Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh

Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh
Ke pasar malam


__ADS_3

Waktu latihan telah usai. Aku mencari keberadaan Naya dan Nina ke parkiran, untuk menumpang.


"Nay, Nina mana?" tanya ku pada Naya, karena tidak melihat adanya Nina.


"Nina buru-buru pulang tadi Vin, ada urusan katanya," jawab Naya.


"Oh, nay aku ikut kamu pulang ya, soalnya papa gak bisa jemput."


"Boleh sih Vin cuma lama, soalnya aku mau belanja dulu."


"Yah lama ya? tapi gak apa deh nay, dari pada gak pulang." Pilihan nya, pulang awal jalan kaki atau pulang tapi lama.


Tiba-tiba, kak Hendri datang dengan motor sport nya.


"Kenapa vin?" tanya nya mendekati aku dan Naya.


"Em gak apa kak," jawabku.


"Kamu di jemput pacar kamu gak?" ucapnya padaku menggoda, karena tadi pagi aku berbohong.


Aku hanya menatap nya, bingung mau jawab apa.


Aku melihat Naya yang nampak berpikir dan tersenyum. "Nah kebetulan kak, kamu bareng sama kak Hendri aja Vin."


"Aku bareng kamu aja ya nay," ucapku memohon.


"Aku lama belanja nya vin, nanti orang tua kamu khawatir loh. Kenapa coba tuh mata kelilipan?" lagi-lagi Naya memojokkan.


'Kenapa kamu gak ngerti juga sih nay, udah aku kedipin' batin ku.


"Ayo Vin, biar aku aja yang antar kamu." Kak Hendri tersenyum mengajakku agar naik ke motor nya.


"Tapi vina-


"Udah gak usah tapi-tapian, naik aja deh. Jangan sampai temanku yang cantik ini jatuh ya kak!" Naya sengaja sekali sepertinya.


"Jatuh cinta kan gak apa nay," ucapnya. Membuat ku semakin gugup, diantar kak Hendri.


"Ayo naik vin, nih helm nya," lanjutnya.


Akan memasangkan helm di kepalaku.


"Biar Vina sendiri kak," ucapku mengambil helm nya.


Aku cemberut menatap Naya, akhirnya aku naik ke motor kak Hendri, lalu akhirnya melajukan motornya.


"Kak, pelan-pelan aja jangan ngebut, nanti jatuh loh." Karena aku juga pakai rok.


"Pegangan dong vin, biar gak jatuh," jawabnya. Karena aku hanya memegang tas nya dari belakang.


Karena aku tak kunjung memeluk kak Hendri, akhirnya ia berinisiatif mengegas tiba-tiba, alhasil aku memeluk nya.


Dengan cepat aku melepaskan tangan ku di perut nya.


"Kok dilepas sih Vin," ucapnya.


"Gak apa kak, kalau kak Hendri gak mau pelan-pelan lagi, turunin aja Vina disini."


"Ih gitu aja ngambek, becanda kok," jawabnya lagi.


Ia melihat ku dari kata spionnya.


"Vin maaf deh, kan biar gak jatuh aja makanya suruh pegangan." Kak Hendri membujukku agar tidak marah.


"Iya kak," jawab ku.


"Jangan cemberut gitu dong, aku jadi gemes," ucapnya sambil menyetir.


Oh my god..


Kenapa sih kak Hendri ini pikirku.


Tak lama kita sudah sampai di depan rumah, aku turun dan mengembalikan helmnya.


"Makasih ya kak," ucapku dan berbalik untuk masuk.


"Eh Vin."


"Apa kak?" tanyaku.

__ADS_1


"Nanti malam ada acara gak?" tanya nya tersenyum.


"Em gak ada sih kak emangnya kenapa?"


"Aku mau ajak kamu, ke pasar malam."


"Nanti Vina chat deh kak, kalau gak malas keluar." Karena mau nolak gak enak, mau bilang iya aja gimana gitu.


"Yaudah, aku pulang dulu ya." Kak Hendri pamit untuk pulang setelah mengajak jalan.


"Iya hati-hati, makasih ya kak." Aku tersenyum padanya, karena sudah mengantar kan pulang.


Kak Hendri hanya mengangguk dan membalas dengan senyuman, lalu berbalik dengan motornya untuk pulang.


Setelah kak Hendri pergi, aku masuk.


"Assalamu'alaikum," ucapku.


"Wa'alaikum salam," sahut mama.


Aku mencium punggung tangan nya.


"Cie yang di anterin cogan," ucap mama.


"Lah mama tau cogan juga?" jawabku meledek mama.


"Yah pastinya tau lah Vin, secara di rumah kita cogan cuma satu orang."


Pufhhhh hahahahah


"Terus kalau papa cogan, yang cantik siapa ma?" tanya ku.


"Yang pasti mama, karena udah laku," ucap nya bangga.


"Iya deh paku, Vina jadi laper." Aku berlari masuk.


