
Di sebuah ruangan besar di markas milik keluarga nya Deandra menemukan sesuatu yang mengejutkan, ternyata lelaki itu pernah pergi bersama dengan Liza ke sebuah hotel mewah.
"Dean dia adalah lelaki yang aku maksud, tapi apakah mungkin dia yang membuat Liza menghabiskan uang lima mil*y*r dalam satu minggu." Ucap Joe, Dean menggelengkan kepalanya.
"Tidak sepertinya bukan yang ini, kau tahu Liza adalah wanita yang tidak pernah merasa puas dengan satu laki-laki." Ucap Deandra.
"Lalu." Ucap Jordan.
Tanpa menjawab Deandra keluar dari ruangan pribadi nya, lelaki itu pergi ke ruang tahanan dan menatap Liza yang terlihat kurus dan pucat.
"Buka pintunya." Ucap Deandra, Liza menatap Dean dengan datar.
"Mau apa kau kemari?" Tanya Liza.
"Beritahu aku siapa laki-laki ini." Ucap Deandra, Liza menatap wajah Deandra dengan penuh kebencian.
"Untuk apa? Apa wanita itu lagi yang menyuruhmu bertanya kepadaku." Teriak nya, terlihat jelas jika Liza merasa sakit hati karena Dean selalu mengutamakan Anes.
"Katakan atau aku akan memb*n*hmu." Ucap Deandra.
"Cih, aku tidak akan mengatakan nya." Ucap Liza, Deandra langsung mencengkeram erat pipi Liza.
"Katakan siapa baj*ngan itu." Tegas Deandra, Joe dan Jordan meringis mereka takut jika Deandra akan membuat rahang Liza patah.
"Dia, dia ayah dari bayi yang aku kandung kenapa." Teriak Liza, akhirnya wanita itu jujur juga.
"Siapa?" Tanya Dean, Liza menitihkan air matanya.
"Tidak adakah rasa kasihan untukku dari hatimu? Kenapa semua orang hanya mempedulikan Anes, padahal wanita itu saja tidak mampu memberikan keturunan untuk kamu." Teriak nya, tanpa sadar Deandra melayangkan tangan nya ke pipi mulus Liza.
"Asssh." Lirih wanita itu memegangi pipinya.
"Katakan siapa wanita itu, jangan memancingku untuk berbuat jahat kepadamu!" Tegas Deandra, Liza malah meraung ia tidak terima dengan perlakuan Deandra.
"Katakan Liza atau aku akan membuat kamu kehilangan janin yang sedang kau kandung." Ucap Deandra, kali ini Liza menggelengkan kepalanya ia tidak ingin kehilangan bayinya.
"Di_dia Valdo Alberto." Lirih Liza menunduk, Deandra mengeraskan rahangnya.
"Aku harap apa yang kau katakan ini sebuah kebenaran, jika tidak maka aku tidak akan membiarkan kamu tenang bersama dengan anakmu!" Tegas nya, Deandra keluar dari ruangan itu dan pergi begitu saja.
Sementara Liza wanita itu meraung menatap kepergian Dean, Joe dan Jordan merasa kasihan kepada Liza namun mereka sadar bahwa semua ini juga atas perbuatannya.
Dan di tempat lain Anes menatap beberapa dokumen itu, Nana sampai merasakan jantungnya berdegup kencang karena takut ketahuan.
__ADS_1
"Nona bagaimana?" Tanya Nana, Anes menggelengkan kepalanya.
"Aku pusing na kebanyakan mikir dan juga lapar." Ucap Anes, Nana menghela nafasnya Nana lupa jika kini Anes sedang mengandung.
"Bagaimana jika kita kembali dulu, besok kita cari tahu lagi semuanya." Ucap Nana.
"Boleh juga, aku mau makan dulu otakku tidak bekerja jika aku sedang kelaparan." Ujar nya santai, siapapun tolong selamatkan Nana dia pasti merasa tertekan dengan sikap sang nona yang kelewat santai.
Setelah keduanya keluar dari ruangan rahasia itu, Anes dan Nana kembali ke kamar nya. Dan saat membuka pintu kamar mereka di kejutkan oleh satu orang laki-laki yang menatap nya dengan tajam.
"Darimana kalian?" Tanya nya, Nana mulai gugup ia takut jika lelaki itu akan menyakiti Anes.
