
Di ruang kerja Anes Aleta menatap Anes dan Nana yang sedang berdiri di samping Anes, wanita itu begitu menjaga Anes.
"Nes apa yang kamu omongin itu beneran?" Tanya Aleta.
"Yang mana ta?" Ucap Anes.
"Ituloh yang Intan sama Dean." Ucap Aleta, Anes mengangguk membenarkan perkataan Aleta.
"Iya beneran ta." Jawab Anes.
"Hah, kok bisa si nes aku kira Andra itu bukan Deandra." Ucap Aleta.
"Bisa lah ta, lagian siapa yang gak suka kepada Intan si. Sudah cantik terus model lagi." Ucap Anes.
"Tapi kamu lebih daripada dia." Ucap Aleta.
"Maksudnya?" Tanya Anes.
"Kamu juga cantik, smart, jago bela diri, baik, lembut, tulus nona muda lagi." Ucap Aleta, Anes memukul tangan Aleta.
"Kalau ngomong ya, ta ingat ya nyaman itu bukan tentang apa yang dia miliki. Tapi bagaimana dia memperlakukan kita." Ucap Anes.
"Iya aku tahu nes, terus gimana Intan sudah tahu kalau kamu istri Deandra?" Tanya Aleta.
"Sepertinya belum, buktinya dia masih terlihat biasa saja." Ucap Anes.
"Nes kamu harus secepatnya kasih tahu Intan, jangan sampai dia berharap berlebihan kepada Deandra." Ujar nya.
"Iya aku tahu ta, aku juga gak mau kalau nanti aku dan Intan malah bermasalah." Ucap Anes, Aleta mengangguk sementara Nana hanya menyimak saja.
Setelah selesai berbincang Aleta pun memutuskan untuk kembali ke ruang kerja nya, masih ada be beberapa pekerjaan yang harus ia selesaikan.
...
Sore hari pekerjaan Deandra sudah selesai dan ia memutuskan untuk pulang dan menjemput Anes, Dean berjalan keluar dari ruang kerja nya.
"Selamat sore tuan." Sapa beberapa karyawan.
"Sore." Balas Dean, lelaki itu berjalan lurus menuju lift.
Lagi-lagi karyawan Deandra tersenyum senang karena Dean membalas sapaan nya, mereka berharap jika hubungan Deandra dan Anes baik-baik saja.
Karena Anes memberikan banyak perubahan kepada bos mereka yang semula datar, dingin dan galak kini menjadi sedikit ramah dan sedikit murah senyum.
Sesampainya di lobby perusahaan Deandra langsung berjalan menuju mobilnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, ia menelpon Anes terlebih dahulu.
****Panggilan telepon*
Dean***: Honey...
Anes: Iya kenapa?
Dean: Sudah selesai? Aku sedang di jalan untuk menjemput kamu.
__ADS_1
Anes: Sebentar lagi aku selesai, kamu sudah sampai mana?
Dean: Belum jauh dari kantor.
Anes: Eummm oke, kalau sudah sampai kabari aku.
Dean: Hmmm.
Panggilan telepon pun berakhir, di ruang kerja nya Anes buru-buru menyelesaikan semua pekerjaan nya. Nana membantu Anes wanita itu terlihat bahagia bekerja dengan Anes.
"Tuan akan menjemput nona?" Tanya Nana.
"Iya na, kamu kalau pulang sendiri tidak apa-apa." Ucap Anes.
"Tentu saja tidak apa-apa nona, biar saya yang merapikan semuanya nona." Ucap Nana, Anes tersenyum manis kepada Nana.
"Makasih maaf saya merepotkan kamu." Ucap Anes.
"Tentu saja tidak." Balas Nana, setelah selesai Anes dan Nana pun keluar dari ruang kerja bertepatan dengan Aleta yang juga keluar dari ruang kerja nya.
"Anes." Panggil Aleta.
"Kamu sudah selesai?" Tanya Anes.
"Sudah, aku akan pergi makan malam bersama Azka kamu ikut tidak." Ucap Aleta.
"Enggak, aku juga punya suami ngapain ikut kamu." Ucap Anes, Aleta mencibir saudara nya itu.
"Cih, mentang-mentang Dean sudah jatuh cinta kamu lupa kalau aku adalah pendukung keras kamu dan Deandra." Ucap Aleta.
"Mau ke bawah?" Tanya Aleta.
"Mau dong." Balas Anes.
"Yasudah ayok." Ucap Aleta, Anes dan Aleta pun berjalan beriringan.
Lagi-lagi Anes dan Aleta bertemu dengan Intan, Anes menatap Intan jujur saja Anes merasa bersalah kepada Intan.
Karena Intan rela tidak menjalin hubungan dengan lelaki manapun demi Deandra, tapi ternyata kini Dean malah menjadi suaminya.
"Nona sudah mau pulang?" Tanya Intan sopan.
