
Satu Minggu berlalu pagi ini Deandra pergi ke kantor nya lagi-lagi lelaki itu tidak melihat keberadaan Joe, Dean melihat Jordan yang baru memasuki gedung perusahaan.
"Dimana Joe?" Tanya Deandra, Jordan mengangkat bahu nya mana ia tahu dimana keberadaan lelaki itu.
"Mana saya tahu." Jawab Jordan, Deandra kembali berjalan menuju ruang kerja nya ia menghubungi Joe namun tak di jawab oleh Joe.
"Kenapa?" Tanya Jordan.
"Tidak apa-apa, siapkan berkas-berkas untuk meeting pagi hari ini." Ucap Deandra, Jordan mengangguk dan berjalan menuju ruang kerja nya.
Sementara itu di tempat lain terlihat Joe yang sedang duduk berhadapan dengan Intan, wanita itu menatap Joe dengan sendu.
"Kenapa kau menjauh dariku?" Tanya Intan.
"Apakah kita dekat? Saya tidak pernah menjauh karena dari awal kita memang tidak dekat." Jawab Joe.
"Joe come on apa kamu tidak bisa menerima saya hmmm." Ucap Intan, Joe menggelengkan kepalanya menatap Intan.
"Saya tahu anda cantik dan baik nona, tapi saya memiliki alasan kuat kenapa saya tidak menginginkan anda." Ucap Joe.
"Apa kenapa kamu tidak ingin mencobanya dengan saya?" Tanya Intan lagi.
"CK, wanita di dunia ini banyak bukankah wanita lebih banyak dari pada laki-laki. Dan itu alasannya karena saya tidak ingin menikah atau menjalin hubungan dengan orang yang pernah menyukai sahabat saya, jadi saya pikir lebih baik saya mencari yang lain bukan." Ucap Joe, Intan menelan saliva nya apakah Dean melarang Joe untuk berhubungan dengan Intan pikir nya.
"Apakah Deandra_" Ucapan Intan terhenti.
'Tidak ini tidak ada hubungannya dengan tuan ataupun nona muda, saya dan Jordan memang sudah memiliki prinsip jika kami tidak akan menikah dengan wanita yang pernah dekat dengan salah satu sahabat kami." Ucap Joe.
"T_tapi Joe." Lirih Intan, Joe tersenyum tipis dan melihat jam yang melingkar di tangan nya.
"Ini sudah siang kalau begitu saya permisi dulu nona." Ucap Joe, Intan mengangguk dan menatap nanar kepergian Joe.
Wanita itu menghela nafasnya dan menundukkan kepalanya, kenapa ia harus kehilangan segalanya sekarang.
Dan di kediaman Anes terlihat Cya yang sedang menggendong baby Alden, Cya menatap Anes yang sedang memakaikan baju kepada baby Alexa.
"Kak." Panggil Cya.
"Hmmm." Sahut Anes.
"Cya juga pengen punya baby." Ceplos nya membuat Anes menoleh.
"Apa?" Ucap Anes.
"Cya ingin punya baby kak kayaknya lucu." Ucap Cya, ia menimang tubuh mungil Alden.
__ADS_1
"Hah,Cya jangan aneh-aneh ya sekolah kamu saja belum selesai sudah mau punya baby." Ucap Anes, lihatlah wanita itu mengoceh layaknya mami Cya.
"CK, memangnya kenapa si." Ucapnya, tak lama kemudian Ike muncul dan mengambil tubuh mungil Alden dari gendongan Cya.
"Nona kemarikan sebaiknya nona segera pergi ke sekolah." Ucap Ike, Cya menghela nafasnya dan menatap Anes.
"Kemari." Ucap Anes merentangkan kedua tangannya, karena baby Alexa sudah berada di gendongan suster Lia.
"Kak." Lirih nya manja.
"Anak gadis gak boleh manyun dong nanti cantik nya hilang hmmm." Ucap Anes merapikan anak rambut Cya.
"Baiklah aku akan selalu tersenyum." Ujar nya, Anes tertawa kecil dan mengecup kedua pipi Cya.
"Semangat sekolah nya oke." Ucap Anes, Cya menganggap dan tersenyum tipis kepada kakak nya itu.
"Siap boss." Ujar nya, Cya pun pamit untuk pergi ke sekolah.
...
Siang hari Anes menitipkan baby twins kepada Ike dan suster di rumah karena ia akan pergi kerumah mama bersama dengan Nana, satu lagi keadaan Anes sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.
Sesampainya di rumah mama Anes melihat sang mama yang sedang duduk di taman dengan Liza yang duduk di sebuah kursi roda, Nana memegang tangan Anes dan hal itu membuat Anes tersenyum tipis kepada Nana.
