Cinta Tuan Muda

Cinta Tuan Muda
Epson 161


__ADS_3

Setelah satu bulan berlalu saat ini Anes sedang berada di rumah, ia baru saja pulang dari rumah sakit beberapa hari yang lalu. Semakin hari kondisi Kenzie semakin memburuk Anes bahkan bingung harus bagaimana lagi, mama dan Dean memaksanya untuk pulang karena keadaan Anes yang tengah hamil wanita itu terlihat sangat kelelahan.


Saat Anes akan menuruni anak tangga ponselnya berdering, Anes menatap kontak si penelpon yang bertuliskan nama mama yang berarti itu adalah mama Deandra mama mertuanya.


*Panggilan telepon...*


Anes***: Hallo ma ada apa?


Mama: Hiks... nes bisa kamu kerumah sakit sekarang sayang, mama sudah menghubungi Deandra dan dia sedang dalam perjalanan menuju kesini.


Anes: Ma ada apa Kenzie baik-baik saja kan?


Mama: Nes sebaiknya kamu kesini dulu, mama akan memberitahu kamu setelah tiba disini nak.


Anes: Ba_baik ma Anes akan segera kesana.


Anes mematikan panggilan telepon dan langsung berlari kecil ke kamar nya untuk mengambil tas, Anes berjalan menuruni tangga dengan terburu-buru beruntung saat itu Nana sedang berada di rumah nya.


"Nona yaampun nona hati-hati anda bisa terjatuh." Ucap Nana, wanita itu masih saja memanggil Anes dengan sebutan nona.


"Antar aku na tolong antar aku ke rumah sakit." Ucap Anes.


"Iya nona tapi hati-hati anda sedang hamil." Ucap Nana.


"Nona ada apa?" Tanya Ike, suster ikut menghampiri Ike dan menatap nona nya yang terlihat panik.


"Ke Kenzie akan baik-baik saja kan." Lirih Anes, akhirnya air mata Anes terjun juga dari kelopak matanya.


"N_nona apa maksudnya." Tanya Ike, wanita itu ikut khawatir Anes menggelengkan kepalanya dan menarik tangan Nana untuk mengantar nya ke rumah sakit.


Dalam perjalanan Nana sesekali menoleh ke arah Anes, wanita itu tak henti-hentinya menangis Anes mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri namun sangat sulit rasa takut kehilangan lebih mendominasi di wajah nya.


Nana bingung sebenarnya apa yang sedang terjadi? Kenapa Anes terlihat sangat sedih dan ketakutan, selama ini Nana tak pernah melihat sisi lemah Anes selain tentang keluarga dan Kenzie tentunya.


Sesampainya di rumah sakit Anes buru-buru turun dari mobil dan berlari kecil masuk kedalam gedung rumah sakit, Nana memekik melihat Anes berlari wanita itu mengejar Anes dan meraih tangan Anes.


"Nona cukup." Ucap Nana, wanita itu menatap Anes dengan datar.


"Na lepas." Ucap Anes.

__ADS_1


"Nona anda akan mencelakai anak yang berada dalam kandungan anda, saya tahu anda sangat menyayangi tuan muda Ken tapi bukan berarti anda melupakan kehadiran dua malaikat kecil yang sekarang masih berlindung di dalam perut anda nona." Ucap Nana, Anes menunduk dan terisak.


"Kenzie segalanya untuk saya na, jika tidak ada Kenzie saya tidak tahu bagaimana saya bertahan dalam pernikahan ini. Karena kehadiran nya yang tidak mendapatkan perhatian dari Liza membuat saya bertahan dengan Deandra, membuat saya ingin selalu menyayangi nya meskipun saya telah memiliki anak." Lirih Anes, Nana menitihkan air matanya sangat terlihat jika Anes menyayangi Kenzie dengan begitu tulus.


"Saya mengerti kita berjalan dengan hati-hati." Ucap Nana, Anes mengangguk mereka berjalan menuju ruang rawat Kenzie.


Disana Anes melihat Deandra yang duduk dengan memijat pelipisnya yang terasa pusing mungkin, Anes berjalan menatap mama yang menangis tersedu-sedu dalam pelukan papa.


