
Alviana dan ke 6 bayinya kini sudah dipindahkan ke mansion begitu pula dengan Max. Max tidak betah berlama di rumah sakit karena itu Max meminta tinggal di mansion.
Dua Minggu Kemudian
Kini bayi Alviana sudah tidak menggunakan inkubator. Mommy Laras, dokter Amel, Arlan, dan ke tiga babby sister menempatkan ke 6 bayi di ranjang yang sama. Memperhatikan betapa lucunya bayi Arlan dan Alviana.
" Mommy sangat senang melihat betapa lucunya bayi kalian." ucap mommy Laras memandangi ke 6 cucunya ke Arlan
" Iya mom, Arlan tidak menyangka mempunyai anak langsung 6, mudah - mudahan Alviana cepat sadar mom agar bisa melihat ke 6 anaknya." ucap Arlan sendu sambil menggendong salah satu buah hatinya kemudian mengecupnya.
Setelah puas menggendong, Arlan menggendong anak yang ke dua begitu seterusnya sampai anaknya yang ke 6.
" Mudah - mudahan Alviana cepat sadar ya Al? mommy juga sedih melihatnya." ucap mommy Laras.
" Coba kita bawa ke 6 anak Arlan dan Alviana ke ruangan Alviana siapa tahu Alviana tersadar dari komanya." usul dokter Amel
" Bagus juga usulmu Mel. Kita coba saja Ar?" tanya mommy Laras
" Baik mom." jawab Arlan singkat
Ke tiga bayi di bawa oleh ke tiga babby sister. Arlan menggendong ke dua bayinya sedangkan Amel menggendong satu bayi milik Arlan dan Alviana. Mommy Laras membawa 6 botol susu kemudian membuka pintu dengan lebar agar mereka keluar menuju ruangan dimana Alviana di rawat.
Sampai di ruang perawatan melihat Alviana yang masih setia memejamkan matanya dan masih terbaring dengan tubuh masih dibalut dengan perban dan juga alat bantu pernafasan serta beberapa selang lainnya yang menempel di tubuh Alviana.
Arlan, dokter Amel dan ke tiga babby sister memindahkan ke 6 bayi kembarnya ke ranjang.
Arlan menatap sendu ke 6 anaknya kemudian ke istrinya yang sangat dicintainya. Arlan mendekati istrinya dan memegang tangan Alviana yang masih di balut dengan perban.
__ADS_1
" Sayang, lihatlah ke 6 anak kita sangat lucu dan imut. Bangun sayang, apa kamu tidah ingin menggendong mereka?" tanya Arlan sampai tidak terasa air matanya mengalir.
" Lihat Al, ke 6 anak kita menangis, mereka tahu kalau daddynya sedang menangis, apakah kamu tidak mau menggendongnya?" tanya Arlan sendu dan air matanya keluar mendengar ke 6 bayinya menangis.
Ke tiga babby sister, mommy Laras dan dokter Amel langsung memberikan susu ke 6 bayi kembar itu tapi mereka berenam tidak mau meminumnya.
" Arlan, gendong anakmu?" pinta mommy Laras
" Tidak mau mom, Alviana saja tidak perduli dengan anaknya." ucap Arlan putus asa masih menangis tanpa henti.
" Alviana bangun, lihat ke 6 anak kita menangis memanggil namamu, kamu tidak kasihan dengan ke 6 anak kita, kamu lihat mereka tidak mau meminum susu, mereka membutuhkan dekapan hangat mommynya." ucap Arlan beruntun dan tak berhenti menangis.
Mommy Laras, dokter Amel dan ke tiga babby sister menggendong ke 6 bayi kembar yang masih menangis tapi tetap saja ke 6 bayi kembar itu tidak berhenti menangis.
" Arlan kalau kamu begitu kasihan ke 6 anakmu mereka bisa sakit kalau nangisnya tidak berhenti." pinta mommy Laras
Arlan yang tidak tega melepaskan tangannya yang tadi menggenggam tangan Alviana. Arlan menggendong ke dua buah hatinya dan mommy Laras memberikan dot yang berisi susu dan dua bayi dalam gendongan Arlan langsung berhenti menangis. Serentak ke 4 saudaranya pun langsung berhenti menangis.
