Cinta Satu Malam Bersama Mafia 2

Cinta Satu Malam Bersama Mafia 2
Sisi Lain Arlan


__ADS_3

Harlan yang melihat Jessica langsung berubah wajahnya karena gara - gara perempuan itu Alviana terbaring koma.


Arlan tidak memperdulikan Jessica dan meminta Harlan untuk masuk ke ruangannya untuk membicarakan sesuatu.


Jessica yang merasa diacuhkan dengan penuh percaya diri mengikuti Arlan dan Harlan menuju ruangan milik Arlan.


Mereka berempat masuk ke dalam ruangan Arlan. Arlan duduk di kursi kebesaran sambil mengecek dan menanda tangani berkas satu persatu. Harlan duduk berhadapan dengan Arlan hanya di batasi oleh meja kerja Arlan sedangkan Jessica berjalan dengan penuh percaya diri mendekati Arlan dan ingin menyentuh lengan Arlan.


" Harlan, tolong bawa Clara keluar." perintah Arlan sambil menatap tajam ke arah Jessica


" Ok. Clara sayang ikut paman ya? kita belu es cream" ajak Harlan


" Ok Om." jawab Clara senang karena akan dibelikan es cream.


Harlan menggendong Clara untuk di bawa keluar dan menutup pintu ruangan kerja Arlan. Setelah melihat Harlan dan Clara keluar Arlan langsung menekan tombol remote otomatis pintunya terkunci.


Jessica yang melihatnya sangat senang dan berpikir jika Arlan dan dirinya akan berci**a di ranjang milik Arlan karena itu meminta Harlan dan Clara keluar dari ruangannya.


" Sayang." lirih Jessica sambil membuka satu kancing kemeja milik Jessica sehingga menampakkan dua gunung kembarnya.


" Buka kancing satu lagi." pinta Arlan dengan tatapan datar


" Benarkah, baiklah." ucap Jessica dengan semangat sambil tersenyum menggoda.


" Tapi tunggu dulu, coba kamu hitung dulu ada berapa banyak kancingnya?" tanya Arlan dengan tatapan datar


" Sebentar sayang aku hitung 1... 2... 3...4...5...6...7...8...9....10.. ada 10 sayang." ucap Jessica dengan suara menggoda.


" Berarti pas ya?" ucap Arlan tersenyum devil


Jessica tidak memperhatikan senyuman devil Arlan karena pikirannya berkelana kemana - mana.


" Pas apa sayang?" tanya Jessica dengan suara di buat - buat seperti orang mendesah.


" Jari kita ada berapa?" tanya Arlan


" Sepuluh jari, memang apa hubungan jari dengan kancing?" tanya Jessica bingung.


" Ada hubungannya." ucap Arlan


" Apa itu?" tanya Jessica bertambah bingung.


" Satu kemeja kancing kamu buka maka satu jarimu patah. Jadi silahkan di buka semuanya agar aku mudah mematahkan ke sepuluh jarimu." ucap Arlan dengan senyuman devil


deg


Jessica membeku mendengar perkataan Arlan seakan tidak percaya.

__ADS_1


" Sayang tidak seriuskan?" tanya Jessica berusaha meyakinkan Arlan


" Aku serius. Kalau tidak percaya silahkan buka semua kemejamu." ucap Arlan


Jessica terdiam dan tidak berani membuka kancing selanjutnya malah kancing yang sudah terbuka langsung di tutupnya kembali.


" Oh ya jangan memanggilku sayang dari mulutmu karena panggilan itu hanya khusus keluar dari mulut istriku yang sangat kucintai." ucap Arlan tegas.


" Cih, ternyata perempuan murahan itu yang sudah meracunimu, ku dengar dia koma semoga perempuan murahan itu cepat mati sehingga tidak ada yang menghalangi kita."ucap Jessica dengan penuh percaya dirinya.


plak


akh


plak


akh


Arlan yang sangat emosi mendengar perkataan Jessica langsung menampar pipi kanan dan kiri secara keras hingga menyebabkan ke dua sudut bibirnya pecah dan berdarah.


bugh


akh


Arlan kembali memukul mulut Jessica yang sangat pedas membuat beberapa gigi Jessica lepas. Membuat Jessica terjatuh dan Arlan langsung duduk sambil menekan kedua pipi Jessica yang masih nerah bekas tamparan menggunakan satu tangannya.


