
Di dalam lift Alviana menatap tajam ke arah Arlan. Arlan yang di tatap bingung karena baru kali ini Alviana menatapnya sangat tajam.
" Kamu kenapa? apa mas membuat kesalahan?" tanya Arlan bingung.
" Mas Arlan bisa tidak di depan karyawannya kurangi marah - marahnya apalagi sampai membentak kupingku sampai sakit tahu.! ucap Alviana sambil cemberut.
" Oh itu, Mas tidak suka orang kerja itu ngerumpi apalagi ngomongi bos di belakang." ucap Arlan
" Maksud mas seperti resepsionis yang kemarin mas pecat." tanya Alviana sambil menatap Arlan.
" Iya betul, dia ngomongin mas makanya mas langsung pecat." jawab Arlan
" Bisa tidak mas, kurangi marahnya." pinta Alviana sambil menatap Arlan dengan sendu.
" Kenapa kamu perduli dengan mereka? belum tentu mereka perduli dengan kita." ucap Arlan.
" Mommy selalu menasehati ke kami untuk menghargai orang lain, mas bisakan lakukan itu buatku?" pinta Alviana lembut
" Mas akan usahakan tapi dengan satu syarat." ucap Arlan sambil tersenyum mesum.
" Apa itu?" tanya Alviana bingung
" Nanti mas akan beritahukan." ucap Arlan.
Ting
Pintu lift terbuka Arlan dan Alviana berjalan sambil bergandengan tangan menuju ke arah kanan tempat ruangan CEO sedangkan Arlan berjalan ke sebelah kiri.
Di dalam ruangan Arlan, Alviana duduk di sofa sedangkan Arlan duduk di kursi kebesaran sambil memijat pelipisnya. Alviana menatap Arlan membuat dirinya ingin menanyakan sesuatu ke Arlan.
" Mas Arlan, ada apa?" tanya Alviana lembut.
" Lihatlah dokumen ini masih menumpuk sedangkan hari ini harus sudah selesai." keluh Arlan
" Sekretaris Mas Arlan memang kemana?" tanya Alviana.
" Sudah mas pecat, mas kesal kerjaannya salah terus bikin tambah stress." omel Arlan
" Kan enak mas punya sekretaris seperti itu." ucap Alviana
" Enak apanya?" tanya Arlan bingung sambil menaikan satu alis matanya.
" Kan sekretarisnya cantik dan seksi jadi kan lumayan bisa lihat pemandangan indah." ucap Alviana menggoda Arlan
" Alviana sini!" printah Arlan tidak menghiraukan ucapan Alviana.
Alviana mendekati Arlan di sampingnya.
" Ada apa mas Arlan?" tanya Alviana bingung.
grep
Arlan menarik tangan Alviana hingga Alviana duduk dipangkuan Arlan dan wajahnya menghadap ke wajah Arlan.
__ADS_1
" Mas Arlan." pekik Alviana sambil berusaha berdiri tapi pinggangnya di tahan.
" Ku mohon sebentar saja, mas lagi pusing." ucap Arlan sambil mukanya mendusel ke dua bukit kembar milik Alviana sambil memegang ke dua tangan Alviana.
Alviana berusaha berdiri dengan menggerakkan tubuhnya tanpa disadari Alviana keris milik Arlan mulai menegang sedikit demi sedikit.
" Sayang jangan bergerak terus." ucap Arlan dengan nada mulai berat.
" Kenapa? Mas Arlan aku ingin berdiri." pinta Alviana sambil berusaha melepaskan ke dua tangan yang di pegang Arlan agar terlepas dari pelukan Arlan.
" Sayang, apa kamu tidak merasakan keris mas sudah mulai mengeras." ucap Arlan dengan nada semakin berat.
Alviana yang mengerti maksud Arlan langsung diam dan tidak bergerak. Arlan hanya tersenyum dan ingin rasanya bercin*a dengan Alviana tapi perasaan itu segera di tepisnya. Arlan langsung melepaskan tangan Alviana, Alviana yang merasa Arlan tidak memegang ke dua tangannya langsung berdiri.
" Mas Arlan kalau sekali lagi seperti ini, hari ini adalah terakhir kita bertemu." ancam Alviana menahan marah.
Arlan yang tahu orang yang di cintainya marah langsung berlutut meminta maaf.
