
Tidak berapa lama mobil dokter Kennath datang bersama anggota mafianya, Ronald duduk di samping dokter Kennath di belakang pengemudi. Merekapun melanjutkan perjalanan untuk membantu sahabatnya Alvonso.
Akhirnya mereka sampai di tempat yang dikatakan Alvonso, tampak mobil Alvonsa berada di dalam gerbang. Bangunan mansionnya cukup luas dan di depan pintu gerbang tampak para bodyguard berjaga di dalam gerbang.
xxxxx
Alvonso kini sudah sampai di tempat yang dikatakan oleh penelephone. Alvonso mengklakson dan mengeluarkan kepalanya ke arah bodyguard yang menjaganya.
Empat orang penjaga membawa senjata keluar dan seorang penjaga menanyakan pertanyaan ke Alvonso sedangkan tiga orang mengecek mobil Alvonso.
Setelah di cek seorang penjaga memberikan kode ke arah temannya dan pintu gerbangpun terbuka. Alvonsopun masuk ke dalam gerbang.
Alvonso keluar dan di minta ke dua tangannya di angkat ke atas kemudian badannya di cek apakah membawa senjata atau tidak. Setelah selesai di cek seorang penjaga berjalan diikuti oleh Alvonso sedangkan 3 orang penjaga yang membawa senjata mengikuti Alvonso dari belakang.
Sampai di dalam gudang yang lumayan luas Alvonso menatap istrinya sedang pingsan dan diikat kaki serta tangannya dengan kondisi rambut berantakan dan muka habis dipukuli membuat hatinya miris dan menahan amarah.
Di sebelah Laras tampak seorang pria dengan duduk menyilangkan kakinya sambil menatap Alvonso dengan senyuman miring.
" Siapa tuan? saya tidak mengenalmu, kenapa menangkap istriku? bentak Alvonso.
" Apakah kamu tidak mengenaliku?" tanyanya sinis tapi tetap tenang.
" Tidak, saya tidak mengenalmu? siapa tuan sebenarnya?" tanya Alvonso geram
" Karena kalian akan mati maka aku beritahu siapa aku sebenarnya, aku adalah CEO dari perusahaan PT ZAIN INTERNATIONAL CORP. namaku adalah Zain Alionso." ucap Zain.
" Ada hubungan apa perusahaanku dengan perusahaanmu, aku tidak pernah mengusik perusahaanmu?" tanya Alvonso
" Ada hubunganmu, gara - gara dirimu, aku selalu kalah tender yang nilainya sangat fantastis." ucap Zain
" Mengenai penyerangan di rumah sakit apakah ulahmu?" tanya Alvonso curiga
" Iya ulahku, sayang mereka tidak ada kabar dan saya sudah pastikan mereka tertangkap karena istrimu masih hidup." ucap Zain
Tidak berapa lama Laras tersadar dari pingsannya matanya agak buram ketika membuka matanya lama - kelamaan baru jelas.
Laras tidak bisa menggerakkan tangan dan kakinya. Matanya membulat sempurna melihat suaminya dalam kondisi bahaya karena para penjaga membawa senjata dan diarahkan ke suaminya.
__ADS_1
" Lepaskan istriku, istriku tidak bersalah kalau kamu ingin menangkapku atau membunuhku aku tidak perduli." ucap Alvonso geram.
" Akukan sudah bilang kalian akan ku bunuh karena jika salah satu dari kalian hidup maka bisa saja membalasku karena itu aku tidak mau jadi boomerang buatku nanti. Apalagi aku sangat menyukai menyiksa kalian berdua hahhaha.." tawa Zain jahat.
" Oh lihat istrimu sudah sadar, aku siksa istrimu terlebih dahulu baru terakhir dirimu hahaha.." tawa Zain lagi.
Zain mengambil teko yang ada di meja yang sudah disiapkan oleh anak buahnya. Zain yang duduk di samping menekan rahang Laras agar mulutnya terbuka setelah mulutnya terbuka Zain memberikan air yang ada di teko membuat Laras gelagapan ingin memberontak dan menggelengkan kepala tidak bisa karena kaki dan tangannya diikat sedangkan kepalanya tidak bisa digerakkan karena Zain menekan rahang Laras dengan kencang.
