" teriak Max dengan suara sangat kencang.
Max berjalan cepat menuju ruang perawatan Alviana. Matanya membulat sempurna melihat Alviana sadar dan ke 6 anak kembar menangis dan 4 di antaranya terlentang.
Max mendekati ke dua bayi kembar untuk menurunkan di bawah ranjang agar tidak terjatuh kemudian menggendong ke dua anak kembar itu yang jatuh terlentang agar berhenti menangis.
Mommy Laras, daddy Alvonso, Alvonso, Alvian, dokter Amel dan Arlan masuk ke dalam ruang perawatan Alviana yang terbuka lebar.
" Ada apa Max?" tanya mereka serempak. Mereka hanya memandang Max dan ke 6 bayi kembar tanpa memperhatikan Alviana yang sudah sadar dari komanya.
Arlan menggendong salah satu anaknya yang berada di lantai, begitupula dengan mommy Laras. Daddy Alvonso mengambil satu cucunya yang di pegang Max. Sedangkan yang ke duanya dijaga Alvonso dan Alvian.
" Tadi Max tidak sengaja mendengar ke 6 bayi kembar menangis karena itu Max ke sini dan melihat kak Alviana sadar dan ke 6 kembar menangis." ucap Max menjelaskan.
Mereka serempak menampak Alviana yang sudah membuka matanya dan mendekati Alviana.
" Kamu sudah sadar sayang? lihatlah ke 6 anak kita" ucap Arlan tersenyum bahagia.
" Ketika aku mendengar suara ke 6 anak kita menangis aku berusaha membuka mataku, mereka cepat sekali sudah besar." ucap Alviana menjelaskan sambil menatap ke 6 anaknya yang sudah besar.
" Kamu koma selama 2 tahun lebih Al." ucap Arlan menjelaskan.
" What???" teriak Alviana terkejut
Merekapun menjauhkan diri dari dokter itu dengan masih menggendong mereka.
" Suster kenapa hal ini bisa terjadi?" tanya Arlan geram.
" Maaf tuan muda, tadi saya ke toilet dan saya tidak tahu kalau ke 6 bayi kembar tuan muda masuk ke dalam ruang perawatan ini. Sekali lagi maafkan aku." ucap perawat itu sambil menangis.
" Kamu bisa kerja ngga sih?" ucap Arlan dengan tatapan tajam sambil menahan diri untuk tidak membentak atau memukulnya mengingat ada ke 6 anaknya.
Perawat itu hanya menangis dan kakinya sudah mulai gemetar ketakutan melihat tatapan tajam Arlan yang seperti ingin membunuhnya.
" Sudahlah Al, yang penting istrimu Alviana sadar dari komanya." ucap mommy Laras lembut sambil membelai punggung Arlan agar bisa menahan emosinya.
Arlan berulang kali membuang nafasnya secara kasar untuk menghilang emosinya.
" Max, sekali lagi terima kasih berkatmu kami bisa tahu apa yang terjadi." ucap daddy Alvonso sambil memeluk Max dari arah samping karena masing - masing menggendong si kembar.
" Betul Max. Terima kasih kamu juga telah menolong istriku dan juga anak - anakku." ucap Arlan sambil tersenyum dan memegang bahu Max.
" Iya Max, kebaikanmu tidak akan pernah kami lupakan." ucap Alvian yang mengingat dirinya di tembak oleh Clara tapi Max menjadikan dirinya sebagai tamengnya membuat Max terkena luka .
__ADS_1
Semua tersenyum dengan tulus membuat hati Max semakin menghangat.
" Kalian semua sudah kuanggap sebagai keluargaku." ucap Max tersenyum membalas senyuman mereka.
Mereka bergantian memeluk Max sambil tersenyum bahagia. Tidak berapa lama dokter sudah menyelesaikan pekerjaannya.
" Bagaimana dok?" tanya Arlan
" Semuanya baik hanya saja syaraf - syaraf Alviana harus digerakkin karena sudah kaku dan tidak pernah digerakkan." ucap dokter itu.
" Bolehkah Alviana aku pindahkan ke kamar kami, agar istriku bisa berdekatan dengan ke 6 putra dan putri kami?" tanya Arlan agak ragu.
" Boleh silahkan saja. Silahkan dipindahkan ke kamar kalian." ucap dokter itu
" Oh iya dok, kebetulan ada temanku yang bisa mengobati seperti Alviana agar berjalan seperti biasanya." ucap mommy Laras
" Bagus juga bisa jadi bahan pertimbangan." ucap dokter itu.
" Terima kasih dok besok kami pergi ke klinik teman saya." ucap mommy Laras.
Dokter itu hanya tersenyum dan berpamitan pada keluarga besar Alvonso.
Mereka berkumpul dan tertawa bersama dan tidak terasa hari sudah sore. Mommy Laras, dokter Amel dan Debby serta Denisa pergi ke dapur.
Arlan memanggil kepala pelayan dan meminta agar kamarnya dibersihkan. Kepala pelayan itu hanya menganggukan wajahnya tanda dirinya mengerti.
xxxxx
Mohon Berikan : 😍😍😘😘🤩🤩😊😊😉😉
Komentar 😍
Like 😍
vote 😍
tip 😍
Agar author tetap semangat dalam menulis novel ini, terima kasih banyak buat pembaca yang masih setia membaca novelku.😁😚😚😍😍😘😘 juga yang telah memberikan komentar, like, vote dan tipnya.
Salam Author
Yayuk Triatmaja
__ADS_1
xxxxxx