Cinta Tuan Muda

Cinta Tuan Muda
Epson 93


__ADS_3

Setelah kepergian Anes dan Deandra papa menatap Liza yang terdiam, papa memajukan tubuhnya dan menggelengkan kepalanya atas kelakuan Liza.


"Tidak bisakah kamu menghargai putra dan menantu saya?" Ucap papa tiba-tiba, membuat Liza menatap papa.


"Pa." Lirih Liza.


"Selama ini putra saya membiarkan kamu hidup dengan apa yang kamu inginkan, begitupun dengan saya dan istri saya yang selalu memberikan kebebasan untuk kamu apa itu tidak cukup? Sampai sekarang kamu mengganggu kenyamanan menantu saya." Ucap papa, Liza menatap papa dengan tidak percaya.


"Pa apa maksud papa?" Tanya Liza.


"Jadilah tamu yang bijak, kamu disini hanya menumpang di rumah saya. Tapi kamu sama sekali tidak pernah menghargai saya, istri saya, putra saya dan menantu saya selaku tuan rumah disini." Ucap tuan Gavriel, perkataan tuan Gavriel membuat hati Liza sakit.


"Maksud papa apa, aku bukan lagi putri papa begitu." Ucap Liza.


"Liza saya tidak memiliki putri pembangkang seperti kamu, kamu lihat Deandra meskipun dia laki-laki tapi dia bisa menuruti saya dan istri saya. Tidak seperti kamu yang liar dan keras kepala." Ucap papa, Liza menangis mendengar perkataan papa.


"Pa sudah kasihan Liza." Ucap mama.


"Gak bisa terus-terusan dibiarin ma, papa kira dengan kita merawat dan mengurus Kenzie dengan baik akan membuat dia berpikir untuk menjadi lebih baik lagi. Ternyata papa salah, dia justru malah semakin seenaknya seperti wanita yang tidak memiliki h*rga d*ri." Ucap papa, setelah mengatakan itu papa pergi dari ruang makan.


Sementara mama hanya bisa menghela nafasnya, semua orang sudah tidak bernafsu untuk makan. Mama ikut pergi ke kamar nya, kini hanya ada Liza di ruang makan.


Sebelum pergi mama meminta Ike untuk merapikan meja makan, Liza menatap Ike yang merapikan meja makan dengan tenang dan tanpa bicara sepatah katapun.


Tepat pukul 10:00 malam hari Deandra keluar dari kamar nya, Dean berhak menuju ruang kerja nya. Papa yang melihat putranya keluar dari kamar pun memutuskan untuk mengikuti Deandra, papa merasa tidak enak kepada Dean dan Anes.


"De boleh papa masuk." Ucap papa, Deandra yang tahu papa ingin membicarakan sesuatu pun mengijinkan nya.


"Masuk saja pa." Ucap Deandra, bapak masuk dan duduk di sofa ruang kerja putranya.


Papa lelaki itu menatap wajah Deandra yang kini duduk di sampingnya, papa tahu jika Dean sedang merasa kesal.


"Maafkan sikap Liza yang tadi." Ucap papa, Dean mendecih mendengar perkataan papa nya.


"Papa kebiasaan selalu saja membela wanita itu." Cibir Deandra.


"Bukan seperti itu maksud papa de, kamu tahu sendiri bagaimana Liza kan." Ucap papa, papa sengaja tidak memberi tahu Deandra jika dia sudah memperingati Liza.

__ADS_1


"Aku tidak mau membahas nya pa." Ucap Deandra.


"Baik jadi apa mau kamu sekarang?" Tanya papa.


"Aku dan Anes akan keluar dari rumah, aku tidak bisa membiarkan Anes tinggal satu rumah dengan Liza. Papa lihat bagaimana wanita itu berbicara tanpa memikirkan prasaan Anes." Ucap Deandra, papa tersenyum tipis menatap putranya.


"Kamu takut Anes sakit hati dan kecewa?" Tanya papa.


"Tentu saja, selama ini aku sudah banyak menyakiti dan mengecewakan Anes. Aku tidak mau jika ada orang lain yang ikut menyakiti nya." Ucap Deandra, papa mengangguk tapi papa merasa heran tidak biasanya Deandra lepas kendali seperti itu.


