
Alviana menghembuskan nafas berat dan menatap orang - orang yang di cintainya.
" Max, panggil Alviana lembut
" Iya kak." jawab Max
" Kakak pinjam pisau lipat yang selalu kamu simpan di kantong celanamu." pinta Alviana sambil menatap Max sendu.
deg
Max sangat terkejut dari mana Alviana tahu kalau dirinya suka menyimpan pisau lipat di kantong celananya.
" Kamu jangan kaget Max, mommy, daddy, kak Alvonso, kak Alvian dan aku tahu kalau kamu selalu menyimpan pisau lipat di kantong celanamu Max." ucap Alviana mengulang perkataannya.
Max mengambil pisau lipat dan diberikan ke Alviana, Alviana menerimanya. Alviana berusaha berdiri sambil menahan rasa sakit. Walau sudah di obati dan di perban tapi rasa perihnya masih terasa.
Arlan berusaha membantu Alviana tapi tubuh dan tangannya di tahan oleh Alvonso dan Alvian
" Lepas, aku ingin membantu Alviana berdiri." ucap Arlan dengan nada bentak.
" Mas Arlan jangan membentak kakakku, walau mas Arlan suamiku tapi aku tidak terima jika ke dua kakakku di bentak." ucap Alviana sambil menahan air matanya agar tidak keluar
" Alviana kau?" ucap Arlan tidak percaya
" Kamu baru tahu kalau adikku akan tetap memilihku." ledek Alvian
" Kau !!" bentak Arlan berusaha melepaskan diri dan ingin memukul Alvian
" Akhhh..." teriak Alviana menahan rasa sakit.
Tanpa sepengetahuan mereka yang sedang bertengkar Alviana menempelkan pisau lipat di lehernya dan di tekan sedikit hingga berdarah.
" Alviana!!!" teriak mereka serempak
" Kak Alvonso, Kak Alvian dan mas Arlan bertengkarlah. Tapi tunggu aku mati dulu baru kalian bertengkar." ucap Alviana sambil menangis. Air mata yang di tahan akhirnya keluar juga.
"Jangan lakukan itu." ucap mereka serempak
__ADS_1
Mama Maria mendekati Alviana tapi tangan Alviana di angkat sebagai tanda untuk jangan mendekat.
" Jangan mendekat kalau mencoba mendekat Alviana tidak segan untuk menekannya lebih dalam." ancam Alviana
" Jika kak Alvonso, kak Alvian dan mas Arlan tidak ingin aku mati maka Alviana meminta agar Kak Alvonso, kak Alvian dan mas Arlan berdamai dan melupakan yang tadi saja kalian katakan." ucap Alviana
Alvonso, Alvian menatap Arlan dengan tatapan kebencian begitupula dengan Arlan.
" Akhhh..." teriak Alviana lagi menahan rasa sakit karena Alviana menekan kembali pisau itu di lehernya
" Alviana!!!" teriak mereka kembali dengan serempak
" Kalau kalian bertiga masih seperti itu berarti kak Alvonso, kak Alvian dan mas Arlan memang menginginkan kematianku. Baiklah akan aku lakukan keinginan kalian. Sebelum aku mati, aku hanya meneruskan pesan mommy yaitu jangan melukai Max. Kak Alvonso dan kak Alvian dan Mas Arlan kalian sangat berarti buatku dan aku tidak bisa memilih. Jika memang aku harus memilih maka aku akan memilih kematianku karena aku tidak ingin menyakiti orang - orang yang kucintai." ucap Alviana sendu sambil menatap satu persatu orang yang dicintainya.
" Max, kakak menyayangimu sebagai adikku tolong jaga ke dua kakakku dan ke tiga adikku." ucap Alviana sambil menekan pisaunya lebih dalam.
bruk
Alviana langsung pingsan karena tidak bisa menahan rasa sakit dan darah yang tidak berhenti keluar.
" Alviana." teriak mereka serempak
" Jangan sentuh istriku." bentak Arlan
Max menatap tajam ke Arlan seperti ingin membunuhnya. Alvonso dan Alvian tanpa banyak bicara langsung membantu Max membawanya ke ruang ugd untuk di obati.
Mama Maria membuka pintu lebar dan mereka berlari menuju ruang ugd dan Arlan mengikuti dari belakang.
Di dalam perjalanan mereka melewati ruangan icu tampak dokter Kennath dan Ramon sedang mengobrol di ruang tunggu icu. Dokter Kennath dan Ramon terkejut melihat leher Alviana berdarah.
