Cinta Tuan Muda

Cinta Tuan Muda
Epson 269


__ADS_3

Malam hari Cya, Alexa dan Alden berjalan menuruni anak tangga dan ketiganya berjalan menuju meja makan disana sudah ada Anes dan Deandra yang sedang menunggu mereka.


"Malam kak." Ucap Cya duduk di kursinya.


"Malam mom and dad." Ucap Alexa dan Alden.


"Malam sayang." Ucap Anes membalas ucapan Cya dan kedua anaknya.


Saat mereka tengah makan malam Dean membuka percakapan di sela-sela kegiatan makan nya, Dean menatap Cya yang makan dengan tenang.


"Bagaimana kedekatan kamu dengan Elang?" Ucap Deandra, Cya menatap wajah tampan kakak nya.


"Tidak perlu di khawatirkan kami baik-baik saja." Ucap Cya, Dean mengangguk pelan lalu kembali menatap Cya.


"Kau menyukainya?" Tanya Deandra, Cya meletakkan sendok dan garpu yang di pegang nya.


"Dia tampan, kaya, berasal dari keluarga terpandang pula jadi tidak ada alasan untuk aku tidak menyukainya. Tapi meskipun begitu sikap nya yang angkuh membuat ku geram, semua yang dia miliki menjadi tidak penting untukku." Ucap Cya, ia benar-benar tidak peduli siapa Elang yang ia inginkan lelaki yang lembut dan penyayang.


"Kau tidak menyukainya?" Tanya Anes, Cya hanya diam menatap Anes saja.


Sementara itu di kediaman Ike dan Joe Ara menatap kedua orangtuanya yang sedang makan dengan tenang, tatapan Ara membuat Ike dan Joe merasa sedikit terganggu.


"Kamu kenapa si Ra liatin mami dan papi seperti itu?" Ucap Ike, Ara memicingkan matanya, membuat Ike dan Joe semakin heran begitupun dengan Jake.


"Kumat deh kak Ara." Kesal Jake, yang merasa jika Ara merusak suasana makan malam nya.


"Mi ketika nanti aku dewasa_" Ucapan Ara terhenti karena Jake memotong perkataan nya.


"Kau memang sudah dewasa kak, apakah kakak merasa jika kakak ini masih anak-anak." Cibir Jake.


"Jake plis aku sedang tidak berbicara dengan mu." Kesal Ara.


"Loh kau berbicara di hadapan ku, berarti aku berhak untuk mengomentari setiap perkataan yang keluar dari mulut mu." Ucap Jake, Ara meremat jemari tangan nya Jake benar-benar menyebalkan.


"Tutup mulutmu dan jangan bicara lagi." Cetus Ara.


"Hey, kenapa kalian berdua malah bertengkar hmmm." Ucap Joe.


"Putramu menyebalkan Pi." Ucap Ara, Joe dan Ike menggelengkan kepalanya melihat putri dan putranya.


"Sudah Ara apa yang ingin kamu bicarakan." Ucap Ike, Ara menarik nafas nya dan menatap kembali kedua orangtuanya.


"Mom apakah kalian akan menjodohkan aku jika nanti aku tidak juga mengenalkan kekasih ku?" Tanya Ara, Joe dan Ike pun saling memandang mendengar perkataan putrinya.


"Kenapa kamu berpikir seperti itu?" Tanya Ike.

__ADS_1


"Tidak apa-apa hanya saja aku berpikir apakah semua orang tua akan melakukan itu, melihat Tante Anes menjodohkan kak Cya aku jadi berpikir seperti itu." Ucap Ara, Ike dan Joe tertawa kecil mendengar perkataan Ara.


"Sayang Tante Anes melakukan itu bukan tanpa alasan, mereka memiliki alasan yang kuat untuk menjodohkan kak Cya." Ucap Joe.


"Beri tahu aku alasan apa yang dimiliki Tante Anes?" Ucap Ara, Ike tersenyum dan menatap putri sulungnya.


"Tante Anes tidak ingin kak Cya salah dalam memilih pasangan, bukan sok tahu tapi memang kak Cya lebih sering di manfaatkan oleh laki-laki mami harap kau paham maksud mami." Ucap Ike.


"Maksudnya lelaki yang bersama kak Cya itu tidak ada yang tulus mangkanya Tante Anes menjodohkan kak Cya?" Ucap Ara, Ike mengangguk dan tersenyum manis kepada Ara.