"Satu hal yang ingin papa tanyakan kepada kamu." Ucap papa.


"Katakan apa yang ingin papa katakan?" Tanya Deandra.


"Apakah kamu sedang ada masalah? Tidak seperti biasanya kamu lepas kendali seperti tadi." Ucap papa, Deandra menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Tidak aku tidak ada masalah apapun." Ujar nya.


"Lalu kenapa kamu sampai emosi seperti itu de, biasanya kamu selalu pandai dalam mengendalikan emosi kamu." Ucap papa, Deandra terdiam bagaimana bisa ia mengatakan jika dirinya sedang sensitif karena Anes datang bulan.


Jika Dean mengatakan yang sebenarnya bisa-bisa ia ditertawakan oleh papa, Dean hanya bisa menghela nafasnya dan tersenyum tipis.


"Baiklah, jadi kapan kalian akan pindah?" Tanya papa.


"Setelah renovasi rumah selesai kami akan segera pindah." Ucap Deandra.


"Tapi bagaimana dengan mama dan Kenzie Dean, mereka sangat menyayangi istri kamu." Ucap papa.


"Kenzie bisa main kerumah aku dan Anes kapanpun dia mau pa, tapi aku memag tidak bisa membawa Kenzie. Aku takut Liza akan menjadikan Ken sebagai alat agar dia bisa keluar masuk di rumahku." Ucap Deandra, papa mengangguk dan papa setuju akan hal itu.


"Baiklah tapi sebelum itu kamu harus membicarakan ini dengan mama terlebih dahulu." Ucap papa, Deandra mengangguk.


Setelah selesai berbincang Deandra kembali ke kamar nya, ia menelan saliva nya saat melihat Anes yang tidur dengan posisi dress tidur yang ia kenakan sedikit menyikap ke atas.


"Yaampun cobaan apalagi ini, kenapa aku merasa sangat tersakiti saat melihat istriku yang terlelap dengan keadaan seperti itu." Gumam Deandra, percayalah jika Joe dan Jordan ada bersamanya saat ini. Sudah dapat di pastikan jika kedua sahabatnya itu akan menertawakan Deandra dengan puas, tanpa mempedulikan prasaan Dean saat ini.


Anes yang menyadari jika Dean tidak ada di samping nya pun terbangun, ia menggeliat kecil dan menatap suaminya yang tertidur pulas di sofa.

__ADS_1


Anes mengernyit heran dan bangun dari tidurnya, Anes berjalan dan duduk di samping Deandra. Dean terkejut saat ada seseorang yang mengusap wajah nya dengan lembut.


"Kenapa?" Tanya Anes, saat melihat Dean yang sudah membuka matanya.


"Apa?" Ucap Dean balik bertanya.


"Kenapa tidur disini." Ucap Anes, Deandra menggelengkan kepalanya.


"Tidak apa-apa." Ucap Deandra, Anes menangkup wajah tampan Deandra dan menc*um b*b*r Deandra. Anes yang berniat untuk mengobati rasa rindu suaminya, justru malah membuat Deandra merasa pening.


Dean melepaskan lum*t*n Anes dan langsung terduduk, Dean memijat pelipisnya yang terasa pusing.


"Sayang kamu tidur lagi ya, aku ingin ke kamar mandi." Ucap Deandra.


"Kenapa?" Tanya Anes lagi.


"I_ini aku mules ya, kamu istirahat saja. Nanti aku akan menyusul." Ucap Dean, lelaki itu langsung berlari ke kamar mandi.


Deandra mengatur nafas nya yang memburu, Anes benar-benar meresahkan. Dia kira dengan cara seperti itu akan membuat Deandra tenang, itu malah membuat Dean semakin ketar-ketir.


"Sudahlah Dean mari kita bers*lo." Gumam nya, Dean tidak bisa apa-apa dan hanya bisa meratapi nasibnya saat ini.


Ternyata Dean sudah benar-benar tidak bisa jauh dengan Anes, apalagi setelah ia merasakan sesuatu asing yang membuat nya selalu bahagia. Dean semakin lengket dengan Anes, bahkan Anes datang bulan saja sampai mempengaruhi fikiran seorang Deandra Gavriel.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Happy reading 🤗😉 jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😊


__ADS_2