" Pukulan yang mengenai mulutmu supaya kamu sadar untuk tidak mengatakan sesuatu yang menghina istriku, istri yang sangat kucintai. Sekali lagi kamu menjelekkan istriku akan aku robek mulutmu yang berbisa itu." ucap Arlan menatap tajam ke arah Jessica.


" Satu lagi mulai sekarang dan seterusnya jangan ke kantor lagi jika masih melakukan itu bersiap - siap bodyguard atau security akan mengusirmu." sambung Arlan sambil melepaskan cengkraman di pipi Jessica kemudian berdiri.


" Bukannya kamu sudah berjanji untuk menjagaku dan Clara." tanya Jessica lembut berusaha menahan diri untuk tidak memaki Alviana.


" Ya benar aku janji untuk menjaga kalian berdua tapi bukan berarti untuk menikahimu karena aku sudah menikah dengan Alviana istri yang paling kucintai." ucap Arlan tegas.


" Aku akan memerintahkan 2 orang bodyguardku untuk menjaga kalian sesuai permintaan terakhir adik sepupuku, aku penuhi kebutuhan kalian setiap bulan tapi jangan pernah ganggu aku terlebih istri tercintaku." ucap Arlan


Arlan langsung berjalan menuju kursi kebesarannya dan duduk. Jessica berusaha berdiri dengan mulut dan kedua sudut bibir berdarah serta kedua pipi merah bekas tamparan dan pukulan dari Arlan.


Arlan menekan tombol remote sehingga pintu ruangannya tidak terkunci kembali.


tok


tok


tok


" Masuk." ucap Arlan

__ADS_1


ceklek


Pintu terbuka tampak Harlan sedang menggendong ponakannya yang bernama Clara.


Harlan dan Clara terkejut melihat muka Jessica .


" Mommy hiks... hiks... mukanya kenapa?" tangis Clara


" Sayang, muka mommy tadi terbentur di kamar mandi." jawab Arlan sedangkan Jessica yang di tanya hanya diam dan tidak berani menjawabnya.


" Benarkah daddy?" tanya Clara


" Iya sayang, karena itu kalau Clara ke kamar mandi hati - hati ya? kan lantainya licin. Benar begitu Jessica?" tanya Arlan memberi kode sambil menatap tajam ke arah Jessica


" Iya sayang." ucap Jessica yang mengerti kode Arlan.


" Tuhkan sayang, jadi hati - hati ya kalau di kamar mandi." ucap Arlan dengan lembut.


" Baik dad, Clara akan selalu ingat perkataan daddy." ucap Clara


" Anak pintar." ucap Arlan tersenyum sambil mengacak rambut Clara


" Ayo sayang kita pulang." bujuk Jessica


" Baik mom, daddy ikut anter kita tidak?" tanya Clara


" Maaf sayang, daddy banyak kerjaan." ucap Arlan lembut


" Baik dad." ucap Clara


Jessica dan Clara keluar dari ruangan kerja Arlan. Kini tinggallah Arlan dan Harlan berdua.


" Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Harlan penasaran


Arlan menghembuskan nafasnya secara kasar setelah agak lama Arlan menceritakan semuanya dari awal hingga akhir.


" Bagus, aku setuju tindakanmu walau terdengar kejam tapi wanita itu susah untuk dinasehati. Dia terlalu obsesi denganmu kak karena itu dia melakukan itu semua." ucap Harlan


" Ya aku baru sadar kalau dia ternyata sangat menyukaiku." ucap Arlan


" Tumben kak Arlan berubah dari dulu kemana aja?" tanya Harlan


" Aku mendapat ultimatum dari ibu mertuaku kalau aku masih mempertahankan Jessica maka Alviana akan di bawa oleh mereka tentu saja aku lebih memilih istriku karena istriku adalah segalanya." ucap Arlan.


" Apa lagi aku baru kali merasakan kasih sayang orang tua padahal mereka mertuaku tapi menganggapku sebagai anak kandungnya. Terlalu bodoh jika aku memilih mempertahankan jessica." sambung Arlan.


" Syukurlah kalau kak Arlan sudah sadar." ucap Harlan

__ADS_1


Arlan tidak menjawab hanya membalas dengan senyuman. Ponsel Arlan berbunyi, Arlan pun mengambil ponselnya di saku jasnya.


Muka Arlan langsung memerah setelah menerima berita dari ponsel. Arlan pun langsung mengambil jasnya untuk keluar dari ruangan pribadinya dan diikuti oleh Harlan yang masih bingung yang tiba - tiba melihat perubahan muka Arlan.


__ADS_2