Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh

Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh
Jalan bareng Adit


__ADS_3

Vina merasa dirinya sudah sembuh, ia segera mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.


"Halo kak," ucap nya setelah panggilannya tersambung.


"Iya, tumben nelpon. Kangen yah?" canda nya.


"Kangen banget dong," jawab Vina sambil tertawa.


"Bagus dong kalau kamu kangen aku, berarti ngajak ketemuan nih?"


"Kak Adit kok tau? Vina memang pengen kak Adit kerumah, mau Vina ajak jalan." Yang di hubungi Vina adalah Adit, ia ingin Adit menemaninya jalan-jalan.


"Mau gak yah?" Adit pura-pura berpikir, untuk menggoda Vina.


"Ih mau ya, please! Vina mau jalan-jalan sama kak Adit," Vina memohon agar Adit mau diajak jalan.


Adit tersenyum di seberang telepon, ia tau pasti saat ini Vina sedang cemberut, yang selalu Adit suka sejak dulu.


"Kalau aku sampai di rumah kamu, berarti mau. Kalau gak ada ke rumah kamu, berarti gak jadi jalan ya."


"Kak Adit, ayo dong mau ya."


Adit terkekeh mendengar Vina memohon padanya, itu sangat terdengar lucu di telinga Adit, "iya, aku kesana sekarang."


"Aaaaa beneran kak? Vina tunggu di depan ya, cepat kak, Vina tunggu bye." Vina mengakhiri panggilan telepon nya, karena terlalu senang Adit mau menemani nya jalan-jalan.


"Cahaya, malah dimatiin."


...******...


"Kak Adit lama banget sih, aku masuk dulu deh," Vina beranjak hendak masuk ke dalam rumah.


Tinnn


Vina kembali menoleh, "Kak Adit."


Adit tersenyum membuka helm nya, ia turun dan menghampiri Vina yang berdiri menatapnya.


"Hai, cahaya."


Vina tersenyum kearah Adit, "Hai, kak Adit."

__ADS_1


"Mau langsung jalan?" tanya Adit karena melihat Vina yang sudah siap dengan tas nya di luar.


"Masuk dulu yuk, mama dan papa di dalam. Sekalian izin keluar." Adit mengangguk mengiyakan untuk masuk ke dalam.


"Om, tante," sapa Adit.


"Eh Adit, kamu kesini?" tanya papa


Adit melirik Vina yang berdiri di sebelahnya. "Vina yang nyuruh kak Adit kesini pa," ucap Vina membuat papa dan mamanya saling pandang.


"Vina, nyuruh kak Adit kesini, agar bisa temani Vina jalan-jalan."


Papa dan mama kini menatap ke arah Adit. "Kenapa harus dengan Adit? nanti merepotkan Vin."


Membuat Vina langsung memanyunkan bibirnya menunduk.


"Gak apa kok om, tante, Adit juga udah janji mau nganterin Cahaya jalan-jalan kemarin."


"Beneran gak apa nak? kalau merepotkan tidak apa, biar nak Adit tidak perlu mengantar Vina." Vina kini melirik Adit.


"Gak apa kok om, Adit gak ada keberatan untuk nganterin Cahaya."


Vina tersenyum menatap Adit, "Ayo kak, kita langsung berangkat."


"Om, tante, Adit izin temani Cahaya," pamitnya di angguki kedua orang tua Vina.


Setelah berpamitan pada papa mama nya, Vina dan Adit keluar untuk segera berangkat.


"Pa, kenapa Vina malah deket lagi dengan Adit."


"Papa gak tau ma, tapi lebih baik seperti ini, dari pada mengurung diri di kamar."


"Iya sih, kalau di mending-mending lagi mah iya."


"Kita lihat saja proses pemulihan Vina, ma." Mama Dira mengangguk melihat anaknya sudah pergi berboncengan dengan Adit.


"Kak Adit, kita mau jalan kemana?" tanya Vina.


"Kamu maunya kemana?"


"Terserah kak Adit, tapi Vina mau mampir ke makam Raka dulu gimana kak?"

__ADS_1


"Iya boleh. Kemarin kan aku udah janji sama kamu, mau nganterin kamu ke makam Raka."


"Makasih ya kak," ucapnya tersenyum. Terlihat dari kaca spion Adit di motornya.


Tak lama mereka telah sampai di pemakaman, Vina lebih dulu berjalan menuju makam Raka.


"Assalamu'alaikum, Raka apa kabar? maaf ya, aku baru kesini lagi. Kali ini aku ngajak kak Adit untuk nganterin aku jalan-jalan, aku kemarin sakit dikit aja, makanya bosan dirumah terus."


"Aku selalu ingin menyusul kamu, tapi biar penyakit ini yang berproses. Aku marah tau sama kamu, karena udah bohong sama aku, dengan menutupi penyakit kamu selama ini. Apa aku yang kurang merhatiin kamu? iya aku tau, ini juga kesalahan aku, yang tidak tau apa aja yang kamu derita. Hanya yang kulihat perhatian, yang selalu membuat aku semakin jatuh cinta sama kamu. Aku minta maaf ka, selama kamu bersamaku, mungkin kamu tersiksa kan? dengan semua sikap aku."


Adit hanya menatap Vina tanpa berkata apapun.


"Vina pamit dulu ya, mau jalan-jalan sama kak Adit. Vina bosan di rumah, nanti aku kesini lagi."


Vina beranjak dari makam Raka, ia berjalan keluar dari sana menahan rasa sesak, Vina selalu merasa ingin menangis jika ke makam Raka. Namun saat ini dirinya menahan agar air matanya tidak tumpah di hadapan Adit.


Vina tidak ingin selalu terlihat lemah, walaupun memang dirinya sangat lemah.


Berjalan-jalan dengan menaiki motor besar Adit, Vina senang bisa melihat pemandangan sekitar jalanan yang ramai. Biasanya ia melihat foto dirinya dan Raka saja di kamarnya.


"Cahaya, kita mau kemana? apa hanya jalan-jalan dengan motor saja?" tanya Adit yang sedari tadi hanya mengelilingi kota.


"Kak Adit gak suka ya, cuma jalan-jalan aja sama Vina?"


Adit menghentikan motornya di tepi jalan yang tidak begitu ramai.


Adit melirik Vina, "Kamu mau ajak aku kemana aja, aku pasti mau Cahaya."


"Mati juga?"


"Walaupun, itu mati sekalipun," ucap Adit serius.


"Vina becanda kak, kalau Vina pergi itu hanya ingin menyusul Raka, kak Adit harus bahagia disini."


"Dari dulu hingga sekarang, bahagia nya aku itu saat bersamamu Cahaya." Vina menatap Adit yang tertutup helm dari kaca spion motor.


"Vina bukan segalanya kak, lihat lah sekarang Vina seperti ini, semakin kurus dan tidak terurus."


"Aku tidak pernah melihat kamu dari fisiknya, aku hanya mencintai kamu, apa adanya kamu." Vina tersenyum masih banyak orang yang menyayangi dan mencintai nya, tapi ia tetap ingin menyusul Raka.


"Aku selalu mencintai kamu Cahaya, walaupun aku sudah tertutupi di hati kamu, dengan adanya cinta kamu untuk Raka."

__ADS_1


"Semoga kak Adit bisa menemukan cintanya, dan semoga aku cepat pergi. Agar kak Adit bisa cepat juga melupakan aku."


Chingguya annyeong, jangan lupa selalu dukung othor bebu sayang.


__ADS_2