
" Daddy setuju usul mommy, bagaimana menurutmu Ken?" tanya daddy Alvonso
" Aku setuju usul Laras karena di mansionmu banyak orang jadi Alviana aman sedangkan di rumah sakit ini banyak orang yang sakit ataupun orang yang berkunjung jadi sulit untuk mengetahui mana penjahat dan mana pengunjung.
" Lebih baik Ken di tiap pintu masuk ada alat sensor jika ada yang membawa senjata tajam baik pistol, pisau, gunting dll sensor itu akan berbunyi." usul mommy Laras
" Usulmu bagus La, aku baru kepikiran ke arah sana. Terima kasih La?" puji dokter Kennath.
" Ya sama - sama. Oh ya kalau ada penambahan sistem keamanan aku atau ke dua anakku bisa membantumu." ucap mommy Laras.
" La, maafin aku ya? gara - gara aku supaya Bona jangan di bunuh dan dipindahkan ke kantor polisi malah kabur dan hampir saja membunuh Alviana." ucap Maria sendu merasa bersalah dengan sahabatnya sambil memeluk mommy Laras.
" Sudahlah lupakan jangan perlu di ingat lagi. Nanti biar aku dan ke dua anakku Alvonso dan Alvian mencari di mana keberadaan Bona berada." ucap mommy Laras membalas pelukan Maria.
" Kamu gimana Ar?" tanya daddy Alvonso
" Aku ikut tinggal di mansion milik Daddy dan Mommy." ucap Arlan.
" Mansion itu bukan milik daddy atau mommy tapi milik kita bersama." ucap mommy Laras lembut.
Arlan kini merasa yakin untuk lebih memilih Alviana daripada Jessica, Arlan sudah tidak perduli lagi dengan janji Rocky untuk menjaga Jessica dan Clara jika Jessica berbuat ulah lagi.
Bagi Arlan melihat ketulusan dan kasih sayang yang diberikan oleh orang tua Alviana dan juga istrinya serta para sahabat mertuanya membuat hidupnya lebih berwarna dan merasa dihargai.
xxxx
Kini Alviana sudah berada di mansion di ruangan yang sudah di desain mirip seperti rumah sakit.
Mommy Laras, Alvonso dan Alvian masuk ke ruangan kerja milik suaminya Daddy Alvonso. Masing - masing memegang laptopnya untuk mencari keberadaan Bona. Bona sangat pandai menyamar sehingga sangat sulit untuk mencari keberadaannya.
Arlan dengan setia duduk di samping ranjang istrinya sambil memegang tangan Alviana yang tadi sudah di lepas selang untuk aliran darah ke tangan Alviana.
Arlan menatap sendu wajah istrinya, Arlan sangat menyesal karena telah membentaknya, Arlan mengingat ketika Alviana berlari sambil menangis keluar dari lobby dan di tabrak oleh mobil.
" Bangunlah sayang, mas janji akan menuruti semua keinginanmu, jangan buat mas tersiksa karena perasaan bersalah." ucap Arlan sambil menangis dan mengecup punggung tangan istrinya.
Ponsel Arlan berbunyi membuat Arlan mengambil ponselnya di saku jasnya. Arlan melihat siapa yang menelephonenya. Harlan Calling Arlan pun langsung keluar ruangan karena tidak ingin mengganggu istrinya.
Arlan mengangkat ponselnya ketika sudah di depan pintu. Selesai menelephone Arlan masuk kembali dan berdiri di depan Alviana sambil memegang tangan Alviana.
" Sayang, di kantor lagi ada masalah. Mas pergi ke kantor ya? nanti kembali lagi." pamit Arlan sambil mengecup kening istrinya.
__ADS_1
Arlan pun keluar dari ruangan tampak daddy Alvonso sedang duduk di ruang keluarga bersama ke dua sahabatnya dokter Kennath dan Ronald.
" Maaf dad, Arlan pergi ke kantor nanti ke sini lagi." ucap Arlan ramah.
" Ok. Hati - hati." ucap Daddy Alvonso
" Terima kasih dad, mari paman Kennath dan paman Ronald." pamit Arlan ramah.
" Ok. Hati - hati di jalan." ucap mereka serempak
Arlan pun keluar dari mansion dan mengendarai mobil menuju ke kantor miliknya.
Daddy Alvonso, Kennath dan Ronald masuk ke dalam ruangan Alviana yang masih terbaring koma.
Dokter Kennath yang membawa tas perlengkapan dokter mengecek kondisi Alviana yang masih terbaring dan masih setia menutup matanya.
" Bagaimana kondisinya Ken?" tanya Daddy Alvonso
" Masih sama tidak ada perubahan sama sekali, sering di ajak mengobrol supaa cepat tersadar." ucap dokter Kennath sambil menarik nafas kasar.
