
Adelio berada di ruangan kerjanya,dia mengatur nafasnya,dadanya terasa sesak saat Yura membantu Jodi,jujur dia masih kesal dengan kelakuan Jodi terhadapnya.
Yura datang menghampiri,dia mencoba menjelaskan tujuannya.
"sayang,aku minta maaf sudah membawa dia kesini,aku tidak punya niat lain,aku hanya ingin menolongnya",jelas Yura.
"kamu sudah tahu kan kalo aku sudah terlanjur membencinya",ucap Adelio.
"aku tahu,tapi mau sampai kapan?,semua itu gak ada untungnya",ujar Yura.
Adelio menoleh kearah Yura,"kamu gak akan pernah merasakan apa yang aku rasakan Yura",bentak Adelio.
Yura terdiam,dia tidak menyangka kalo Adelio akan semarah itu padanya,"aku gak mau tahu dia harus pergi dari rumah ku",lanjut Adelio.
"aku gak tahu cara berpikir kamu,tidak ada rasa kemanusiaan,kamu hanya mengedepankan rasa dendam",ucap Yura.
"Yura...berhenti,jangan pernah mengatai ku seperti itu",bentak Adelio lagi.
Yura pun melotot,dia tidak menyangka kalo Adelio sudah dua kali membentaknya.
Mata Yura sudah berkaca-kaca,dia menahan sakit di dadanya akibat bentakan suaminya.
"kamu bilang aku tidak akan pernah merasakan apa yang kamu rasakan,jelas-jelas aku mengalaminya,penghinaan dan pengkhianatan,tapi aku mencoba membuka hati dan memaafkannya,aku berusaha untuk melupakan masa laluku",jelas Yura
"maaf aku mengungkit masa lalu,karena kamu yang memulainya",lanjut Yura sambil meneteskan air matanya,lalu dia keluar dari ruangan Adelio dan menutup pintu dengan kencang.
Adelio memejamkan matanya,kali ini Adelio sudah melukai perasaannya.
Di kamar Yura sedang menangis karena menghadapi suaminya yang keras apa lagi Adelio membentaknya.
Setelah sekian lama Yura mengalami bentakan Adelio lagi,perasaannya sakit tapi kali ini dia menyadari kalo dia yang salah,seharusnya dia mengerti dengan ucapan perasaan suaminya.
Adelio masih berada di ruangan kerjanya,dia merenungi ucapan Yura tadi,kalo dirinya memang tidak punya rasa kemanusiaan.
"apa aku sekejam itu,apa benar aku tidak punya perasaan?lalu bagaimana dengan mereka yang menyakitiku?",Adelio bertanya sendiri.
...----------------...
Malam pun tiba,Yura dan Adelio melewatkan makan malamnya,Yura sudah tertidur sambil memeluk bayi Rachel,sedangkan Adelio dia baru masuk kedalam kamar.
Kekesalannya belum juga mereda,sifat Adelio yang keras tidak bisa di luluh kan begitu saja,Adelio berbaring di samping bayi Rachel,niat dia ingin bercumbu bersama istrinya kandas begitu saja.
Keesokan harinya Adelio terus menghubungi Marcel,tapi ponsel Marcel tidak aktif.
"kenapa tidak diangkat?",tanya Adelio.
Adelio mundar-mandir ke sana kemari,tiba-tiba dia mendengar tangisan Yura di lantai bawah,Adelio segera keluar karena dia takut ada apa-apa dengan istrinya.
__ADS_1
Di lantai bawah Yura menangis sambil memeluk bayi Rachel,semua orang yang berada di sekitarnya pun hanya melihat.
Adelio panik setelah melihat Yura tengah duduk di lantai sambil menangis,dan dia melihat ada 2 orang pria yang tidak di kenal sedang berdiri di dekat Yura.
"ada apa ini?",tanya Adelio,semua orang menoleh ke arah Adelio.
"anu pak,ini ada karyawan pak Marcel tuan",jawab bi Iyem.
"maaf bapak dengan pak Adel?",tanya salah seorang laki-laki yang sedang berdiri diambang pintu.
"iya betul,ada apa ya?"
"begini tuan saya sekertaris tuan Marcel,perusahaan kami menerima kabar kalo pak direktur mengalami kecelakaan dan dia sedang di rawat di salah satu rumah sakit di luar negri".
Adelio terkejut,"lalu bagaimana dengan kondisinya?",
"dia mengalami koma",
Adelio pun menghela nafas,baru satu hari Mika meninggal kini giliran Marcel yang sedang koma.
"bagaimana anda tahu rumah saya?",tanya Adelio lagi.
