Cinta Tuan Muda

Cinta Tuan Muda
Epson 280


__ADS_3

Pagi hari pun tiba Anes dan yang lain sudah bangun dan berkumpul untuk sarapan bersama, sementara Cya dan Elang belum juga terlihat batang hidungnya.


"Nes kamu duduk saja biar aku dan Ike yang mengambilkan makanan untuk kamu dan Dean." Ucap Nana.


"Benar kamu duduk saja nes lagi pula kamu pasti capek kan." Ucap Ike.


"CK, gak apa-apa aku bisa mengambil nya sendiri kok." Ucap Anes.


"Gak apa-apa kamu duduk manis saja disini bersama dengan suami kamu." Ucap Nana, akhirnya Anes pun menuruti perkataan Nana dan Ike.


"CK, baiklah kalau begitu." Ucap Anes, Nana dan Ike pun bergegas mengambil makanan untuk Anes. Sementara itu nyonya dan tuan Mahendra mereka tersenyum melihat kedekatan Anes dengan Nana dan Ike.


"Mereka begitu baik kepada anda nyonya Gavriel." Ucap nyonya Mahendra.


"Saya juga tidak tahu kenapa mereka begitu baik kepada saya nyonya, padahal selama ini saya tidak melakukan apapun untuk membuat mereka baik kepada saya." Ucap Anes.


"Orang baik akan di dekatkan dengan orang-orang yang baik juga, anda adalah orang yang baik maka dari itu anda bertemu dengan orang-orang baik di lingkungan anda." Ucap nyonya Mahendra.


"Semoga saja begitu." Ucap Anes, nyonya Mahendra mengangguk dan tersenyum tipis.


"Nes Cya mana ya kok belum kelihatan." Ucap Nana setelah selesai mengambilkan makanan, Anes dan Ike saling menatap setelah mendengar pertanyaan Nana.


"Na jangan pura-pura polos deh." Ucap Ike.


"Loh kenapa apakah ada yang salah." Tanya Nana.


"Ya kamu gak salah tapi pertanyaan kamu yang kurang tepat." Ucap Ike, Nana mengernyit heran.


"Gak tepat apanya coba." Ucap Nana.


"Na Cya baru saja menikah kemarin kamu ingat kan, dan sekarang itu Cya berstatus sebagai pengantin baru kamu paham dong kenapa Cya belum muncul." Ucap Ike, sementara Anes tertawa kecil mendengar perkataan Ike.


"Iya aku tahu Ike, tapi apa iya Elang langsung menerkam Cya semalam?" Ucap Nana, oh God Ike dan Anes ingin sekali menenggelamkan Nana di sungai Amazon.


"Udah na sudah gak usah banyak ngomong dari pada bikin esmosi." Ucap Ike, sementara Nana hanya berdecak saja mendengar perkataan Ike.


Anes tertawa melihat perdebatan Nana dan Ike, sementara nyonya Mahendra tersenyum ia yakin menikahkan Elang dengan Cya adalah pilihan yang tepat.


Sementara itu di sebuah kamar terlihat Cya yang mematung menatap tubuh nya yang penuh dengan karya Elang, Cya sampai heran sendiri Elang itu manusia atau vampir.


"Cya apakah masih lama? Apa yang kamu lakukan di dalam kenapa lama sekali." Grutu Elang.


"Berhenti bicara Elang kau tahu aku sedang pusing disini." Ucap Cya, Elang menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Apa yang kamu pusing kan?" Ucap Elang, dengan kesal Cya pun membuka pintu kamar mandi dan membuat Elang menatap nya dengan bingung.

__ADS_1


"Kenapa?" Tanya Elang.


"Bagaimana aku menutupi Semua ini?" Tanya Cya, kini Cya sedang memakai mini dress bahkan Elang membuat tanda itu sampai di kaki jenjang nya.


"Kenapa harus di tutupi?" Ucap Elang, ya ampun elang benar-benar memancing emosi Cya.


Tidak tahukah Elang jika selain karya yang di buat nya, Elang juga membuat Cya kesulitan untuk berjalan.


"Kau ini." Kesal Cya.