Dokter Kennath dan Ronald sangat sayang dengan anak - anak Alvonso dan Laras karena mereka sudah menganggap mereka sebagai putra dan putri mereka. Karena itulah ketika Alviana terbaring lemah mereka menjadi sedih dan berharap Alviana segera sadar.
Begitu pula dengan daddy Alvonso dan Mommy Laras juga menganggap anak - anak dokter Kennath dengan Maria serta anak - anak Ronald dengan Clarisa sebagai anak mereka juga.
Arlan sudah sampai di kantor dan langsung menuju ruang meating yang di mana dirinya sedang di tunggu.
brak
Arlan membuka pintu dengan kasar membuat orang - orang yang berada di ruang meating berubah suasana menjadi mencekam dan horor.
Mereka sudah tahu penyebabnya dan di tambah lagi istrinya terbaring koma membuat suasana hati bosnya berubah menjadi monster mengerikan.
Sang Arogant bosnya Arlan telah kembali. Setelah Alviana bekerja menjadi sekretaris bosnya, bos Arlan sudah berkurang Arogantnya tapi semenjak Alviana koma sang arogant kembali lagi membuat orang menjadi takut dan gemetar.
Arlan berjalan menuju kursi kebesaran sambil menatap tajam satu persatu orang yang mengikuti meating. Tidak ada satu pun yang berani menatap bosnya mereka semua menunduk dan gemetar ketakutan.
brak
Arlan memukul meja meating dengan sangat keras sehingga meja meating itu bergetar membuat suasana meating bertambah horor.
( " Aduh kak Alviana kapan kamu sadar, lihat suamimu kembali lagi seperti dulu. Semua orang jadi takut melihat suamimu." ucap Harlan dalam Hati. )
__ADS_1
Harlan juga tahu penyebabnya sama seperti orang - orang yang berada di ruang meating yaitu komanya Alviana istri bosnya. Bosnya menjadi lebih seram seperti singa yang akan menerkam mangsanya.
" Kenapa kita bisa mengalami kerugian yang sangat besar hah!! bentak Arlan
" Maaf tuan direktur keuangan pintar memanipulasi data keuangan seharusnya kita mengalami keuntungan besar." ucap Harlan sambil memberikan berkas dokumen hasil penyelidikannya.
Harlan kalau bersama orang - orang kantor memanggilnya tuan sedangkan di luar orang - orang Harlan memanggilnya dengan sebutan kak Arlan.
" Kemana dia sekarang?" ucap Arlan kesal
" Dia hilang tanpa jejak?" ucap Harlan
" Apa!!! Bagaima..." ucapan Arlan terpotong karena terdengar suara bunyi ponsel.
" Saya sudah bilang kalau sedanh rapat ponsel di tinggal kenapa di bawa? hah!!!" bentak Arlan
Semua diam tidak ada yang berani komentar.
" Kenapa kalian diam saja?" bentak Arlan lagi
Semua orang masih diam tanpa berani bicara. Harlan berdiri mendekati Arlan dan mendekati wajahnya ke telingan Arlan.
" Ponselmu yang berbunyi." bisik Harlan
Arlan langsung diam tidak membentak lagi, Arlan melihat siapa yang menelephonenya dan ketika tahu siapa yang menelephonenya langsung mengangkat ponselnya. Harlan bicara sangat lembut berbeda dengan yang barusan.
Membuat mereka yang berada di ruang meating terkejut melihat perubahan bosnya yang arogant itu. Nadanya lembut enak untuk di dengar.
Mereka bisa bernafas lega karena sudah ada pawangnya yang bisa merubah ke arogantnya Arlan. Walau tidak tahu siapa pawangnya tapi yang pasti mereka sangat berterima kasih dan berharap pawangnya itu sering menelephone bosnya.
Walau hati mereka kesal karena ternyata bosnya sendiri yang ponselnya berbunyi. Tapi karena sudah ada peraturan perusahaan yang berbunyi :
Peraturan pertama : Bos tidak pernah salah
Peraturan ke dua : Bila bos bersalah kembali lagi ke peraturan pertama.
Jadi mereka yang berada di ruangan meating hanya bisa pasrah karena gajinya sangat besar membuat mereka betah kerja di perusahaan Arlan.
Selesai menelephone Arlan memasukkan kembali ponselnya ke saku jasnya.
" Rapat untuk sementara dilanjutkan besok." ucap Arlan sambil berlalu meninggalkan ruangan meating diikuti oleh Harlan.
__ADS_1
Di depan pintu tampak perempuan cantik dan seksi sambil menggandeng anak perempuan yang masih kecil.