"pak direktur yang memberikan alamat bapak sebelum beliau berangkat keluar negri dan dia berpesan untuk selalu menghubungi bapak kalo ada sesuatu yang menimpa perusahaan",jawab salah seorang pria itu.
Adelio melihat Yura yang sangat terpukul,secara bayi yang dia gendong begitu malang nasibnya.
"kalau begitu kami pamit pergi",pamit kedua karyawan Marcel.
"sebentar,ini kartu namaku kalo ada apa-apa hubungi ke no ini",ucap Adelio sambil memberikan kartu namanya.
"baik tuan".
Setelah kepergian dua orang tadi,Adelio duduk di ruang keluarga sambil memikirkan hal yang akan terjadi pada Marcel,bukan hanya Yura,Adelio pun terpukul saat mendengar Marcel koma.
Adelio tidak bisa pergi ke kantor,karena dia takut akan terjadi sesuatu pada Marcel,Adelio menyuruh Andre untuk mengirimkan file dokumen yang akan dia kerjakan di rumah.
Yura kini bersama bi Iyem,dia terus menggendong bayi Rachel dan enggan melepaskannya.
"nyonya,sebaiknya makan dulu biar si cantik ini bibi jagain",
Yura menggelengkan kepalanya,"tidak bi,aku ingin tetap seperti ini",lirih Yura.
Bi Iyem pun menghela nafas lalu dia pamit ke dapur,"kalo begitu bibi ke dapur dulu".
Ketika bi Iyem sedang berjalan ke dapur,dia berpapasan dengan Adelio.
"bibi dari mana?",tanya Adelio.
__ADS_1
"anu tuan,bibi baru saja menemui nyonya untuk membujuknya makan,dia belum makan dari semalam,begitu juga tuan kenapa belum juga makan,bibi sudah siapkan semuanya di meja",jawab bi Iyem.
"iya nanti saya makan,tapi bagaimana dengan nyonya apa dia mau makan?",
"sepertinya nyonya tidak berselera makan tuan",
Adelio menghela nafas,"baiklah biar saya yang membujuknya",ucap Adelio.
Adelio langsung pergi menemui Yura,Adelio melihat Yura yang tengah mengayun bayi Rachel,karena sedari tadi anak itu terus menerus menangis.
Adelio menghampiri Yura,dia mencoba menyapanya,"sayang,ayo kita makan bibi sudah masak untuk kita",ajak Adelio pada istrinya.
"duluan saja,aku belum ingin makan",ucap Yura.
"dari semalam kamu belum makan,gimana kalo kamu sakit?",Adelio mencemaskan Yura.
"aku baik-baik saja",ujar Yura.
Adelio tidak melanjutkan pembicaraannya dia hanya menarik nafas,dia merasakan kalo sikap Yura begitu dingin.
Adelio mencoba meminta maaf atas kesalahannya kemarin karena sudah membentaknya.
"sayang maafkan aku soal kemarin,aku terbawa emosi",ucap Yura.
"tidak perlu meminta maaf,semua ini juga salahku,dan untuk bentakan kemarin mungkin aku harus mempersiapkannya lagi dengan matang,karena seberapa pun usaha kamu ingin berubah kalau tidak dengan niat yang benar-benar,itu percuma buang-buang energi saja",ucapan Yura begitu pedas.
"sebaiknya kamu makanlah dulu,tidak perlu menunggu aku,dan soal Jodi aku sudah menghubungi sebuah yayasan untuk orang-orang depresi dan aku sudah menyuruh anak buah mu untuk membawanya,jadi kamu tidak perlu khawatir soal Jodi yang tinggal di sini",lanjut Yura.
Adelio hanya terdiam,tanpa berkata lagi dia langsung keluar dari kamar.
Di halaman depan,terlihat anak buah Adelio sedang menggandeng Jodi untuk di bawa ketempat yang di maksud Yura.
Yura juga sudah berada di sana,dia merasa kasihan melihat Jodi,dan dia tidak bisa berbuat apa-apa.
"saya sudah menelepon pihak yayasan,jadi kalian hanya mengantarnya saja",ucap Yura pada anak buah suaminya.
"baik nyonya",
Jodi pun melihat Yura dengan tatapan yang mendalam,dia ingin berkata sesuatu tapi bibirnya seperti berat untuk di gerakkan.
Yura yang melihatnya mencoba berinteraksi,"pergilah,di sana kamu akan mendapatkan kebahagiaan,kalau ada waktu aku akan mengunjungi mu,maaf aku hanya bisa membantu mu dengan cara seperti ini",ucap Yura.
Jodi pun meneteskan air matanya,dia merasa kalo Yura malaikat tanpa sayap.
Di dalam sana Adelio melihat semuanya,perasaanya kini campur aduk,antara bersalah,dendam dan iba.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1