
Tiba - tiba dokter dan dua perawat berlarian masuk ke ruang icu. Dokter Kennath yang masih menunggu di ruang icu melihat mereka berlarian membuatnya ikut masuk ke dalam ruangan icu.
" Daddy." panggil mereka serempak sambil menangis
" Mommy kalian akan baik - baik saja." ucap daddy Alvonso lirih.
Daddy Alvonso sebenarnya sangat panik dan sangat ketakutan tapi karena melihat anak - anak menangis membuatnya harus tegar.
Ceklek
Seorang suster keluar dari ruang icu dan berlari cepat dan tidak berapa lama suster tersebut membawa AED kemudian masuk ke dalam ruang icu.
AED (automated external defibrillator) adalah sebuah alat medis yang dapat menganalisis irama jantung secara otomatis dan memberikan kejutan listrik untuk mengembalikan irama jantung jika dibutuhkan. Alat ini berfungsi untuk menolong orang yang mengalami henti jantung.
Semua menahan rasa takut terlebih daddy Alvonso separuh jiwanya terasa hilang. Daddy Alvonso hanya bisa menutup wajahnya dengan menggunakan ke dua tangannya. Rasa ketakutan teramat sangat akan kehilangan istrinya. Daddy Alvonso terbangun dan mengintip dari pintu yang tertutup kaca.
Tampak dokter Kennath memegang alat AED dan diarahkan ke mommy Laras. Dokter Kennath berulang kali menggunakan alat AED dan wajah dokter Kennath yang merasa tegang.
Daddy Alvonso mendadak limbung untunglah di belakangnya ada Ronald. Ronald berusaha menahan tubuh daddy Alvonso agar tidak terjatuh. Alvonso dan Alvian yang melihatnya langsung membantu daddynya untuk duduk.
Tidak berapa lama pintu itupun terbuka. Tampak dokter Kennath keluar dengan muka yang sangat lesu dan sedih.
" Paman, bagaimana dengan mommy?" tanya Max kuatir.
" Maaf, paman sudah berusaha tapi..." dokter Kennath tidak sanggup mengatakan
" Tidak!!!" teriak mereka serempak
Mereka semua masuk ke dalam ruang icu dan tampak mommy Laras masih setia memejamkan matanya, detak jantungnya juga berbentuk datar di layar monitor tanda detak jantung mommy Laras sudah tidak ada dan para perawatnya ingin melepas semua selang yang menempel di tubuh mommy Laras.
" Jangan di lepas." teriak Max
" Max, mommy sudah pergi." ucap Alvonso lirih
" Iya Max, kita harus menerima kenyataan ini." ucap Alvian
" Tidak, mommy masih hidup, mommy hanya tidur." ucap Max tidak terima kenyataan
Alviana memeluk suaminya dan menangis dirinya tidak sanggup menerima kenyataan pahit sedangkan daddy Alvonso berlutut seperti orang linglung. Ronald dan dokter Kennath yang sangat setia sama sahabatnya hanya bisa memeluk daddy Alvonso agar kuat menghadapi kenyataan yang sangat pahit.
__ADS_1
" Mommy pernah berjanji sama Max, untuk datang kelulusan Max tapi mana janji mommy? Mommy juga berjanji akan memberikan hadiah jika Max bisa berhasil membuat alat cctv mini tapi mana? Mommy juga bilang mau bikin program terbaru gabungan antara mommy, kak Alvonso, kak Alvian dan Max tapi apakah semuanya itu hanya ucapan dan ke tiga janji itu tidak akan terwujud." ucap Max menangis
" Maaf dok, bolehkah kami melepas semua alat - alat yang menempel di tubuh nyonya Laras." tanya perawat ke dokter Kennath
" Lakukanlah, Max relakan mommymu. Mommy sudah tenang di sana." ucap dokter Kennath sendu
" Tidak, mommy masih hidup." ucap Max bersikeras
" Max sadarlah kita harus mengikhlaskan kepergian mommy." ucap Alvonso sambil memeluk Max.