"Nona." Lirih Nana.
"Anes." Panggil mama yang menyadari kehadiran orang lain.
"Ma." Balas Anes, Liza menoleh menatap Anes dengan sinis.
"Bagaimana kabar kamu hmmm." Ucap mama mengecupi wajah Anes.
"Kabar Anes baik ma, emmm Anes mau bicara dengan mama." Ujar nya, mama mengangguk dan menatap sendu Liza.
"Mama kedalam dulu ya za kamu tunggu disini sebentar." Ucap mama.
"Hmmmm." Balas Liza.
Dan disinilah mama dan Anes berada di ruang keluarga rumah itu, Anes menatap sekeliling dan tidak ada yang berubah di rumah itu.
"Apa yang ingin kamu bicarakan dengan mama nak?" Tanya mama, Anes menatap mama sendu dan menggenggam tangan mama.
"Ma Liza hanya di bebaskan sementara kan?" Tanya Anes, mama terdiam menatap Anes.
"Mama tidak tahu nes melihat keadaan nya membuat mama tidak tega." Lirih mama.
__ADS_1
"Ma jujur Anes belum bisa memaafkan semua sikap Liza terhadap Anes maupun Kenzie, mama lupa jika Liza dan teman-teman nya adalah penyebab dari kepergian Kenzie." Ucap Anes.
"Ya mama ingat sayang dan mama tidak akan pernah melupakan itu." Ucap mama.
"Dan sekarang yang Anes takutkan Liza akan melukai anak-anak Anes dan Cya, karena merekalah yang menjadi sumber kebahagiaan Anes saat ini." Ucap Anes, mama menangkup wajah cantik Anes.
"Mama janji kamu tidak akan kehilangan satu dari mereka, kehilangan Kenzie sudah cukup untuk mama nes." Ucap mama, Anes mengangguk mengiyakan perkataan mama.
"Anes hanya ingin mama berhati-hati Anes harap Liza tidak akan melukai mama, karena jika dia berani menyentuh mama maka Anes tidak akan pernah tinggal diam." Ujar nya, mama tersenyum manis kepada Anes.
"Mama tidak salah menikahkan kamu dengan Deandra, karena kamu memberikan dampak positif kepada keluarga kami. Kamu juga mau menerima keluarga kami dengan baik, bahkan kamu mau mengurus Cya hingga gadis cerewet itu tinggal di rumah kamu." Ucap mama, Anes tertawa kecil mendengar perkataan mama.
"Apapun akan Anes lakukan jika itu untuk keluarga Anes dan keluarga Dean ma." Ucap Anes, setelah berbincang Anes keluar lebih dulu karena mama akan membuat jus untuk Liza.
"Wow Liza kau memeluk anakmu dengan sangat lembut." Ucap Anes, wanita itu teringat perkataan Kenzie yang mengatakan jika mami tidak pernah memeluk Ken seperti tante memeluk Kenzie.
Namun kini Anes melihat jika Liza menyayangi anak itu, cih Anes ingin sekali membawa Liza ketepi kurang dan mendorong wanita itu kedalamnya.
"Tentu saja ini anakku, apakah kau masih belum memiliki anak Aneska." Cibir Liza yang tidak tahu jika Anes sudah memiliki anak.
"Bukan urusanmu, jika aku memiliki anak aku akan bersikap adil dan tidak akan seperti kamu." Ucap Anes mulai menggebu-gebu.
"Apa maksudmu?" Tanya Liza.
"Pikir saja sendiri, dulu kau begitu membenci Kenzie padahal dia sangat menyayangi kamu. Dan bo*oh nya kamu malah menelantarkan dia, kau adalah wanita ibl*s Liza bahkan kau membiarkan para antek-antekmu melukai Kenzie sampai dia meninggal." Ucap Anes, mata wanita itu memerah menahan amarah dan tangis.
"Cih bukankah itu bagus dia hanya bisa membuat orang-orang kerepotan." Cibir Liza.
"CK, aku tidak akan membebaskan kamu begitu saja. Anak ini apakah aku perlu merebutnya dari kamu, setelah dewasa akan aku beritahu seperti apa ibu yang sudah melahirkan dia." Bisik Anes, Liza menelan saliva nya dan saat mama datang Anes tersenyum manis seakan semua baik-baik saja.
"Ma Anes pulang dulu." Ucap Anes, mama mengangguk dan tersenyum manis.
Nana terdiam Anes benar-benar pintar berakting, tapi itu bagus untuk merusak mental Liza.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Happy reading 🤗😉 jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😊