"D_dean." Lirih Anes, Deandra menoleh menatap istri cantik nya. Melihat wajah sembab Anes Dean sudah bisa menebak jika selama perjalanan wanita itu selalu menangis.


"Sayang." Lirih Deandra, ia memeluk Anes dengan lembut.


Nana mendekati Jordan yang berdiri di samping Deandra, Jordan merangkul pundak Nana memberikan ketenangan kepada istrinya.


"Apa yang terjadi?" Tanya Anes dengan suara bergetar.


Dean menatap Anes dengan sendu ia tak bisa memberi tahu Anes, Dean tidak kuat jika harus melihat istrinya menangis.


"Dean jawab." Teriak Anes.


"Sayang tenang ya." Ucap Deandra, meraih tubuh Anes dan kembali memeluk nya.


"Lepas Dean aku sedang bertanya kepada kamu apa yang terjadi?" Tanya Anes, Deandra menunduk dalam saat melihat tatapan tajam Anes.


"Ma apa yang terjadi?" Tanya Anes, mama menggelengkan kepalanya membuat Anes merasa ingin mengamuk saat ini juga.


"Pa Kenzie baik-baik saja kan?" Kali ini wanita itu menatap papa mertuanya.


Bukannya menjawab pertanyaan Anes tuan Gavriel malah merengkuh tubuh Anes dan memeluk nya, tuan Gavriel mengecup puncak kepala Anes penuh sayang.


"Pa aku bertanya kenapa kalian semua diam." Teriak Anes, wanita itu melepaskan pelukan papa.


"Nes maafkan mama." Lirih mama, membuat Anes menoleh menatap nya.


"Ada apa? Apa yang terjadi?" Tanya Anes, mama menubruk tubuh Anes dan memeluk nya erat.


"Maafkan mama yang tidak bisa menjaga Kenzie dengan baik, seperti yang kamu katakan jika Kenzie baik-baik saja ya dia akan baik-baik saja jika kamu yang menjaganya. Dia sangat menyayangi kamu." Ucap mama, Anes tertegun mendengar perkataan mama.


"Ma katakan yang sebenarnya." Ucap Anes, mama menarik nafas panjang dan mengumpulkan tenaga untuk memberi tahu Anes.

__ADS_1


"Kenzie sudah tenang disana nes, Kenzie sudah tidak merasakan sakit lagi." Ucap mama, dengan air mata yang kembali mengalir deras di pipinya.


Anes mematung mendengar perkataan mama, tubuhnya terasa kaku sementara Nana menutup mulutnya mendengar perkataan mama.


Air mata Anes mengalir deras dengan mata yang menatap lurus kedepan tanpa berkedip, ini terasa mimpi untuk Anes.


"Ini bohong kan." Lirih Anes dengan suara tercekat, hampir tak terdengar.


"Nes mama gak bohong sayang." Ucap mama, Anes menunduk terisak bahunya bergetar hebat membuat Deandra khawatir melihat Anes.


"Sayang." Lirih Deandra, lelaki itu mengambil alih tubuh Anes dari pelukan mama dan memeluk nya.


"Aku gak kehilangan Kenzie dan Dean." Lirih nya.


"Sayang kamu tenang ya kamu tenang Kenzie sudah bahagia sekarang, dia bahagia karena pernah mendapat kasih sayang tulus dari kamu." Ucap Deandra, lelaki itu rapuh namun harus terlihat kuat untuk Anes.


"Hiks... Jahat." Teriak Anes, semua orang ikut menangis melihat Anes yang histeris dalam pelukan Deandra.


"Sayang tenang oke kamu jangan seperti ini." Ucap Deandra, Anes menggelengkan kepalanya dan mendorong tubuh Deandra menatap nya tajam dan berapi-api.


"Kalian semua jahat kalian_ kalian jahat." Teriak Anes, ia sudah sering mengatakan jika Kenzie tidak sakit bocah itu hanya merasa tertekan tapi kenapa semua orang seperti tidak mempercayainya.


Semua orang mengikuti ego nya untuk merawat Kenzie, sampai pada akhirnya Kenzie di rawat oleh dokter gadungan Anes kecewa Anes sakit hati dengan semua ini.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Happy reading 🤗😉 jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😊


__ADS_2