" Tapi kak, Max tidak terima jika mommy meninggalkan kita." ucap Max pun membalas pelukan Alvonso
" Kakak juga tidak terima Max." jawab Alvonso
" Lepaskan semua alatnya suster." perintah dokter Kennath
" Baik dok." jawab perawat
Perawat itupun melepaskan semua peralatan yang menempel di tubuh mommy Laras. Isak tangis yang berada di ruangan icu. Para lelaki tampan tidak memperdulikan di anggap cengeng karena bagi mereka mommy Laras sangat berarti buat mereka.
Setelah selesai melepaskan semua selang yang menempel di tubuh mommy Laras, salah seorang suster menyelimuti mommy Laras ke seluruh tubuhnya dengan menggunakan kain putih.
Max melepaskan pelukan Alvonso dan mendekati mommy Laras. Max membuka kain putih yang menutupi wajah mommy Laras dan mendekati wajahnya ke wajah mommy Laras dan membisikkan sesuatu yang tidak semua orang dengar. Setelah lama berbisik Max menutup kembali kain putih itu kemudian menegakkan tubuhnya.
" Mau ngapain kita ke sana?" tanya Arlan bingung sambil melepaskan pelukan Alviana begitu pula Alviana melepaskan pelukan suaminya.
Max tidak menjawab hanya tatapan dingin dan aura membunuh nampak di wajahnya membuat Arlan menelan saliva dengan susah payah akhirnya hanya menganggukkan kepalanya.
Arlan dan Max berjalan keluar menuju ke markas milik Arlan sedangkan yang lainnya menyiapkan keperluan untuk acara pemakaman mommy Laras.
xxxx
Jika Tidak Menyukai adegan kekerasan langsung di skip. Terima kasih
Kini Max dan Arlan sudah berada di markas milik Arlan. Arlan dan Max melihat seorang pria yang bernama Anto duduk tangan dan kakinya terikat dengan mulut di lakban.
" Kak Arlan biar Max yang akan melakukannya." perintah Max
" Ok." jawab Arlan singkat
Max berjalan mendekati pria itu sedangkan Arlan duduk di kursi kebesarannya sambil melihat apa yang dilakukan oleh Max.
Anto ingin berteriak tapi tidak bisa karena mulutnya di lakban. Max dengan kasarnya menarik lakban yang berada di mulut Anto kemudian mengambil pisau lipat di balik sakunya dan diarahkan ke pipi Anto.
__ADS_1
" Siapa yang menyuruhmu." tanya Max tanpa basa basi
hening
srettt
akh
Max langsung menggores di pipi kanan Anto hingga mengeluarkan darah segar membuat Anto berteriak kesakitan.
" Siapa yang menyuruhmu." tanya Max ulang
hening
srettttt
akh
Max menggores di pipi di sebelah kiri Anto hingga mengeluarkan darah segar membuat Anto berteriak kesakitan.
" Siapa yang menyuruhmu." tanya Max ulang
hening
Max menaruh pisau lipat di lantai kemudian membuka resleting celana panjang dan juga membuka kaitan celana panjang milik Anto kemudian menariknya hingga ke bawah lutut. Max pun mengambil kembali pisau lipatnya.
Max menarik celana da**m Anto kemudian merobeknya dengan menggunakan pisau lipat hingga tampaklah adik kecil milik Anto. Max mengambil sesuatu di balik saku depannya sepasang sarung tangan Max pun memakai sarung tersebut.
Max memegang adik kecil milik Anto membuat Anto dan Arlan membulatkan matanya sempurna.
sret
" Akh... sakit... sia**n... breng**k." umpat Anto
Max dengan sengaja mengiris secara perlahan milik adiknya Anto membuat Anto berteriak kesakitan. Arlan yang melihatnya langsung pucat pasi sambil memegang miliknya yang sangat berharga. Arlan sungguh tidak sanggup membayangkannya jika Arlan menjadi Anto pasti rasanya sakit sekali.
Max menghentikan aksinya dan menatap tajam ke arah Anto.
" Siapa yang menyuruhmu?" tanya Max berulang dengan pertanyaan yang sama.
" Bosku." ucap Anto gugup dan ketakutan.
" Siapa bosmu? dan kenapa menabrak mommyku?" bentak Max
__ADS_1