
Aku kembali seperti beberapa tahun lalu, yang selalu berdiam diri di kelas, tanpa mengacuhkan orang yang sedang berbicara padaku.
"Vina," ucap Naya melambai-lambai kan tangannya di depan wajah ku.
"Vina, awas kesambet loh," ujar Nina.
Aku hanya mampu tersenyum sebentar, dan kembali tanpa ekspresi.
"Vin, cerita sama kita ada apa?" tanya Naya.
Aku tak kuat menahannya, rasa yang ku simpan percuma! ini semua berakhir. Aku kembali menangis di pelukan Naya dan Nina.
"Aku udah putusin kak Adit Naya, Nina, aku cinta sama kak Adit, tapi kita berbeda hiks."
"Vin, kamu harus kuat. Kalau kamu yang mengakhiri, berarti kamu juga sanggup menerima bahwa hubungan kamu udah berakhir."
"Tuhan gak adil banget kan, sama aku? kenapa tuhan pertemukan aku dan kak Adit, kalau akhirnya dipisahkan." Aku menangis. Karena aku sendiri, yang sudah mengakhiri hubungan ini.
"Kamu gak boleh bicara gitu vin, Allah sudah mengatur semuanya untuk kamu. Kalau kak Adit tidak jadi yang terbaik untuk kamu, maka ada seseorang yang menanti mu."
"siapa?" tanyaku dan Naya
"Yah orang lah, masa demit" jawab Nina nyengir.
Dengan cepat Naya mengeplak lengan temannya.
aww
"Sakit coy," ucap Nina meringis.
"Biar sadar nin, yakali teman lagi sedih juga, malah ngelawak."
hahahhahah
"Lucu banget kalian, makasih ya udah mau jadi teman aku, dan hibur aku. Walaupun yang di lawakin sedikit abstrak," ujar Vina pada temannya.
"Aku senang kok Vin, kamu jadi teman aku dan Nina. Iya kan nin?" tanya Naya pada Nina.
__ADS_1
"Iya Vin, aku senang kok. Kamu itu dan Naya teman terbaikku," ucapnya langsung memeluk 2 temannya.
"Uuuuu manis banget kalau lagi bagus nya ni anak," Naya mengelus kerudung Nina.
Hahahhaha mereka bertiga tertawa, menghilangkan sejenak rasa sedih Vina.
Istirahat sekolah, kita bertiga ke kantin, untuk membeli makan.
"Vin, aku pesenin makan ya?" ucap Naya.
"Gak perlu nay, aku minum aja." Vina menolak untuk makan, karena tidak merasa lapar.
"Mau pesan minum apa?" tanya Naya.
"Aku pesan es jeruk kecil, jeruknya 10 dan tanpa gula."
"Gak boleh nay, kamu kan tau Vina magh." Nina melarang Naya untuk tidak membelikannya.
"Aku pengen itu please," ucapku memohon.
"Tapi bener kata Nina Vin, kamu belum makan apa-apa juga," Naya juga ikut menolak untuk membelikannya.
"Yaudah, tapi kurangi jadi 5 aja ya Vin, itu asem banget loh," ucap Nina menawar.
"Yaudah 9 aja nay, inget tanpa gula," jawabku.
Akhirnya Naya dan Nina mengiyakan, karena aku tak kunjung mengubah keputusan.
Tak lama yang di pesan datang.
"Wah seger banget nih pasti," ucap Vina mulai meminum nya.
"Gak asem apa vin?" tanya Naya ngiler.
"Asem sih! kalau asem ini aku bisa tahan. Tapi kalau asemnya kehidupan, aku gak kuat."
Naya dan Nina saling melempar pandang, saat mendengar yang di utarakan temannya.
__ADS_1
Naya dan Nina memakan makanan yang dipesannya, dan aku hanya mengaduk-aduk es ku.
Perut ku terasa tidak enak, dan sakit.
"Naya, Nina, perut ku sakit deh," ucap ku.
"Kan aku udah bilang, kamu belum makan apa-apa Vin," ujar naya.
Kepalaku pusing, penglihatan ku kabur, dan kesadaran pun hilang, aku tak sadarkan diri.
"Vina... TOLONG bawa Vina ke UKS," teriak Nina dan Naya.
Naya dan Nina minta tolong, dan ternyata yang menggendong ku ke UKS kak Hendri.
Naya dan Nina khawatir, mengikuti kak Hendri dari belakang.
"Dok, tolong teman saya pingsan," ucap kak Hendri terlihat sangat khawatir.
"Naya dan Nina tolong jaga Vina, aku keluar sebentar," ucapnya berlalu keluar.
Nina dan Naya hanya mengangguk.
"Dia terlalu banyak pikiran, dan belum mengisi perutnya sama sekali, dia malah langsung mengisinya dengan yang asem, makanya seperti ini. Belikan makanan untuk teman kalian ini, kalau udah sadar suruh makan," ucap dokter yang datang bertugas di UKS sekolah.
"Iya dok," jawab Naya dan Nina.
Naya yang berangkat membeli makanan, dan Nina menjaga Vina di UKS.
Tak lama Naya sudah datang, membawa makanan untuk Vina.
Tapi setelah Naya, ada 2 orang yang mendekati UKS, untuk melihat keadaan Vina dengan terburu-buru.
.
.
.
__ADS_1
bersambung💃💃💃