
Aku berada di tempat yang sangat gelap, banyak debu disana juga kotor, aku ketakutan. Keringat dingin mengucur deras di tubuhku.
"Vina takut, TOLONG!!" teriakku gemetar karena ketakutan.
Di tempat ini semakin gelap, seperti ada seseorang yang mendekati ku. Di dalam tempat yang gelap, aku mundur sampai tubuhku mentok mengenai dinding.
"Jangan mendekat TOLONG! menjauh dariku hiks," tangis ku mulai memenuhi ruangan gelap itu.
"Hiks tolong pergi dari sini, kumohon."
Aku berjongkok memeluk betis ku, menenggelamkan kepalaku di curug lutut.
"Vina," ucap seseorang itu semakin dekat.
"Pergi dari sini, hiks."
"Vina."
"Pergi! aku takut."
"Vina."
Aku merasa suara itu semakin dekat, dan aku mengenalinya.
"PERGI!!" teriakku terbangun dari mimpi buruk.
"Vina, kamu kenapa? kamu mimpi buruk?" tanya Raka.
"Hiks Raka, Vina takut hiks," aku ketakutan saat terbangun.
Raka menenangkan ku dan mengambilkan air, "Udah ya, kamu cuma mimpi buruk, ini minum dulu."
Keringat sudah membasahi ku, nafasku juga belum teratur sempurna.
Merinding! sudah pasti. Karena aku takut dengan kegelapan.
Raka menarik ku kedalam pelukannya, ia menenangkan ku dengan mengelus kepalaku.
"Udah ya ada aku disini, jangan takut," ucapnya.
Aku hanya mengangguk, tetap dengan isakan tangis yang masih sesenggukan kecil.
"Udah jangan nangis lagi, jelek tau gak!" ucapnya mengejek ku.
Aku memukul dada nya pelan, sambil memanyunkan bibir.
Raka tertawa, "sekarang tidur lagi ya Vin," ia menyuruh ku untuk tidur lagi.
Aku melepas pelukannya, "Raka makasih ya," ucapku.
"For what?" tanyanya menaikkan satu alisnya bingung.
"Buat semuanya," jawabku.
Raka tersenyum, "aku hanya ngelakuin yang memang sudah seharusnya aku lakukan Vin."
"Kamu gak tidur lagi ka?" tanyaku.
"Udah gak ngantuk," jawabnya menatap ku.
__ADS_1
"Apa, gara-gara Vina tadi?"
Raka menangkup wajah ku, "Bukan, aku hanya sudah tidak mengantuk."
"Apa boleh, Vina minta janji kamu semalam," ucapku menatap wajah Raka di depanku.
Raka melepaskan tangan nya dari wajahku, "janji? kapan aku ada janji."
Raka lupa, jika dirinya ingin membawaku ke taman.
"Semalam kan janji! mau ajak Vina ke taman, aku menagih nya sekarang."
Raka melihat jam, di dinding rumah sakit.
"Astaghfirullah Vin, ini masih jam tiga subuh, ngapain ke taman? masih gelap."
Raka terkejut setelah melihat jam.
Aku mendengar kata gelap, mengurungkan nya.
"Kamu tidur lagi ya, aku sholat dulu."
Aku mengangguk, kembali membaringkan tubuhku.
"Kamu mau sholat dimana?" tanyaku.
Raka yang beranjak, kembali menatap ku, "Kenapa hm? kamu takut?"
Aku mengangguk. "Aku ambil wudhu dulu, aku sholat disini kok."
Sebelum pergi ambil wudhu, Raka mengelus kepalaku dan tersenyum.
Raka akan sholat tahajud, di kamar tempat ku di rawat.
Ada rasa nyaman didekat Raka , walaupun dia sering menyakiti dengan ucapannya, dia sangat baik dan perhatian.
Aku melihat Raka menengadah kan tangannya, entah apa yang Raka pinta di dalam doanya, ia sangat khusu'.
Setelah selesai sholat, Raka melipat lagi sajadah nya. Lalu mendekati brankar ku.
"Kenapa gak tidur?" tanya nya mendudukkan tubuhnya di kursi.
"Kenapa harus tidur lagi? Vina bosan disini, kapan Vina bisa pulang ka?" tanyaku pada Raka.
"Kamu kan belum sembuh Vin, jadi nunggu sembuh total, baru bisa pulang," jawabnya.
"Sebenarnya kan Vina gak sakit, Vina udah baik-baik saja."
"Sekarang kamu tidur lagi ya, bentar lagi sholat subuh, jadi orang tua kamu akan datang," ujarnya menyuruh ku untuk tidur.
"Bujuk mama sama papa ya ka, supaya aku di bolehin pulang. Bilang sama mereka, kalau Vina udah sembuh, Please!" ucapku memohon.
"Nggak," jawabnya pura-pura mengambil ponselnya.
"Raka," ucapku merengek.
Raka menatapku, dengan menurunkan ponsel nya.
"Aku gak mau Vin, nanti kalau kamu sakit lagi gimana? pas di bawa pulang, kasian orang tua kamu khawatir sama kamu," ucap Raka meninggikan suaranya.
__ADS_1
Deg
Aku menundukkan kepalaku, kenapa kalau Raka sedikit meninggikan suaranya, aku sedih, mataku mulai berkaca-kaca.
Raka melihat ku menunduk, "Vina, aku minta maaf," ucapnya.
Aku menggeleng kan kepalaku, "kamu gak salah ka, aku yang egois hiks," ucapku.
"Tuh kan aku juga cengeng, gampang nangis hiks." Aku memang cengeng, di salahin dikit aja udah nangis.
"Iya maaf Vin, aku janji! gak akan marah lagi sama kamu," ucapnya.
Aku terisak sambil mengangguk.
'cewek aneh' batin Raka tersenyum.
...******...
Adzan subuh berkumandang, Raka sholat subuh.
Matahari juga sudah memancarkan sinarnya. Mama dan papa ke rumah sakit, untuk mengganti kan Raka.
Aku sudah di taman bersama Raka, karena aku memaksanya.
"Vina, Raka, kenapa di luar?" tanya mama.
"Vina yang maksa Raka, buat bawa Vina kesini ma," jawab ku.
"Raka minta maaf om, tante."
"Gak perlu minta maaf nak, udara pagi, dan sinar matahari bagus untuk kesehatan," jawab papa.
"Kamu gak ke kampus Raka?" tanya mama.
"Iya jam 9 ada kelas tante," ucap Raka.
Papa melihat jam di tangannya. "Sekarang udah jam 7, kamu pulang aja gak apa, udah ada tante sama om."
Raka melirik ke arah ku. "Gak apa ka, kamu pulang aja," ucapku tersenyum.
"Yaudah kalau gitu, Raka pulang ya om tante," Raka pamit sama mama dan papa.
Kini beralih menatap ku lagi, "aku pulang ya Vin."
Aku membalasnya dengan anggukan dan tersenyum.
Raka meninggalkan rumah sakit, dan aku dibawa masuk lagi ke ruang rawat oleh mama dan papa.
You like me? no no oke bye
just call me chinggu...
Chinggu jangan lupa like vote komen huaaaaðŸ˜
Annyeong 🤗
.
.
__ADS_1
.
B**ersambung 💃💃💃