"Kenapa?" Ucap Elang, ah sudahlah percuma berdebat dengan Elang.


"Mandi sana." Ucap Cya, ia berjalan dengan tertatih-tatih.


Elang yang belum menyadari perbuatannya pun hanya mengangkat bahu nya saja, Cya kembali menatap wajah nya di meja rias.


"Apakah aku harus memakai baju panjang." Gumam nya, Cya pun mengobrak-abrik isi koper nya hingga ia menemukan long dress tanpa lengan.


"Bagaimana dengan ini." Gumam Cya, namun percuma saja maha karya yang di buat oleh Elang di tangan nya tidak akan tertutupi.


"Baiklah seperti ini saja, terserah orang mau menatapku dengan aneh aku tidak peduli lagi sekarang." Ucap Cya, kini ia memakai long dress dan kardigan tangan panjang tak lupa juga Cya melilitkan sebuah kain di lehernya untuk menutupi karya-karya yang di buat Elang.


"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Elang yang bingung melihat penampilan istrinya.


"Menurut kamu apa yang sedang aku lakukan." Ucap Cya.


"El harusnya aku yang bertanya, sebenarnya kamu ini manusia atau vampir? Kenapa kau terlihat begitu ganas dan mengerikan." Ucap Cya, Elang mengerutkan keningnya menatap Cya.


"Apa maksudnya." Ucap Elang, Cya pun menunjukan karya-karya yang di buat Elang.


"Kenapa kamu membuat nya begitu banyak, tanpa memikirkan bagaimana aku menyembunyikan karya yang kau buat." Grutu Cya, Elang tersenyum tipis dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"CK, maaf kau begitu menggemaskan sampai aku lupa semuanya." Ucap Elang, Cya menganga mendengar perkataan Elang.


"Yaaakk, Erlangga Mahendra kau benar-benar keterlaluan." Ucap Cya, Elang tertawa lalu memakai pakaian nya tak lupa ia juga memakai jam tangan milik nya.


"Sudah jangan mengomel terus, ayok kita harus pulang sekarang." Ucap Elang, Cya pun menatap nanar koper nya yang terlihat berantakan.


"Kenapa lagi?" Tanya Elang, lelaki itu sudah memegang pergelangan tangan Cya.


"Kau duluan saja aku akan merapikan isi koper ku dulu." Ucap Cya, Elang tersenyum dan menangkup wajah cantik Cya.


"Tidak perlu aku akan meminta orang untuk merapikan nya." Ucap Elang.


"Tapi_" Ucap Cya.

__ADS_1


"Tidak ada tapi-tapi ayok." Ucap Elang, akhirnya Cya pun menurut saja, dan saat ia sampai di restoran dimana keluarga nya berkumpul wajah Cya tiba-tiba saja merona.


"Nes ada apa dengan Cya? Kenapa pakaian nya seperti itu." Ucap Nana.


"Benar kenapa Cya seperti orang yang sedang berdagang pakaian." Ucap Ike.


"Apakah setelah menikah Cya menjadi aneh." Kali ini Anes yang berkomentar.


"Maaf aku kesiangan." Ucap Cya.


"Tidak apa-apa, tapi kamu kenapa Cya apakah kamu sakit?" Ucap Anes.


"Tidak." Jawab Cya.


"Lalu?" Tanya Anes lagi, sementara Deandra, Joe dan Jordan yang paham hanya diam saja.


"Aku-aku hanya merasa kedinginan saja kak." Ucap Cya, Anes, Ike dan Nana pun saling memandang satu sama lain.


"Kedinginan? Nes kamu merasa dingin?" Tanya Nana, Ike dan Anes tertawa kini mereka tahu jika Cya sedang beralasan.


"Ah iya kami juga merasa kedinginan." Ucap Anes dan Ike.


"Tapi aku tidak nes." Ucap Nana, yaampun sepertinya Nana benar-benar harus di tenggelamkan di sungai Amazon.


Dari tadi hanya Nana yang selalu telat paham, Ike dan Anes kadang ingin sekali tertawa keras untuk menertawakan kelemotan Nana.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Happy reading 🤗😉 jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😊


__ADS_2