
Adelio dan keluarganya sedang makan malam bersama di rumahnya,Adelio sangat senang karena mereka mau menghibur istrinya yang sedang sakit.
Semua sangat bahagia,jarang sekali mereka melakukan hal ini,apa lagi semenjak semuanya memiliki keluarga masing-masing.
Mereka menikmati masakan buatan Mia,begitu pula Yura,dia sangat senang karena keinginannya terkabulkan juga.
"makanlah yang banyak Ra",ucap Mia.
"tentu aku akan menghabiskan makanan di piringku,karena mungkin aku tak akan menikmatinya lagi",ucap Yura tanpa dia sadari membuat seluruh anggota keluarganya terdiam.
Apalagi Adelio,dia orang yang paling terpukul,karena dia paling takut kehilangan Yura.
"pelan-pelan bu makannya",ucap Atha memperingatkan Yura.
"iya ini juga pelan,tapi kenapa kalian diam,ayo makan",ujar Yura.
Semua orang pun kembali menyantap makan malamnya namun kini terasa hambar.
Yura pun kembali menikmati makan malamnya,sebenarnya Yura baru menyadari dengan perkataannya tadi,dia yakin kalo dirinya sudah membuat mereka bersedih.
"maafkan aku sudah membuat kalian bersedih,aku tak bermaksud seperti itu,tapi bagaimana pun aku akan meninggalkan kalian",ucap Yura dalam hati.
Yura memandang wajah keluarganya satu persatu,ada rasa sakit di hatinya,apa mungkin esok hari dia bisa melihat mereka lagi.
Dan Yura berharap keluarganya akan bisa menerima kepergiannya.
Setelah selesai makan malam,Yura kembali ke kamarnya namun kini dia di temani para ibu-ibu cantik yaitu,Rachel,Tiwi,Mia,Kiki dan Alin.
Sedangkan para lelaki,mereka memilih duduk di taman yang berada di samping rumah.
Mereka berbincang,hanya Adelio yang tak banyak bicara,dia duduk sambil meminum teh hangatnya.
"apa yang sedang kamu pikirkan?",tanya Soni sambil menepuk pundak Adelio.
"Yura",jawab Adelio,"apa kalian mendengar perkataannya tadi?",Adelio balik tanya.
"aku merasa kalo dia tak akan lama lagi hidup berada di sekeliling kita",lanjut Adelio.
"ya kami mendengarnya dengan jelas,tapi kamu jangan khawatir mungkin itu hanya ucapannya saja",ujar Soni mencoba membuat Adelio tenang.
__ADS_1
"iya pak,sebaiknya kita berdoa saja untuk kesembuhan bu Yura",timpal Andre.
"betul yang di katakan Andre,sebaiknya kita berdoa dan serahkan saja kepada tuhan",ujar Soni.
"tapi kalo ucapannya benar,apa aku bisa menerima semuanya",kata Adelio.
"jangan seperti itu,takdir ada di tangan sang pencipta,kita harus menerima semua ketentuan yang dia berikan",tutur Soni.
Atha mendekati ayahnya,"kalo ibu di takdir kan meninggalkan kita lebih dulu,kita harus kuat,kita harus tetap bersama demi ibu,karena keinginannya adalah kita harus selalu bersama dalam suka maupun duka",tutur Atha.
"ya,ayah mengerti terus ingatkan hal itu agar ayah tidak terlalu merasakan sakit jika ibu mu telah tiada",ucap Adelio.
Di kamar,para ibu-ibu sedang menghibur Yura dengan caranya masing-masing,mereka ingin melihat gelak tawa Yura lagi,mereka tak ingin menunjukkan kesedihan di hadapan Yura.
"makasih ya kalian sudah mau menemaniku malam ini,berkat kalian aku benar-benar bisa tertawa lepas",ucap Yura.
"kami juga senang bisa berkumpul seperti ini,dan kami tidak akan melupakan momen ini",ucap Alin.
Tidak lama kemudian suara pintu di ketuk,tok...tok...tok...
Rachel pun dengan cepat membukanya,"ayah",sapa Rachel.
"oh iya kami hampir lupa,maaf ya pak Adel",ucap Mia.
"iya mungkin karena kami terlalu asyik",timpal Kiki.
"tidak apa,oh ya suami-suaminya sudah pada nunggu di kamarnya masing-masing",goda Adelio.
"iiih...ayah genit juga",ucap Rachel.
"kamu baru tahu ayah genit",ucap Adelio.
Semua orang pun tertawa kecil termasuk Yura,"ya udah sebaiknya kita keluar yuk",ajak Alin.
"yuk...yuk...",para ibu-ibu pun keluar dari kamar Yura.
"selamat beristirahat bu,tidur yang nyenyak ya",ucap Rachel lalu mencium pipi Yura.
"ya sayang",
__ADS_1
"udah ya kamu jangan ganggu kami lagi",goda Adelio pada Rachel.
"apaan sih yah",ucap Rachel sambil menutup pintu kamar.
Yura pun menggelengkan kepalanya,"kamu ini tumben banget godain Rachel",ucap Yura.
"ya buat hiburan saja biar kamu tersenyum",ucap Adelio.
Adelio duduk di sebelah Yura yang setengah berbaring,Adelio membereskan rambut Yura yang kelihatannya tidak rapih.
Adelio melihat rambut istrinya semakin menipis karena rontok,dia yakin kalo itu di sebabkan oleh penyakit yang di derita Yura.
"kami istirahat ya,biar besok bangun tidur terlihat fresh",titah Adelio.
"aku belum kantuk",ucap Yura.
"tapi kamu harus istirahat sayang,ayo baringkan deng lurus pasti rasa kantuk datang",ujar Adelio.
"baiklah",ucap Yura mengikuti perkataan suaminya.
Yura pun berbaring,Adelio mengecup kening istrinya,"selamat tidur sayang semoga mimpi indah",ucap Adelio,Yura mencoba memejamkan matanya.
Beberapa menit kemudian Yura pun tertidur,sedangkan Adelio masih terjaga,rasa kantuk tak kunjung juga datang,dan akhirnya Adelio pergi ke ruang kerjanya.
Di sana dia membuka laptopnya,dia mecoba mencari poto-poto bersama keluarganya yang dia simpan di dalam laptop.
Adelio menemukan poto saat Yura sedang bekerja di kantor perusahaan cabangnya karena diam-diam dia selalu mengambil poto Yura,lalu Adelio pun beralih membuka poto-poto saat mereka menikah yang kedua kalinya dan banyak sekali momentum yang mereka lalui bersama.
Seketika Adelio menangis,dia sudah tak tahan membendungnya lagi,kini Adelio tak peduli kalo dirinya di bilang cengeng,karena tak akan ada yang mengerti tentang perasaannya saat ini.
Adelio mengusap air matanya,dia harus kembali ke kamarnya,karena dia takut kalo Yura akan mencarinya.
Setelah berada di kamar,Adelio berbaring tepat di samping istrinya,dia memiringkan tubuhnya dan kini di hadapannya seorang wanita yang teramat dia cintai.
Pipi putih Yura di sentuhnya dengan pelan,lalu tangan Adelio berpindah ke hidung mancung milik istrinya.
"aku tidak tahu akan jadi seperti apa jika kau benar-benar pergi meninggalkan ku",ucap Adelio dalam hati.
Saat ini Adelio berkecamuk dengan perasaannya,dipikirannya hanya tentang Yura istri yang selalu hadir di ingatannya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...