Cinta Satu Malam Bersama Mafia 2

Cinta Satu Malam Bersama Mafia 2
Mengungkap Pembunuhan Papa Arlan 3


__ADS_3

Mama Siska melepaskan pelukannya dan tersenyum sinis.


" Sayang tolong aku, dadaku sakit sekali." ucap papa Arlan sambil memegangi dadanya dengan ke dua tangannya.


" Cuih, tidak sudi segera matilah kamu laki - laki tua." ucap mama Siska tanpa dosa.


" Kau... kau... kau kenapa melakukan ini padaku? apa salahku?" tanya papa Arlan.


" Aku sudah bosan denganmu, apalagi semua harta ini kamu wariskan ke anakmu Arlan sedangkan aku tidak mendapatkan apa - apa. Karena itu aku bekerjasama dengan asistenmu Leo untuk menguras habis hartamu juga aku berselingkuh di belakangmu dengan asiatenmu Leo." ucap Mama Siska santai


Akhh


bruk


Papa Arlan pingsan dan mama Siska menarik papa Arlan dengan tubuh mereka masih polos menuju ke kamar mandi. Kemudian mama Siska memakai pakaiannya dan meneteskan obat tetes mata agar kelihatan habis menangis.


Mama Siska membuka pintu kamarnya dan berteriak memanggil kepala pelayan. Tidak berapa lama kepala pelayan datang dan menelephone bodyguard yang berjaga di gerbang.


2 Menit kemudian dua orang bodyguard datang dan membawa papa Arlan ke ranjang dan memakaikan bajunya dan di bawa keluar kamarnya.


xxxx Rekaman CCTV OFF xxxx


Hati Arlan sangat marah melihat kenyataan kalau mama Siska dan asisten Leo berkerja sama untuk membunuh papanya.


Sedangkan Alviana sejak melihat cctv ke dua orang tua Arlan bercin*a langsung memalingkan wajahnya, untung Arlan tidak memperhatikannya betapa merahnya muka Alviana.


" Tanggal berapa papa Mas Arlan meninggal?" tanya Alviana


" Kenapa, bukankah sudah jelas karena pengaruh obat itu? apalagi sudah tahu siapa pelakunya." ucap Arlan geram terhadap mama Siska dan asisten Leo.


" Aku hanya ingin tahu apakah karena obat racun itu atau sebab lain dan di rumah sakit mana?" tanya Alviana


Arlanpun memberitahukan waktu meninggalnya papa Arlan dan nama rumah sakit dimana papanya di rawat.


Alviana pun meretas cctv yang berada di rumah sakit sambil memberikan suara jika ada pembicaraan.


xxxx Rekaman CCTV ON xxxx


Ruang ICU tampak sepi hanya papa Arlan yang tidur di ranjang dengan tubuh penuh selang dan alat bantu pernafasan.


ceklek


Tampak dua orang datang menggunakan pakaian seragam dokter dan perawat. Mereka berdua memakai masker kemudian mendekati ranjang papa Arlan.

__ADS_1


Tampak Arlan tersadar dari komanya dan menatap ke arah mereka berdua.


" Haus.." ucap papa Arlan sambil melepaskan alat bantu pernafasan di mulutnya.


" Apa kabar suamiku?" ucap perawat itu


" Kau?" ucap papa Arlan terkejut.


" Iya suamiku aku istri kesayanganmu Siska dan ini perkenalkan calon suamiku." ucap mama Siska sambil melepaskan maskerny.


" Halllo tuan beaar." sapa Leo yang memakai pakaian dokter dan membuka maskernya.


" Kalian berdua kurang ajar, aku sudah berbuat baik dengan kalian teganya menyakiti perasaanku, apa salahku?" tanya papa Arlan dengan nada kecewa.


" Calon istriku sudah bosan melayanimu pak tua apalagi tidak mendapat warisan sedangkan aku, aku merasa bosan menjadi asistenmu, aku ingin menjadi CEO menggantikan dirimu dengan membunuh anak kesayanganmu itu." ucap Leo tersenyum devil.


" Kalian jangan menyakiti anakku Arlan, kalian boleh menyakiti tapi tidak dengan anak kesayanganku Arlan." pinta papa Arlan


" Tidak pak tua, kami berdua ingin membunuh kalian berdua agar kami bisa menikmati harta kalian." ucap mama Siska tersenyum licik


" Kalian benar - benar iblis." ucap papa Arlan sambil nafasnya tersengal - sengal dan memegang dadanya dengan ke dua tangannya.