" Maaf sayang, jangan marah. Mas khilaf, mas janji tidak akan melakukan itu lagi. Kamu tiap hari datang kesini ya?" pinta Arlan sambil matanya menatap sendu ke arah Alviana.
Alviana terkejut melihat apa yang dilakukan Arlan langsung menarik ke dua tangan Arlan dan memeluknya dan menatap wajah Arlan.
" Sudah aku maafkan yang penting mas tidak melakukan lagi." ucap Alviana sambil melepaskan pelukannya.
" Mas janji, Alviana maukah kamu menjadi kekasihku?" tanya Arlan
" Aku mau, tapi hanya pegangan tangan dan tidak ada acara cium." pinta Alviana
" Kenapa?" tanya Arlan bingung
" Baiklah mas setuju." ucap Arlan.
" Oh ya boleh lihat pekerjaan mas Arlan yang menumpuk itu." tanya Alviana mencoba mengalihkan perhatian Arlan.
" Boleh silahkan." ucap Arlan menatap kekasihnya.
" Mas Arlan tidak takut aku membocorkan atau mengambil semua harta mas Arlan?" tanya Alviana sambil membalas tatapan wajah Arlan.
" Kenapa takut?... karena semua milik mas juga milikmu." ucap Arlan sambil tersenyum menatap Alviana
Alviana hanya tersenyum dan mulai mengambil berkas di meja Arlan dan mulai membacanya.
" Mas Arlan, aku mau pinjam laptop dan alat buat print dokumen." pinta Alviana
" Sebentar ya." pinta Arlan
Arlan pun menghubungi Harlan untuk menyiapkan laptop dan printer sesuai permintaan Alviana.
Tidak berapa lama ada bunyi suara ketukan pintu, ketika pintu di buka dua orang karyawati masuk ke dalam membawa laptop dan printer dan menaruhnya di meja dekat sofa. Mereka memandang Alviana dengan tatapan sinis.
Alviana tahu mereka berdua memandangnya dengan sinis tapi Alvina pura - pura tidak tahu sedangkan Arlan tidak tahu karena Arlan terus memandang Alviana tanpa kedip dan tidak memperdulikan kedatangan dua karyawatinya.
Dua orang karyawatinya berjalan keluar dan kini tinggal Arlan dan Alviana berdua di ruangan itu.
__ADS_1
Alvina dengan serius mengetik dokumen di laptop kemudian di print. Selesai mengerjakan satu dokumen Alviana menyerahkan ke Arlan dan mengambil dokumen berikutnya.
Arlan yang menerima ketikkan dari Alviana sangat terkejut karena Alviana cepat sekali mengerjakannya.
Hingga tidak terasa dokumen itu tinggal sedikit lagi selesai.
" Sayang, berhenti dulu waktunya istirahat. Kita makan dulu ya? sayang mau makan apa?" tanya Arlan lembut.
" Terserah mas Arlan aja." ucap Alviana sambil mengetik di laptopnya.
" Ok." jawab Arlan singkat
Arlan pun memesan makanan ke office boy kemudian melanjutkan pekerjaannya kembali. Hingga tidak terasa pekerjaan pun selesai sudah.
" Sayang, bagaimana kalau sayangku jadi sekretarisku?" tanya Arlan
" Baiklah." ucap Alviana singkat.
tok
tok
tok
" Masuk." ucap Arlan
ceklek
" Maaf tuan ini makanannya sudah datang." ucap office boy
" Terima kasih." ucap Alviana sambil mengambil bungkusan karena Arlan hanya diam tidak bersuara sama sekali.
" Sama - sama nona." jawab office boy terkejut karena baru kali ada seorang gadis di ruangan bosnya dan bosnya tidak marah - marah seperti biasanya.
Office boy mengundurkan diri dan kini tinggallah mereka berdua.
Alviana menyiapkan makanan dan merekapun makan dalam diam. Selesai makan Alviana membereskan hingga meja bersih dari makanan.
tok
tok
tok
" Masuk." ucap Arlan
ceklek
Seorang gadis berseragam paud masuk ke dalam ruangan Arlan bersama seorang wanita yang masih muda seumuran dengan Alviana hanya lebih tua 2 tahun dari Alviana.
"Clara." panggil Alviana
" Kakak Alviana." panggil Clara
__ADS_1
" Hallo daddy." panggil Clara kecil sambil tersenyum dan meminta gendong Arlan
deg