
Kak Alvonso dan Alvian berjalan menuju taman belakang untuk mengambil mangga muda sesuai keinginan adik kesayangannya.
Alvonso dan Alvian menatap buah mangga yang sangat tinggi membuat mereka menelan saliva dengan susah payah
" Ini gimana mau naiknya? aduh mending nyari orang hilang ataupun menembak orang daripada di suruh memanjat." omel Kak Alvonso
" Sudahlah kak, adikmu Alviana terkadang nyebelin waktu itu tengah malam kita lagi tidur nyenyak adikmu meminta kita untuk bikinin bakso beranak. Bentuknya aja tidak tahu akhirnya lihat di mbah google dan besok paginya mommy heboh karena dapur seperti kapal pecah." ucap Alvian
" Hei Alvian, adikku ya adikmu juga kali." omel kak Alvonso sambil menjewer kuping adiknya.
" Auch kakak kenapa sih senang banget menjewer kupingku nanti kalau kupingku panjang bagaimana?" keluh Alvian sambil mengusap kupingnya yang sakit dijewer kakakknya.
" Paling mirip kelinci." ucap Alvonso asal.
" Aish teganya." ucap Alvian.
" Kak itu ada tangga kita naik pakai tangga." sambung Alvian.
" Ok." jawab kak Alvonso
" Di antara kita yang paling tua adalah kakak jadi kakak naik ke atas" ucap Alvian
" Ngga bisa, Alviana minta kita berdua naik jadi kita berdua nail ke atas." ucap kak Alvonso tidak bisa di bantah.
" Baiklah kak." jawab Alvian pasrah
Kini mereka sudah di atas pohon memetik mangga. Max berjalan di taman belakang dan melihat tangga berada di pohon mangga. Max pun mengambil tangga tanpa sepengetahuan Alvonso dan Alvian.
Setelah memetik beberapa mangga muda kaki Alvonso turun tapi dirinya bingung kenapa kakinya tidak menyentuh mangga kemudian kakinya diturunin kembali.
akh
gubrak
Aduh
Alvonso terjatuh menimpa tubuh Max yang berada di bawah. Suara teriakkan dan bunyi yang cukup keras membuat Alvian menengok ke arah bawah.
" Hahahahaha..." tawa Alvian pecah melihat tubuh Max ke timpa tubuh kakaknya Alvonso.
Alvonso berusaha bangun dan membantu Max untuk berdiri. Melihat mereka berdua ditertawakan langsung menatap tajam ke arah Alvian tapi Alvian tidak memperdulikan.
" Kamu baik - baik saja Max? maaf kakak tidak sengaja menimpa badanmu." ucap Alvonso merasa tidak enak
" Kakak kan berat pastilah badanku sakit kak." ucap Max
Alvonso hanya tersenyum sambil mengusap rambut Max
" Kak Alvonso dan kak Alvian ngapain di atas pohon mangga?" tanya Max
" Alviana minta diambilkan mangga muda." jawab kak Alvonso
" Kenapa tidak minta tolong pelayan?" tanya Max
" Alviana meminta kakak dan kak Alvian untuk memanjat." ucap kak Alvonso
" Kamu kenapa ke sini Max?" tanya kak Alvonso
" Aku tadi ambil tangga di pohon mangga buat ngambil mainan pesawat terbang di pohon jambu." ucap Max berbohong.
" What?? pantas saja pas aku turun ternyata tidak ada tangganya ternyata kamu ambil Max." ucap Alvonso dengan mata mendelik
" Maaf kak, Max tidak tahu kalau kak Alvonso dan kak Avian memakai tangga." ucap Max sendu karena melihat kak Alvonso menahan marah.
" Ya sudah lupakan Max, oh iya pesawatnya sudah di ambil?" tanya Alvonso
" Sudah, karena itu Max mengembalikan tangga ke pohon mangga dan..." ucapannya terpotong karena Alvian berteriak.
__ADS_1
" Ngobrolnya nanti saja, tolong ambilkan tangganya." pinta Alvian
" Ambil sendiri, kenapa tadi menertawakan kami." omel kak Alvonso sambil menarik Max meninggalkan Alvian di atas mangga.
" Ayo Max, kita tinggalin Alvian." ucap kak Alvonso
" Kak Alvonso, Max jangan gitu donk. Aku tidak bisa turun." rengek Alvian tapi tidak didengarkan oleh mereka.
" Sial, tega banget aku di tinggal sendiri di atas pohon mangga." omel Alvian
Alvonso tidak tega terhadap adiknya karena itu Alvonso meminta bantuan pelayan. Alvonso dan Max menemui Alviana untuk memberikan mangga muda.
" Ini mangga mudanya." ucap Kak Alvonso
" Terima kak. Mana kak Alvian?" tanya Alviana sambil menoleh ke kanan dan kiri karena kakaknya tidak ada.
" Masih di atas pohon mangga." ucap kak Alvonso
" Kok bisa." tanya Alviana
Alvonso menceritakan semuanya apa yang terjadi membuat Alviana menjadi sedih.
" Kak Alvonso dan Max maafkan Alviana ya? Apakah masih sakit?" tanya Alviana sendu.
