
Adit setiap hari mengunjungi ila di rumahnya, hanya ada papa David dan Reno. Karena ila tidak mau trio penyakit itu yang menjaganya.
"Adit, kamu kenal Raka?" tanya papa David pada Adit, saat mereka sedang duduk.
"Adit mengenalnya om."
"Om kira kamu tidak mengenal Raka," balas papa David.
"Tentu Adit tahu dan mengenalnya, karena setiap orang yang dekat dengan Cahaya harus Adit ketahui dulu, dia baik atau tidak untuk cahaya."
Papa David tersenyum tipis, "Apa kamu sangat mencintai anak om? sampai rela hati dan perasaan kamu sakit."
"Adit sangat mencintai anak om, makanya Adit biarin cahaya bahagia dengan Raka, yang terpenting bagi Adit, melihat cahaya selalu tersenyum. Walaupun hati Adit sakit, melihat mereka selalu bersama om."
"Walaupun juga, sampai saat ini Vina belum membuka hati kembali untuk kamu?"
"Adit selalu menunggu saat itu tiba om," ucap Adit menatap papa David serius.
"Tapi itu tidak mungkin, Adit."
"Semua tidak ada yang tidak mungkin om, selama kita menunggu dan bersabar, apa yang kita harapkan akan menjadi nyata. Adit mohon untuk saat ini doakan Adit, supaya bisa berjodoh dengan cahaya om. Karena kalau Adit yang berdoa, takut nya tidak didengar, soalnya Adit tidak menyembahnya." Adit menunduk setelah mengatakan itu.
Sangat menohok di telinga papa David, permintaan Adit yang begitu menginginkan Vina sebagai jodohnya.
"Lalu, bagaimana kalian akan bersatu dengan perbedaan itu?"
__ADS_1
"Adit sudah mulai banyak belajar om, tentang agama. Adit masih memikirkan hal itu, walaupun orang tua Adit tidak mempermasalahkan, namun tetap saja Adit harus tetap memikirkan kedepannya seperti apa."
"Om hanya ingin kamu bukan karena terpaksa melakukan nya, jika akan berpindah. Bukan karena ingin bersama anak om, tapi benar-benar keinginan dari hati kamu."
Adit mengangguk mendengarkan penjelasan papa David.
"Papa....." Adit dan papa David terkejut dengan teriakan ila dari dalam, mereka langsung berlari takut ada terjadi sesuatu dengan anak manja itu.
"Kenapa la? ada apa?"
"Kamu kenapa?" tanya mereka, sedang yang di tanya hanya cengengesan.
"Bukan apa-apa pa, kak Adit. Tadi ila panggil cuma mau bilang, kalau papa Gilang dan mama, baru saja melihat keadaan kak Vina. Jadi sebentar lagi mereka akan menelepon, memberi kabar terbaru dari kak Vina."
"Kan bisa panggil nya jangan teriak, papa takut terjadi apa-apa sama kamu. Gimana kalau papa jantungan, mau kamu?"
"Baru anak baik."
"Kalau gak lupa," kekehan nya sambil memeluk papa David. Sedangkan Adit dan papa David menggelengkan kepalanya.
Tringg tring...
"Pa, sepertinya mama telepon," ucap ila melepas pelukannya.
"Cepat angkat."
__ADS_1
"Assalamu'alaikum, halo ma."
"Wa'alaikum salam."
"Bagaimana keadaan Vina saat ini?" tanya papa David.
Adit juga ikut mendekat di samping ila.
Mama Dira menghela nafas pelan, sebelum menjawabnya. "Lebih baik dari sebelumnya, dokter bilang begitu. Tapi masih sama, Vina tetap selalu merasa kesakitan."
"Cari dokter terbaik disana, lakukan yang terbaik untuk kesembuhan Vina."
"Apa Adit boleh lihat cahaya, tante?"
"Iya ma, ila juga mau lihat kak Vina."
"Bisa, tapi dari luar pintu aja bisanya." Mama Dira mengarahkan kamera handphone nya, memperlihatkan Vian yang sedang berbaring di tempat tidur rumah sakit.
Papa David, ila dan juga Adit. matanya berkaca-kaca melihat Vina yang menurut mereka sama saja, tidak ada perubahan apapun. Kondisi nya masih sama, masih lemah.
Tak terasa air mata Adit menetes di pipinya. Adit sedih melihat Vina masih lemah tak berdaya disana.
Papa David dan ila melirik Adit yang menangis, mereka sedih dengan keadaan Vina, di tambah Adit di samping nya yang tiba-tiba menangis.
"Cahaya, cepat sembuh. Aku akan lakuin apa saja untuk kamu."
__ADS_1
"Jangan pernah menunggu sesuatu yang akan membuat hatimu merasakan sakit."
Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love.