Cinta Satu Malam Bersama Mafia 2

Cinta Satu Malam Bersama Mafia 2
Penyerangan Mansion kembali


__ADS_3

Daddy Alvonso mengecek nadi mommy Laras, hatinya sangat lega karena nadi istri tercintanya masih bernafas.


Daddy Alvonso mengambil sapu tangan dan menutup luka mommy Laras. Baru saja selesai menutup luka istri tercintanya terdengar suara dari arah depan.


Dor akhh bruk


Dor akhh bruk


Dua orang yang ingin menembak daddy Alvonso dan Alvonso dari arah belakang mati tertembak oleh paman Ronald dan Clarisa yang baru saja datang mereka berdua berada di depan daddy Alvonso dan Alvonso.


Mereka datang di saat yang tepat ketika mereka baru datang melihat daddy Alvonso dan Alvonso akan di tembak mereka berdua langsung menembak ke jantung dua anggota mafia blue black.


" Laras." panggil Clarisa panik


Daddy Alvonso menggendong mommy Laras untuk membawanya ke rumah sakit baru beberapa langkah ponsel milik Clarisa berbunyi. Clarisa melihat siapa yang menelephonenya dokter Kennath Calling Clarisa langsung menggeser tombol hijau


📱 " Hallo Ken?" panggil Clarisa


📱 " Sudah sampai? kalau sudah bagaimana keadaan Alvonso?" tanya dokter Kennath


📱 " Kami sudah sampai, Alvonso baik - baik saja tapi Laras tertembak." ucap Clarisa


📱 " Ok, aku mau berangkat, 5 menit sampai." ucap dokter Kennath


tut tut tut tut


Tanpa menunggu jawaban dari Clarisa ponsel dimatikan secara sepihak oleh dokter Kennath.


" Alvonso, Kennath 5 menit sampai kita tunggu Kennath." ucap Clarisa


dor akh


Alvonso menembak seorang anggota mafia ketika melihat orang itu ingin menembak daddynya.


Daddy Alvonso menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya dan berjalan menuju sofa yang ada di markas, Mommy Laras dibaringkan di sofa secara perlahan oleh daddy Alvonso.


" Cla, tolong jaga istriku aku akan membuat perhitungan dengan mereka." ucap daddy Alvonso dengan mata menahan amarah.

__ADS_1


Sifat daddy Alvonso yang arogant, kejam, dingin dan tak mengenal ampun yang sudah lama terkubur kini muncul kembali.


Sedangkan Alvonso yang sifatnya sangat mirip dengan mommy Laras kini berubah mengikuti sifat daddynya arogant, kejam, dingin dan tak mengenal ampun.


Mereka berdua sangat marah melihat orang yang sangat dicintai terluka parah. Daddy Alvonso, Alvonso dan Ronald menyerang mereka tanpa ampun.


Musuh yang tadi sangat banyak kini dikit demi sedikit banyak yang mati di tangan daddy Alvonso dan Alvonso.


Daddy Alvonso, Alvonso dan Ronald menaiki anak tangga menuju lantai dua sambil menembaki musuh yang lewat.


Tanpa sepengetahuan Clarisa seseorang berjalan mengendap - ngendap mendekati Clarisa dan mengarahkan senjatanya ke dahi Clarisa yang sedang duduk bersandar di sofa dan pahanya digunakan sebagai bantalan kepala mommy Laras yang masih setia memejamkan matanya.


Clarisa mengambil sapu tangan miliknya dan milik mommy Laras di balik baju rompi masing - masing untuk menahan keluarnya darah di leher mommy Laras yang sudah merebes dari sapu tangan milik daddy Alvonso.


dor


akh bruk


Clarisa terkejut mendengar suara tembakan dari arah depan dan seseorang jatuh pas di sampingnya dengan susah payah Clarisa berusaha menyingkirkan tubuh pria itu yang menimpa Clarisa dan mommy Laras.


Dokter Kennath langsung berjalan dengan cepat menaruh tas dokternya di meja kemudian membantu Clarisa untuk menyingkirkan tubuh pria itu yang sudah mati di tempat.


Selesai memindahkan dokter Kennath langsung mengecek kondisi Mommy Laras.