"Benar sekali." Ucap Ike, Jake menatap Ara dengan sinis.


"Maka carilah lelaki yang tulus agar kakak tidak di jodohkan." Ucap Jake lalu pergi menuju kamar nya.


"Adik kurang asem." Grutu Ara, Joe dan Ike pun tertawa melihat nya.


Berbeda dengan di kediaman Deandra dan Joe, di kediaman Jordan justru terlihat sepasang suami istri yang tengah bergulat di atas tempat tidur.


Siapa kah mereka? Jangan di tanya kedua sejoli itu adalah Jordan dan Nana. Setelah selesai makan malam Jordan langsung mengajak Nana ke kamar dan siapa sangka jika Jordan langsung menerk*m istrinya.


"Sayang jangan di d*l*m nanti kalau Ardan memiliki adik lagi dia akan marah." Ucap Nana.


"CK, sayang kau lupa jika setelah ini kamu selalu meminum pil kontrasepsi." Ucap Jordan tertawa kecil, di tengah-tengah kegiatan nya.


"Ahh ya aku lupa honey." Ucap Nana, Jordan tertawa geli melihat wajah malu Nana.


"Maka bersiaplah menerima amukan kedua anakmu Ardan dan Aluna." Ucap Nana, Jordan mengangguk dengan senyum manis di wajah nya.


Ia paham betul bagaimana Ardan yang menolak memiliki adik lagi, dan Aluna yang begitu manja kepada istrinya oh tuhan kedua anaknya itu bagaikan saingan bagi dirinya.


"Mami." Teriakan Aluna membuyarkan kegiatan Jordan dan Nana.


"Sayang Aluna." Ucap Nana, Jordan menatap Nana agar tidak menjawab panggilan putrinya.


"Biarkan saja." Ucap Jordan.


"Mami aku ingin tidur dengan mami dan papi." Teriak Aluna lagi.


"Sayang bagaimana ini jika tidak di iyakan Aluna akan marah." Ucap Nana.


"Biarkan saja." Ucap Jordan memeluk tubuh istrinya.


*Mami." Teriak nya lagi sampai tiba-tiba seseorang menyentil kening nya.


"Berisik Aluna." Ucap Ardan, membuat Aluna menoleh menatap kakak nya.

__ADS_1


"Ish kakak sakit." Desis nya.


"Apa yang sedang kamu lakukan kenapa berteriak seperti itu." Ucap Ardan.


"Aku ingin tidur dengan mami dan papi." Ujar nya, Ardan memutar bola matanya malas.


"Berhenti manja Aluna kau itu sudah besar bukan lagi anak kecil, kembali ke kamar mu sekarang." Ucap Ardan.


"Tapi aku ingin mami dan papi." Kesal Aluna.


"Mereka sedang beristirahat jangan mengganggu mereka dengan tingkah manjamu." Tegas Ardan, melihat wajah serius Ardan Aluna pun mencebikan bibirnya lalu pergi ke kamar nya.


"Kau menyebalkan." Ucap Aluna.


"Kau anak manja yang lebih menyebalkan." Dengus Ardan, Aluna tidak menghiraukan perkataan kakak nya.


Dan Ardan menatap kepergian Aluna dengan wajah dingin nya, tolong dari siapa Ardan mewarisi wajah dingin itu?


"Maafkan aku Aluna aku hanya tidak ingin kamu selalu bergantung kepada mami dan papi, aku hanya ingin kamu mandiri dan tidak terus menerus manja." Gumam Ardan, dan setelah bergumam Ardan pun memutuskan untuk pergi ke kamar nya.


"Suara Aluna sudah tidak terdengar lagi." Ucap Nana.


"Mungkin di marahi oleh Ardan." Ucap Jordan.


"Bukankah Ardan sedang di luar?" Ucap Nana.


"Sayang mungkin saja Ardan sudah pulang dan mendengar teriakkan adiknya." Ucap Jordan, Nana mengangguk membenarkan perkataan suaminya.


Ya mungkin saja Ardan sudah pulang dan langsung menemui Ara yang sedang berteriak di depan pintu kamar nya, sudahlah yang terpenting putrinya tidak lagi berteriak.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Happy reading 🤗😉 jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😊


__ADS_2