Cinta Tuan Muda

Cinta Tuan Muda
Epson 112


__ADS_3

Saat Deandra memasuki ruang kerja nya lelaki itu terkejut melihat kehadiran Jordan yang sedang duduk di sofa dengan wajah galau nya, Dean berjalan dengan sedikit membungkuk lelaki itu memperhatikan wajah sahabatnya.


"Ada apa dengan wajahmu?" Tanya Deandra, Jordan menatap Dean dengan memelas.


Melihat wajah Jordan yang seperti itu memancing kembali rasa mual yang dialami oleh Deandra, lelaki itu berlari ke toilet di ruang kerja nya dan kembali muntah-muntah.


"Hueekk-hueeekkk." Jordan menghampiri Deandra dan menatap nya dengan datar.


"Kau sakit?" Tanya Jordan.


"Tidak, Jordan cukup jangan memasang wajah jelek seperti itu lagi kau membuatku mual." Ucap Deandra, Jordan ingin sekali menyumpah serapahi Dean yang mengatainya jelek.


"Dean bisakah kau merasa kasihan kepadaku sedikit saja." Ucap Jordan mendramatisir keadaan.


"Apa? Ini waktunya bekerja jadi aku tidak bisa memberikan belas kasih kepadamu." Ucap Deandra, ia menatap kesan Jordan yang menghalanginya.


"Dean ayolah kali ini saja." Ucap Jordan, Deandra menggelengkan kepalanya.


"Menyingkirlah Jordan kau jangan meny*ksaku seperti ini." Ucap Deandra, bukannya menyingkir dari hadapan Dean lelaki itu malah mencoba untuk mendekati Deandra.


"Jordan stop." Teriak Deandra, ia tidak ingin muntah lagi bisa-bisa kurus lelaki itu jika terus menerus mengeluarkan isi perutnya.


"Jordan Dean ada apa?" Tanya Joe, lelaki itu membawakan teh hangat untuk Deandra.


"Joe singkirkan anak lucknut ini." Ucap Deandra, Joe menarik tangan Jordan dan mendudukkan sahabatnya itu di sofa.


"Tidak bisakah kau mendengarkan perkataan bos mu, dia sedang tidak waras akhir-akhir ini." Ucap Joe, Deandra menendang bokong Joe yang sedang berbisik kepada Jordan.


"Apa katamu." Ucap Deandra.


"Ti_tidak ada." Jawab Joe, Jordan tertawa kecil melihat Joe dan Deandra.


"Cukup bercanda nya bisakah kalian mengerti aku yang baru saja patah hati, Nana menolak ku dan dengan santai nya semalam dia pergi meninggalkan aku." Ucap Jordan, membuat Deandra yang sedang minum terkejut dan menyemburkan minuman nya.


Byuuurrr.... Uhukk-uhuukkk...


Joe tertawa kecil melihat Jordan dan Dean, kedua sahabatnya itu benar-benar kacau akhir-akhir ini.


"Sudah aku katakan Nana tidak akan mau bersama dengan kamu." Ucap Deandra.


"Kau menemui Nana?" Tanya Joe.

__ADS_1


"Iya aku menemuinya dan meminta dia untuk bersama denganku, tapi ternyata dia sama sekali tidak tertarik kepadaku." Ucap Jordan.


"Sudahlah Jo kau terima saja wanita yang di jodohkan oleh mami mu, lagi pula tidak ada salahnya untuk mencoba." Ucap Deandra, Jordan mengusap wajah nya kasar.


"Tidak akan semudah kamu menerima Anes Dean." Ucap Jordan.


"Cih, kau tidak tahu rintangan apa yang sudah saya dan Anes lewati. Anes bahkan sampai menemui buna nya hanya untuk meminta pendapat bagaimana akhir dari pernikahan kami." Ucap Deandra, Jordan menatap Dean apakah serumit itu di dalamnya.


"Benarkah?" Tanya Jordan.


"Kau tahu saya bahkan sampai menyusul Anes diam-diam pada saat itu, saya tidak bisa terus menutup diri saya. Mungkin awalnya memang saya tidak mencintai Anes dan selalu membentengi diri agar tidak bisa jatuh cinta, tali kenyataannya saya kalah karena kebaikan Anes saya mulai jatuh cinta dan menjadi miliknya." Ucap Deandra, Jordan menghela nafasnya dan menatap Joe yang sejak tadi hanya diam saja.


"Bagaimana menurut kamu?" Tanya nya.


