Cinta Tuan Muda

Cinta Tuan Muda
Epson 238


__ADS_3

Satu bulan berlalu setelah acara liburan bersama hari ini kehidupan keluarga Anes, Ike, dan Nana benar-benar berubah dan mereka merasa tak ada masalah sulit yang mereka hadapi saat ini.


Dan setelah satu bulan itu Cya yang tak kunjung pulang membuat Deandra geram dengan kesibukan adik sepupunya, begitupun Anes dan Alexa mereka tentu saja kesepian karena Lucya yang terlalu sibuk.


"Sayang bisakah kamu suruh Cya pulang, Alexa sudah marah-marah karena kakak nya tidak pulang." Ucap Anes.


"Kamu tahu tanpa kamu suruh aku sudah sering memberikan peringatan kepada gadis itu, tapi aku tahu Cya tetaplah Cya dia tidak akan mau pulang jika pekerjaan nya belum selesai." Ucap Deandra, Anes meletakan secangkir teh hangat di hadapan suaminya.


"Aku sudah sering mengatakan jangan biarkan dia bekerja tapi kamu tetap mengijinkan nya, Cya itu wanita kerja atau tidak juga nanti dia akan ikut bersama suaminya." Ucap Anes.


"Memangnya kakak mau menikah? Bukankah kakak selalu mengatakan tidak ingin tinggal jauh dari mommy." Ucap Alexa, Anes tertawa kecil mendengar perkataan putrinya.


"Tidak begitu cepat atau lambat kakak kamu itu harus menikah." Ucap Anes.


"Tidak menikah!" Sahut Cya tiba-tiba, wanita cantik itu berjalan dengan menyeret koper nya.


"Apa-apaan pulang-pulang bukannya ngucap salam malah bicara seperti itu." Ucap Anes, Cya menghela nafas nya.


"Berhenti membahas pernikahan lebih baik kita membahas kemana kita akan berlibur." Ujar nya, Deandra menggelengkan kepalanya.


"Naik dan bersihkan tubuh kamu." Ucap Deandra, Cya mendengus mendengar nya.


"Hmmm, baiklah baiklah." Ujar nya, Anes tertawa kecil melihat wajah kesal Cya.


"Kak tunggu aku." Pekik Alexa, gadis remaja yang tak kalah cantik itu mengejar Cya.


"Heboh sekali." Gumam Alden.


"Bukan Alexa jika tidak heboh." Balas Deandra, Alden mengangguk dan melipat kedua tangannya di dada.


...


Keesokan harinya di sebuah perusahaan mewah terlihat Deandra, Joe dan Jordan yang sedang duduk bersama di ruangan Dean.


"Bagaimana kerja sama dengan tuan X?" Tanya Deandra.


"Semuanya berjalan dengan baik Dean tidak ada masalah apapun." Jawab Jordan.


"Bagus kalau begitu." Balas Deandra, Joe dan Jordan mengangguk membenarkan perkataan Deandra.


"Oiya bagaimana dengan Cya apakah dia akan terus mengelola perusahaan peninggalan orang tuanya?" Ucap Joe.


"Iya kau tahu gadis nakal itu tidak bisa di larang, bahkan setelah satu bulan setelah kita berlibur dia baru bisa pulang. Padahal jika dia masih belum pulang juga aku ingin menyeret nya untuk pulang." Ucap Deandra.


"Jangan keterlaluan Dean kau g*la jika kau benar-benar menyeret nya." Ucap Jordan.


"Kenapa? Dia anak perempuan dan tentu saja Anes begitu cerewet karena khawatir dengan keadaan Cya." Ucap Deandra.


"Aku tahu pasti kamu selalu jadi korban nya kan, sabar Dean ini ujian." Kekeh Joe, Deandra hanya mendengus saja mendengar nya.

__ADS_1


"Kegagalan yang pernah dialami oleh Lucya sepertinya meninggalkan luka tersendiri untuk gadis itu, dan semuanya tidak akan mudah untuk di lewati Deandra." Ucap Jordan.


"Benar, biarkan saja Cya memilih jalan hidup nya." Ucap Joe.


"No Joe usia Cya sudah Sangat cukup untuk menikah." Ucap Deandra.


"I know Dean, tapi bagaimana mau menikah jika dia saja tidak bisa melakukan apapun tanpa Anes? Apa kau ingin Cya menikah dan membawa Anes bersamanya, lalu bagaimana dengan Alexa dan Alden?" Ucap Jordan, Deandra menggeleng tak percaya dengan Cya yang begitu manja kepada istrinya.