"Eh anak itu, laku bukan paku," teriak mama.


Aku tertawa sambil masuk, untuk mengganti pakaian dan segera makan.


Malam hari setelah sholat maghrib, kita sekeluarga makan malam.


"Assalamu'alaikum," ucap seseorang dari luar pintu.


"Siapa ya? malam gini ada tamu," tanya ku.


"Yah mana papa tau Vin."


"Vina aja yang buka pintunya, kalian lanjut makan," ucapku minum dan berdiri untuk membuka pintu.


Aku berjalan keluar, tanpa sadar aku tidak menggunakan hijab.


"Assalamu'alaikum," ucapnya lagi.


"Wa'alaikum salam, tunggu bentar."


cklek...


Aku terkejut dan orang yang dibalik pintu tadi tak kalah terkejutnya.


"Kak Hendri, ngapain kesini?" tanya ku lupa dengan tadi siang.


"Ka- kamu Vina kan?" tanyanya melihatku dari kaki sampai kepala.


"Ya ampun kak Hendri, jangan bilang amnesia."


"Kamu cantik banget Vin, gak pakek kerudung." Aku dengan cepat memegang kepala dan membelalakkan mataku.


Buru-buru aku menutup pintu kembali, dan berlari masuk.


"Siapa Vin?" tanya papa.


Aku tidak menghiraukan, langsung masuk ke kamar.


Papa menghampiri kak Hendri diluar.


"Ya ampun kok bisa lupa sih kalau lagi gak pakai kerudung, boro-boro kerudung baju tidur aja minim kek gini." Merutuki kebodohan ku sendiri, menatap pakaian ku.


Ada ketukan pintu dari luar kamar.

__ADS_1


"Vin, kata nak Hendri kamu ada janji sama dia mau ke pasar malam, cepet ya kasian udah di tunggu."


"Ya tuhan, kenapa mama mengizinkan, lagian kak Hendri kan aku bilang suruh nunggu aku chat dulu," ucapku kesal.


Aku beranjak dan menggunakan celana kulot serta baju tunik sepaha, ditambah pashmina. Memoles sedikit bedak dan lip tint, setelah itu aku keluar menemui kak Hendri.


"Ayo kak," ucap ku.


"Tante om, Hendri keluar dulu ya sama Vina,"pamitnya pada mama dan papa.


"Jangan malam-malam pulangnya ya nak Hendri," ucap papa.


"Iya om, jam 10 sudah dirumah," ucapnya.


"Bye ila kakak keluar dulu ya," lanjutnya berpamitan pada adikku.


"Ma pa, Vina keluar dulu ya assalamu'alaikum," ucapku mencium punggung tangan mama dan papa, diikuti kak Hendri.


Di luar


"Vina."


"Apa kak?" tanyaku.


"Em maaf ya aku gak nunggu chat kamu dulu baru kesini, soalnya aku yakin kamu gak bakal mau, chat aku aja gak kamu balas."


"Iya gak apa kak," jawabku.


Mau di apakan lagi, sudah terjadi.


"Soal yang tadi-


"Udah kak gak usah di bahas, Vina malu." Aku menunduk karena malu tidak menggunakan hijab, padahal aku belum Istiqomah juga, tapi malu aja sama kak Hendri.


Astaghfirullah, malu harusnya sama Allah.


"Ngapain malu Vin kamu cantik kok, cocok sama rambut pendeknya."


"Kita jadi berangkat gak kak? kalau gak, aku masuk lagi," ucapku.


Mengalihkan pembicaraan, agar kak Hendri tidak membahas tentang tadi.


"Oh iya lupa yaudah ayo berangkat, nih helmnya aku aja yang pakein." Kak Hendri memasangkan helm nya padaku, lagi-lagi tatapan mata kita bertemu.


"Kak ayo cepat!"


"A.. e iya ayo Vin," ucapnya.


Aku naik ke motor kak Hendri, duduk dengan tegap. Agar tidak memeluknya, aku memegang pundaknya.


Tak lama kita berada di pasar malam.


"Wah, rame banget disini."


"Emangnya kamu baru kesini Vin?" tanya kak Hendri.


"Iya kak, baru kesini."


Kak Hendri mengajak ku berkeliling dan berhenti di game capit, aku melihat boneka besar, aku ingin boneka itu.


"Kamu mau Vin?" ucapnya


"Aku mau eh gak kok kak, kita jalan-jalan lagi yuk."


"Tunggu bentar aku coba ya." Kak Hendri mencoba untuk mendapatkan boneka itu dengan memasukkan koin ke dalam nya, baru bisa mencapitnya.


Berkali-kali mencoba namun gagal.


"Udah kak gak usah deh."


"Sekali lagi pasti dapat," ucapnya tak putus asa.


Kak Hendri mencoba sekali lagi, dan yeayyyy


aku malah memeluk nya astaghfirullah.


.


.

__ADS_1


.


B**ersambung 💃💃💃


__ADS_2