"Kau bertanya kepadaku? Aku ini jomblo tidak paham apa yang sedang kalian bahas. Tapi jika kau memang menginginkan Nana maka perjuangkan jangan berhenti sampai sini saja." Ucap Joe, Jordan kembali terdiam ia benar-benar bingung dengan keadaan nya saat ini.


...


Satu Minggu berlalu hari ini Deandra, Jordan dan Joe ada perjalanan bisnis ke luar negeri. Deandra terus saja memeluk Anes ia seakan tidak ingin meninggalkan istri tercinta nya, dan Anes menerima perlakuan Deandra dengan senang hati.


Meskipun ia ingin menangis entahlah akhir-akhir ini Anes juga cukup sensitif, jujur saja para pelayan di rumah mereka merasa tertekan karena kelakuan tuan dan nona muda nya yang cukup membuat para pelayan pusing.


Dean yang suka mual dan muntah-muntah di pagi hari, dan Anes yang sangat sensitif terhadap sesuatu yang membuat hatinya tersentuh.


"Jangan lama-lama ya pergi nya." Ucap Anes, tiba-tiba saja air matanya menetes.


"Enggak kok aku usahakan untuk segera kembali." Ucap Deandra, sebenarnya Deandra merasa heran karena Anes menangis sampai tersedu-sedu.


"Hiks...hiks... Kamu sudah janji tidak akan meninggalkan aku tapi sekarang kamu meninggalkan aku." Lirih nya.


"Sayang ini karena pekerjaan yang tidak bisa aku tinggalkan, kamu jangan khawatir aku akan menyelesaikan nya dengan cepat." Ucap Deandra, Anes menatap Dean biasanya sebelum Dean pergi kemanapun kedua orang itu akan melakukan sesuatu untuk melepas rindu mereka. Tapi kali ini Dean sama sekali tidak melakukan itu, dan hal itu membuat Anes merasa mungkin suaminya ini mulai bosan.


"Hmmm, baiklah." Ucap Anes, wanita itu gengsi untuk mengungkapkan apa yang ia inginkan.


"Aku pergi dulu ya." Ucap Deandra, Anes mengangguk Joe dan Jordan merasa terharu melihat Dean dan Anes yang melepaskan pelukan mereka.


"Nana saya titip nona." Ucap Dean.


"Baik tuan." Ucap Nana.


"Sudah jangan menangis lagi oke." Ucap Dean, ia mengecup kening dan pipi Anes.

__ADS_1


"Aku pergi baik-baik dirumah ya." Ucap Dean, Anes mengangguk dan menatap mobil yang di tumpangi oleh suaminya semakin menjauh.


Anes kesal kepada dirinya sendiri yang cengeng akhir-akhir ini, Nana mengusap punggung nona muda nya.


"Nona masuk yuk angin sore tidak baik untuk kesehatan nona." Ucap Nana.


"Hmmm." Balas Anes, wanita itu masuk kedalam rumah dan langsung naik ke kamar nya.


"Nona pasti sedih banget deh biasanya kan tuan tidak pernah pergi jauh dari nona, sejak menikah mereka selalu bersama-sama." Ucap Ike.


"Benar apalagi sekarang sudah tidak satu rumah dengan nyonya besar dan tuan muda Ken, tapi kenapa nona jadi lebih sensitif ya." Ucap suster.


"Mungkin karena nona tidak mau di tinggal oleh tuan muda." Ucap Nana.


"Gak mungkin jika hanya karena itu saja, selama ini nona tidak seperti itu kok. Nona selalu tenang dan bijak." Ucap Ike.


"Iya benar ini seperti ada faktor tertentu, tapi biarkan saja dulu mungkin nona ingin menenangkan dirinya sendiri." Ucap suster, Ike dan Nana pun mengangguk.


Mereka tidak kembali ke rumah belakang karena diminta untuk menemani Anes di rumah utama, Ike dan Nana memilih untuk mengerjakan sesuatu yang belum selesai mereka kerjakan siang tadi.


"Ke nona gak turun makan malam?" Tanya suster.


"Sudah Ike antar ke kamar Mbak makan malam nya, mungkin nona merasa kesepian jika harus makan sendiri." Ucap Ike, suster mengangguk.


"Yasudah kita istirahat ayok nona juga pasti sedang beristirahat kan."Ajak suster, Ike dan Nana pun mengangguk dan pergi ke kamar mereka masing-masing.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Happy reading 🤗😉 jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😊


__ADS_2