Sementara itu di kediaman Ike terlihat Ara yang terus menerus membuat adiknya kesal, Ike bahkan sampai mengelus dada nya agar lebih sabar dalam menghadapi kedua anaknya.


"Ara cukup." Ucap Ike, Ara terlihat menendang bola yang sedang dimainkan oleh adiknya.


"Kakak." Teriak sang adik.


"Ambil saja jika kau bisa." Ucap Ara.


"Aku berteriak karena aku tidak bisa mengambil nya." Teriak adik Ara.


"Oiya? Wah kau begitu payah sepertinya kau bukan anak papi karena papi tidak memiliki anak payah sepertimu." Ucap Ara.


"Kakak dengar aku anak papi aku tampan seperti papi kau tahu." Kesal adik Ara.


"Kau payah kau tahu." Cibir Ara lagi, adik Ara yang kesal melepas sendal nya dan melemparkan sendal itu kepada Ara.


"Awwhh." Desis Ara memegang kepalanya.


"Kau berani melemparku dengan sendal mu." Geram Ara, sementara Jake ya Jake Wijaya nama anak kedua Joe dan Ike.


"Aku tidak sengaja tapi aku memang berniat melempar kakak." Ucap Jake, Ike hanya bisa mengusap dada nya saja.


"Jake cukup kamu tidak sopan Ara kakak kamu, tidak seharusnya kamu seperti itu. Dan kamu Ara berhenti mengatakan jika Jake buka anak mami dan papi, karena pada dasarnya kalian anak-anak kami." Ucap Ike, Ara mendengus membuat Jake menatap Ara dengan wajah tengil nya.


"Cih menyebalkan." Kesal Ara, Jake menjulurkan lidahnya membuat Ara ingin sekali menenggelamkan adiknya di kolam.


Dan di kediaman Jordan terlihat Nana sedang mengikat rambut anak kedua nya, ya anak kedua Nana dan Jordan adalah seorang perempuan yang bernama Aluna Aditia.


"Mam kenapa kau mengikat rambut Luna seperti kambing?" Ceplos Ardan membuat mata adiknya berkaca-kaca.


"Enggak loh Abang jangan macam-macam deh." Ucap Nana.


"Loh aku bicara jujur apa adanya mom." Ucap Ardan.


"Mami aku tidak mau seperti kambing." Lirih Luna.


"Enggak mana ada kambing." Ucap Nana.


"Tapi Abang bilang rambut aku seperti kambing huaaaaaa." Tangis Aluna pun pecah, membuat Nana menggeram sementara Ardan tertawa puas.


"Ardan jangan buat mami memiliki dendam pribadi kepada kamu ya." Kesal Nana.

__ADS_1


"Loh tapi salah aku apa mom?" Ujar nya sok polos.


"Gak usah sok polos begitu, kamu benar-benar seperti papi kamu menyebalkan." Ucap Nana.


"Lah aku kan memang anaknya gimana si mom." Kekeh Ardan, Nana menggelengkan kepalanya menatap Ardan.


"Ardan cukup ya jangan buat mami emosi Ar." Kesal Nana.


"Mami ish gak mau nanti kaya kambing." Keluh Luna.


"Tidak seperti kambing Abang kamu bohong." Ucap Nana.


"Aaaaa tidak papi huaaaa." Tangis Luna pun pecah lagi.


"Iya ihh mami masa gitu kunciran Luna kaya kambing." Kekeh Ardan, Nana menggeram dan membuat Ardan lari sebelum sang mami berteriak.


"Ardan Aditia awas kamu ya mami laporin papi." Teriak Nana, suara Ardan tidak terdengar lagi hanya suara tawa saja yg terdengar oleh Nana.


"Sudah jangan dengarkan Abang kamu cantik seperti mami tidak seperti kambing." Ucap Nana, Luna pun bungkam dan memainkan jemari mungil nya membuat Nana gemas.


Ternyata memiliki anak perempuan benar-benar membuat nya sediki terhibur, tapi juga di bantu oleh kelakuan absurd Ardan anak sulung nya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Happy reading 🤗😉 jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😊


Dear readers maap karena aku ngilang seminggu, bukan tanpa alasan ko aku ngilang tapi karena emang kemarin-kemarin aku lagi sakit. Tadinya mau maksain nulis tapi ternyata gak bisa, bahkan yg terakhir aku up aja udah mulai gaenak badan sampe akhirnya bener-bener drop dan gabisa nulis sekali lagi maap karena membuat kalian menunggu 🙏


Btw aku masih belum nikah loh ya doain biar cepet😂

__ADS_1


__ADS_2