" Maafkan daddy." ucap Arlan lirih memandangi ke 6 bayinya.
Kita bawa saja ke 6 bayi ini ke ruangannya mereka sudah tertidur." pinta mommy Laras
" Baik mom." jawab Arlan dan dokter Amel
" Baik nyonya." jawab ke tiga babby sisternya.
Merekapun berjalan keluar meninggalkan Alviana dengan seorang perawat yang selalu menjaga Alviana.
Alviana yang masih setia memejamkan mata tanpa terasa mengeluarkan air matanya ketika mendengar ke 6 anaknya menangis.
Di bawah alam tak sadar Alviana ingin rasanya bangun memeluk suaminya yang sedang menangis karena dirinya dan juga memeluk ke 6 anaknya tapi tubuhnya seperti tidak bisa digerakkan dan matanya juga tidak mau terbuka.
( " Sayang, maafkan aku, aku ingin bangun tapi kenapa tubuhku terasa kaku dan tidak bisa digerakkan dan mataku ingin membuka tapi kenapa sulit. Sayang aku merindukan kalian, maafkan mama." ucap Alviana dalam hati sambil menangis).
__ADS_1
( " Air mata ini bisa keluar tapi kenapa yang lainnya tidak bisa digerakkan, ingin rasanya berteriak tapi kenapa mulutku tidak bisa di buka dan digerakkan, apa yang terjadi denganku? Tuhan tolong aku, aku ingin berkumpul dengan keluargaku. Maafkan hamba jika hamba sering berbuat dosa. Ijinkan hamba agar bisa memperbaiki diri untuk yang lebih baik lagi." ucap Alviana dalam hati ).
Perawat yang melihat Alviana menangis melap wajah Alviana dengan tissue yang berada di meja.
" Nyonya muda cepat sadar ya, kasihan tuan muda setiap hari menangis begitu juga dengan keluarga nyonya muda." ucap perawat itu sambil melap air mata Alviana yang tidak berhenti mengalir.
Setelah agak lama air mata itupun berhenti. Perawat itu mengecek infus Alviana karena tinggal sedikit perawat itu mengganti dengan infus yang baru.
2 Tahun Kemudian
Tidak terasa usia ke 6 bayi kembarnya berumur 2 tahun lebih. Seperti biasa setiap pulang kerja Arlan masuk ke dalam ruangan Alviana menggenggam tangan Alviana.
" Sayang, sudah 2 tahun lebih kamu belum juga sadar, kenapa kamu betah sih memejamkan matamu, kamu tidak kasihan denganku? kamu tidak merindukanku dan juga ke enam anak kita?" tanya Arlan beruntun dengan mata sendu.
( " Aku juga rindu padamu sayang, juga ke 6 anak kita tapi setiap aku ingin membuka mataku tapi aku tidak bisa, aku ingin menggerakkan kaki dan tanganku tapi terasa kaku." ucap Alviana dalam hati dan tidak terasa air mata Alviana keluar).
Arlan yang melihat air mata Alviana keluar Arlan langsung menghapusnya dengan menggunakan tissue yang berada di meja dekat Alviana berbaring.
cup
cup
cup
cup
Arlan mengecup kening, pipi kanan dan kiri dan bibir Alviana kemudian memandangi wajah Alviana yang sangat pucat seperti kapas.
" Sayang, mas mandi dulu ya badan mas lengket nanti ke sini lagi." ucap Arlan.
Arlan pun meninggalkan Alviana bersama perawat. Sepeninggal Arlan perawat itu mendekati Alviana.
" Nyonya muda bangunlah kasihan tuan muda, tuan muda bertambah kurus, brewokkan seperti orang tidak terurus, lingkaran mata menghitam. Nyonya muda tega melihat tua muda sedih." ucap perawat.
__ADS_1
Perawat itu tiba - tiba ingin pergi ke toilet dan teman penggantinya juga belum datang karena tidak tahan perawat itu keluar meninggalkan Alviana seorang diri. 4 pasang mata itu menatap kepergian perawat itu.