Mereka berdua tidak menjawabnya hanya mama Siska menarik bantal yang berada di kepala suaminya dan menutup wajah papa Arlan dengan menggunakan bantal. Papa Arlan memberontak tapi ke dua tangannya di tahan oleh ke dua tangan asisten Leo.


tutttttttttttt


Mama Siska mengangkat bantalnya setelah terdengar suara detak jantung suaminya di mesinnya berbunyi dan menatap suaminya yang sudah mati dengan senyum kebahagiaan.


" Akhirnya kamu mati juga pak tua." ucap mama Siska tersenyum bahagia.


Mama Siska menaruh bantalnya kembali di kepala papanya Arlan kemudian memasangkan alat bantu pernapasan di mulut suaminya.


Menutup mata suaminya yang melotot agar tidak ketahuan. Setelah selesai mereka berdua memasang masker dan keluar dari ruangan icu.


xxxx Rekaman CCTV OFF xxxx


Alviana menghentikan rekaman cctv dan menatap Arlan yang nafasnya memburu menahan amarah dan sesak dihatinya.


Alviana memeluk Arlan dari arah samping sambil mengusap punggung Arlan. Arlan merebahkan kepalanya di bahu Alviana ada rasa kenyaman dihatinya.


" Menangislah jangan di tahan agar rasa sesak di hati Mas Arlan berkurang." ucap Alviana lembut.


" Hiks... hiks... aku tidak menyangka di akhir sisa hidup papa, papa berpesan kepada mereka untuk tidak menyakitiku. " ucap Arlan tak kuasa menangis.

__ADS_1


Alviana hanya diam sambil mengusap punggung Arlan, setelah mulai agak tenang Alviana melepaskan pelukannya dan menatap Arlan kemudian menghapus air mata Arlan dengan ke dua ibu jarinya.


Arlan merasa tersentuh atas perlakuan Alviana dan mengecup kening Alviana.


" Terima kasih, karenamu aku sudah tahu siapa pembunuh papaku." ucap Arlan sendu.


" Sesama manusia harus saling tolong menolong seperti yang diucapkan mommyku." ucap Alviana.


" Mommymu sangat baik ya?" puji Arlan.


" Ya sangat baik, jika daddy dan anak - anaknya sedih mommy selalu menghibur dan memberi solusi." ucap Alviana tersenyum mengingat betapa perhatiannya mommy Laras.


" Sungguh beruntung kamu mempunyai mommy yang sangat perduli." ucap Arlan sendu.


" Bukannya semua mommy seperti itu?" tanya Alviana bingung.


" Tidak, mama kandungku sangat sibuk dengan teman - teman sosialitanya tidak ada waktu untuk keluarga, kalau di rumah kerjaannya hanya mengomel dan menuntut agar aku selalu juara di sekolah tanpa memperdulikan bagaimana sekolahku. " ucap Arlan tersenyum getir.


" Mamamu sudah meninggal biarkan beliau tenang di alam sana, doakanlah dan lupakanlah masa lalu." ucap Alviana bijak.


" Sekali lagi terima kasih." ucap Arlan sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Alviana.


" Aku ingin menciummu tidak lebih, bolehkah?" tanya Arlan berbisik.


Alviana yang terbawa suasana hanya menganggukkan kepalanya dan kemudian memejamkan matanya. Arlan yang mendapat lampu hijau tidak menyia - nyiakan kesempatan itu.


cup


Arlan mengecupnya kemudian ********** dan tanpa sadar tangan kanan Arlan memegang satu buah gunung kembar milik Alviana.


Alviana terkejut langsung memegang tangan Arlan dan menjauhkan tangan Arlan dari gunung kembarnya dan tangan satunya mendorong tubuh Arlan.


" Mas Arlan, kumohon jangan lakukan ini padaku." pinta Alviana sambil air matanya jatuh.


" Maafkan aku, sungguh aku sangat mencintaimu. Maukah kamu memaafkan aku?" pinta Arlan sendu.


" Baiklah tapi ku mohon jangan lakukan lagi, kita masih sekolah dan jangka kita masih panjang." ucap Alviana.


" Ya, aku tahu. Sekali lagi maafkan aku. Aku janji tidak akan melakukannya" ucap Arlan sambil menangis, sungguh dihatinya sangat takut jika Alviana pergi meninggalkan dirinya.


Alvina yang melihat ketulusan di mata Arlan membuatnya luluh.


" Baik aku maafkan, untuk sementara kita berteman kalau jodoh tidak akan ke mana." ucap Alviana sambil menghapus air mata Arlan dengan ke dua ibu jarinya.

__ADS_1


" Terima kasih, kamu memang gadis yang sangat baik." ucap Arlan.


__ADS_2