Cinta Tuan Muda

Cinta Tuan Muda
Epson 94


__ADS_3

Keesokan harinya Kenzie berlari menghampiri nyonya Gavriel, bocah laki-laki itu melompat kedalam pelukan Oma nya.


"Oma." Panggil Kenzie.


"Ada apa sayang?" Tanya nyonya Gavriel.


"Semalam aku mendengar om marah kepada mami, mami nakal lagi ya oma, mami pasti membuat om kesal lagi." Ucap Kenzie, nyonya Gavriel tersenyum manis kepada Kenzie.


"Enggak kok mami nya Ken gak nakal, mami juga baik. Ken tidak perlu memikirkan itu, untuk sekarang sebaiknya Ken jangan banyak berpikir apapun itu termasuk tentang mami oke." Ucap nyonya Gavriel, Kenzie mengangguk dan menatap Oma nya.


"Oma selama Oma tidak ada mami juga tidak pernah pulang, selama ini hanya Tante dan suster yang menjaga Ken dengan baik. Tante juga selalu memarahi om jika om nakal kepada Kenzie, Tante selalu mengatakan agar om tidak membuat Ken kesal." Celoteh nya lagi.


"Benarkah, apa sebaik itu Tante kepada Ken?" Tanya nyonya Gavriel.


"Hu'um Tante sangat baik, saat tante mengantar Ken ke sekolah ada ibu murid yang mengatakan jika mami tidak pernah mau mengantar Ken ke sekolah. Dan Tante mengatakan Ken sudah seperti anak bagi Tante dan om, apakah Tante sangat sayang kepada Ken?" Ujar nya, nyonya Gavriel mengangguk dan menangkup wajah tampan Kenzie.


"Jika seperti itu berarti Tante sangat sayang kepada Ken, jadi Ken harus menurut dan tidak boleh nakal." Ucap nyonya Gavriel.


"Ken sayang Tante karena Tante sudah baik kepada Ken, tapi kenapa mami tidak pernah baik kepada Ken? Apakah mami membenci Ken?" Tanya nya, mata bulat Ken menatap nyonya Gavriel dengan polos.


"Enggak ah mami sayang kok kepada Ken, mungkin mami sibuk mangkanya tidak bisa menjaga Ken." Ucap nyonya Gavriel.


"Tante juga sibuk kok, tapi Tante selalu bisa menemui Ken dan mengajak Ken bermain." Ujar nya, nyonya Gavriel menatap kasihan kepada bocah kecil itu.


Sore hari nyonya Gavriel memutuskan untuk menemui Liza yang sedang berdiam di kamar nya, wanita tua itu langsung masuk ke kamar Liza tanpa menutup pintu.


Liza cukup kesal karenanya Gavriel masuk begitu saja, Liza menatap wanita yang ia sebut mama itu dengan datar.


"Ada apa mama kesini?" Tanya nya, nyonya Gavriel berdiri di hadapan Liza.


"Mau sampai kapan kamu mendiamkan Kenzie seperti itu, kamu pikir jadi orang tua hanya untuk mengandung dan melahirkan saja?" Ucap nyonya Gavriel.


"Ma aku sudah mengatakan jika aku tidak menginginkan dia, tapi mama, papa dan Deandra yang memaksa aku untuk melahirkan nya." Ucap Liza.


"Liza harusnya kamu bersyukur memiliki anak seperti Kenzie, selain tampan Kenzie juga tumbuh menjadi anak yang baik dan cerdas." Ucap nyonya Gavriel.

__ADS_1


"Ma bagaimana aku bisa baik kepada anak yang tidak aku inginkan." Ucap Liza.


"Kamu pikir Kenzie mau terlahir dari rahim kamu? Semua anak tidak bisa memilih dari rahim siapa dia terlahir, tapi kamu sebagai seorang ibu harus nya berpikir jika dia yang terlahir dari rahim kamu itu sebuah anugerah yang diberikan Tuhan untuk kamu." Ucap nyonya Gavriel.


"Ma aku membencinya aku membenci ayah Kenzie, mama harus mengerti perasaan aku." Ucap Liza.