" Sudah tidak kok, jangan nangis ya adikku cantik nanti cantiknya hilang." ucap kak Alvonso
" Tidak sakit kok kak Alviana tapi sepertinya perlu tukang urut karena kakakmu berat." ucap Max
" Memang aku gendut ya Max?" tanya Alvonso
" Tidak kok kak, hanya berat." ucap Max
" Aku minta tolong lagi bisa?" tanya Alviana tiba - tiba sambil tersenyum manis.
Alvonso dan Max saling memandang dan merasakan perasaan mereka sudah tidak enak.
" Iya kak Alviana, tulang - tulang Max terasa mau copot." keluh Max
" Tidak kok, Alviana hanya meminta Max membuat bumbu rujak dan Kak Alvonso motongin mangga." ucap Alviana tersenyum manis.
" What???" teriak Alvonso dan Max
" Tidak mau ya?" ucap Alviana dengan mata sudah mulai berembun
Karena melihat mata Alviana mau mengeluarkan air mata membuat Alvonso dan Max menghembuskan nafasnya dengan kasar.
" Baiklah." ucap mereka akhirnya mengikuti permintaan Alviana.
Tidak berapa muncul Alvian dan memberikan mangga muda ke adiknya Alviana.
" Alviana ini mangga mudanya." ucap Alvian
" Terima kasih kak, sekalian bantuin kak Alvonso dan Max bikin rujak ya kak?" pinta Alviana dengan air mata mulai mengembun.
" Aish... ya sudah kakak pergi ke dapur." ucap Alvian karena tidak tega melihat adik kesayangannya menangis.
Alvian pun meninggalkan Alviana di ruang keluarga.
10 menit kemudian rujakpun jadi dan di taruh di piring berikut bumbu rujaknya.
" Ini Alviana rujak buatan kami." ucap mereka serempak
" Terima kasih Kak Alvonso, kak Alvian dan Max kalian memang yang terbaik." ucap Alviana tersenyum ceria
" Kalian tidak makan rujaknya?"tanya Alviana sambil memakan mangga muda bersama bumbu rujaknya.
" Tidak?" jawab mereka serempak karena melihat mangganya masih mentah tentunya asem.
__ADS_1
" Kak Alviana tidak asem makan mangganya?" tanya Max polos
"Ngga, enak banget malah, nyobain Max." ucap Alviana sambil memakan mangga mudanya.
Karena kak Alvonso, Alvian dan Max penasaran karena melihat Alviana makan dengan sangat lahap. Merekapun mengambil dan memakannya.
uhuk uhuk
uhuk uhuk
uhuk uhuk
Mereka bertiga langsung terbatuk - batuk karena mangganya sangat asam mereka bertiga langsung pergi ke dapur untuk meminum air putih sedangkan Alviana masih melahap mangga muda hingga habis.
xxxx
Tiga Hari Kemudian
Tidak terasa hari ini pernikahan Alvian dan dokter Amel. Pesta pernikahan dirayakan di daerah pantai. Seluruh keluarga besar Alvonso dan kedua sahabatnya beserta rekan bisnis datang di hari pernikahan mereka.
Setelah acara janji suci diucapkan mereka berdua dengan disaksikan oleh para saksi kini mereka duduk di singgasana. Hari ini Alvian dan dokter Amel menjadi raja dan ratu. Banyak tamu undangan mengucapkan selamat atas pernikahan mereka.
Alviana yang merasa bosan berjalan di pesisir pantai bersama suaminya Arlan. Sesekali Arlan membidik kamera ke istrinya yang perutnya sudah membesar.
cekrek
Alviana penasaran ingin melihat fotonya.
" Sayang aku gendut banget ya?" ucap Alviana sedih.
" Tidak sayang, kamu sangat cantik dan seksi." ucap Arlan karena tidak mungkin dirinya jujur.
" Mas Arlan pasti bohongkan? hanya menghibur diriku?" tanya Alviana dengan mata mulai mengembun.
" Benar sayang, nanti malam kita main lagi ya?" bisik Arlan mencoba mengalihkan perhatian
" Mas Arlan pasti bohong hanya untuk menyenangkan aku makanya sengaja berbicara seperti itu." ucap Alviana siap - siap ingin menangis.
" Benar, coba pegang adik mas?" ucap Arlan sambil menggenggam tangan Alviana kemudian diarahkan ke bagian bawah.
" Sayang merasakan punya mas sudah mulai menegang, kita pulang yuk mas tidak tahan." bisik Arlan
" Ih mesum." jawab Alviana sambil menarik tangannya.
" Mesum sama istri sendiri tidak apa - apakan?" goda Arlan
Alviana hanya tersenyum malu dengan pipi merona merah.
( " Selamat... selamat untung aku punya segala cara untuk membuat istriku tidak sedih lagi." ucap Arlan dalam hati. )
Merekapun tertawa bersama sambil berpegangan tangan.
Tanpa mereka sadari sepasang mata menatap mereka dengan tajam.
" Tersenyumlah karena sebentar lagi hari kematianmu." guman orang itu dengan tatapan membunuh.
" Apa yang kamu katakan?" tanya kak Alvonso tiba - tiba datang dan mendekati orang itu.
" Ah tidak kak Al, aku tidak bicara apa - apa mungkin kak Al salah dengar kali." ucap orang itu.
" Mungkin, oh iya kita dipanggil untuk foto bersama untuk di pasang di ruang keluarga sebagai foto keluarga." ucap kak Alvonso.
" Ok." jawab orang itu
Mereka berdua berjalan ke arah panggung untuk foto bersama.
__ADS_1