"Iya." Jawab Anes, Intan menatap Nana yang mengekor di belakang Anes.
"Hati-hati dijalan nona." Ujar nya, Anes mengangguk dan kembali berjalan.
Intan yang merasa penasaran pun mengikuti Anes, dan itu membuat Nana membalikan tubuhnya menatap Intan.
"Ada apa nona?" Tanya Nana kepada Intan.
"Saya mau ke bawah juga." Jawab Intan, Anes tersenyum dan Nana membiarkan Intan satu lift dengan Anes dan Aleta.
Setelah lift terbuka Anes dan Aleta berjalan lebih dulu, ia sudah melihat mobil milik Deandra diluar sana.
__ADS_1
"Nes Dean nes." Ucap Aleta.
"Iya ta." Balas Anes.
"Kalau Intan melihat Dean sekarang bagaimana?" Ucap Aleta lagi, Nana yang paham sengaja berdiri di belakang Anes dan membuat Intan tidak bisa melihat Deandra dengan jelas.
Dean yang sudah berdiri dan membukakan pintu mobil untuk Anes tersenyum melihat istrinya, Anes masuk kedalam mobil dan melambaikan tangan nya kepada Aleta.
"Bye ta aku duluan ya." Ucap Anes.
"Oke, hati-hati ya Dean Anes." Ucap Aleta, Deandra mengangguk dan masuk ke kedalam mobil.
"Nona kalau begitu saya juga permisi." Ucap Nana.
"Iya, hati-hati ya na." Ucap Aleta, Nana mengangguk dan menunduk sopan kepada Aleta.
Setelah kepergian mobil Dean dan Nana Aleta menoleh ke belakang, ia melihat Intan yang berdiri menatap nya.
"Saya tahu setelah mengetahui kebenaran nya nanti kamu akan merasa sakit dan kecewa, tapi saya harap kamu adalah wanita cerdas yang tidak akan melakukan sesuatu yang dapat merugikan kamu Tan. Karena jika kamu berpikir untuk mengh*ncurkan Anes, sebelum kamu bertindak saja kamu sudah hanc*r terlebih dulu." Gumam Aleta, sementara itu Intan menatap Aleta yang menatap nya dari kejauhan dengan bingung.
"Kenapa nona Aleta menatapku seperti itu, apa aku berbuat kesalahan." Gumam nya.
"Tapi suami nona Anes tadi benar-benar seperti Andra, meskipun aku tidak melihat nya dengan jelas karena ada wanita itu. Tapi aku merasa jika itu Andra, yaampun Intan apa yang kamu pikirkan sih. Jelas-jelas Joe mengatakan jika Andra ingin bertemu dengan kamu besok intan." Gumam nya lagi.
Sementara itu di sebuah mobil Dean mengelus kepala Anes dengan lembut, hal itu membuat Anes tersenyum manis kepada Deandra.
"Bagaimana hari ini apa melelahkan?" Tanya Dean.
"Tidak, aku tidak lelah sama sekali karena Nana banyak membantu aku." Ucap Anes.
"Baguslah, berarti keputusan aku mempekerjakan Nana itu tepat." Ucap Deandra, Anes mengangguk dan tersenyum.
"Iya apapun yang kamu lakukan itu selalu tepat." Ucap Anes, Deandra tertawa kecil dan meraih kepala Anes lalu mengecup kening istrinya.
"Dean." Panggil Anes.
"Ada apa hmmm." Ucap Deandra.
"Tadi aku bertemu dengan Intan lagi." Ujar nya, Deandra mengangguk.
"Lalu?" Tanya Dean.
"Aku merasa bersalah kepada Intan." Ucap Anes, Deandra mengusap kepala istrinya.
"Kamu tidak salah, aku yang salah harusnya aku tidak mengiyakan saat Intan meminta aku untuk menunggu nya." Ucap Deandra.
"Tapi jika mama tidak bertemu dengan aku semua ini tidak akan pernah terjadi." Ucap Anes, Deandra menepikan mobilnya di pinggir jalan.
Lelaki itu memiringkan tubuhnya dan menangkup wajah cantik Anes, keduanya kini saling bertatapan.
"Aneska kita bertemu tanpa sengaja, kamu bertemu dengan mama juga tanpa sengaja. Kamu tahu takdir yang mempertemukan kita, kamu lupa jika kita sudah berusaha keras untuk menolak pernikahan ini namun tetap saja terjadi. Kamu juga pasti tahu aku dan kamu mencoba untuk membentengi diri agar kita tidak saling jatuh cinta, tapi kenyataannya usaha keras aku sia-sia karena sekarang aku sangat mencintai kamu dan tidak ingin kehilangan kamu." Ucap Deandra, Anes tertegun mendengar perkataan Dean.
Dalam hatinya Anes merasa tersentuh, dan Anes berharap semoga saja Intan bisa mengerti keadaan Anes dan Deandra.
__ADS_1
Happy reading 🤗😉 jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😊