"Tapi Kenzie tidak bersalah Liza, Kenzie ada karena kesalahan kamu dengan laki-laki itu. Bahkan Kenzie tidak tahu siapa papi nya, asal kamu tahu Kenzie bisa merasakan kasih sayang seorang ibu semenjak Anes tinggal dirumah ini." Ucap mama, Liza mendecih lagi-lagi Anes yang dibanggakan.


"Yasudah kalau begitu suruh saja Anes mengadopsi Kenzie." Ucap Liza, membuat mama emosi.


Plaaakkk.... Mama men*mp*r pipi mulus Liza dan menatap Liza dengan kecewa, Liza memegang pipinya dan menatap mama.


"Jaga ucapan kamu, jika tahu kelakuan kamu akan seperti ini aku tidak akan mau merawat kamu. Kenzie jauh lebih baik dari pada kamu dan papi nya, biarkan saja Anes dan Deandra yang merawat Kenzie. Dari pada Kenzie harus tinggal bersama dengan ibu yang tidak bertanggung jawab seperti kamu." Ucap nyonya Gavriel.


"Ma cukup membandingkan aku dengan wanita si*lan itu." Teriak Liza.


"Kamu yang si*lan, setidaknya jika kamu tidak bisa memberikan kebahagiaan kepada putra kamu. Harusnya kamu bisa bersikap sedikit baik kepada Kenzie, bagaimanapun juga dia adalah darah daging kamu anak yang kamu lahirkan Liza." Ucap nyonya Gavriel, habis sudah Liza dimarahi. Sudah oleh Deandra, lalu tuan Gavriel dan kini Liza di marahi oleh nyonya Gavriel.


"Mama berubah, dulu mama tidak pernah berani melukai aku." Lirih nya.


"Ma yaampun ada apa, kenapa mama teriak-teriak." Ucap Anes menenangkan mama.


"Tidak apa-apa sayang, sudah kita pergi saja tidak ada gunanya juga menasehati orang yang sudah lupa dengan sebuah kebaikan." Ucap nyonya Gavriel, Anes menatap Liza dengan datar.


"Yasudah ayok kita keluar ma." Ucap Anes, saat nyonya Gavriel dan Anes akan pergi tiba-tiba saja Liza bersuara.


"Puas kamu hah, puas kamu sudah merebut semua yang saya miliki." Ucap Liza, Anes membalikkan tubuhnya menatap Liza.


"Saya tidak pernah merebut milik kamu." Ucap Anes.


"Bohong, kamu sudah merebut Dean, mama dan papa. Sekarang kamu masih mengatakan jika kamu tidak merebut milikku." Ujar nya, Anes mengernyit menatap Liza.


"Dean suami saya, tapi apakah sebelum saya menikah dengan Dean dia menganggap kehadiran kamu di dalam hidupnya?" Tanya Anes, perkataan Anes lembut tapi menusuk.


"Deandra adalah adik saya dan kamu sudah merebut nya, bahkan kamu merebut perhatian mama dan papa." Teriak Liza.

__ADS_1


"Mama dan papa mertua saya jika mereka menyukai dan menyayangi saya itu karena saya tulus menerima putranya, selain itu juga saya tulus menyayangi mereka." Ucap Anes, Liza mendekati Anes.


"Saya janji saya akan merebut semua yang kamu miliki Aneska." Ucap Liza, Anes tersenyum tipis membuat mama khawatir jika Anes akan sakit hati dengan perkataan Liza.


"Lakukan saja, tapi sebelum itu saya akan lebih dulu membuat kamu terpuruk dan kehilangan segalanya termasuk fasilitas yang kamu gunakan saat ini." Ucap Anes tersenyum manis, mama ikut tersenyum melihat keberanian Anes.


"Wanita licik kamu ya, lihat saja saya akan mengh*ncurkan kamu." Teriak nya.


"Lakukan jika kamu mampu." Balas Anes, Liza dibuat emosi tingkat dewa oleh Anes.


Selama ini Anes diam hanya karena ia masih menghormati mama, tapi kini Anes melihat sepertinya mama sudah benar-benar kecewa kepada Liza.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Happy reading 🤗😉 jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😊

__ADS_1


__ADS_2