
Dua hari berlalu hari ini Anes akan pergi ke kantor untuk mengantar beberapa berkas penting kepada Axel, Anes berjalan menuruni anak tangga dengan penampilan nya yang sudah rapi.
"Kamu mau kemana?" Tanya Dean, saat Anes sudah tiba di rumah makan.
"Aku akan pergi ke kantor untuk mengantar beberapa berkas." Jawab Anes.
"Saya antar." Ucap Deandra.
"Enggak perlu aku bisa pergi sendiri." Ucap Anes.
"Gak pokoknya harus saya yang antar kamu, karena setelah itu kamu harus ikut bersama saya ke kantor." Ucap Deandra, Anes mengernyit heran untuk apa Dean selalu membawa Anes ke kantor nya.
"Untuk apa aku selalu datang ke kantor kamu si Dean, kalau karyawan kamu protes nanti gimana." Ucap Anes, Deandra menatap Anes dengan intens.
"Ngapain protes, saya bos nya mereka tidak ada hak untuk protes bersama siapa saya di kantor." Ucap Deandra, Ike yang mendengar perkataan Dean tersenyum.
"Sudah nona ikut saja, siapa tahu tuan muda takut ada laki-laki yang mendekati nona." Ucap Ike, membuat Dean menatap nya dengan tajam.
"Nah benih-benih apa ke?" Ucap suster.
"Ah mbak sok-sokan gak tahu, ya benih-benih cinta loh mbak." Ucap Ike, Kenzie dan suster tertawa kecil mendengar perkataan Ike.
"Ike kamu terlalu banyak bicara." Ucap Liza.
"Ike baru buka suara loh nona, sudah dibilang banyak bicara saja." Ucap Ike, Anes menggelengkan kepalanya.
Setelah selesai sarapan Dean dan Anes memutuskan untuk pergi, di dalam mobil Dean mencuri-curi pandang dari Anes.
(Maafkan aku nes jika ku terlalu egois, aku tidak ingin kamu marah dan pergi maka dari itu aku mencoba untuk membuat jarak antara kamu dan Intan. Aku akan menyelesaikan urusan aku dengan intan, dan setelah itu aku akan merasa tenang karena kamu tidak akan pergi dari aku.) Batin Deandra, Anes tidak sengaja menoleh menatap Deandra.
"Kenapa kok liatin aku kaya gitu?" Tanya Deandra.
"Siapa yang liatin kamu si." Ucap Dean.
"Kamu lah siapa lagi." Ucap Anes, ia suka sekali menggoda Deandra.
"Jangan kepedean jadi orang." Ucap Deandra.
"Dean ngaku aja si kalau kamu baru sadar kan memiliki istri cantik dan manis seperti aku." Ucap Anes bangga, Deandra menelan saliva nya ia menahan diri agar tidak tersenyum.
"Cih, masih banyak wanita yang lebih cantik dari kamu." Ucap Dean.
"Tapi belum tentu mereka mau kepada kamu, seperti aku yang tahan menghadapi sikap kamu." Ucap Anes, Deandra mengernyit dan menoleh menatap Anes.
__ADS_1
"Memangnya sikap saya kenapa?" Tanya Deandra.
"Ya kamu gak sadar kalau sikap kamu bisa membuat orang lain emosi." Ucap Anes, Deandra menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
"Kalau sikap saya selalu membuat emosi kenapa kamu bisa tahan menghadapi saya, apa kamu sudah mencintai saya." Ucap Deandra, lelaki itu mendekatkan wajahnya kepada wajah Anes.
"Apa aku gak salah dengar? Kamu mengatakan aku mencintai kamu, hey tidakkah terbalik disini jelas terlihat kalau kamu mencintai aku." Ucap Anes, Deandra menyentil kening Anes.
Pletakk...
"Ashhh, sakit." Desis Anes mengelus kening nya.
"Mangkanya jadi orang jangan kepedean." Ucap Deandra, Anes membenarkan duduk nya dan tersenyum.
"Bayangkan jika kamu sudah jatuh cinta kepada aku, lalu aku pergi dari kehidupan kamu." Ucap Anes, membuat Dean yang semula akan kembali melajukan mobilnya menoleh menatap Anes.
"Kenapa kamu berbicara seperti itu?" Tanya Deandra, Anes tersenyum tipis menatap manik mata Deandra.