"Cla, Kamu berjaga - jaga kalau musuh datang, aku akan operasi kecil untuk mengambil peluru di leher Laras." Ucap dokter Kennath sambil mengangkat kepala laras dari pangkuan Clarisa.


" Ok. " ucap Clarisa sambil berdiri dan memegang senjata dan berjaga - jaga kalau ada musuh datang.


Rasa kantuk mendera mereka berdua tapi mereka berdua menahan diri untuk tidak tidur mengingat mereka bukan di rumah.


Dokter Kennath membuka tas dokternya mengambil alat - alatnya dan dengan serius dokter Kennath mengoperasi kecil dengan memberikan obat bius kemudian mengambil peluru yang bersarang di leher Laras, setelah selesai dokter Kennath menjahit kulit leher Laras kemudian memperbannya.


xxxx


Di Mansion semua orang sudah tidur kecuali penjaga dan Arlan. Arlan berusaha untuk menahan dirinya untuk tidak tidur.


Seorang pria berseragam hitam - hitam begitu juga penutup wajahnya seluruhnya hitam hanya ada sepasang mata yang terlihat.

__ADS_1


Pria itu dengan lihainya berjalan mengendap - ngendap tanpa sepengetahuan penjaga hingga berhasil masuk ke dalam mansion.


Pria itu memandang sekeliling suasananya yang sepi karena semua terlelap dalam mimpi yang indah tanpa menyadari ada bahaya yang menyerang mereka.


Setelah dipastikan aman pria itu mulai mengendap - ngendap masuk ke kamar Alviana yang sedang berbaring dengan badan, kaki dan tangan masih di perban.


Pria itu menatap Alviana ada rasa kerinduan dan masih mencintai Alviana tapi mengingat orangtua yang sangat dicintainya mati di tangan keluarga Alviana membuat pria itu sangat membenci Alviana. Pria itu mengeluarkan senjatanya dan diarahkan ke jantung Alviana.


Alviana menggeliat pelan dan membuka mata secara perlahan. Matanya yang masih setengah mengantuk langsung terbuka sempurna karena melihat seseorang menodong senjatanya ke arah jantungnya.


" Bona." lirih Alviana


" Kamu mengenalku?" tanya Bona heran


" Saya kenal dengan matamu Bona, kenapa kamu ingin membunuhku? apa salahku Bona?" lirih Alviana


" Karena aku sangat mencintaimu tapi kamu malah memilih suamimu karena itu jika aku tidak bisa memilikimu maka suamimu juga tidak memilikimu, karena itu kamupun harus mati." ucap Bona.


" Kamu tidak mencintaiku Bona, kalau kamu memang mencintaiku seharusnya kamu merelakan diriku menikah dengan suamiku. Kamu hanya obsesi padaku Bona, kamu orang baik pasti ada orang yang mencintaimu dan pasti ada orang yang lebih baik daripada aku, relakan aku bahagia dengan suamiku Bona." ucap Alviana lembut"


"Hanya kamu yang aku inginkan Alviana karena itu kamu harus mati." ucap Bona


" Kenapa kamu menginginkan kematianku Bona?" tanya Alviana lirih


" Karena keluargamu telah membunuh orangtuaku karena itu aku ingin suamimu dan keluargamu bisa merasakan kehilangan orang yang dicintainya dan kamu tidak ada orang yang bisa memilikimu." ucap Bona sambil mengarahkan senjatanya ke arah Alviana.


" Aku tidak tahu kalau keluargaku membunuh orang tuamu, kalau memang kematianku bisa mengurangi rasa sakit hatimu lakukanlah Bona, tembaklah aku." ucap Alviana sambil mengeluarkan air mata.


Alviana pasrah jika memang saat ini harus mati di tangan Bona, Alviana menatap Bona dengan sendu kemudian memejamkan matanya.


Bona agak ragu melakukannya tapi dendamnya pada keluarga Alviana membuat dirinya sangat marah dan benci. Dengan tangan gemetar Bona mengarahkan senjatanya ke dahi Alviana.


" Maafkan aku Alviana dendamku pada keluargamu sangat besar karena aku melihat orangtuaku mati di tembak oleh keluargamu." ucap Bona.


dor


akhh

__ADS_1


__ADS_2