Alvonso yang melihat istrinya di siksa maju melangkah untuk menolongnya.
Dor
dor
Akhhh
Kaki Alvonso ditembak membuat Alvonso jatuh membuat Laras terkejut dan airmatanya jatuh melihat suami tercintanya terluka sedangkan Alvonso tidak memperdulikan sakit pada kakinya tapi memperdulikan istri tercintanya tersiksa.
Zain yang melihat itu tertawa bahagia melihat mereka.
xxxxx
" Daddy ,Mommy." teriak Alvonso menangis
Alvian dan Alviana yang mendengar kakaknya teriak terkejut terlebih kakaknya tidak pernah menangis ini baru kalinya mereka berdua melihat kakaknya menangis.
Alvian dan Alviana yang penasaran mengikuti arah mata kakaknya menatap laptop, mereka berdua juga terkejut matanya membulat sempurna membuat hatinya mendidih.
xxxx
Di tempat xxxx dokter Kennath dan Alvonso beserta anggota mafia menabrak pintu pagar dengan kencang membuat orang yang menjaga di depan tertabrak dan mati di tempat.
Para penjaga terkejut mereka menyerang dengan menggunakan senjata, bunyi senjata saling bersahutan.
Ronald dan dokter Kennath masuk ke dalam dan mencari sahabatnya Alvonso dan istrinya Laras. Setiap ada penjaga yang datang ingin menembak tapi kalah cepat karena sudah di tembak duluan oleh Ronald dan dokter Kennath.
Sampai pada akhirnya mereka di dalam gudang tampak sahabatnya Alvonso tengkurap di lantai dengan ke dua kakinya berdarah terkena tembakkan.
__ADS_1
Seorang pria mendekati Alvonso sedang menusuk perut Alvonso membuat Alvonso berteriak kesakitan sedangkan Laras dahinya tertempel tembakan sehingga jika Alvonso membalas maka Laras akan di tembak.
Pria itu menghentikan aksinya dan menengok ke arah samping tampak Ronald dan dokter Kennath mengarahkan senjatanya ke arah pria itu.
" Silahkan tembak tapi lihat di belakangmu?" ucap Zain sinis
Mereka berdua serentak menengok ke belakang tampak beberapa anak buah dokter Kennath mengarahkan pistol ke dokter Kennath dan Ronald.
" Apa yang kalian lakukan hah?" bentak dokter Kennath
" Apakah kalian tidak tahu mereka adalah anak buahku yang kuutus untuk menyamar menjadi anggota mafia, aku tahu kalian akan datang hahahha.." tawa Zain
" Tangkap mereka berdua dan ikat. Sebentar lagi giliran kalian berdua saya siksa jadi bersabarlah menunggu ajal kalian, terasa sakit buat kalian tapi terasa enak buatku hahahha..." ucap Zain bahagia karena hari ini banyak orang yang akan di siksa.
Zain pun melanjutkan pekerjaannya kini giliran Laras, Zain menusuk ke arah perut Laras, Laras pun berteriak kesakitan.
Ke tiga pria tampan itu Alvonso, dokter Kennath dan Ronald memalingkan wajahnya dan menahan amarah sambil menangis melihat Laras tersiksa.
Selesai menusuk Laras, Zain berjalan mendekati dokter Kennath dan ketika tangannya di angkat ke atas ingin menusuk ke perut dokter Kennath menggunakan pisau tiba - tiba pisau itu terlepas.
Zaon terkejut sekaligus marah karena kesenangannya di ganggu. Zain menatap sekeliling mencari siapa pelakunya.
akh akh akh akh
akh akh akh akh
akh akh akh akh
akh akh akh akh
akh akh akh akh
akh akh akh akh
Teriakan demi teriakan anak buah Zain, mereka semua tumbang berteriak kesakitan sambil menutup salah satu matanya karena mata mereka berdarah. Ada juga yang mengenai dahi dan dada mereka.
Zain marah mencari pelakunya tapi tidak ketemu. Zain pun mengeluarkan senjatanya dan mengarahkan ke dokter Kennath untuk ditembakkan di dahi dokter Kennath.
__ADS_1