" Bawa ke ruang ugd." perintah dokter Kennath sambil berdiri dan berjalan cepat menuju ke ruang ugd
Dokter Kennath langsung mengobati Alviana sedangkan yang lainnya menunggu di luar.
" Kalau ada apa - apa dengan adikku, aku tidak akan memaafkanmu Arlan." bentak Alvian sambil mencengkram krah baju Arlan
" Aku juga sama, ini ulah Alvonso dan Alvian dan juga ulah Max." bentak Arlan tidak mau kalah sambil menarik krah baju Alvian.
__ADS_1
" Stop, jangan bertengkar, apa kalian tidak tahu mommy kalian sedang bertarung nyawa antara hidup dan mati dan di tambah Alviana terluka. Kalian tahu mommy kalian tidak menyukai kalau kalian bertengkar. Apa memang kalian memang menginginkan kematian mommy Laras hah!!!" bentak Clarisa sambil menatap tajam ke tiga pria tampan itu.
Mereka berempat menggelengkan kepalanya kemudian Alvian dan Arlan melepaskan cengkraman krahnya dan menundukkan kepalanya.
" Kalian tahu Alviana sampai nekat menusuk lehernya karena Alviana tidak menginginkan kalian bertengkar. Sekarang kalian tinggal memilih tetap bertengkar seperti ini tapi kalian akan kehilangan ke dua orang yang kalian cintai atau kalian belajar untuk memaafkan dan melupakan yang telah terjadi dan kalian bersatu dalam doa agar mommy Laras sadar dari koma dan Alviana sembuh. Keputusan ada pada kalian berdua." ucap Maria tak kalah galaknya dari Clarisa sambil matanya melotot ke arah Alvian dan Arlan
Mereka berempat masih terdiam dan menundukkan wajahnya.
" Mama mohon kalian berpelukan lupakan yang terjadi dan kamu Max ceritakan sebenarnya apa yang terjadi. Kenapa kamu menabrak ibunya Harlan. Kamu jangan takut karena mommy Laras pernah pesan sama Mama Maria dan bunda Clarisa untuk menjagamu apapun yang terjadi." pinta Mama Maria
Mereka bertiga berpelukan karena mereka sangat menghormati orang lebih tua sesuai ajaran mommy Laras dan daddy Alvonso.
" Ayo Max ikut mama dan kalian bertiga ikut mama dari arah belakang dan Clarisa ikuti mereka dari belakang mengawasi mereka jika mereka bertengkar lagi." ucap Mama Maria sambil menatap tajam ke tiga pria tampan Alvonso, Alvian dan Arlan.
Mama Maria berjalan bersama Max menuju ke ruangan kerja milik daddy Alvonso dengan diikuti Alvonso, Alvian dan Arlan dan dibelakangnya lagi Clarisa.
Kini mereka duduk bersama Maria duduk di tengah diantara Alvonso dengan Max begitupula dengan Clarisa duduk di tengah di antara Alvian dan Arlan.
" Coba Max ceritakan, kami ingin mengetahui kenapa kamu melakukan itu." pinta mama Maria lembut.
" Baiklah akan aku ceritakan sebenarnya kenapa Max menabrak ibunya kak Harlan." ucap Max
xxxxxx FLASHBACK ON xxxxxx
Ketika pertama kalinya melihat ibunya Harlan, Max sangat curiga dengan sikap ibunya Harlan dan melihat apa yang akan dilakukannya.
Ibunya Harlan berjalan kembali menuju ke kamarnya baru beberapa langkah Max langsung menghadang jalannya dan menatap ibunya Harlan dengan tatapan tajam.
" Tante hati - hati jangan bermain api di keluarga besar Alvonso kalau tidak nanti tante akan terbakar. " ucap Max sambil tersenyum menyeringai
Ibunya Harlan terkejut karena wajah itu seperti ingin membunuhnya.
" Kalau tante tidak melakukan apa - apa tante akan selamat jika tidak siap - siap tante akan aku siksa." sambung Max sambil tersenyum devil
" Siapa kamu?" tanya ibunya Harlan takut dan kakinya gemetaran.
" Tante tidak perlu tahu, yang terpenting tante harus jaga sikap." ucap Max kemudian meninggalkan ibunya Harlan.
__ADS_1
Ibunya Harlan langsung berlari dan masuk ke dalam kamarnya kemudian mengunci pintu kamarnya.
Sejak kejadian semalam ibunya Harlan meminta Harlan untuk pulang ke apartemennya.