"Tentu saja jalan-jalan malam, kau pikir kemana kami bisa pergi malam-malam seperti ini." Jawab Anes santai, membuat Nana sampai melongok.
"Masuk aku sudah membawakan makan malam untukmu." Ucap lelaki itu, Anes menatap kedalam kamar dan melihat ada dua piring makanan.
"Tidak bisakah kau memberikan kami banyak makanan, tidak peduli jika berat badanku naik yang jelas aku tidak mau kekurangan makan." Ucap Anes, lelaki itu mengernyit Anes terlihat santai dan lelaki itu juga tahu sebenarnya Anes jago bela diri.
"Kau jago beladiri kenapa tidak melawan kami, ada yang sedang kamu sembunyikan?" Tanya lelaki itu curiga.
"Tidak ada yang aku sembunyikan, aku hanya ingin di selamatkan oleh suamiku agar seperti Romeo and Juliet." Ucap Anes, lelaki itu menatap aneh kepada Anes sementara Anes cuek ia sengaja bersikap seperti itu agar tidak banyak lagi hal yang ditanyakan kepadanya.
Setelah selesai makan malam Anes melamun wanita itu memikirkan kontrak kerja sama, foto Liza dan marga Alberto.
"Nona ada yang sedang anda pikirkan?" Tanya Nana.
"Na kenapa dia memiliki dokumen kerjasama dengan perusahaan milik Aleta, disana di tulis nama Denis tapi ada juga foto Liza yang bertuliskan Valdo sebenarnya siapa yang menculik kita. Satu lagi marga Alberto aku seperti mengenal nama itu." Ujar nya.
"Nona yakin nona mengenal nama itu?" Tanya Nana.
"Ya Denis adalah rekan bisnis aku dan Aleta dulu, tapi valdo aku tidak tahu dia siapa. Aaaa kepalaku rasanya ingin pecah." Gumam Anes, Nana tersenyum dan memijat kepala nona nya.
"Nona cukup jangan di pikirkan lagi itu hanya akan membuat anda stress." Ucap Nana.
"Aku sudah stress saat melihat orang-orang bertubuh tinggi itu, Daddy dan Dean juga memiliki banyak bodyguard tapi mereka tahu jika aku sangat risih dengan para bodyguard yang ada di sekeliling ku maka dari itu mereka berhenti memberikan bodyguard khusus untukku." Ucap Anes.
"Jadi karena itu tuan muda meminta saya untuk menjaga asisten pribadi nona." Ucap Nana.
"Hmmm, maafkan saya kamu orang yang berpendidikan dan cerdas tapi malah bekerja sebagai asisten saya." Ucap Anes.
"Tidak masalah nona saya senang melakukan itu." Ucap Nana.
Lagi-lagi Anes melamun memikirkan nama-nama itu, semuanya terasa tidak asing untuk Anes.
__ADS_1
"Nona sebaiknya anda beristirahat saja." Ucap Nana.
"Saya tidak bisa tidur." Lirih Anes.
"Kenapa apa ada yang sakit?" Tanya Nana khawatir.
"Na saya ingin makan martabak telur." Ucap Anes, membuat Nana terbelalak malam-malam seperti ini di tengah hutan mana ada tukang martabak.
"Nona kemana kita harus mencari martabak telur?" Tanya Nana.
"Saya tidak tahu tapi saya sangat ingin itu." Ucap Anes, kan sekarang jadi Nana yang ketar-ketir untuk membuat nona nya mengerti.
"Nona maaf sebelumnya bukan tidak mau memberikan martabak untuk anda, tapi saat ini kita sedang ada di tengah hutan." Ucap Nana, Anes mengangguk ia hanya bisa membayangkan jika saat ini Deandra datang dan memberikan martabak untuk nya.
Anes merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, Nana menatap nona nya dengan tidak tega.
(Seharusnya nona bisa mendapatkan apa yang ia inginkan dengan mudah, tapi kali ini nona harus menahan semuanya. Tuan segeralah kesini tolong bantu nona.) Batin Nana, dan perlahan Nana melihat Anes memejamkan matanya dan terlelap.
.
.
.
.
.
.
.
.
Anes
Nana
Happy reading 🤗😉 jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😊
__ADS_1