"Kita tidak tahu sampai kapan aku bisa bertahan hidup dengan laki-laki yang tidak mencintai aku, tujuan menikah itu apa si Dean? Bukankah kita harus saling melengkapi, tapi aku dan kamu seperti tidak bisa seperti itu." Ucap Anes, wanita itu masih tersenyum manis.
"Cih, kamu tidak akan pergi ke manapun." Ucap Deandra, lelaki itu melajukan kembali mobilnya.
"Percaya diri sekali kamu, bagaimana jika pulang dari kantor aku memaksa untuk kembali ke rumah Daddy." Ucap Anes, Deandra tersenyum tipis.
"Silahkan saja kalau bisa." Ucap Deandra santai, Anes tiba-tiba menelan saliva nya kenapa percakapan mereka menjadi saling mengancam seperti ini.
"Jangan sebut saya Deandra kalau saya tidak bisa menahan kamu di rumah." Ucap Dean, Anes menoleh dan menatap Deandra dengan kesal.
"Mengalah sedikit kenapa si Dean, kayaknya susah banget kamu ngalah sama aku." Ucap Anes, Dean menutup mulut Anes dengan tangan nya.
"Kamu istri saya dan saya tidak akan pernah membiarkan kamu pergi tanpa saya." Ucap Deandra, Anes menganga mendengar perkataan Dean.
Wanita itu semakin gencar menggoda Deandra, ia ingin tahu seberapa kuat Dean menahan nya untuk pulang. Karena kata Aleta dan Adelle lelaki tidak akan membiarkan kamu pergi, jika dia sudah mencintai kamu.
"Bukankah dulu kamu ingin aku pergi dari rumah?" Tanya Anes, Dean menoleh menatap Anes.
"Itu dulu." Ucap Deandra.
"Iya itu dulu, dulu kamu tidak mencintai aku apakah sekarang kamu sudah mencintai aku mangkanya kamu melarang aku untuk pergi." Ucap Anes, Dean terlihat sedikit gugup mendengar perkataan Anes.
"Kita sudah sampai." Ucap Deandra, Anes menoleh dan menatap sekitar.
"Oiya, yasudah aku turun dulu." Ucap Anes.
__ADS_1
"Aneska saya sudah bilang saya tidak akan membiarkan kamu pergi tanpa saya." Ucap Deandra.
"Hanya kedalam sebentar saja Dean." Ucap Anes.
"Saya ikut." Ucap Deandra, Anes menatap Dean yang keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Anes.
"Kamu kesambet angin darimana Dean?" Tanya Anes, Dean tidak menjawab dan malah mencubit hidung Anes.
"Aaakhhh sakit ih." Pekik Anes.
"Ngarang si kamu, sudah cepat masuk." Ucap Deandra, Anes pun berjalan lebih dulu dan Dean mengekori Anes dari belakang.
"Selamat pagi nona." Sapa para karyawan, Dean menatap keramahan Anes kepada para karyawan nya.
"Pagi, oiya saya mau tanya persiapan pemotretan untuk Intan sudah kalian siapkan?" Ucap Anes, mendengar nama Intan tatapan Deandra terlihat lebih waspada.
"Sudah nona, Intan akan datang sebentar lagi." Ucap karyawan itu.
"Oke, kalau begitu saya permisi untuk ke ruangan Axel dulu." Ucap Anes.
"Baik nona." Jawab mereka, para karyawan menatap wajah tampan Deandra.
"Itu suaminya nona Anes makin ganteng woy." Ucap karyawan A.
"Lah gimana gak ganteng si orang istrinya saja seorang Aneska, pasti lah tuan muda memperhatikan penampilan nya agar nona Anes tidak melirik laki-laki lain." Ucap karyawan B.
"Beruntung nya tuan muda mendapatkan nona Anes." Ucap karyawan A.
"Benar sekali, devinisi nona Anes bisa mendapatkan laki-laki yang lebih dari tuan muda. Tapi tuan muda belum tentu mendapatkan pasangan yang baik seperti nona Anes." Ucap karyawan B.
"Nah kan, mungkin yang cantik banyak tapi yang baik dan ramah seperti nona Anes belum tentu." Ucap si A, setelah berbincang seperti itu merekapun memutuskan untuk kembali bekerja.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Happy reading 🤗😉 jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😊